HOME| Donation| Content Partnership| Help Us Stay in the Home We've Loved for 20 Years Banner of simplyasep
HOME| Site Map | DISCLAIMER| Make a donation| Contact Me|

Dear Readers

I have recently reviewed and adjusted the advertising settings to improve readability and navigation. Advertisements help support the continued operation of this website, and I strive to maintain a pleasant reading experience for all visitors.

Your comments, ideas, and suggestions are always welcome.

Greetings from Indonesia,
Asep Haryono
Help us to keep our home

Indonesia's Own 'Titanic' Tragedy: The Sinking of KMP Tampomas II (1981)

Hello everyone. I would like to say hi to Madam Mary Kirkland from the US, Mrs. Ananka from Scotland, and Mrs. Irina from Russia in particular. Hello too to every one. How is it going Today, I would like to tell you about one of the darkest memories in the history of local marine transportation in Indonesia. 

Do you like watching the movie Titanic, featuring Leonardo DiCaprio and Kate Winslet? I do, and I sometimes watch it again and again because of its romantic story and historical tragedy. However, Indonesia also has a similar story: Indonesia's Own "Titanic" Tragedy: Tampomas II. 

I am sorry once again that this story is written in Bahasa Indonesia because I originally intended it for Indonesian readers. However, to my international readers, would you kindly use any translation tool to understand the story? All images and photographs featured in this blog do not belong to me, and, as usual, I always mention the sources of those materials. 

Happy reading

Indonesia's Own "Titanic" Tragedy: Tampomas II 

KMP Tampomas II adalah sebuah kapal motor penumpang milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) yang dikenang karena musibah tragis yang dikenal sebagai Tragedi Tampomas 1981. Kapal tersebut terbakar dan tenggelam di sekitar Kepulauan Masalembu, yang terletak pada koordinat 114°25′60″ BT — 5°30′0″ LS di Laut Jawa (secara administratif termasuk wilayah Provinsi Jawa Timur). Singkatan KMP berarti Kapal Motor Penumpang. 

Di bawah komando Kapten Abdul Rivai, kapal ini sedang berlayar dari Jakarta menuju Sulawesi ketika akhirnya tenggelam pada 27 Januari 1981, mengakibatkan ratusan penumpang kehilangan nyawa. 

Tampomas II berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok pada Sabtu, 24 Januari 1981, pukul 19.00 WIB, dengan tujuan Ujungpandang (kini Makassar). Perjalanan diperkirakan memakan waktu sekitar dua hari dua malam, sehingga kapal dijadwalkan tiba pada Senin, 26 Januari 1981, pukul 10.00 pagi. Menurut salah satu panduan atau catatan kapal, salah satu mesin utama sebenarnya telah mengalami gangguan sebelum kapal diberangkatkan. 

Kapal ini mengangkut puluhan kendaraan bermotor, termasuk sebuah mesin penggiling (milling machine) merek SAKAI dan sejumlah sepeda motor Vespa, yang semuanya ditempatkan di dek kendaraan (car deck). Manifest kapal mencatat terdapat 191 mobil dan 200 sepeda motor di atas kapal. Selain itu, kapal membawa 1.055 penumpang resmi serta 82 awak kapal. Namun, jumlah orang yang sebenarnya berada di atas kapal diperkirakan mencapai 1.442 orang, termasuk penumpang yang tidak terdaftar (penumpang gelap). 

Pada malam 24 Januari, suasana di atas kapal berlangsung tenang dan tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan, selain indahnya matahari terbenam dan tenangnya permukaan Laut Jawa. Namun demikian, gelombang laut pada bulan Januari memang dikenal lebih ganas dibandingkan bulan-bulan lainnya. Tinggi ombak dapat mencapai 7–10 meter, dengan kecepatan angin sekitar 15 knot, kondisi yang cukup umum terjadi pada musim tersebut.

Sebagai hiburan bagi para penumpang, sebuah pertunjukan musik langsung dijadwalkan berlangsung di bar kapal dengan menampilkan penyanyi Ida Farida bersama grup musik kapal. Salah satu momen yang kemudian dikenang sebagai pertanda buruk terjadi ketika seorang bernama Ferry menyanyikan sebuah lagu perpisahan. Setelah itu, ia tidak pernah terlihat. 

The tragedy of the sinking of the Tampomas II Ship is one of the most heartbreaking maritime disasters in Indonesian history. This incident occurred on January 27, 1981 in the waters of Masalembo, East Java.  Photo taken from Teluk Bone Youtube channel
The tragedy of the sinking of the Tampomas II Ship is one of the most heartbreaking maritime disasters in Indonesian history. This incident occurred on January 27, 1981 in the waters of Masalembo, East Java.  

Bagaimana Kejadian Sesungguhnya
Pada 25 Januari 1981, sepanjang hari pelayaran berlangsung tanpa insiden. Namun, pada malam harinya, sekitar pukul 20.00 WITA, di tengah badai hebat yang menerjang Laut Jawa, terjadi kebocoran bahan bakar di ruang mesin. Sebuah puntung rokok yang diduga dibuang melalui lubang ventilasi dilaporkan memicu percikan api yang kemudian menyebabkan kebakaran. 

Awak kapal segera berusaha memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR), tetapi usaha tersebut tidak berhasil. Api dengan cepat menjalar ke ruang mesin melalui pintu dek yang terbuka. Mesin utama kapal berhenti beroperasi selama sekitar dua jam, generator darurat juga mengalami kegagalan, dan upaya pemadaman akhirnya dihentikan karena kondisi yang semakin memburuk. 

Bahan bakar yang terdapat di dalam kendaraan-kendaraan di dek mobil membuat kobaran api semakin cepat membesar hingga melalap hampir seluruh bagian dek kapal. 

Sekitar 30 menit setelah kebakaran mulai terjadi, para penumpang diperintahkan untuk menuju dek atas dan bersiap menaiki sekoci penyelamat. Namun, proses evakuasi berlangsung sangat lambat karena hanya terdapat satu jalur akses menuju dek atas. Setelah berhasil sampai di sana, banyak penumpang tidak mendapatkan petunjuk dari awak kapal mengenai lokasi sekoci penyelamat. 

Dalam situasi yang kacau, beberapa awak kapal bahkan dilaporkan menurunkan sekoci penyelamat hanya untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Dari enam sekoci yang tersedia, masing-masing hanya mampu menampung sekitar 50 orang. Kepanikan pun tidak terhindarkan. Sebagian penumpang memilih melompat ke laut, sementara yang lainnya tetap bertahan di atas kapal, menunggu dengan penuh kebingungan dan ketakutan.


Kapal-Kapal Penolong Pertama

Kapal pertama yang datang memberikan pertolongan adalah KM Sangihe, yang dinakhodai oleh Kapten Agus K. Sumirat, teman seangkatan Kapten Abdul Rivai di Akademi Ilmu Pelayaran Indonesia (angkatan 1959). Saat itu, KM Sangihe sedang berlayar dari Parepare menuju Surabaya untuk menjalani perbaikan mesin.

Mualim I J. Bilalu dari KM Sangihe pertama kali melihat kepulan asap. Awalnya, ia mengira asap tersebut berasal dari salah satu anjungan pengeboran minyak lepas pantai milik Pertamina. Pada pukul 08.15 WITA, operator radio Abubakar segera mengirimkan sinyal darurat SOS menggunakan kode Morse.

Beberapa kapal lain kemudian bergabung dalam operasi penyelamatan, di antaranya KM Ilmamui, kapal tanker Istana VI, KM Adhiguna Karunia, dan KM Sengata milik PT Porodisa Lines.


Ledakan dan Tenggelamnya Tampomas II
Pada 26 Januari 1981, hujan deras mengguyur kawasan Laut Jawa. Api terus menjalar hingga mencapai ruang mesin yang masih menyimpan bahan bakar yang belum diisolasi. Kondisi tersebut memicu ledakan hebat pada pagi hari 27 Januari 1981.

Ledakan itu menyebabkan ruang mesin, ruang baling-baling (propeller), dan ruang generator terendam air, sehingga kapal mulai miring hingga mencapai kemiringan sekitar 45 derajat. Akhirnya, pada 27 Januari 1981 pukul 12.45 WIB (atau 13.45 WITA), sekitar 30 jam setelah kebakaran pertama kali terjadi, KMP Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa, membawa sekitar 288 penumpang yang masih terjebak di dek bawah.

Kapten Abdul Rivai menjadi salah seorang yang terakhir meninggalkan kapal. Sebelum benar-benar meninggalkan kapalnya, ia sempat mengirimkan pesan terakhir kepada KM Sangihe

"Tolong kirimkan saya air dan makanan, karena saya akan tetap bersama kapal ini sampai saat-saat terakhir."

Pesan tersebut disampaikan melalui salah seorang awak kapal yang selamat, Bakaila. Namun, dengan sangat menyesal, Kapten Agus K. Sumirat tidak dapat memenuhi permintaan tersebut.



News of the Sinking of KMP Tampomas II.The KMP Tampomas II was a Pelni passenger ship that caught fire and sank near the Masalembo Islands in the Java Sea on January 27, 1981.

Source: SIB, January 28, 1981.
Salemba Rare Newspaper Collection – National Library of Indonesia (SKALA-Team)


Abdul Rivai, Captain of the Tampomas II Who Died Because of His Loyalty to DutyAbdul Rivai, Captain of the Tampomas II Who Died Because of His Loyalty to Duty
Abdul Rivai, Captain of the Tampomas II Who Died Because of His Loyalty to DutyAbdul Rivai, Captain of the Tampomas II Who Died Because of His Loyalty to Duty
Photo from BOOMBASTIS Website




Korban dan Operasi Penyelamatan
Menurut data resmi, kapal mengangkut 2.174 penumpang dan 107 awak kapal. Namun, jika termasuk penumpang yang tidak terdaftar (penumpang gelap), jumlah orang di atas kapal diperkirakan mencapai sekitar 2.812 orang. Salah satu sumber bahkan memperkirakan terdapat sekitar 307 penumpang yang tidak tercatat dalam manifest.

Tim penyelamat memperkirakan sekitar 1.217 orang meninggal dunia, yang terdiri atas 612 jenazah berhasil ditemukan, sementara 411 orang dinyatakan hilang. Sebanyak 703 orang berhasil selamat dari tragedi tersebut.

Dalam operasi penyelamatan:

  • Tanker Istana VI berhasil menyelamatkan 144 orang dan mengevakuasi 4 jenazah. 
  • KM Sengata menyelamatkan 169 orang serta menemukan 2 jenazah. 
  • KM Sonne mengevakuasi 29 jenazah, termasuk jenazah Kapten Abdul Rivai.

Salah seorang penyintas adalah operator radio Odang Kusdinar, yang ditemukan bersama 62 orang lainnya di atas sebuah sekoci penyelamat di sekitar Pulau Duang-Duang Besar, sekitar 240 kilometer di sebelah timur lokasi tenggelamnya kapal, pada Jumat, 30 Januari 1981, pukul 05.00 pagi.


Penyelidikan
Menteri Perhubungan saat itu, Roesmin Nurjadin, menyatakan bahwa hasil pemeriksaan tidak menemukan adanya kelainan pada ruang mesin kapal. Menurut hasil investigasi pemerintah, kebakaran diduga justru bermula dari dek kendaraan, khususnya di area tempat sepeda motor disimpan di bagian belakang kapal.

Gelombang laut yang sangat tinggi diduga menyebabkan kebocoran bahan bakar yang kemudian memicu terjadinya kebakaran.

Sementara itu, Wishardi Hamzah, yang menjabat sebagai masinis III, mengakui bahwa KMP Tampomas II tidak dilengkapi dengan sistem pendeteksi asap (smoke detection system).

Penyelidikan yang dipimpin oleh jaksa Bob Rusli Efendi Nasution pada akhirnya tidak menghasilkan kesimpulan yang memuaskan. Hampir seluruh tanggung jawab dibebankan kepada awak kapal. 

Namun, banyak pihak menduga adanya upaya untuk menutupi fakta (cover-up) oleh pemerintah. Kecurigaan tersebut muncul karena, meskipun banyak anggota parlemen mendesak agar dilakukan penyelidikan yang menyeluruh dan transparan, hasil investigasi dianggap tidak mampu mengungkap penyebab sebenarnya dari tragedi tersebut.

Artikel ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah dan dokumentasi yang tersedia mengenai Tragedi KMP Tampomas II, di Indonesia.

A Message From Asep Haryono

 

"Thank you so much for your time here. I really appreciate your precious moment here as well.  Please leave any comment down below.  Let me hear from you.  Greetings from Indonesia"

3 comments:

  1. A terrible tragedy☹️ I wish you nice sunday 😊

    ReplyDelete
  2. Oh no, that is a sad tragedy. Very tragic that so many people lost their lives. I hope you have a nice week.

    ReplyDelete

Thank you for your visit.. Be sure to express your opinion. Your comment is very important to me :)

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog From Indonesia