Help us to keep our home
Dalam catatan saya selama kurun waktu tahun 2010 hingga tahun 2011 ini serentetan musibah datang bergantian menghampiri kehidupan saya sekeluarga. Musibah seolah enggan beranjak dari lembaran kehidupan saya.

Berbagai kejadian dan peristiwa selama kurun waktu itu seolah mengingatkan kami akan banyak hal. Apakah semua itu merupakan cobaan dari Allah SWT? Apakah semua itu merupakan syarat untuk memperoleh kemudahan?.

Mengapa harus saya sekeluarga yang harus menanggung musibah beruntun itu? Sebagian orang memberikan dukungan moril agar saya tabah menghadapi (musibah) ini. Sebagian lagi menyarankan agar banyak bersedekah. Sebagian lagi juga mengisyaratkan agar saya lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah. Namun yang lebih menarik perhatian saya adalah saran kepada kami agar menarik hikmah dari semua ini. Lantas apa hikmah yang dapat saya petik dari rentetan musibah yang saya alami saat ini?

Datang Silih Berganti
Bukan maksud untuk "memamerkan" catatan musibah yang mendera saya sekeluarga. Dan juga bukan maksud "bangga" dengan "meriah" nya musibah yang datang beruntut menghampiri saya sekeluarga. Bukan, bukan karena itu. Namun ada beberapa catatan yang berhasil saya rangkum dalam beberapa bulan terakhir ini yang menimpa saya sekeluarga

Musibah pertama datang di akhir Nopember 2010 yang lalu. Saat kami membeli secara tunasi (cash) tanah seluas 11x17 seharga Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) melalui staf marketing di komplek Duta Bandara tempat kami mengontrak rumah sekarang. Saya dan beberapa kepala keluarga di komplek yang sama pun juga membeli tanah dengan ukuran dan harga yang bervariasi. Ada yang sudah membayar belasan juta, hingga ada yang membayar secara tunai (cash) seperti saya sekeluarga.

Dijanjikan sertifikat akan selesai dan keluar sekitar 4 (empat) bulan dari tanggal transaksi. Begitu percaya warga komplek kepada staf tersebut sampai fotokopi sertifikat saja tidak kami tanyai. Namun untung tak dapat diraih, dan malang tida dapat ditolak, staf marketing tersebut menggelapkan uang para warga yang sudah menyetor (uang) kepadanya. Sertifikat belum jadi, tapi uangnya sudah dilarikan oknum yang tidak bertanggungjawab tersebut. Sampai sekarang belum juga selesai, dan uang yang sudah kami setorkan tunai tersebut dinyataka hilang tidak berbekas.

Musibah kedua datang menyusul. Raibnya sebuah telepon genggam merek Nokia 1661 yang saya taruh di ruang tamu hilang sekembalinya saya dari Sholat Magrib pada tanggal 4 April 2011 tepatnya hari Sabtu. Dari investigasi yang saya lakukan saat itu hingga menanyakan kepada orang rumah yang saat kejadian berlangsung, tidak membuahkan hasil informasi yang memadai. Sang maling dalam beraksi menyambar HP saya di ruang tamu juga tidak terdengar. Nyaris tak ada suaranya. Rumah kontrakan yang selalu saya kawal dengan ketat ini akhirnya benar benar "kecolongan" juga. Urutan kronologis peristiwanya juga sudah saya publikasikan dalam blog pribadi saya.

Seperti tidak ada habisnya, musibah berikutnya datang lagi. Belum lama dari kejadian pencurian yang pertama, kira kira 1 (satu) bulan kemudian kejadian pencurian terjadi kembali. Kali ini jauh lebih "keren" dari yang pertama. Sepertinya sang maling tau mana barang yang mahal yang dia ambil. Setelah diperiksa secara seksama barang yang berhasil dibawa sang maling adalah Laptop Merek Axioo, HP merek K-Touch H887 lengkap dengan memori card dan kartu perdana milik istri, Cincin emas seberat 3 gram , dan uang tunai sekitar Rp.210.000,- (Dua Ratus Sepuluh Ribu Rupiah). Urutan lengkap atau kronologis kejadian ini juga sudah dipublikasikan dalam jejaring social facebook dan juga blog pribadi.

Kita Belajar Dari Musibah
Apa yang sebenarnya bisa saya pelajari dari rangkaian musibah yang datang beruntun silih berganti yang saya alami ini?. Sata kata kunci utama "Belajar". Ya benar, saya harus belajar dari musibah. Banyak orang berpendapat bahwa yang namanya belajar hanya untuk mereka yang sudah berpengalaman dimana kita bisa memetik pelajaran darinya,. Pendapat itu benar, Belajar dari pengalaman orang lain yang sudah merasakan asam garam kehidupan juga benar. Lalu bisakah kita belajar dari musibah yang kita alami?

Belajar dari kesalahan yang telah banyak saya perbuat untuk selanjutnya jangan sampai terulang lagi. Namun belajar dari musibah adalah hal yang lain. Selaku umat Islam yang wajib meyakini kasih sayang Allah sentiasa melindungi kehidupan kita. Kalimah “Bismillahir Rahman nir Rahim” – dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang – sentiasa menjadi sebutan kita. Namun ketika musibah seperti kematian, kesakitan, kemiskinan, kegagalan dan kehilangan harta benda melanda diri, mungkin hati kecil kita tertanya-tanya, mengapa? Mengapa Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang itu mentakdirkan begitu? S udah sirnakah kasih-sayangNya kepada kita semua hambaNYA?

Untuk mencari hikmah sesuatu musibah kita mesti meyakini terlebih dahulu bahwa musibah adalah sebahagian ujian yang pasti menimpa manusia. Ujian adalah satu sunnatullah (peraturan Allah) yang tidak ada siapa pun dapat menghindarkannya karena hidup ini hakikatnya adalah satu ujian. Bila sanggup hidup, mesti sanggup diuji. Seperti dalam firman Allah s.w.t.: Dijadikan mati dan hidup kepada kamu untuk menguji siapakah yang terbaik amalannya.” (Surah al-Mulk: 3)

Apa itu musibah? Secara ringkasnya musibah didefinisikan sebagai segala sesuatu yang tidak disukai oleh manusia berupa kematian, kesakitan, kemiskinan, ketakutan, kegagalan, kesedihan, kehilangan harta benda dan lain-lain. Jadi, Allah pasti menguji kita dengan sesuatu yang tidak kita sukai (musibah). Kita tidak suka akan kematian, tetapi siapa yang boleh mengelak daripada mati? Dalam Al Quran sudah jelas disyaratkan bahwa setiap mahluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Kita benci kesakitan, tetapi itulah adalah lumrah hidup. Lalu hati kita bertanya lagi, mengapa Allah datangkan semua itu? Apa perlunya musibah?

Saya bukan ahli agama. Namun perasaan saya mengatakan kalaw apa yang saya alami ini harus diambil hikmah dan pelajaran yang berharga buat saya setidaknya hal hal yang seperti ini tidak perlu terjadi kembali atau terjadi kepada orang lain. Seperti kata pepatah tak ada gading yang tak retak, artinya saya harus intropeksi diri mengapa rangkaian musibah itu datang silih berganti. Bukankah hal hal kejadian beruntun di atas murni karena kelalaian, kealpaan, ketidak tauan saya sendiri? Nah ini salah satu hal utama yang harus (mau tidak mau) diakui karena semua kelalaian diri saya sendiri.

Nah dari firman ALLAH SWT itulah seperti menampar pipi saya amat keras. Mungkin manusia sekarang ini mengidentifikasi "musibah" sebagai segala hal dahsyat, yang terjadi "di luar" kehendak manusia. Pada saat terjadinya "musibah" itu, manusia baru merasakan keprihatinan yang mendalam. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi kebanyakan menyerahkan kepada Yang Maha Tunggal. Sayangnya, "penyerahan" kepada Sang Kuasa tersebut lebih bernuansa Su' udz-Dzan atau Negative Thinking kepada-Nya. Mengapa bisa terjadi demikian?. Penyesalan memang datangnya selalu terlambat. Jarang saya dengar orang menyesal lebih dahulu.

Sejatinya, makna "musibah" tidaklah sesederhana dari yang selama ini kita pahami. Kalau kita mau menyisakan perhatian kita maka kita akan tahu bahwa ada sebagian umat yang merasa bahwa pemberian penghargaan, kenaikan jabatan, bagi mereka, itu pun sebuah "musibah". Sudah tentu, hal tersebut "musibah" bagi yang bersangkutan. Biasanya, orang yang berpedoman demikian akan semakin tunduk kepada Allah Swt ketika mendapatkan penghargaan. Bahkan kalaw melihat dari sejarah musibah memang sudah di-"uji-coba"-kan kepada para nabi nabi sebelum kita sekarang. Musibah berupa ujian tersebut tentunya bukan saja berupa fisik, melainkan mental dan keimanan.

Hikmah Dari Semua
Akhirnya, manusia sekarang ini pun telah lebih jauh menyederhanakan makna "musibah". Manusia tidak lagi berpengertian bahwa, sebenarnya, musibah tidak sesederhana "segala bencana yang di luar kehendak manusia". Akibatnya, sepertinya ada dua pilihan bagi kita : menerima sepenuhnya sebagai sebuah kecelakaan alam murni, atau mengkaitkannya dengan kehendak Sang Kuasa.
Lalu mana yang akan anda pilih?

Penulis melihat, ketika beberapa musibah menimpa kita bangsa Indonesia akhir-akhir ini, banyak banyaknya umat yang tidak lagi menjalankan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA. Apakah benar demikian?. Realitas ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan mis-understanding. Bagaimana pun, yang utama untuk diyakini oleh umat adalah bahwa Allah Swt tidak akan pernah berkehendak buruk kepada hamba-hamba-Nya.

Pertama, tidak semua kejadian tersebut "pahit" dalam arti yang sesuai dengan pemahaman kita. Seluruh manusia adalah milik Allah Swt, maka Dia berhak mengambilnya sewaktu-waktu, dengan berbagai jalan, baik itu bencana alam, maupun musibah lainnya. Semua kejadian yang terjadi diluar kehendak kita sebagai manusia merupakan bentuk "pemanggilan" Allah Swt terhadap kita dalam ukuran yang berbeda beda tingkatannya. Inilah benang merah yang harus kita pahami dari berbagai macam bentuk musibah yang melanda kita, dan seluruh bangsa Indonesia seperti sekarang ini.

Walaupun segala musibah itu terhadi karena kelalain dan kealpaan yang kita lakukan karena alasan yang masih bisa dibuktikan secara ilmiah. Misalnya anda lupa mengunci pintu rumah, dan wajar kalaw sang maling masuk dengan leluasa menjarah harta benda anda. Bukankah itu suatu bentuk kelalaian anda karena hasil perbuatan anda sendiri?.

Terlepas musibah itu memang rencana Allah SWT untuk menguji hambaNYA, sebaiknya kita harus waspada dan intropeksi diri sendiri sebelum "pasrah" kepadaNYA. Ucapan ini memang terlihat sederhana, namun ia memiliki makna yang sangat mendalam, yakni mengingatkan kita semua untuk senantiasa tidak bersikap sombong dan selalu membanggakan diri. Hukum ini akan berlaku bagi siapa saja yang melanggarnya.

Semoga.......

Melihat judul tulisan saya kali "akhirnya kemalingan (lagi) ini memang sudah bisa ditebak isinya oleh siapa pun yang membaca judul yang sederhana ini. Hari ahad (minggu) pagi tanggal 1 Mei 2011 yang lalu, rumah kontrakan kami di komplek Duta Bandara Ahmad Yani 2 Supadio telah berhasil dimsuki maling.

Sejumlah barang turut raib yang setelah kami periksa yang berhasil digondol maling adalah sebuah Laptop Merek Axioo, HP K-Tourch, Cincin 3 gram, dan uang tunai sekitar 200 ribu rupiah. Sedangkan surat surat dan kartu kartu identitas seperti SIM, STNK, ATM, Kartu Pegawai Istri, serta identitas lainnya utuh walaupun berserakan ditempat kejadian. Setelah kami periksa dengan seksama dan menghitung kartu identitas kami tersebut, lengkap tidak ada yang hilang.

Kedua Kalinya
Ini merupakan kejadian yang kedua kalinya. Kejadian kemalingan yang pertama terjadi pada hari Sabtu tanggal 4 April 2011. Saya ingat persis karena sehari setelah peristiwa itu saya langsung membuat tulisan kemalingannya. Jadi ingat benar tanggalnya. Saat itu hari Sabtu 4 April 2011 kejadiannya. Saat itu saya mengajak anak saya yang gede baru berumur 3 tahun 2 bulan (ya gede juga kan hehehee-red) untuk mendirikan Sholat Magrib di Masjid BaBussalam yang letaknya hanya berjarak sekitar 500 meter dari rumah kontrakan kami di komplek Duta Bandara.

Singkat cerita sepulang dari Sholat Magrib itulah, saya mendapati kalaw HP Nokia 1661 tertinggal di lemari perpustakaan yang letaknya di ruang tamu sudah raib alias hilang. HP beserta nomor SIM Perdana saya ikut hilang. Setelah menghubungi GrapaRI Telkomsel, nomor yang hilang itu berhasil di shutdown , dan diganti dengan kartu yang baru dengan nomor yang sama. Saya pun harus bekerja keras mengumpulkan kembali nomor nomor Hp yang turut hilang satu persatu karena saya belum sempat mencatatnya di buku manual. Saya hanya mengandalkan memori di kartu perdana saja untuk mencatat nomor nomor phonebooknya.

Kornologis Kejadian
Hari itu Sabtu malam minggu (30 April) 2011 sekitar jam 22.00 WIB saya memang berada di ruang tamu menonton pertandingan sepakbola antara Real Madrid VS Zarzagosa kalaw nda salah sih. Skornya 6-3 menang Tim Real Madrid yang dibintangi oleh Ronaldo itu. Sedangkan istri dan kedua anak saya berada di dalam kamar yang letaknya hanya bersebelahan dengan ruang tamu. Sang istri asyik bercengkerama dengan anak anak karena teriakan tertawa anak anak terdengar jelas sesekali diiringi dengan celoteh abbie (3,2 thn) yang memang lagi bandel bandelnya itu.

Selesai menontong sepakbola, saya pun larut menonton acara selanjutnya di lain channel. Kali ini meliat tayangan Box Office Movie langganan saya di chanel TransTV hingga ke pukul 00.30 WIb dinihari. Karena sudah tidak ada lagi fim yang menarik, maka saya pun mengambil Laptop di ruang kamar tempat istri dan anak anak sedang bermain main itu. Laptop Axioo milik istri punsaya bawa ker ruang tamu tempat saya menonton TV. Saya pun larut menulis atau membuat tulisan di Laptop sambil tetap menonton acara TV. Keren kan. Biasanya kan orang menonton TV sambil ngemil makanan, nah kalaw saya menonton TV sambil mengetik di laptop membuat tulisan. Saya masih ingat judul tulisan saya "keluarga ideal" yang saya maksudkan sebagai bahan blog saya nanti pagi.

Lalu tulisan saya pun kelar sekitar jam 02.30 Selasa dinihari tanggal 1 Mei 2011. Walah selama itu mengetik tulisan? Ya tentu saja tidak. Kan mengetik tulisannya sambil nonton TV ya jadi lama seleseinya ehehehe. Kalau full time ngetik aja tanpa ada kegiatan lain menonton TV mungkin saya hanya perlu waktu yang tidak terlalu lama. Selesai mengetik, saya pun menshutdown Laptop saya, dan mengembalikan semula ke kamar. Saya mendapati istri tercinta sedang menyetrika dan membereskan tas dan keperluan lain yang akan di bawa ke lokasi mengajar di SMA Negeri 1 Kubu besok Senin nanti. Tas istri yang sudah di"isi" dengan cincin, HP dan juga uang memang sudah masuk ke dalam tas merek Elizabeth kesukaannya. Dan Tas itu diletakkan di gagang pintu kamar.

Saya sempat bertanya kenapa sudah packing kan berangkat ke Kubunya hari Senin besok? Kata saya kepada istri. "Nda apa apa mas, sudah disiapkan semua dalam tas agar praktis tinggal tarik aja berangkat, takut ada yang terlupa dibawa, jadi sekarang aja diberesin" kata istri. Ya sudahlah kalaw begitu. Akhirnya Laptop pun saya taruh di meja komputer, dan sang istri tetap asyik menyetrika hingga pukul 03.00 WIB dinihari. Saya pun izin kembali ke ruang tamu, untuk mematikan TV karena sudah merasa ngantuk sekali dan mau tidur di ruangan tamu. Saya memang biasa tidur beralaskan selimut tebal di ruang tamu, sedangkan istri dan anak anak tidur di kamar dan itu hampir setiap hari. Saya pun jatuh tertidur di ruang tamu, dan istri selesai menyetrika (menurut pengakuannya) selesai jam 03.00 WIB. Anak anak sudah lebih dahulu tertidur di kamar.

Inilah saat terjadinya. Kami berdua sudah tidak ingat lagi. Saya tertidur di ruang tamu, dan istri tertidur di kamar beserta anak anak. Kami berdua bangun pas saat adzan Subuh terdengar. Saya pun bergegas ke belakang rumah untuk mengambil air wudhu. Sedangkan istri terbangun namun belum bisa sholat. Saat membuka pintu belakang untuk ambil air wudhu itulah, saya sudah curiga jendela belakang agak terbuka. Saya pikir ini pasti ulah sang istri. Karena saya sering mendapatinya menbuang air susu botol yang sudah lama dan terasa asem dengan cara membuka jendela belakang. Praktis memang tidak perlu membuka pintu. Gitu pikir saya, ya sudahlah kalaw begitu. Saya pun kembali masuk, dan pintu pun saya kunci dengan tetap membiarkan jendela terbuka. Toh sudah pagi pikir saya, dan kami pun sudah tidak tidur lagi.

Setelah selesai sholat Subuh, saya pun ke dalam kamar, dan mendapati istri saya seperti kebingungan. "Mas, lihat laptop nda? kata istri dengan mimik wajah seperti ketakutan. "Ah ada khan, kan sudah mas taruh di meja komputer ini" kata saya sambil menunjuk meja komputer. Saya masih ingat menaruh laptop di meja komputer yang ada di kamar. Tapi kok tidak ada ya, kan saya taruh di sini semalam. Kami pun berdiskusi kecil mengenai "keberadaan" laptop yang tidak jelas itu. "Lalu kemana tas bunda ya" kata istri lagi. Sang istri masih ingat betul tas yang sudah diisi lengkap itu ditaruh di gagang pintu kamar siap dipakai. Tas Elizabethnya juga tidak ada di sana. Kami pun mulai tidak enak rasanya.

Setelah hari cerah sekitar pukul 06.00 WIB kami berdua bersama sama memerika ke belakang rumah dan mendapati semua kartu identitas kami berserakan dipintu belakang. KTP, SIM, STNK, ATM, Kartu nama, Kartu Pegawai dan berbagai kartu lainnya berserakan, bertaburan di tanah belakang rumah. Tas saya pun berserakan dibawah. "Ah udahlah kena maling kita" gumam kami berdua. Dan kami sadar bahwa kami sudah dimasuki pencuri.

Yang uniknya lagi kami mendapati sepotong celana kain pendek seukuran lutut yang tidak kami kenal dan basah berada dekat dengan kartu yang berserakan itu. Kami duga sang maling berenang dari belakang rumah menuju rumah kami. Letak rumah kami memang "dipisahkan" dengan parit kecil kedalaman sekitar 2 meter lalu sawah. Posisi rumah kontrakan kami memang sasaran empuk dari maling karena berada dilingkaran komplek berhadapan dengan sawah dan sering dilalui orang luar. "yah kena maling lagi kita" kata saya. Kami duga celana pendek kain seukuran lutut itulah kami duga milik si pencuri. Kami amankan benda itu sebagai barang bukti kami.


Melaporkan Kejadian
Setelah kami yakin bahwa rumah kami dimasuki pencuri, maka kami pun langsung menghubungi keamanan via telepon dan SMS. Dari tiga orang petugas keamanan komplek yang kami hubungi itu, hanya satu yang langsung merespon panggilan darurat kami. Pak Muhyar, adalah salah satu staf keamanan komplek yang langsung datang ke rumah kami. Kami pun menceritakan peristiwa dan kronologis kejadiannya kepada beliau. Atas saran beliau, kami pun diminta segera lapor kepada ketua RT Komplek sesuai dengan tradisi dan hirarkis yang ada. Dan sudah kami laporkan kepada beliau selengkap lengkapnya.

Menurut informasi yang kami terima dari pak RT, rupanya hari itu terdapat 3 (tiga) rumah yang berhasil dibobol pencuri. Salah satu rumah tersebut ya rumah kami yang dimasuki pencuri. Rupanya kami tidak sendiri yang bernasib malang yang rumahnya dimasuki pencuri. Menurut informasi dari pak RT, 2 (dua) buah rumah lainnya yang berhasil dibobol pencuri terletak di Blok B, dan E, sedangkan rumah kami terletak di blok C. Apa yang sebenarnya terjadi, gitu kira kira pikir saya. Apakah ini merupakan pencurian terkoordinasi? atau kebetulan aja, banyak pencuri yang masuk hari itu ke komplek kami. Yang kami maksud di sini adalah para korban pencurian merupakan ulah pencuri yang berbeda beda. Itu juga kami belum tau.

Kami pun melaporkan kejadian yang menimpa kami di rumah pak RT yang juga sekaligus digunakan sebagai tempat diskusi warga. Pak RT pun mencatat dengan cermat cerita yang kami sampaikan dan mencatat apa apa saja yang hilang dicuri. Dan atas saran beliau, kami diminta membuat laporan juga ke Polsek Sui Raya atau Polsek Kubu Raya sebagai bahan laporan. Dan Pak RT Komplek Duta Bandara pun segera menggelar rapat darurat dengan semua staf keamanan komplek Duta Bandara membahas kejadian pencurian masif hari itu.

Kami pun berencana membuat laporan juga ke Polsek Setempat, namun sampai saat tulisan ini saya buat hal itu juga belum kami lakukan. Sejauh ini baru sepengetahuan RT saja yang mengetahui peristiwa yang kami alami. Alasan utama kami adalah karena kami pun tidak mau repot dengan urusan tetek bengek diPolsek, dan kami menganggap kejadian kemalingan kedua bagi kami ini adalah murni karena kelalaian kami juga. Saya pun tidak menyalahkan keamanan yang bertugas hari itu karena saya pikir tanggungjawab keamanan adalah tanggung jawab bersama, dan tidak bisa mengandalkan tenaga keamanan yang jumlahnya terbatas itu.


Seperti Siaga Satu
Pasca peristiwa kemalingan kedua kalinya ini, kami menjadi kuatir akan terjadi lagi untuk ke 3 kalinya. Saya dan isri sudah sepakat untuk menaikkan status darurat gawat dalam keluarga dari warna hijau menjadi merah (red). Dalam artian faktor keamanan rumah menjadi prioritas. Status siaga satu di rumah kontrakan kami sekarang ini juga bukan tanpa alasan. Dengan kejadian kemaliangan pertama dan yang kedua ini, kami pikir bisa saja terjadi untuk berikutnya dan berulang ulang. Maka dari itu "mata rantai" ini harus kami putus dengan cara menerapkan status siaga satu di rumah.

Kami pun memesan teralis besi untuk membuat "pertahanan" di rumah. 2 buah jendela depan, satu di samping, satu diruang taumu, dan satu jendela di kamar tidur akan dilengkapi dengan teralis minimalis yang kokoh. Kunci kamar pun sekarang sudah dipasang slop tambahan. Kelak saya sekeluarga akan tidur dalam satu kamar yang terkunci dari dalam. Ini semata mata untuk menjaga diri dari hal yang tidak kami inginkan. Karena dalam peristiwa kejadian malam itu (kemalingan kedua ini - red), sang maling sudah berhasil melihat kami secara fisik. Sang maling diyakini sudah masuk ke dalam rumah dan mendapati kami sekeluarga sedang lelap tertidur pulas. Kami sekeluarga amat bersyukur kami tidak di "apa apa" kan oleh si pencuri yang keliatannya hanya mengincar uang dan barang berharga itu.

Bagi kami sekeluarga sekarang keselamatan adalah nomor satu. Selain itu kami tidak bisa mengandalkan keamanan komplek yang memang ditugaskan untuk menjaga ketertiban dan keamanan komplek Duta Bandara. Biarlah saya menjadi "polisi" bagi saya sendiri dan keluarga. Biarlah kami sendiri yang menjaga keamanan kami. Itulah sebabnya setiap malam pasca pencurian kedua ini bak situasi dalam perang. Kamar kami kini sekarang sudah seperti benteng pertahanan dari serangan musuh. Seperti dalam perang. Bunker perlindungan. Gejala apa ini? Apakah kami paranoid? Tentu saja tidak. Dalam kacamata kami ini bukan paranoid, tapi berjaga jaga dari segala kemungkinan.

Apakah sudah tidak ada lagi rasa aman di kota ini?
Dalam kehidupan sehari hari kita tidak akan pernah terlepas dari interaksi kita dengan orang lain. Hubungan interpersonal kita dengan orang lain amatlah mutlak diperlukan untuk menghindari kebuntuan dalam pergaulan.

Perang dingin yang biasa terjadi itu bisa dimungkinkan oleh berbagai faktor. Faktor yang ada dalam diri sendiri maupun faktor dalam diri orang lain. Tren ini semakin menguat selain karena adanya kepentingan pribadi atau kelompok yang semakin menguat. Ketidakperdulian terhadap kelompok minoritas semakin kental karena dianggapnya tidak memberikan kontribusi atau benefit bagi mereka. Apakah yang sebenarnya yang terjadi?.

Mengapa diantara kita tidak saling menyapa dan membuka diri untuk terciptanya sebuah dialog untuk mengakhiri kebuntuan ini? Sikap acuh tak acuh yang diperlihatkan diantara kita sebenarnya bermula dari hal yang sederhana. Namun karena hal yang sederhana dan tidak prinsip itulah sering membuat jarak yang teramat jauh. Faktor Gengsi juga berperan sangat kuat di sini.

Gengsi tidak mau belajar dari yang lebih berpengalaman, atau gengsi tidak mau menerima kritikan dari bawahan karena dianggapnya kritik bisa berpotensi menghancurkan kredibilitas, integritas dan sisi karakternya. Segitunya kah? Kritik tidak sama dengan menghina. Kritik konstruktif biasanya disertai dengan koreksi dan perbaikan sesuai dengan hukum atau kaidah yang berlaku. Sedangkan penginaan adalah perbuatan tidak terpuji yang pada kadar tertentu bisa dituntut karena masuk dalam katagori perbuatan tidak menyenangkan.

Perbedaan KepentinganDiremehkan orang sudah merupakan makanan saya sehari hari dan itu sangat menyehatkan diri saya sendiri. Kenapa saya mengatakan demikian karena saya menganggap hal itu sebagai energi positif dalam diri untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kemampuan diri agar orang tidak lagi meremehkan diri ini. Saya tidak menyalahkan mereka bersikap demikian. Apapun itu merupakan hak mereka mengatakannya atau tidak. Ucapan verbal memang tidak pernah terucap. Namun sebagai orang yang kebetulan berasal dari kultur Jawa yang memang sudah dikenal memilki perasaan halus, gerak gerik seseorang yang tidak senang atau kurang senang bisa saya rasakan. Bagi saya itu tidak ada masalah.

Sebagai profesional, saya selalu membedakan yang mana urusan yang menyangkut kepentingan pribadi dengan urusan yang bersifat kedinasan. Tidak etis jika mencampurkan antara urusan pribadi dengan urusan kedinasan karena akan berimpak pada rasa adil dan keadilan. Sesuai dengan tema tulisan saya pada hari ini bahwa berbuat adil memang sulit. Ini pendapat saya. Jika kita berbeda pendapat adalah hal yang wajar. Tentu saya memiliki alasan yang mendukung statemen saya mengatakan hal itu di atas. Tidak semua orang bisa berbuat adil baik bagi dirinya sendiri apalagi buat orang lain. Contoh jelas adalah diri saya sendiri. Saya tidak adil terhadap diri sendiri.

Dibawah ini adalah hal hal yang belum dapat saya perlakukan secara adil terhadap diri sendiri yang saya jabarkan dalam beberapa poin.
  1. Kebiasan Ngemil
    Ini adalah salah satu hal yang belum bisa saya lakukan dengan adil. Kebiasaan ngemil di malam hari seperti makan mie goreng ditambah lagi dengan segelas torabika susu yang biasa aku lakukan dalam beberapa minggu terakhir ini telah menyebabkan berat badan saya melorot jauh hingga ke angka 64 kilogram. Sungguh suatu "prestasi" yang tidak dapat saya banggakan untuk hal yang satu ini.

    Minggu lalu saat saya akan memperpanjang Surat Izin Mengemudi (SIM) C saya di Polresta yang terletak di SIM Corner Matahari Mall, saya diharuskan membuat surat keterangan dokter. Surat keterangan dokter itulah syarat utama dalam perpanjangan SIM C, selain membayar biaya 75 ribu rupiah dan SIM C lama tentunya. Saat itu juga saya ngacir ke Kharitas, dan menemui Dokter di sana. Setelah pemeriksaan tensi darah dan ada wawancara kecil, saya dinyatakan sehat (Alhamdulillah). Saya pun "curhat" mengenai berat bada saya yang akhirnya diperoleh penjelasan dari dokter bahwa berat badan saya tidak baik dan saya diharuskan "mengejar" ke berat ideal 58 Kilogram untuk tinggi badan saya yang "hanya" 158 Cm ini.

  2. Mengejar Beasiswa
    Sudah saya canangkan sejak 5 (lima) tahun lalu keinginan untuk bertarung memperebutkan slot beasiswa Kuliah di Australia melalui program Beasiswa Endeavour namun sampai sekarang sampai berbuih buih mulut ini mengucapkan tetap saja belum terlaksana dengan semestinya. Test TOEFL atau IELTS yang merupakan salah satu syarat utama untuk penyeleksian program beasiswa itu juga belum dapat saya lakukan karena memang situasi (saat ini) memang belum memungkin. Saya sendiri tidak yakin belum memungkinkan dari segi apanya. Waktu? Uang?

    Menyoal soal Uang, memang ada masuk akalnya. Bayangkan untuk ujian TOEFL internasional saja dibutuhkan biaya tidak kurang dari 300 ribu rupiah, sedangkan untuk ujian IELTS harus mengambil tes di menara Imperium Jakarta. Untuk kota Pontianak sendiri memang sudah ada cabang yang sudah direkomendasikan sebagai penyelenggara IELTS namun biayanya juga bisa dibilang mahal untuk ukuran saya. Tes IELTS di kota Pontianak berbiaya tidak kurang dari 1,5 juta rupiah. Jumlah yang cukup besar untuk ukuran saya sekeluarga.
  3. Porsi Pekerjaan Yang Menyita
    Ini masih menyangkut pada bahasan poin 2 di atas berkenaab soal Waktu. Sejak dari hari senin sampai dengan Sabtu, praktis separuh hari saya dihabiskan di kantor. Sedangkan waktu untuk keluarga hanya tersisa 1 (satu) hari yakni ahad (minggu) . Namun hari ahad (minggu) pun juga kadang kadang tidak maksimal saya manfaatkan untuk keluarga. Undangan maupun urusan keluar kerap datang di hari minggu itu. Kerja bakti di RT sayalah, undangan nikah lah, sampai ada kunjungan teman atau kerabat di rumah kontrkaan kami di Duta Bandara.

    Apakah kami harus mengusir tamu yang berkunjung ke rumah kami di hari Minggu? Ya tentu saja tidak. Nah gambaran seperti inilah yang menyebabkan saya jadi berbuat tidak adil terhadap diri sendiri. Tidak banyak waktu terluang dari saya untuk memanjakan diri sendiri. Hadirnya 2 (dua) anak memang melengkapi kebahagiaan pernikahan kami yang sudah kami jalani sejak tahun 2005 lalu.

    Kebahagiaan yang juga tersimpan di dalamnya tanggung jawab merawat dan membesarkannya adalah satu paket dengan kebahagiaan itu. Kerepotan merawat dan membesarkan anak adalah hal termanis dan terindah bagi setiap keluarga. Begitu besarnya waktu yang tersita untuk pekerjaan dan keluarga memang sangat menyulitkan saya berbuat adil terhadap diri saya sendiri. Seperti yang sudah saya sebut di atas , tidak banyak waktu terluang dari saya untuk memanjakan diri sendiri.

Saya Masih Belajar
Kesalahan selalu saya buat setiap hari. Sudah banyak kekurangan dan kesalahan yang saya lakukan baik terhadap orang lain, maupun terhadap diri sendiri. Janji janji yang sudah saya ucapkan dalam hati untuk "menghadiahkan" diri ini dengan sejumlah aktifitas yang menyenangkan juga tidak kunjung segera saya laksanakan. Cita cita yang dulu terucap dalam hati sering tidak segera diimplementasikan. Begitu banyak kesalahan dan kekeliruan yang saya lakukan , jadi buat apa saya harus mengurus orang lain? Apakah saya kurang kerjaan sampai harus mengurus kesalahan orang lain sampai yang remeh dan kecil sekalipun?

Setiap orang tentu mempunyai kepentingannya masing masing. Tak terkecuali dengan diri saya sendiri. Secara jujur harus saya akui kalaw saya juga punya kepentingan. Nah kepentingan inilah yang menjadi pangkal kebuntuan selama ini. Perbedaan kepentingan sering menciptakan friksi serta jarak bagi terciptanya hubungan interpersonal yang harmonis.

Saya tidak perduli dengan kepentingan mereka apa karena toh saya tidak mempunyai otoritas, kekuasaan, wewenang untuk mencampuri kepentingan mereka. Saya hanyalah sebutir titik dari lautan pasir yang tidak ada artinya. Saya sadar saya ini siapa. Jadi sebenarnya mereka tidak perlu takut kalaw kepentingan saya mengancam kredibilitas mereka. Mereka bukan ancaman bagi saya, dan saya juga bukan ancaman bagi mereka. Kenapa pula ada rasa harus takut?

Jadi jika saya diremehkan orang tidak ada masalah buat saya. Saya sudah pusing dengan seabrek persoalan dan tetek bengek urusan keluarga yang lebih harus saya perhatikan ketimbang memikirkan orang lain. Saya tidak akan bergantung kepada mereka. Menjadi diri sendiri adalah hal yang amat menyenangkan. Tidak mengadopsi cara dan tingkah laku orang lain atau mencoba menyamakan diri dengan karakter orang lain lalu memiliki kepribadian ganda atau standar ganda (double standard-red). Ah saya ini siapa. Orang kecil saja. Beneran. Pangkat atau jabatan saja tidak punya.

Saya sudah merasakan sendiri betapa sulitnya saya berbuat adil terhadap diri sendiri. Saya sendiri masih belajar


Hari ini adalah hari yang amat bersejarah bagi seluruh dunia. Siapa lagi kalaw bukan pernikahan agung dan terhebat yang pernah ada di planet bumi ini yakni pernikahan putra mahkota kerajaan Inggris, Pangeran William dan Kate yang diperkirakan akan berlangsung prosesi arakannya pada hari Jum'at ini.

Pernikahan yang konon terbesar di dunia ini diyakini akan disaksikan oleh jutaan pasang mata di seluruh dunia. Berbagai media cetak dari seluruh dunia akan tumplek di sana mengabadikan momen istimewa abad ini yang akan dilaksanakan di London Inggris.

Bahkan siaran langsung prosesi pernikahan William-Kate ini juga akan disiarkan streaming ke seluruh penjuru dunia. Jadi anda tidak perlu kuatir tidak bisa menyaksikan secara langsung prosesi pernikahan Pangeran William-Kate di Inggris. Anda bisa "hadir" di sana secara virtual dari tempat kerja anda, di rumah atau diwarnet sekalipun, menjadi saksi pernikahan mereka.

Namun bukan itu yang menjadi bahasan tulisan saya pada hari ini namun masih terkait dengan tema perayaan pernikahan. Tema hari ini adalah pengalaman menghadiri undangan pernikahan yang menurut catatan saya ada 2 (dua) undangan pernikahan rekan saya yang menurut saya bagus dan mewah namun meninggalkan kesan yang kurang baik dalam hal penyelenggaraannya. Ini menjadi catatan khusus dalam tulisan saya pada hari ini.

Pengalaman ini memang kurang menyenangkan bagi anda yang membacanya, tetapi setidaknya apa yang saya tulis ini adalah pengalaman pribadi saya saja saat menghadiri 2 (dua) undangan pernikahan itu. Saya berhadap informasi pengalaman saya ini akan menjadi pelajaran berharga bagi mereka mereka yang akan merencanakan selebrasi pesta pernikahan kelak di masa yang akan datang.

Makanan
Inilah pengalam pertama yang akan saya coba paparkan di sini. Saya tidak bermaksud berharap si penyelenggara hajatan nikahan atau yang punya gawean nikahan itu menyediakan makanan mewah, super kumplit, dan berjumlah banyak. Bukan bukan itu yang saya maksud. Namun menurut hemat saya makanan menjadi salah satu unsur penilaian bagi sang kedua mempelai. Bagaimana mereka memperlakukan para pengunjung dan tamu yang hadir dengan makanan yang baik dan jumlah yang mencukupi. Jangan sampai terjadi para tamu undangan yang hadir mendapati makanan yang disajikan kurang jumlahnya, sehingga mereka tidak jadi makan atau tidak dapat makan.

Mengapa makanan? Ya tentu aja para tamu akan berharap mendapat sajian makanan saat mereka menghadiri undangan pernikahan. Selain mereka menyediakan amplop berisi uang untuk kedua mempelai, sudah bisa dipastikan bahwa para tamu juga akan berharap bisa mencicipi hidangan atau makanan yang akan disediakan. Harapan para tamu akan membuncah takala melihat undangan pernikahan yang mereka terima terkesan "wah" sehingga terbersit harapan mereka pun akan mendapat sajian makanan yang istimewa dan "wah juga'. "wah mantaap undangannya nih, kertas undangannya mewah, dan tempatnya pun keren di gedung lagi pasti seru makanannya nih" gitu kira kira saya.

Tapi kenyataan ternyata berbeda dengan angan dan harapan saya. Saat kali datang di acara pernikahan mereka memang mantap gedungnya yang besar dan megah. Undangan pun datang silih berganti menyemut dan semarak di sana sini. Saat saya datang dan menanda tangani data tamu yang hadir di buku tamu, saya pun langsung mendapatkan sopneir mini sebagaimana setiap kali datang di acara nikahan orang. Namun saat saya beranjak menuju tempat penyajian makanan yang ada saya kecewa. Makanan terentu sudah habis tak tersisa, bahkan tamu tamu yang hadir di belakang saya pun terkesima, melongo. Tidak sedikit dari mereka yang menggerutu kok sampai kehabisan makanan. Para panitia pun angkat bahu dan tidak tau menahu karena stok makanan mereka juga habis,

Itu permulaan saja. Kejadian berikutnya juga terjadi. Saat menghadiri undangan nikahan yang dilaksanakan di sebuah gedung di kawasan Kota Baru pun demikian. Dan yang ini jauh lebih parah lagi. Kalaw yang pertama makanan sudah habis tak tersisa, namun alat alat makan seperti piring mangkok garpu dan sodara sodaranya masih ada. Nah yang ini sudah makanan tertentu habis tidak tersedia, juga alat alat makannya sudah tidak ada lagi. Bahkan ada beberapa tamu yang mengambil menu nasi lengkap dengan menggunakan mangkuk.

Coba bayangkan saja. Biasanya kan orang menikmati nasi lengkap dengan menggunakan piring sebagaimana lazimnya. Ini tidak. Alat makan berupa piring sudah habis, dan banyak piring piring bekas makan yang tidak dirapihkan berserakan dimana mana. Jadi yang ada hanya mangkuk mangkuk saja. Kita tau mangkuk hanya cocok untuk makanan berkuah seperti bakso. Ini mangkuk terpaksa dipakai para tamu undangan unuk makan nasi lengkap. Jadilah makan nasi lengkap dengan menggunakan mangkuk. Nelangsanya..

Sesuaikan Kemampuan
Dari beberapa kali saya menghadiri pernikahan orang, memang ada yang mendapatkan pujian karena selain kualitas makanannya baik, juga penyelenggaran selebrasi nikahannya sukses dalam artian rapih tertib dan juga khidmat. Ada juga pengalaman unik lainnya menyangkut perhelatan nikahan itu misalnya sajian musik live. Ahahh. Ini dia juga.

Hiburan sajian lagu atau musik yang mendatangkan langsung grup band atau biduan di acara nikahan memang amat menghibur. Saya tidak mempermasalahkan jenis musiknya apakah pop, maupun dandut. Saya selalu menikmati hiburan apa saja. Tapi memang jarak acara nikahan menggunakan menggunakan lagu rock atau host hahahhaa. Kayaknya nda pernah deh untuk yang satu ini.

Dari soal live musik ini saya cuma mencatat hal hal kecil saja tapi cukup mengganggu. Misalnya sound system yang terlampau keras atau nyaring hingga memekakkan telinga saya. Saya cuma kuatir karena dari sekian banyak tamu undangan, saya lihat ada beberapa tamu yang membawa serta bayi mereka hadir diacara undangan nikahan itu.

Kan kasian bayi nya yang harus "rela" mendengarkan musik live atau kaset yang diputar sang pemilik hajat yang terlampau keras atau nyaring. Saya aja kadang sakit saya rasakan di gendang telinga, apalagi bayi. Ini yang seharusnya menjadi perhatian dan catatan bagi penyelenggara nikahan siapa pun itu nantinya. Pertimbangkan bahwa para tamu bisa saja ada bayi yang dibawa serta. Jadi aturlah agar para tamu merasa nyaman. Tamu adalah raja bukan?

Menyelenggarakan selebrasi nikahan di gedung manapun sah saja. Dan itu hak setiap yang punya hajatan akan diapakan nanti, dan mau merencanakan penyelenggaraan dimana adalah hak mereka yang punya hajatan. Tapi mungkin ini menjadi catatan saja bagi saya. Setiap orang tentu mempunyai penilaian sendiri sendiri. Saya menghormati sepenuhnya hak mereka, para pelaku hajatan untuk menyelenggarakan gawean nikahannya di gedung mana saja yang mereka suka. Saya hanya memandang dari kacamata saya saja yang sudah pasti akan berbeda dengan pandangan orang lain. Seperti yang saya tulis pada edisi tulisan saya sebelumnya biarlah perbedaan itu ada. Anda punya pendapat, saya pun demikian.

Menurut pendapat saya sih penyelengaraan di gedung mewah pun tidak ada masalah. Hanya saja penyesuaian dengan bajet yang ada. Tidak perlu memaksakan diri untuk menyewa gedung besar dan megah hanya karena gengsi dan ingin dilihat orang kalaw kita adalah pasangan yang mampu menyewa gedung sekelas Gedung PCC kalaw perlu. Hehehe mangap eh maaf agak ekstrim perbandingannya.

Maksud saya di sini adalah penyesuaian saja. Kita ini siapa. Kita harus tau diri. Kita ini adalah warga biasa, orang biasa. Kita ini bukan keturunan keluarga Paris Hilton, Donald Trump atau sekelas pernikahan super mewah abad ini William-kate di awal tulisan saya ini. Jadi orang akan menilai dan membandingkan. Kemampuan ekonomi terbatas tapi memaksakan diri menyewa gedung mewah. Alhasil tidak maksimal jadinya.

Gedung besar dan bagus namun kekurangan makanan buat para tamu undangan. Bukankah itu hal yang ironi?. Seperti kata pakar keuangan keluarga yang kondang, Safir Senduk dan Rekan, bahwa penyelenggaran acara nikahan di gedung boleh saja asal disesuaikan dengan kemampuan finansil. Jangan sampai kita harus berhutang sana sini hanya demi menyelenggarakan acara selebrasi nikahan yang hebat, namun sengsara di kemudian harinya. Menanggung hutang. Menarik juga.

Penutup
Pernikahan adalah momen yang berharga dalam hidup seseorang. Merayakannya dengan sempurna adalah idaman dan dambaan setiap pasangan yang akan melangsungkan pernikahan. Kenangan indah dalam penyelenggaraan pernikahan akan menjadi kenangan indah para pasangan itu. Bukankah pernikahan itu diharapkan cuma sekali saja dalam hidup, jadi boleh saja donk merayakan dengan sempurna , ramai dan istimewa? ow tentu saja boleh. Silahkan silahkan. Setiap orang berhak menyelenggarakan selebrasi nikahan dengan bentuk dan format apa saja, tidak ada masalah. Silahkan saja.

Bukankah akan menjadi kenangan indah saat sang mempelai nan berbahagia bersalaman dan menyalami para tamu undangan yang hadir. Berharap mendapatkan amplop dari para tamu undangan memang mengasyikan, dan sangat mendebarkan. Setelah tamu undangan pulang, dan acara kembali normal, tinggalah sang pasangan yang berbahagia itu membuka kota amplop yang berisi uang itu wah tentu sangat menyenangkan sekali.

Siapa sih di dunia ini yang nda doyan sama duit alias uang? Hanya orang goblok saja yang tidak suka uang. Hehehe. Tentu faktor ekonomi diharapkan tidak menjadi alasan penyelenggaran prosesi nikahan ya. Kado terindah dari para tamu undangan adalah doa. Ya doa dari mereka. Doa yang akan mengantarkan pasangan yang baru menikah itu bisa menjalani rumah tangga yang sakinah, mawahdah dan warrohmah.

Apalagi setelah hadirnya balita yang lucu lucu hasil buah cinta pasangan yang baru menikah itu akan semakin melengkapi bahagia mereka, dan tiada kebahagiaan yang bisa dirasakan pasangan menikah selain hadirnya balita balita yang lucu yang akan menjadi penerus kita di masa depan. Itulah harta sejati kita yang tak ternilai. (Asep Haryono)
Dari judul tulisan saya pada hari ini sepertinya bisa ditebak dengan mudah kemana arahnya. Judul tulisan hari ini adalah "Penyesalan tidak ada gunanya" memang berisi daftar dari hal hal yang tidak atau belum pernah kesampaian saya lakukan atau peroleh sejak saya berusia ditingkat Sekolah Dasar hingga sampai sekarang ini.

Memang penyesalan tidak ada gunanya lagi. Tapi setidaknya apa yang akan saya tulis berikut ini adalah cerminan dari diri sendiri bahwa hal hal semacam ini semoga tidak akan terjadi lagi pada diri saya maupun generasi anak anak saya kelak jika mereka sudah besar nanti.

Yang namanya penyesalan memang datangnya selalu terlambat. Jarang saya dengar orang menyesal di awal. "ah menyesal saya makan sambel ini kalaw tau rasanya pedas mendingan dari awal saya nda makan" kata saya. Lah saya sendiri yang nekad memutuskan makan dengan sambel, ya salah sendiri. Sudah tau kan kalaw cabe itu rasanya pedas, kenapa juga nekad memakannya.

Nah konsekuensinya ya rasa kepedasan yang saya rasakan. Menyesal. Nah itu contoh sederhananya dari kata "menyesal" itu tadi. Sebagian orang menyebut konteks kata "menyesal" karena ada sesuatu peristiwa atau kejadian yang seharusnya justru tidak terjadi. Dan jika kejadian itu benar benar terjadi, maka hasilnya sangat tidak diharapkan orang. Ya bisa saja definisi "menyesal seperti itu.

Daftar Penyesalan
Misalnya saja ada orang bilang begini "Saya menyesalkan mengapa bapak Presiden SBY begitu cepat menggerutu dan mengeluhkan gajinya yang tidak naik naik sejak beberapa tahun terakhir ini" begitu kata parjo (bukan nama sebenarnya-red). Nah dari kalimat ungkapan seperti ini kita tau bahwa yang namanya "penyesalan" bisa juga berisi makna akan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dilakukan atau terjadi sehingga disesalkan banyak orang.

Beberapa hal di bawah ini adalah kegiatan, aktifitas, dan program yang belum pernah kesampaian dapat saya lakukan atau saya peroleh. Mungkin karena keterbatasan dana atau biaya dalam mencapai target target tersebut? Bisa ya bisa juga tidak. Mungkin tidak dapat dilakukan atau dicapai karena mengalami kendala waktu yang tidak memadai atau tidak mencukupi? Saya juga tidak tau pasti. Mungkin dasarnya saja saya yang pemalas sehingga tidak mau atau enggan melaksanakan kegiatan tersebut? Wah kalau sudah menyinggung satu kata itu (malas-red) berarti sudah titik. Ya iyalah. Orang kalau sudah bilang "malas" ya sudah nda usah dibujuk lagi hehehee.

Saya menyesal karena beberapa agenda, aktifitas dan kegiatan dari usia SD hingga sekarang yang belum dapat saya capai atau saya lakukan antara lain :
  1. Menabung
    Saya heran baru sekarang menyesal. Bayangkan di usia saya sekarang yang sudah pas kepala "4" ini baru sadar kalaw menabung itu banyak manfaatnya. Menyesal sekarang dah. Mengapa tidak dari usia SD saya gemar menabung. Kalaw saja saya sudah rajin menabung dari kecil wah tentu sekarang sudah bisa saya "panen" hasilnya. Tetapi mengapa saya tidak bisa lakukan itu ya.

    Saya coba ingat ingat memang dulu pernah menabung pake tabungan nasional yang kondang saat itu yakni "TABANAS". Wah tentu kalian masih ingat donk apa itu "TABANAS"?. Bagi yang pernah melewati masa 70 - 80-an, pasti masih mengingat tabungan yang pada zaman itu sangat populer. Tabanas yang merupakan singkatan dari Tabungan Pembangunan Nasional. Selain TABANAS masih ada lagi Taska dan Tapelpram. Nah Taska dari Tabungan Asuransi Berjangka, dan Tapelpram, singkatan dari Tabungan Pelajar dan Pramuka adalah tiga produk perbankan yang mumpuni pada masanya.

    Menabung keliatannya sepele, tetapi justru hal yang sepele itulah yang saya abaikan. Keliatannya memang sederhana itung itungan matematikanya. Sederhana saja misalnya. Menabung 1000 rupiah sehari. Jika konsisten dalam 1 bulan, maka akan diperoleh sebesar 30 hari selama 1 bulan x 1000 rupiah = Rp.30.000,-. Nah jika dalam 1 tahun konsisten menabung 1000 rupiah maka akan didapat sebesar kira kira Rp.360.000,- (Tiga Ratus Enam Puluh Ribu Rupiah). Nah bayangkan jika dikali selama 21 tahun (terhitung dari tahun 1990-red) maka kan didapat angka kira kira sebesar 360.000 x 21 Tahun = Rp.7.560.000,- (Tujuh Juta Lima Ratus Enam Puluh Ribu Rupiah). Nah bayangkan dari duit cuma seceng aja bisa dapat sedemikian besar. Apalagi kalaw jumlah tabungannya besar, tentu totalnya akan semakin besar lagi.

    Inilah salah satu hal yang saya sekali sekarang. Baru sekarang sadar diri kalw menabung itu banyak manfaatnya. Kendala untuk menabung sudah pasti ada, apalagi penghasilan saya saat ini murni hanya dari pekerjaan sehari hari saja dan tidak ada penghasilan lain. Selain itu kebutuhan keluarga juga tidak kecil mengingat sudah hadir 2 (dua) orang anak. Jadi kebutuhan setiap bulannya akan selalu meningkat. Tidak mudah memang untuk menyisihkan menabung setiap bulannya, selain harus ditanamkan tekad untuk menjadikan menabung sebagai "pengeluaran". Penyesalan memang datangnya terakhir. Saya menyesal tidak membiasakan diri menabung sejak dulu.


  2. Saya Kurang Kreatif
    Sejak duduk di semester pertama FPBS Bahasa Inggris FKIP Universitas Tanjungpura di era taon 1990 saya kurang kreatif mencari tau keberadaan informasi pendidikan , seminar atau workshop di luar negeri. Mungkin keterbatasan sarana dan prasarana? Bisa ya bisa juga tidak. Memang setiap generasi akan berbeda dengan generasi lainnya baik dari segi sarana prasarana, dan juga lingkungannya. Saya melihat mahasiswa generasi sekarang jauh lebih dimanjakan dengan fasilitas yang tersedia, dan juga didukung dengan latar belakang ekonomi keluarga yang memadai.

    Namun saya tidak dapat menutup mata, bahwa mahasiswa sekarang terutama dipulau Jawa, Sumatera, dan Papua menoreh prestasi yang luar biasa. Selain karena memang otak mereka pada umumnya cerdas, mereka jauh lebih gesit dalam meliat peluang dan kesempatan untuk maju. Mahasiswa lokal Kalbar juga banyak membuat prestasi mencengangkan hingga ke tingkat nasional. Saya bangga dengan mereka semua. Beberapa rekan mahasiswa yang pernah sama sama ikut YES2009 Kuala Lumpur banyak yang sudah melanglang buana ke berbagai negara, Amerika Serikat, Dubai, Kanada, Kairo, Jepang, Jerman, dan Rusia. Wah mereka memang gesit menangkap informasi. Ini yang salut dan wajib saya mengambil pelajaran dari mereka.

    Hal ini (mungkin) agak jauh berbeda dengan jaman saya dulu. Handphone saja belum masuk saat itu, apalagi internet. Mungkin sudah ada internet, tapi belum mewabah seperti sekarang ini. Banyaknya fasilitas yang tersedia sekarang ini menjadikan mahasiswa menjadi lebih bersemangat. Motivasi berkembang mereka lebih hebat dari generasi angkatan kita kita dulu. Paling banter demo demo ala kampus itu saja

  3. Saya Kurang Dekat Dengan Kakek
    Ya kakek sangat sayang pada saya sejak saya SD. Bahkan saat itu saat kakek saya yang kesehariannya mengayu becak mencari penumpang, saya sering mendatangi pangkalannya saat masih di banku SD. Saya meminta mengadahkan kedua tangan saya kepada kakek untuk mendapatkan uang jajan. Kakek pun dengan senyum memberikan uang jajan berupa recehan pecahan 25 rupiah yang saat itu nilainya masih tinggi. Saya masih bisa membeli es atau kue dengan uang itu.

    Kadang kakek pun sering melintas di depan rumah kami, saat itu di Gang 15 nomor 396 Pademangan, Jakarta utara. Setiap hari kala sore saya selalu bermain di depan rumah menunggu kakek lewat dengan kayuhan becaknya melintas di depan saya. Begitu kakek melintas saya pun keluar rumah dan memburunya sambil tetap menengadahkan tangan saya mengharap uang receh dari kakek. Begitu seterusnya.

    Saat itu , beberapa taun kemudian, saat saya pulang ke Bekasi (saat kuliah di Pontianak Untan saya mudik ke bekasi setiap lebaran-red), saya mendapati kakek saya masih seperti dulu dengan senyum khasnya. Entah kenapa saat itu, saat makan siang, saya memasang muka masam kepada kakek saat beliau mengajak saya makan siang bareng di meja makan dengan saudara lain dari Bandung. Entah setan dari mana yang hinggap dikepala saya sampai saya memasang wajah masam kepada kakek. Saya tau kakek kangen sama cucunya yang pulang mudik dari liburan kuliah Pontianak.

    Kini kakek tercinta sudah meninggal dunia. Terkejut bukan kepalang saat saya mendapat kabar 1 minggu setelah kakek tiada melaui telepon dari ibu. Saya langsung mudik ke Bekasi, dan mendapati makam kakek di belakang rumah kami di bekasi. Menitik air mata saya di depan pusara kakek, dan saya sempat membacakan doa buat kakek. Tidak lupa pulpen yang saya pakai saat itu saya tancapkan di pusara kakek.

    Kakek ku sayang, maafkan cucu mu ini. Saya kurang akrab dengan kakek di saat terakhir ini. Setiap Desember setiap taun saya selalu mengenang kakek. Saya berjanji nama kecil cepot, sebutan kesayangan yang selalu kakek berikan buat saya akan saya kenang dan akan saya abadikan selama lamanya. Aku sayang kakek.

  4. Saya tidak bisa berbahasa Jawa
    Terlahir dari seorang Ibu berdarah suku Jawa (Semarang-red) dan ayah dari Cirebon (Sunda-red), namun sampai sekarang saya tidak tau apa apa mengenai kedua bahasa aseli kedua orang tua. Gejala apa ini? Inilah yang saya sesali juga sampai sekarang. Seharusnya saya bisa atau setidaknya mengerti sediktilah kedua bahasa ibu kedua orang tua saya, namun nyatanya sampai sekarang saya belum bisa bisa juga.

    Bahkan ibu saya sudah mahir menerjemahkan secara langsung dari membaca huruf dalam Al Quran ke dalam bahasa Indonesia. Berbeda dengan saya yang mampu menerjemahkan teks Bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Kalaw dari aksen saya memang aksen sunda yang lemah gemulai (mungkin klemar klemer -red) begitu juga dengan bahasa tubuh saya yang sundanese. Tapi kalaw dari keinginan tentu saya lebih cenderung mengarah ke suku Jawa. Suku aseli ibu.

    Padahal ibu dan ayah selalu mempraktekan bahasa ibunya masing masing. Sejak SD memang saya sudah mengamati ibu dan ayah dalam berbicara bahasa daerahnya masing masing, namun sayanya aja yang sableng (error-red) yang tidak mau bertanya, atau belajar bahasa daerah kepada kedua orang tua. Saya malah cenderung tertarik dengan Bahasa Inggris di usia SD itu. Entah apakah ini soal selera atau minat yang berbeda?. Dan sekarang kesempatan untuk belajar bahasa Jawa kembali terbuka lebar karena pada akhirnya sekarang saya sudah mempersunting wanita aseli Kulon Progo (Jogjakarta). Walaupun sudah beristri orang Jawa, apakah saya masih tertarik untuk belajar bahasa Jawa yang dulu belum pernah saya "sentuh" itu?

  5. Cepat Bosan
    Ini juga salah satu karakter dasar yang terbentuk sejak SD, dan masuk kepada tingkat kronis stadium empat saat duduk di bangku kuliah di era 90 an lalu. Saat itu saya sudah mengambil kursus Gitar Klasik YAMAHA dengan kelas group - fundamental satu. Dalam kursus gitar klasik yang tempat sekolahnya di samping Supermarket HARUM MANIS (sekarang kalaw nda salah berada di belakangnya-red). Sebelumnya saya sudah dilatih oleh rekan SMP saya Affan Fuad bermain gitar klasik dengan teknik hafalan, dan bukan membaca not. Saya bisa memainkan stanza Romance De Amor versi gitar klasik tunggal. Saya aja nda menyangka bisa menghafal tekniknya. Mengapa saya tidak ambil kelas gitar klasik aja sekalian, artinya diajarkan membaca not pada gitar.

    Akhirnya saya pun masuk kelas Gitar Klasik YAMAHA buku fundamental 1 , namun hanya bertahan 3 (tiga) bulan saja di tahun itu. Andai saja kelas Gitar Klasiknya saya tekuni dari tahun itu (90-an- red) hingga sampai sekarang, sudah tentu saya sudah maestro dan mungkin menjadi Guru Gitar Klasik di kota Pontianak. Nah sifat bosan inilah yang kadang mengganggu saya. Sebagian orang bilang memang saya tipe cepat bosan dalam hal tertentu dan cenderung berganti dengan suasana baru.

    Saya merasakan sifat ini amat jelek dalam diri saya. Bahkan ada orang yang meramal kalaw apa pun yang saya lakukan tidak akan pernah tuntas, dan cenderung berhenti di tengah jalan. Saya tidak percaya ramal meramal. Saya hanya percaya pada Allah SWT. Jika pun saya gagal dalam sesuatu target, mungkin hanya kesempatan yang tertunda. Gagal itu sudah biasa. Yang parah adalah jika kita berputus asa, dan tidak bangkit untuk meraihnya kembali. Hikmah dari ini adalah sifat Bosan yang ada pada saya ini harus diubah segera mungkin, sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat.

Nah itulah beberapa potongan hal hal yang sampai sekarang sangat saya sesali tidak atau belum dapat kesampaian. Waktu sudah semakin bergerak maju, dan usia ku kini sudah tidak muda lagi seperti dulu. Andai saja dari kecil saya sudah menyadari betapa pentingnya menabung, atau andai saya menarik pelajaran berharga bahwa menabung itu penting, tentu hasilnya sudah bisa saya rasakan sekarang ini.

Selain itu juga hikmah yang dapat saya petik dari penyesalan penyesalan di atas kembali ke soal manajemen pengelolaan waktu. Waktu akan terus bergerak dan tidak akan surut kebelakang. Cukup sudah saya bermain main dengan waktu. Dan sudah saatnya generasi pengganti , anak anak saya, belajar dari "kesalahan" saya di masa lalu. Dan bakat dan selera harus datang dari dalam diri sendiri, dan karena kemauan sendiri.

Saya hanya menaruh harapan kepada kedua anak saya agar tidak mengulangi "dosa-dosa" yang dilakukan ayahnya sejak kecil. Berharap kedua anak saya kelak bisa lebih maju dan lebih sukses dari apa yang sudah dicapai ayahnya. Harapan saya sekarang kini terletak pada generasi mendatang. Generasi yang akan menggantikan kita semua setelah kita tiada lagi di dunia yang fana ini.

Dia Lalu Bercerita tentang
Anak Gadisnya yang telah tiada
Karena Sakit
Dan tak kan obati
Wajahnya mirip dengan Ku

Itulah potongan lagu "perjalanan" yang dinyanyikan oleh Jane, saudara kandung Franky Sila Sahilatua. Penyanyi, pengarang lagu dan politikus yang menciptakan lagu itu kini sudah menghadap TUHAN.

Ya wonderful singer itu kini sudah tiada. Lagu lagu indah yang sarat akan balada kehidupan, dan bertema country itu sudah tidak bersama kita lagi. Setelah sempat dirawat di RS Medika Permata Hijau, jenazah Franky Sahilatua tiba di rumah duka, sekitar pukul 17.00 WIB, di Jalan Pelangi, RT 005/02, Kelurahan Rengas, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Rabu (20/4).

Menurut Kapanlagi yang beritanya rilis pagi ini menyebutkan bahwa Jenazah Franky, diantar dengan menggunakan mobil ambulance Nasional Demokrat biru putih bernomor polisi B 1023 BIX. Franky meninggal sekitar pukul 15.15 WIB, di RS Permata Hijau, pada usia 58 tahun.

Menurut website kapanlagi itu, ditulis jelas bahwa setelah sampai di rumah duka, jenazah Franky yang terbalut kain putih langsung diletakkan di ruang tamu di atas meja panjang. Kedatangannya disambut istri dan anak tercinta dengan haru. Franky lahir di Surabaya, pada 16 agustus 1953 dengan nama lengkap Franklin Hubert Sahilatua. Franky meninggalkan satu orang istri, Harwantiningrum, dan dua orang anak, yakni Ken Noorca Sahilatua (anak pertama), dan Hugo Delani Sahilatua. Menurut rencananya jenazah Franky akan dimakamkan esok hari di TPU Tanah Kusir.

Saya sendiri dengar lagu lagu Franky sejak masih duduk di bangku SD atau SMP, dan memang lagu lagu yang bertema balada dan kehidupan memang akrab dalam bait bait lagu bersyair indah yang ditulis oleh Franky dan Jane. Apalagi lagu "Kemesraan" yang paling amat sering didendangkan dan dilagukan sebagai lagu "resmi" reuni sekolah hampir di seluruh Indonesia. Lagu "Kemesraan" seolah menjadi tembang hits yang paling abadi dan paling sering dinyanyikan di Indonesia ini. Ah sang penyanyi kini sudah menghadap Yang Kuasa.

Lagu lagu Franky akan selalu berada di hati kita. Selamat Jalan Franky Sahilatua. Lagu lagu mu akan selalu berada di hati sanubari bangsa Indonesia. Selamat Jalan


Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog From Indonesia