Catatan Asep Haryono

Siapa pun pada umumnya senang kalau kedatangan tamu.   Apalagi tamu yang datang sangat ditunggu tunggu kedatangannya    Lebih asyik lagi kalau tamu yang datang juga membawa buah tangan atau oleh oleh yang menjadi kesukaan tuan rumah.  Wah kalau sudah begini rasanya seru dan sangat menyenangkan bukan?.  Namun sayang kemarin rumah kami di Komplek Duta Bandara kedatangan Tamu Tidak Diundang alias kedatangan Pencuri bin Maling 

Satu hari sebelum saya pulang ke Pontianak (Ibukota Propinsi Kalimantan Barat) tanggal 19 Februari 2015 dari lawatan mendadak 2 Hari di Jogjakarta (Jawa Tengah), saya mendapat telepon dari orang tua angkat kami di Pontianak yang mengabarkan kalau rumah kami di Pontianak kebobolan kawanan pencuri.

Pengasuh anak anak kami di sambungan Telepon menyebutkan bahwa rumah kami di Pontianak yang diduga dimasuki pencuri ini sudah diketahui oleh Ketua RT dan RW setempat dan juga beberapa orang warga Komplek.   Namun mereka tidak berani "otak atik" rumah kami yang berantakan itu.   


Mereka membiarkan posisi rumah kami yang berantakan di dalamnya agar diliat sendiri oleh kami sebagai tuan rumah.  Selain itu juga bisa digunakan sebagai data awal guna proses penyelidikan oleh aparat berwajib.   Kami memutuskan tidak melaporkan (dugaan) pencurian ini kepada aparat berwajib.  Saya yakin banyak sidik jari si maling Jahanam ini.  Biarlah.


Suasana kamar berderai
Saat saya datang saya langsung masuk ke dalam kamar.  Berantakan semua berkas dan file file diacak acak pencuri.  Saya ambil gambarnya terlebih dahulu.  Foto Asep Haryono
Lemari sudah terbuka
Lemari pakaian kami sudah dalam keadaan terbuka.   Dalam lingkaran warna hitam itulah kami menyimpan Monitor Flat Komputer yang turut lenyap digasak pencuri.   Saya ambil gambarnya terlebih dahulu.  Foto Asep Haryono
Laci Sudah terbuka
Laci laci alat alat tulis sudah tergeletak di bawah   Tidak ada barang berharga di laci laci ini.  Sepertinya si pencuri sedang mengincar barang berharga. Berantakan semua berkas dan file filenya diacak acak pencuri.  Saya ambil gambarnya.  Foto Asep Haryono
rusak engselnya
Inii Pintu belakang rumah saya.  Tampak Selop engsel bagian bawah yang rusak.  Diduga sang maling mendobrak paksa pintu belakang hingga rusak di engsel kuncinya..  Saya ambil gambarnya terlebih dahulu.  Foto Asep Haryono
jendela yang sudah terbuka
Saat saya datang saya juga langsung cek pintu belakang.  Tampak jendela yang sudah terbuka.  Kuat dugaan Maling berhasil membuka jendela yang sudah berteralis ini.  Saya ambil gambarnya terlebih dahulu.  Foto Asep Haryono

Saya pun langsung memesan Tiket Online melalui Traveloka untuk kepulangan hari Kamis, tanggal 19 Februari 2015 yang bertepatan dengan Hari Besar Umat Tiong Hoa yang biasa dikenal dengan Tahun Baru China (IMLEK).   Mohon saya dikoreksi jika salah ya.  Teirma Kasih sebelumnya    Saya sudah kuatir harga TIKET bakalan Melejit karena kepulangan saya pas dengan Hari Besar (Nasional)  tanggal merah pula.  Bayangan saya pasti kena harga tiket One Million Something  (Kena harga Satu Jutaan rupiah) nih.


Alhamdulillah kena juga Tiket Promo Maskapai Srwijiya Nam Air Dengan Kode Penerbangan Sriwijaya ir SJ-9237 Tujuan Jogjakarta - Pontianak pada tanggal 19 Februari 2015  Penerbangan Pukul 16.45 WIB dengan harga Rp.635.127,- (Enam Ratus Tiga Puluh Lima Ribu  Seratus Dua Puluh Tujuh Rupiah).   Murah banged kan.   Nanti akan saya ceritkan di bagian cerita tersendiri pengalaman memesan Tiket di TravelKoka ini   Insya Allah.

Tiba di kota Pontianak 19 Februari 2015 hari itu juga pada pukul 19.10 WIB.  Sampai di rumah saya langsung menaruh terlebih dahulu Travel Bag American Tourister dan Tas Ransel saya ,   saya ambil Samsung S5-SG100H saya dan langsung saya mengambil gambar gambar (foto) keadaan rumah saya yang masih dalam posisi utuh Berantakan oleh maling.  Informasi yang saya terima via telepon bahwa rumah kami kebobolan pencuri ternyata benar adanya.    Inna lillahi WainnaIlaihi Radjiun.

Setelah diperiksa dengan seksama beberapa barag di rumah sudah dibawa Pencuri yaitu 1 (satu) buah Mesin Pompa Air,  1 (satu) buah Helm , 1 (satu) buah IPAD , 1 (satu) buah LED Monitor LD E`942C ukuran 18.5 Inch , 1 (satu) buah Printer Merek Canon Pixma IP2770 dan 1 (satu) buah Tabung Gas Elpiji ukuran 3 (tiga) Kilo.  Kerugian Materi diperkirakan sekitar Rp.2.200.000,- (Dua Juta Dua Ratus Ribu Rupiah).  (Asep Haryono).

Keamanan lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama. Ungkapan ini memang tidak berlebihan terlebih sekarang ini banyak sekali terjadi pencurian di kota Pontianak tercinta. Berbagai laporan yang masuk di Kepolisian menyebutkan bahwa pencurian banyak terjadi di lingkungan komplek atau perumahan. Mengapa bisa demikian?

Apakah keamanannya tidak ada maksud saya petugas yang menjaga keamanan komplek yang dibayar seperti satpam tidak menjalankan fungsinya? Bagaimana cara kita mengamankan barang dan harta benda kita sendiri dari ancaman pencurian yang lagi marak sekarang ini. Tulisan kali ini mencoba menawarkan alternatif pemecahan persoalan keamanan di komplek atau perumahan.

Salah satu kelemahan mendasar keamanan komplek yang rapuh dan bahkan mudah ditembus oleh para pencuri adalah letak geografis komplek itu sendiri selain faktor bentuk arsitektur bangunannya yang memang rawan dan membuka peluang terjadinya aksi pencurian. Faktor manusia memang juga berperan dalam hal ini, namun untuk membatasi agar cakupan bahasan saya tidak terlalu melebar, sengaja saya batasi pada sistim atau pola keamanan lingkungan komplek yang saya coba tawarkan di bawah ini

  1. Menggiatkan Ronda
    Nah ini memang sudah amat lazim dilakukan bahkan bukan dikomplek perumahan atau komplek seperti yang saya diami sekarang ini , Komplek Duta Bandara Supadio Pontianak. Rata rata semua perumahan, komplek , atau pemukiman di seluruh Indonesia sudah lama menggiatkan pola siskamling atau kepanjangan dari Sistim Keamanan Lingkungan. Pada dasarnya adalah pola jaga lingkungan berbentuk ronda keliling pemukimannya yang dilakukan oleh satpam atau warga sendiri. Ini memang sudah lazim dan umum dilakukan di masyarakat kita.

    Kewajiban Satpam komplek menjaga keamanan lingkungan sesuai dengan amanat yang diamanatkan kepadanya. Wajar donk karena mereka kan mendapat upah, honor atau gaji atau apalah namanya juga dari hasil iuran warga komplek. Jangan sampai terkesan para Satpam komplek bertugas jaga keamanan komplek sekedar "gugur kewajiban" atau bekerja malas malasan. Jangan sampai mereka makan "gaji buta" dalam artian kerja males tapi duitnya mauk. Jangan datang jaga malam alasannya ketiduran segala. Alasan ketiduran sampai 3 rumah bobol dalam satu malam seperti yang terjadi pada tanggal 1 Mei 2011 lalu (Salah satu rumah yang dibobol adalah rumah kontrakan ku-red). Alasan itu tidak akan diterima akal. Masih beruntung warga yang kebobolan rumahnya tidak menuntut pertanggung jawaban si satpam.

  2. Memperbanyak Satpam
    Nah untuk ide yang kedua ini adalah memperbanyak petugas jaga atau satuan pengaman (Satpam). Memang untuk usulan kedua ini memerlukan banyak dana sudah pasti. Apakah dana yang besar nantinya akan dibebankan kembali kepada warga komplek dengan menaikkan jumlah iurannya?. Sebagai contoh komplek saya sendiri, Duta Bandara Supadio, sudah dikenakan iuran keamanan RT sebesar Rp.20.000,- (Dua puluh ribu rupiah) akan naik menjadi 50 ribu bahkan lebih?.

    Saya kira warga tidak akan keberatan membayar lebih kalau ada jaminan keamanan terjamin dan tidak kebobolan. Memang sih soal menjaga keamanan rumah juga menjadi tanggung jawab orang per orang (tiap kepala keluarga-red), tapi mereka kan digaji. Wajar kalaw kita para warga berharap para satpam komplek sigap dan tanggap dengan tugasnya. Andai petugas jaga (satpam-red) di setujui untuk ditambah (otomatis dana satpam juga bertambah yang berimpak pada naiknya iuran warga), maka petugas jaga (satpam) harus "merata" di seluruh blok dalam komplek.

    Jadi misalnya komplek saya, Duta Bandara, ada blok A-D, maka tiap blok dijaga oleh 1 atau 2 orang satpam. Total keseluruhannya menjadi 8 (delapan) orang Satpam. Dengan perincian satu blok dijaga oleh 2 orang Satpam. Tiap satpam juga dibekali oleh peralatan yang memadai seperti sepeda misalnya, Lampu Senter, dan juga HP. Nah benda benda "ajaib" itu sangat penting untuk menunjang pekerjaannya. Senjata? Eit sabar dulu. Para Satpam komplek tidak perlu lah pake senjata api. Karena memang tidak mungkin untuk disediakan. Sediakan saja pentungan atau senjata lain yang tidak mematikan (lethal weapon-red). Lagian prinsip dasar adalah menjaga keamanan kan? Satpam tidak ditugasi menangkap atau meringkus maling atau pencuri.

  3. Warga Jaga Sendiri
    Ya warga harus menjaga sendiri keamanannya. Apa boleh buat. Kalaw warga komplek berpikir bahwa satpam di kompleknya ngawur , malas, atau tidak dipercaya lagi integritas dan kredibilitasnya dalam menjaga keamanan komplek, apa boleh buat warga komplek sendiri yang harus turun untuk menjaga wilayahnya masing masing.

    Sifatnya locally dalam artian menjaga rumahnya masing masing. Benar seperti kata pihak kepolisian Kalbar, bhwa masyarakat dihimbau untuk menjadi polisi bagi dirinya sendiri. Warga keluar rumah sesuai dengan jam "ronda" yang diaturnya sendiri sendiri. Mereka ronda memang bukan untuk meronda komplek. Warga ronda rumahnya sendiri. Apa boleh buat.

    Warga dihimbau untuk keluar rumah meronda menjaga rumahnya masing masing. Jam ronda fleksibel dan tiap warga disarankan untuk tetap berkoordinasi dengan petugas satpam komplek sebagai back upnya. Jam meronda bisa bebas dipilih mulai dari jam jam yang amat rawan terjadinya pencurian seperti mulai dari jam 2 sampai dengan jam 5 dinihari.

    Apalagi berdasarkan pengalaman banyaknya pencurian terjadi pada jam jam tersebut. Tapi tidak menutup kemungkinan juga jam jam rawan justru terjadi pada siang hari. Teori lama yang menyebutkan umumnya pencuri "beraksi" pada siang hari, karena malamnya sudah ada tuan rumah. Teori ini dipatahkan dengan kenyataan bahwa maling pun tidak perduli siang atau malam, bahkan ada orang dirumah sekalipun. Maling memang mencari lengahnya kita. Okelah hari ini terjadi kemalingan, mungkin tidak akan terjadi dalam 1 bulan ke depan. Maling masih bisa "bersabar" menunggu berbulan bulan kedepan sampai warga lupa dan lengah hingga maling semprul itu beraksi kembali.

  4. Warga Jaga Lingkungan
    Warga bergiliran menjaga komplek. Nah ini usulan saya yang terakhir. Untuk usulan format kemanan komplek yang terakhir ini bisa bersinergi dengan satpam komplek yang memang sudah ditugaskan untuk itu. Warga komplek bisa bermusyawarah menjaga kompleknya sendiri dan membentuk "pasukan" sendiri. Hal ini sudah tentu harus dikoordinasikan dengan polisi setempat atau minimal sudah "sowan" dengan ketua RT atau RW komplek masing masing. Ini penting agar ada pihak yang mengetahui dan bertanggung jawab jika terjadi hal hal yang tidak diinginkan.

    Selain itu untuk menghindari kesan warga bersiap main hakim sendiri, maka pihak RT/RW dan Kopilisian harus diberitahu atau saling berkoordinasi. Format pelaksanaan ronda warga secara teknis bisa dimusyawarahkan bersama sehingga tercipta suatu kondisi dimana warga komplek seluruhnya dalam kondisi "siaga 1" menjaga keamanan kompleknya. Bisa saja blok A membentuk keamanan swakarsa yang terdiri atas para bapak kepala keluarga "bergerilya" menjaga bloknya. Juga terhadap blok blok lainnya. Dan peran Satpam komplek di sini bersifat back up.

    Format terakhir ini memang belum dilakukan oleh komplek saya, dan keefektifitasnya pun masih belum teruji. Apakah akan berhasil sesuai dengan harapan?. Kendala sudah pasti ada karena tidak semua kepala keluarga bersedia diikutsertakan. Alasan bisa saja ada misalnya sibuklah, pekerjaan masuk malam lah dan lain sebagainya. Memang tidak ada kewajiban atau bersifat pemaksaan. Dari dulu selalu begitu.

    Semuanya terpulang kepada kesadaran warga bahwa lingkungan yang aman adalah untuk kita semua. Kalaw komplek aman, semuanya pasti senang. Dalam benak saya berpikir, jika warga komplek sigap dan siaga menjaga keamanan bahu membahu, para maling akan berpikir dua kali jika akan melancarkan aksinya. Silahkan saja coba, kalaw nda mau remuk tuh badan digebukin warga sebelum diserahkan kepada polisi.
Nah dari sekian banyak alternatif sistim keamanan komplek yang sudah saya sebutkan secara ringkas di atas, manakah yang menurut anda lebih memungkinkan untuk diterapkan. Dengan perkiraan biaya yang murah, kita semua bisa menjaga lingkungan sekitar kita dengan pola yang lebih baik lagi. Terlepas dari secanggih apapun sistim keamanan yang kita terapkan, tidak akan banyak artinya jika kita sendiri tidak menyadari betapa keamanan adalah tanggung jawab kita bersama.

Keamanan adalah untuk kita semua juga, bukan untuk orang lain.

Melihat judul tulisan saya kali "akhirnya kemalingan (lagi) ini memang sudah bisa ditebak isinya oleh siapa pun yang membaca judul yang sederhana ini. Hari ahad (minggu) pagi tanggal 1 Mei 2011 yang lalu, rumah kontrakan kami di komplek Duta Bandara Ahmad Yani 2 Supadio telah berhasil dimsuki maling.

Sejumlah barang turut raib yang setelah kami periksa yang berhasil digondol maling adalah sebuah Laptop Merek Axioo, HP K-Tourch, Cincin 3 gram, dan uang tunai sekitar 200 ribu rupiah. Sedangkan surat surat dan kartu kartu identitas seperti SIM, STNK, ATM, Kartu Pegawai Istri, serta identitas lainnya utuh walaupun berserakan ditempat kejadian. Setelah kami periksa dengan seksama dan menghitung kartu identitas kami tersebut, lengkap tidak ada yang hilang.

Kedua Kalinya
Ini merupakan kejadian yang kedua kalinya. Kejadian kemalingan yang pertama terjadi pada hari Sabtu tanggal 4 April 2011. Saya ingat persis karena sehari setelah peristiwa itu saya langsung membuat tulisan kemalingannya. Jadi ingat benar tanggalnya. Saat itu hari Sabtu 4 April 2011 kejadiannya. Saat itu saya mengajak anak saya yang gede baru berumur 3 tahun 2 bulan (ya gede juga kan hehehee-red) untuk mendirikan Sholat Magrib di Masjid BaBussalam yang letaknya hanya berjarak sekitar 500 meter dari rumah kontrakan kami di komplek Duta Bandara.

Singkat cerita sepulang dari Sholat Magrib itulah, saya mendapati kalaw HP Nokia 1661 tertinggal di lemari perpustakaan yang letaknya di ruang tamu sudah raib alias hilang. HP beserta nomor SIM Perdana saya ikut hilang. Setelah menghubungi GrapaRI Telkomsel, nomor yang hilang itu berhasil di shutdown , dan diganti dengan kartu yang baru dengan nomor yang sama. Saya pun harus bekerja keras mengumpulkan kembali nomor nomor Hp yang turut hilang satu persatu karena saya belum sempat mencatatnya di buku manual. Saya hanya mengandalkan memori di kartu perdana saja untuk mencatat nomor nomor phonebooknya.

Kornologis Kejadian
Hari itu Sabtu malam minggu (30 April) 2011 sekitar jam 22.00 WIB saya memang berada di ruang tamu menonton pertandingan sepakbola antara Real Madrid VS Zarzagosa kalaw nda salah sih. Skornya 6-3 menang Tim Real Madrid yang dibintangi oleh Ronaldo itu. Sedangkan istri dan kedua anak saya berada di dalam kamar yang letaknya hanya bersebelahan dengan ruang tamu. Sang istri asyik bercengkerama dengan anak anak karena teriakan tertawa anak anak terdengar jelas sesekali diiringi dengan celoteh abbie (3,2 thn) yang memang lagi bandel bandelnya itu.

Selesai menontong sepakbola, saya pun larut menonton acara selanjutnya di lain channel. Kali ini meliat tayangan Box Office Movie langganan saya di chanel TransTV hingga ke pukul 00.30 WIb dinihari. Karena sudah tidak ada lagi fim yang menarik, maka saya pun mengambil Laptop di ruang kamar tempat istri dan anak anak sedang bermain main itu. Laptop Axioo milik istri punsaya bawa ker ruang tamu tempat saya menonton TV. Saya pun larut menulis atau membuat tulisan di Laptop sambil tetap menonton acara TV. Keren kan. Biasanya kan orang menonton TV sambil ngemil makanan, nah kalaw saya menonton TV sambil mengetik di laptop membuat tulisan. Saya masih ingat judul tulisan saya "keluarga ideal" yang saya maksudkan sebagai bahan blog saya nanti pagi.

Lalu tulisan saya pun kelar sekitar jam 02.30 Selasa dinihari tanggal 1 Mei 2011. Walah selama itu mengetik tulisan? Ya tentu saja tidak. Kan mengetik tulisannya sambil nonton TV ya jadi lama seleseinya ehehehe. Kalau full time ngetik aja tanpa ada kegiatan lain menonton TV mungkin saya hanya perlu waktu yang tidak terlalu lama. Selesai mengetik, saya pun menshutdown Laptop saya, dan mengembalikan semula ke kamar. Saya mendapati istri tercinta sedang menyetrika dan membereskan tas dan keperluan lain yang akan di bawa ke lokasi mengajar di SMA Negeri 1 Kubu besok Senin nanti. Tas istri yang sudah di"isi" dengan cincin, HP dan juga uang memang sudah masuk ke dalam tas merek Elizabeth kesukaannya. Dan Tas itu diletakkan di gagang pintu kamar.

Saya sempat bertanya kenapa sudah packing kan berangkat ke Kubunya hari Senin besok? Kata saya kepada istri. "Nda apa apa mas, sudah disiapkan semua dalam tas agar praktis tinggal tarik aja berangkat, takut ada yang terlupa dibawa, jadi sekarang aja diberesin" kata istri. Ya sudahlah kalaw begitu. Akhirnya Laptop pun saya taruh di meja komputer, dan sang istri tetap asyik menyetrika hingga pukul 03.00 WIB dinihari. Saya pun izin kembali ke ruang tamu, untuk mematikan TV karena sudah merasa ngantuk sekali dan mau tidur di ruangan tamu. Saya memang biasa tidur beralaskan selimut tebal di ruang tamu, sedangkan istri dan anak anak tidur di kamar dan itu hampir setiap hari. Saya pun jatuh tertidur di ruang tamu, dan istri selesai menyetrika (menurut pengakuannya) selesai jam 03.00 WIB. Anak anak sudah lebih dahulu tertidur di kamar.

Inilah saat terjadinya. Kami berdua sudah tidak ingat lagi. Saya tertidur di ruang tamu, dan istri tertidur di kamar beserta anak anak. Kami berdua bangun pas saat adzan Subuh terdengar. Saya pun bergegas ke belakang rumah untuk mengambil air wudhu. Sedangkan istri terbangun namun belum bisa sholat. Saat membuka pintu belakang untuk ambil air wudhu itulah, saya sudah curiga jendela belakang agak terbuka. Saya pikir ini pasti ulah sang istri. Karena saya sering mendapatinya menbuang air susu botol yang sudah lama dan terasa asem dengan cara membuka jendela belakang. Praktis memang tidak perlu membuka pintu. Gitu pikir saya, ya sudahlah kalaw begitu. Saya pun kembali masuk, dan pintu pun saya kunci dengan tetap membiarkan jendela terbuka. Toh sudah pagi pikir saya, dan kami pun sudah tidak tidur lagi.

Setelah selesai sholat Subuh, saya pun ke dalam kamar, dan mendapati istri saya seperti kebingungan. "Mas, lihat laptop nda? kata istri dengan mimik wajah seperti ketakutan. "Ah ada khan, kan sudah mas taruh di meja komputer ini" kata saya sambil menunjuk meja komputer. Saya masih ingat menaruh laptop di meja komputer yang ada di kamar. Tapi kok tidak ada ya, kan saya taruh di sini semalam. Kami pun berdiskusi kecil mengenai "keberadaan" laptop yang tidak jelas itu. "Lalu kemana tas bunda ya" kata istri lagi. Sang istri masih ingat betul tas yang sudah diisi lengkap itu ditaruh di gagang pintu kamar siap dipakai. Tas Elizabethnya juga tidak ada di sana. Kami pun mulai tidak enak rasanya.

Setelah hari cerah sekitar pukul 06.00 WIB kami berdua bersama sama memerika ke belakang rumah dan mendapati semua kartu identitas kami berserakan dipintu belakang. KTP, SIM, STNK, ATM, Kartu nama, Kartu Pegawai dan berbagai kartu lainnya berserakan, bertaburan di tanah belakang rumah. Tas saya pun berserakan dibawah. "Ah udahlah kena maling kita" gumam kami berdua. Dan kami sadar bahwa kami sudah dimasuki pencuri.

Yang uniknya lagi kami mendapati sepotong celana kain pendek seukuran lutut yang tidak kami kenal dan basah berada dekat dengan kartu yang berserakan itu. Kami duga sang maling berenang dari belakang rumah menuju rumah kami. Letak rumah kami memang "dipisahkan" dengan parit kecil kedalaman sekitar 2 meter lalu sawah. Posisi rumah kontrakan kami memang sasaran empuk dari maling karena berada dilingkaran komplek berhadapan dengan sawah dan sering dilalui orang luar. "yah kena maling lagi kita" kata saya. Kami duga celana pendek kain seukuran lutut itulah kami duga milik si pencuri. Kami amankan benda itu sebagai barang bukti kami.


Melaporkan Kejadian
Setelah kami yakin bahwa rumah kami dimasuki pencuri, maka kami pun langsung menghubungi keamanan via telepon dan SMS. Dari tiga orang petugas keamanan komplek yang kami hubungi itu, hanya satu yang langsung merespon panggilan darurat kami. Pak Muhyar, adalah salah satu staf keamanan komplek yang langsung datang ke rumah kami. Kami pun menceritakan peristiwa dan kronologis kejadiannya kepada beliau. Atas saran beliau, kami pun diminta segera lapor kepada ketua RT Komplek sesuai dengan tradisi dan hirarkis yang ada. Dan sudah kami laporkan kepada beliau selengkap lengkapnya.

Menurut informasi yang kami terima dari pak RT, rupanya hari itu terdapat 3 (tiga) rumah yang berhasil dibobol pencuri. Salah satu rumah tersebut ya rumah kami yang dimasuki pencuri. Rupanya kami tidak sendiri yang bernasib malang yang rumahnya dimasuki pencuri. Menurut informasi dari pak RT, 2 (dua) buah rumah lainnya yang berhasil dibobol pencuri terletak di Blok B, dan E, sedangkan rumah kami terletak di blok C. Apa yang sebenarnya terjadi, gitu kira kira pikir saya. Apakah ini merupakan pencurian terkoordinasi? atau kebetulan aja, banyak pencuri yang masuk hari itu ke komplek kami. Yang kami maksud di sini adalah para korban pencurian merupakan ulah pencuri yang berbeda beda. Itu juga kami belum tau.

Kami pun melaporkan kejadian yang menimpa kami di rumah pak RT yang juga sekaligus digunakan sebagai tempat diskusi warga. Pak RT pun mencatat dengan cermat cerita yang kami sampaikan dan mencatat apa apa saja yang hilang dicuri. Dan atas saran beliau, kami diminta membuat laporan juga ke Polsek Sui Raya atau Polsek Kubu Raya sebagai bahan laporan. Dan Pak RT Komplek Duta Bandara pun segera menggelar rapat darurat dengan semua staf keamanan komplek Duta Bandara membahas kejadian pencurian masif hari itu.

Kami pun berencana membuat laporan juga ke Polsek Setempat, namun sampai saat tulisan ini saya buat hal itu juga belum kami lakukan. Sejauh ini baru sepengetahuan RT saja yang mengetahui peristiwa yang kami alami. Alasan utama kami adalah karena kami pun tidak mau repot dengan urusan tetek bengek diPolsek, dan kami menganggap kejadian kemalingan kedua bagi kami ini adalah murni karena kelalaian kami juga. Saya pun tidak menyalahkan keamanan yang bertugas hari itu karena saya pikir tanggungjawab keamanan adalah tanggung jawab bersama, dan tidak bisa mengandalkan tenaga keamanan yang jumlahnya terbatas itu.


Seperti Siaga Satu
Pasca peristiwa kemalingan kedua kalinya ini, kami menjadi kuatir akan terjadi lagi untuk ke 3 kalinya. Saya dan isri sudah sepakat untuk menaikkan status darurat gawat dalam keluarga dari warna hijau menjadi merah (red). Dalam artian faktor keamanan rumah menjadi prioritas. Status siaga satu di rumah kontrakan kami sekarang ini juga bukan tanpa alasan. Dengan kejadian kemaliangan pertama dan yang kedua ini, kami pikir bisa saja terjadi untuk berikutnya dan berulang ulang. Maka dari itu "mata rantai" ini harus kami putus dengan cara menerapkan status siaga satu di rumah.

Kami pun memesan teralis besi untuk membuat "pertahanan" di rumah. 2 buah jendela depan, satu di samping, satu diruang taumu, dan satu jendela di kamar tidur akan dilengkapi dengan teralis minimalis yang kokoh. Kunci kamar pun sekarang sudah dipasang slop tambahan. Kelak saya sekeluarga akan tidur dalam satu kamar yang terkunci dari dalam. Ini semata mata untuk menjaga diri dari hal yang tidak kami inginkan. Karena dalam peristiwa kejadian malam itu (kemalingan kedua ini - red), sang maling sudah berhasil melihat kami secara fisik. Sang maling diyakini sudah masuk ke dalam rumah dan mendapati kami sekeluarga sedang lelap tertidur pulas. Kami sekeluarga amat bersyukur kami tidak di "apa apa" kan oleh si pencuri yang keliatannya hanya mengincar uang dan barang berharga itu.

Bagi kami sekeluarga sekarang keselamatan adalah nomor satu. Selain itu kami tidak bisa mengandalkan keamanan komplek yang memang ditugaskan untuk menjaga ketertiban dan keamanan komplek Duta Bandara. Biarlah saya menjadi "polisi" bagi saya sendiri dan keluarga. Biarlah kami sendiri yang menjaga keamanan kami. Itulah sebabnya setiap malam pasca pencurian kedua ini bak situasi dalam perang. Kamar kami kini sekarang sudah seperti benteng pertahanan dari serangan musuh. Seperti dalam perang. Bunker perlindungan. Gejala apa ini? Apakah kami paranoid? Tentu saja tidak. Dalam kacamata kami ini bukan paranoid, tapi berjaga jaga dari segala kemungkinan.

Apakah sudah tidak ada lagi rasa aman di kota ini?
Siapapun pasti tidak akan mau kalaw rumahnya kemasukan para tamu yang tidak diundang alias maling bin pencuri. Tapi untung tidak dapat diraih, malang pun tidak dapat ditolak. Entah saya juga tidak tahu apakah ini yang disebut musibah atau ini yang disebut dengan kelalaian yang berakibat (cukup) fatal.

Apa yang terjadi kira kira dua hari yang lalu masih menyimpan tanda tanya besar bagi kami sekeluarga, kok bisa bisanya sang Maling (yang masih dugaan sih sebenarnya) bisa merangsek masuk ke dalam rumah yang yang jelas jelas masih ada orang di rumah.

Abstraksi dari tulisan saya hari ini adalah saya kemalingan pada hari Sabtu kemarin, tanggal 3 April 2011, dan sebuah Hanphone merek Nokia 1661 beserta kartu Simpati di dalamnya lenyap yang diduga akibat perbuatan maling di rumah kontrakan saya di Duta Bandara Jalan Ahmad Yani II Pontianak

Analisa Sementara
Saat itu hari Sabtu 4 April 2011 kejadiannya. Saat itu saya mengajak anak saya yang gede baru berumur 3 tahun 2 bulan (ya gede juga kan hehehee-red) untuk mendirikan Sholat Magrib di Masjid BaBussalam yang letaknya hanya berjarak sekitar 500 meter dari rumah kontrakan kami di komplek Duta Bandara. Setelah mandi dengan segarnya dan memakai gamis, peci (kopiah) dan celana panjang, dan anak saya juga rapih kami berdua pun langsung menuju Masjid Babussalam dengan naik sepeda motor Supra Fit KB 3815 HY kesayangan. S

aat adzan masih berkumandang, saya pun menyalakan motor, dan anak saya sudah berada di stang kemudi. Namun saya teringat halaw HP Nokia 1661 tertinggal di lemari perpustakaan yang letaknya di ruang tamu. Saya pun kembali masuk ke dalam ruang tamu, mematikan HP itu dan memasukkannya ke dalam box plastik bertingkat yang letaknya bersebelahan dengan lemari perpustakaan di ruang tamu. Namun sayangnya saat saya memasukan HP tersebut yang sudah dioffkan, posisi HP tidak sempurna masuk ke dalam box plastik merah bertingkat. Ah saya pikir cuma ditinggal sebentar ini. Dan saya pun kembali ke sepeda motor, dan tidak lupa menyuruh anak saya untuk menutup pintu dengan rapat.

Namun alangkah terkejutnya setelah sampai di rumah, dan sekitar jam 21.30 WIB , saya buka laci box plastik warna merah saya yang letaknya di ruang tamu, dan mendapati HP Nokia 1661 yang saya masukkan ke dalamnya sudah tidak ada sama sekali. Saya pun mencoba mengingat ingat dimana letaknya HP Nokia 1661 kesayangan saya itu. Mulailah menelusuri kembali HP saya itu mulai dari saat menuju Masjid di waktu Magrib hingga ke warung terdekat. Sebab ada kebiasaan jelek saya kalaw belanja ke warung terdekat , HP selalu saya bawa bawa. Yah namanya juga mobile kan, kadang saya harus siap saat menerima panggilan HP dari rekan kerja, klien, dan atau dari teman teman lainnya.

Namun hasil penulusuran kembali "rute rute" yang saya lalui mulai dari Magrib itu sampai kembali ke rumah juga belum membuahkan hasil. Sedangkan investigasi yang saya lakukan dari rumah hingga menanyakan kepada orang rumah yang saat kejadian berlangsung, istri dan bayi kami berada di dalam kamar. Namun herannya suara yang ditimbulkan sang maling dalam beraksi dan diduga sebagai pelaku yang menyambar HP saya di ruang tamu juga tidak terdengar. Nyaris tak ada suaranya. Silent gitu deh. Wah wah ada apa ini. Sedangkan HP saat saya tinggalkan juga sudah dalam keadaan off, jadi akan semakin membingungkan kita semua akhirnya. Sejenak saya melongo setengah tidak percaya. Rumah kontrakan yang selalu saya kawal dengan ketat ini akhirnya benar benar "kecolongan" juga.

Semoga Malingnya Bodoh
Banyak modus operandi pencurian HP dilatar belakangi oleh berbagai motif dan tujuan. Setiap motif tentu berbeda antara satu maling kemaling yang lainnya. Dalam melakukan aksinya pun, para maling berbeda antara satu gaya dengan gaya yang lainnya. Dalam berbagai kesempatan, dan pada umumnya para pencuri HP biasanya hanya menginginkan HPnya saja, dan membuang kartu memori (chip) yang ada di dalamnya. Dia tidak perduli mau kartu apa kek, dan jenis dan nomor bagus apa kek dia tidak akan perduli.

Namun kadang ada juga maling HP yang cerdas dan agak intelek sedikit dan mempunyai misi dan tujuan dalam mencuri HP. Selain si maling mendapatkan HPnya, dia juga bisa memanfaatkan HP tersebut untuk berbagai tujuan. Inilah maling cerdas yang harus kita waspadai dan kita cermati gerak gerik maling HP yang cerdas ini.
  1. Memanfaatkan Pulsa Yang ada Di HP
    Si pencuri HP akan menghabiskan semua isi pulsa dari HP rampokannya. Apalagi kalaw berjenis langganan Hallo (pasca bayar-red). Si maling akan berpesta pora menelpon sana sini kalaw perlu interlokal siang malam. Hasilnya si pemilik akan gigit jari melihat tagihan rekeningnya yang meningkat. Kasian kan. Iya si malingnya yang tidak kasihan sama anda.

  2. Memanfaatkan Phone Book address
    Ini yang dirasakan sangat mengganggu. Si Maling akan mengirimkan SMS kepada nomor nomor terentu dalam HP dan meminta uang karena alasan sakit misalnya. Si penerima SMS tentu akan percaya karena si pengirim adalah orang yang dia kenal, padahal si pengirim SMS adalah maling yang berpura pura sebagai pemilik HP. Inilah yang harus kita waspadai bersama sama.

  3. Memanfaatkan Data Photo
    Banyaknya peredaran foto foto di internet, konon salah satu penyebabnya adalah dari data HP yang hilang atau tercuri lalu beredar tiba tiba di Internet. Jadi si Maling bisa saja iseng dengan mengirimkan foto atau gambar anda di internet. Apalagi jika ada video pribadi di HP wah wah bisa bisa runya urusannya. Jadi usahakan tidak menyimpan file file foto pribadi di dalam HP anda, sebab kemungkinan ini bisa terjadi pada siapa saja

Kiat Pencegahan
Jadi dengan pengalam saya ini, maka ada beberapa cara yang saya rekomendasikan buat anda untuk berjaga jaga jika mengalami musibah kecurian HP seperti saya. Walaupun HP saya yang hilang bertipe Jadul alias HP kuno, namun fungsi utama HP sebagai alat komunikasi selalu saya utamakan. Dengan semakin menjamurnya HP canggih berfitur lengkap dan berharga murah yang beredar di pasaran saat ini, saya tidak perduli. Yang penting HP bisa digunakan buat terima telp dan mengirim SMS bagi saya pribadi sudah lebih dari cukup. Sekarang banyak orang punya HP canggih berfitur lengkap dan berharga aduhai, tapi tidak bisa mengoperasikannya. Punya buat HP cuma buat gaya. Itu tidak berlaku bagi saya.

Kiat kiat di bawah ini boleh anda coba ntuk berjaga jaga jika mengalami musibah kecurian HP seperti saya:
  1. Gunakan PIN atau Password HP
    Saya sendiri memang tidak memakai PIN di HP sebagai akses ke HP. Karena saya pikir tidak ada gunanya toh HP saya pakai sendiri. Namun setelah mengalami kejadian kehilangan HP seperti yang baru saja menimpa saya, saya akan mempertimbangkan kembali untuk menggunakan PIn atau Password pembuka HP saya.

  2. Gunakan nama sandi untuk orang terentu di HP.
    Nama orang tua misalnya sebaiknya tertulis dalam phone book dengan nama tertentu yang hanya anda sendiri yang tau siapa dia. Hal ini akan sangat berguna jika HP anda hilang atau tercuri. Sehingga nomor HP orang tua anda tidak akan dihubungi oleh orang yang mengaku ngaku anda dan meminta uang. Ini akan sangat berguna untuk merusak konsentrasi si maling atau mengacaukan si Maling jika akan menyalah gunakan nomor nomor phone book di HP anda

  3. Tidak Sembarang Menyimpan HP
    Ini agak klise. Namun karena hal hal remeh seperti inilah yang justru bisa membuat anda celaka karena menganggap remeh hal hal yang kecil. Misalnya kebiasaan menaruh HP disembarang tempat. Selain mengundang aksi pencuri, menaruh HP yang sembarangan bisa menyebabkan anda lupa sendiri dimana anda meletakannya. Jika HP anda mempunyai gantungan atau tali makan sematkan di saku anda dengan tali HP melingkari HP anda. Selain untuk mencegah HP jatuh dari saku, anda juga akan mudah untuk meraih HP anda. Terserah anda gimana caranya untuk tidak menaru sembarangan HP anda di sembarang tempat

  4. Segera Lapor ke instansi berwenang
    Ini saya alami sendiri. Setelah saya tau HP Hilang yang saya duga diambil maling, saya pun langsung menghubungi kantor GraPari Telkomsel, karena kartu saya berjenis kartu praBayar dengan Nomor 08134525xxxx, maka saya melaporkan tindakan aksi pencurian ini kepada graPari Telkomsel.

    Setelah menghadap bagian Quick Service di GraPari Telkomsel yang terletak di Jalan Ahmad Yani pun, akhirnya saya berhasil menshut down nomor saya yang hilang itu sehingga tidak bisa digunakan si maling. Kemudian setelah mengisi formulir dan membayar biaya materai saya pung diminta mengisi formulir pernyataan bahwa nomor yang hilang itu adalah milik saya sendiri. AKhirnya saya pun berhasil mendapatkan kartu prabayar baru dengan nomor yang sama dengan yang hilang itu

  5. Catat nomor HP di Buku
    Ini penting. Karena akan menjadi cadangan data anda jika HP anda hilang dan anda kehilangan semua nomor nomor yang terekam dalam data chip kartu anda itu. Bisa saja kan anda tidak sengaja mendelete semua nomor phone book di HP anda. Ini memang sering terjadi ada orang tidak sengaja menghapus semua phone book dalam HPnya. Wah gawat tuh. Jadi selain anda menyimpan data phonebook di chip kartu anda, sebaiknya anda juga mencatat secara manual di tempat lain. misalnya Buku, Agenda, Diary, Notes dan lain sebagainya

Ok Selamat mencoba dan tetap waspada ya

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog From Indonesia