Help us to keep our home
Tag : TKI - Asep Haryono | Nasib Pejuang Devisa - Powered by Blogger
Baru baru ini kita dikejutkan dengan beredarnya kabar dipancungnya seorang TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dan juga TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang bernama Ruyati asal kabupaten tempat saya tinggal, Bekasi, yang sudah dihukum Qisas (Hukuman pancung-red) oleh otoritas kerajaan Arab Saudi. Kabar meninggal TKW Ruyati (almarhumah) ini sontak membuat bangsa Indonesia terkejut dan menangis.

Berita yang sangat tiba tiba itu datangnya memang amat mendadak, bahkan menurut informasi yang beredar beredarnya kabar dipancungnya Ruyati tidak sampai kepada Pemerintah. Bahkan pihak KBRI kita yang berada di Arab Saudi pun terlambat mengetahui. Siapa yang salah dalam kasus ini sehingga membuat bangsa ini kembali diremehkan bangsa lain?. Mengapa derita Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri yang konon dianggap sebagai "Pahlawan Devisa" ini selalu terulang dan terulang lagi?. Lantas kalau sudah begini, apa yang harus segera dibenahi oleh kita dalam hal perlindungan TKI kita di Luar Negeri.

Pidato Presiden SBY pada konperensi International mengenai Buruh Migrant yang baru baru ini berlangsung di negara SWISS seolah menjadi isapan jempol dan pepesan kosong belaka. Presiden SBY kata sejumlah kalangan dianggap mumpuni dan hebat dalam menyampaikan konsep perlindungan buruh migrant di Luar Negeri, tetapi lemah dalam implementasinya. Aktifis Migrant Care yang selama ini gencar mempromosikan perlindungan terhadap TKI di Luar Negeri juga menilai bahwa apa yang disampaikan bapak Presiden SBY dalam Konperensi ILO itu tidak sesuai dengan realitas.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang disampaikan pihak pemerintah sendiri dalam hal ini. Menurut versi pemerintah, kasus Ruyati sudah memasuki wilayah Pidana dan tidak proporsional dan tidak relevan dengan apa yang disampaikan presiden pada konperensi ILO itu. DUh mana yang benar sih?. Sebaiknya memang kalaw sudah urusannya begini, sebaiknya semua pihak duduk dalam satu meja dan membicarakan jalan keluar atau solusi masalah ini. Tidak ada satu pun yang berhak menjustifikasi pihak lain. Sungguh tidak cantik jika harus saling menyalahkan jika sudah kejadian begini. Tidak bagus secara etika politik , jika kasus seperti Ruyati ini berimbas pada konteks hubungan kedua negara, baik antara pemerintah negara kita, Indonesia dengan pemerintah Arab Saudi.

Sebenarnya kasus kasus pelecehan seksual yang dialami TKI kita di Malaysia dan juga kasus penganiyaaan lain yang diderita oleh buruh migrant kita (baca TKI-red) di negara jiran kita itu juga sudah memusingkan kepala. Panasnya hubungan negara kita dengan negara Ipin dan Upin itu juga sudah mulai dibelokkan oleh sejumlah pihak untuk memanaskan suasana hingga munculnya isu penarikan duta besar kedua negara masing masing.

Konon biasanya kalaw suatu negara sudah menarik secara resminya dari suatu negara lain, bisa mengarah kepada pembekuan hubungan kedua negara yang bersangkutan. Atau yang paling "masuk akal" adalah penurunan status hubungan kedua negara hingga kepada titik yang paling rendah, yakni hubungan antar atase dagang saja. Wah wah banyak pihak yang diperkirakan akan mengalami kerugian jika hubungan kedua negara rusak karena kasus Ruyati ini. Lalu apa solusinya donk?. Menurut hemat saya ada beberapa poin atau hal yang harus kita perbaiki bersama untuk meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan kita terhadap para "pahlawan devisa" ini untuk masa yang akan datang.

  1. Ciptakan Lapangan Kerja di DN
    Sesuai dengan amanat Undang Undang Negara kita, bahwa semua penduduk Indonesia memperoleh jaminan penghidupan yang layak untuk kemanusiaan. Nah dalam penafsiran saya yang awam ini, artinya negara harus menjamin atau minimal mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga negaranya, bagi rakyatnya. Caranya bagaimana? Apakah harus membuka seluas mungkin porsi penerimaan CPNS yang diadakan hampir dua tahun sekali itu?. Sebagian kalangan menilai, terutama para pengusaha, yang mengeluhkan semakin banyaknya PNS di negeri ini yang bisa berdampak pada sempitnya usaha. Apa iya demikian?.

    Mengapa warga negara kita , WNI, harus mencari nafkah dengan mencari pekerjaan dari negara lain sebagai TKI?. Bukankah ini sebuah bukti bahwa lapangan pekerjaan di tanah air sudah sedemikian sulitnya untuk diperoleh. Lalu kemana sebenarnya arah negara ini mau dijalankan? Apakah tetap sebagai negara agraris lalu berangkat menjadi negara Industri?. Lalu dimanakan peran pendidikan di Indonesia yang mampu menyiapkan para lulusannya menjadi generasi yang siap pakai?.

    Apa ukuran yang kita gunakan untuk mengukur tingkat penyerapan lulus Perguruan Tinggi di pasar kerja?. Lalu bagaimana dengan ratusan bahkan ribuan pengangguran yang terjadi setiap tahun itu?. Namun terlepas dari pusaran masalah itu, pemerintah Indonesia seharusnya malu kalaw ada rakyatnya sampai eksodus ke negara lain mengemis pekerjaan. Harga diri bangsa seharusnya dibela yakni dengan menyediakan sebanyak mungkin lapangan pekerjaan yang layak tentunya bagi rakyatnya sendiri.


  2. Melatih Bela Diri buat TKI-TKW
    Hehe ini usulan baru buat saya. Daripada ribut ribut memberikan fasilitas Hanpdhone buat para TKI kita di Luar Negeri, mendingan dananya digunakan untuk melatih TKI kita dengan ilmu bela diri. Terserah mau bela diri model apa yang mau diajarkan kepada "para pahlawan devisa" itu. Mau kartate, jijitsu, taekwondo, pencak silat apa saja terserah.

    Saya rasa, dan ini pendapat saya, ilmu bela diri itu jauh lebih bermanfaat jika terjadi penyelewengan, pelecehan, dan penganiyaan yang dilakukan oleh majikan, maka TKI kita bisa membela diri. Nah bermanfaat bukan, dan memang lebih berguna daripada membekali TKI kita dengan handphone. Nah setelah mendapat Handphone bukannya buat komunikasi dengan keluarga di tanah air, malah digunakan buat cari pacar. Siapa yang menjamin coba?. Jangan jangan HP nya malah dijual waa lebih kacow donk. Lagi pula kalaw sampai benar benar direalisasikan rencana pemberian HP untuk TKI, malah nanti bisa dijadikan proyek sama pemerintah, dan bisa bisa membuka peluang terjadinya tindak korupsi. Nah lagi lagi korupsi ujungnya.

    Apa saja di negara ini bisa dijadikan peluang untuk korupsi. Jangankan untuk proyek sekelas Wisma Atlet di KEmenegpora yang menghebohkan itu, untuk urusan kecil dan remeh semacam tinta pemilu aja dikorupsiin. Tinta. Tau kan tinda? Ya tinta yang biasa dipakai para pemilih mencelupkan jarinya setelah mencoblos. Tinda item dan tinta biru itu, nah tau kan? Sepele kan urusan tinta. Berapa nilainya? Urusan tinta pemilu aja sudah dikorupsi, Itu untuk urusan sekelas "recehan" kata sebagian anggota DPR. Bah mereka ini ngomongnya asal saja. Justru untuk urusan "receh" begini yang harus diutus tuntas, karena yang dikorupsi toh uang rakyat juga kan melalui pajak. Oala pusing jadi kepala ku memikirkannya.

    Jadi kembali kepada usualan saya. Para TKI kita diluar negeri harus dibekali dengan ketrampilan bela diri untuk membela dirinya jika terjadi tindak kriminal dan penganiyaan majikan di Luar Negeri. Seperti yang sudah saya singgung di atas daripada ribut ribut memberikan fasilitas Hanpdhone buat para TKI kita di Luar Negeri, mendingan dananya digunakan untuk melatih TKI kita dengan ilmu bela diri. Terserah mau bela diri model apa yang mau diajarkan kepada "para pahlawan devisa" itu. Mau kartate, jijitsu, taekwondo, pencak silat apa saja terserah. Nah kan bermanfaat tuh. Hehehe

Nah itu adalah pokok pokok pikiran saya aja. Memang semua itu harus diuji terlebih dahulu, dan saya juga bukan ahli. Saya hanya menyampaikan ide dan pendapat saja yang tentu saja pendapat saya ini bisa berbeda dengan anda. Dan saya harap negara kita, dalam hal ini pemerintah Indonesia sebaiknya tidak lepas tangan terhadap nasib dan penderitaan yang didera dan dialami oleh buruh migran kita, para TKI di Luar Negeri. Karena berkat merekalah berjuta juta dolar Amerika mengalir ke negara kita dan itu semua hasil jerih payah para Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Perhatikan keselamatan dan kesejahteraan para TKI di Luar Negeri. Bantulah mereka untuk membantu perekonomian Negara ini.
Hari ini genap sudah kota kelahiranku Jakarta, memperingati hari jadinya yang ke 484 (Empat Ratus Delapan Puluh Empat)Tahun pada hari ini tanggal 22 Juni 2011. Sungguh suatu usia yang sudah bisa dibilang tidak muda lagi. Dan memang usia Jakarta yang sudah setua ini masih menyimpang segudang masalah perkotaan.

Maklum sebagai salah satu orang yang lahir dan dibesarkan di Ibukota Jakarta, saya selalu mengenang dan memperingati Hari Jadi atau HUT Kota Jakarta dimana saja berada. Termasuk berada di rantau Pontianak, ibukota Propinsi Kalimantan Barat ini.

Tidak terasa juga usia saya merantau di Kalimantan Barat ini sudah dimulai pada tahun 1990 yang lalu dan ini berarti sudah lebih dari 20 (dua Puluh) tahun lamanya merantau di pulau nan gemuk ini. Saya masih ingat saat masih kuliah dulu dimana setiap kali ada kesempatan "mudik kota" selalu saya sempatkan. Saat itu sekitar semester ke 4 atau ke 6 memaksakan diri untuk "pulang kota" walaupun harus menumpang kapal barang sekalipun. Saya masih ingat pernah naek kapal barang Kota Silat yang dulu amat kondang sebagai salah satu alternatif pulang dengan biaya miring.

Mengapa disebut dengan biaya miring dengan kapal Kota Silat itu?. Ya karena kapal itu dirancang untuk mengangkut barang barang dan tidak secara khusus untuk mengangkut penumpang. Lain halnya dengan kapal penumpang yang memang khusus diperuntukkan untuk mengangkut penumpang. Seperti kapal kapal produksi PT PELNI seperti KM Bukit Raya, dan Kapal Lawit. Kapal yang disebut terakhir ini memang amat terkenal karena joroknya, serta harga harga makanan yang melejit tinggi. Para penjual makanan dan minuman di Kapal Lawit memang sengaja menaikkan harga seenak udelnya kepada para penumpangnya.

Sebagai contoh misalnya saja harga Indomie Mie berbentuk gelas sterofoam yang kalaw di darat dibandrol dengan harga kisaran antara Rp.1200,- Rp.1800,- nah kalaw di Kapal Lawit harganya bisa melonjak naik 100 persen menjadi 5000 rupiah. Emang edan. Begitupula harga segelas kecil kopi yang kalaw didarat harganya hanya 2 - 3 ribu rupiah, nah kalaw di Kapal Lawit harga segelas kecil (mini ukurannya-red) kopi bisa mencapai harga 5 ribu rupiah. Nah kebanyakan penumpang Kapal Lawit selalu membawa makanan dan minuman sendiri sendiri. Apakah armada PT Pelni itu tidak menyediakan makanan untuk para penumpangnya? Ya tentu saja ada karena kan biaya kapalnya juga tidak terbilang murah.

Saya masih ingat pada jaman jamannya kapal Lawit itu ramai peminatnya, Biasanya sih konon anak mahasiswa, harga satu tiket Kapal lawit untuk tujuan Pontianak - Jakarta misalnya bisa mencapai harga 100 ribu lebih, dan itu masih untuk tahun 1990. Saya sendiri kurang tahu untuk harga tikep untuk tujuan yang sama pada tahun 2011 ini. Nah kembali kepada soal makanan dan minuman yang disediakan di kapal Lawit itu, memang banyak yang tidak memuaskan. Selain karena tempat penyucian makanannya yang cepet dan tidak dijamin higienisnya, juga menu menu yang disajikan terkesan asal asalan.

Hanya bungkahan sayur oseng oseng tidak karuan rasanya, dan juga sekerat kecil daging sapi atau ikan. Wah mana kenyang. Udah gitu nasinya juga terkada keras. Nah kalaw sudah begini siapa yang nafsu mau makan? Ada juga yang "terpaksa" makan dan itu juga karena tidak punya pilihan lain dan ia juga tidak membawa makanan. Dipikir pikir sayang juga kalaw jatahnya tidak diambil, kan udah bayar mahal mahal hehehe. Wah kok bahasnya lari ke makanan dan Kapal lawit sih. Kan lagi mbahas ultah Jakarta ke 484 tahun hahahaha. Iya jadi ngelantur nlisnya. Ya udah kita kembali ke topik semula ya.

Jakarta kota kelahiran ku ini memang menyimpan segudang masalah yang sampai sekarang juga belum ada pemecahan yang cespleng bahkan oleh gubernur gubernur DKI Jakarta sebelumnya. Masalah kemacetan lalu lintas Jakarta sudah semakin parah itu ditambah dengan semakin banyaknya para pendatang yang tidak jelas dari daerah yang menganggap kota Jakarta sebagai surga untuk mengeruk keuntungan juga semakin memperparah kota ku ini.

Kemacetan ditambah lagi dengan banjir yang merebak dimana mana juga tidak bisa diatasi oleh Gubernur DKI Jakarta yang sekarang ini sedang menjabat. siapa lagi kalaw bukan Fauzi "foke" Wibowo. Kampanye beliau mengenai masalah DKI Jakarta agar diserahkan kepada ahlinya, seperti menjadi pepesan kosong. Memang ada kemajuan yang dicapai oleh Foke, terutama pada perampingan birokrasi namun tidak menyentuh substansial fisik Jakarta yang rawan banjir dan kemacetan itu. Nah kalaw sudah begini bagaimana cara pemecahan masalahnya? Apakah benar FOKE tidak mampu mengatasi masalah Banjir dan Macet yang menjadi ciri umum masalah Jakarta saat ini. Apakah masalah ini harus diteruskan kepada pengganti beliau kelak?. Wah kalaw begini kapan donk akan berakhir wahai Jakarta ku?

Harapan ku hanya satu aja. Selesaikan masalah kota Jakarta yang sudah nampak di depan mata. Yakni Kemacetan yang luar biasa dan juga maslaah Banjir. Jika kedua hal ini bisa diatasi dengan baik oleh gubernur DKI Jakarta Mr Foke, saya yakin warga Jakarta akan senang dan Bahagia serta bangga memiliki Gubernur yang bisa mengatasi carut marut masalah kotanya. Sebagai salah satu orang Jakarta yang merantau di Kalimantan Barat selama puluhan taun ini, hati dan cintaku masih ada dan selalu ingat kota Jakarta. Kota tempat dimana saya dilahirkan dan di besarkan hingga sekarang ini.

Dirgahayu DKI Jakarta ke 484 Tahun. Happy Birthday Jakarta



Yang namanya maling atau pencuri memang kurang ajar. Sudah dua kali saya kebobolan sama yang namanya tamu yang tidak diundang, dan tadi subuh menjelang paginya ketika saya mau mencuci piring, saya dapati posisi Pompa Mesin Air yang memang terletak secara terbuka di halaman belakang sudah mau dibobol maling.

Rasa kesal tidak terhingga menghinggapi ubun ubun sebab di hari itu saya dan teman teman meronda di depan rumah sampai pake acara bakar jagung segala. Sepertinya memang sudah saya perkirakan sebelumnya kalau mesin pompa air yang terletak di belakang rumah saya itu akan diincar maling. Pasca bobolnya rumah kontrakan saya pada tanggal 1 Mei 2011 lalu memang sudah saya perkirakan sang Maling pasti akan "action" lagi, dan incarannya sudah bisa saya duga kalaw tidak mesin pompa atau telivisi berwarna yang ada di dalam ruangan tamu.

Dalam pengamatan saya saat itu memang sudah ada bayangan kalau si maling pasti akan beraksi kembali. Saat bobol pada tanggal 1 Mei 2011 lalu saya yakin sang Maling sudah melihat posisi mesin Pompa Air yang terletak di Belakang rumah dan dibuat secara permanen dengan pipa pipa paralon yang menyambung ke dalam rumah.

Sedangkan incaran yang lain berupa Televisi Berwarna ukuran 21 Inch memang sudah diantisipasi sejak awal dengan memasukkannya ke dalam kamar yang terkunci dengan sangat kokoh. Posisi pompa Air memang sudah saya perkirakan akan diincar kembali oleh sang Maling. Saya kurang tahu apakah ini maling yang sama saat membobol rumah saya pada tanggal 1 Mei 2011 atau ada "pemaling" baru. I dunno yet. Tapi yang tidak saya mengerti adalah timing maksud saya adalah saya tidak tau akan secepat itu.

Dalam perkiraan waktu memang sudah hampir memasuki bulan ke 3 (tiga) bulan sejak tanggal 1 Mei 2011 yang menyebabkan 3 (tiga) rumah bobol di Komplek Duta Bandara Supadio tempat saya itu. Nah bisa jadi "persediaan" dapur maling sudah mulai terseok seok, dan mencari target baru. Dan maling juga beroperasi pada target target yang sudah berhasil diraihnya seperti target yang terjadi pada rumah kontrakan saya pada hari ini dimana mesin pompa Air sudah terbengkas paku pakunya, namun sang Maling mungkin urung karena posisi Mesin Pompa yang permanen.

Namun ini juga tidak memberikan jaminan, karena bisa saja sang Maling akan langsung mematahkan pipa paralon yang menyambung di mesin Pompa dan membawanya kabur. Memang maling kurang ajar. Dan yang sekarang yang akan saya lakukan adalah mengevaluasi semua sistim pertahanan dan keamanan rumah dengan perangkat yang baru. Smoga dengan diadakannya perangkat keamanan baru dan perangkat keamanan tambahan bisa sedikit memberikan rasa ketenangan di rumah kontrakan saya itu.

Anda punya pendapat lain?

Seperti yang sudah kita ketahui bersama sama bahwa dalam waktu kurang dari 45 (Empat Puluh Lima) hari lagi umat muslim di seluruh Indonesia dan dunia akan memasuki bulan Ramadhan 1433 Hijriah.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah di dalamnya terdapat banyak sekali ampunan dan juga pahala yang ditebar dan diobral dan siap di grab (dipungut) oleh umat muslim di seluruh Indonesia dan juga dunia. Saya merasa apa yang sudah saya lalui dalam ramadhan ramdhan sebelumnya sangat tidak memuaskan, dan saya juga mengakui bahwa saya juga banyak melakukan kemungkaran, kekhilafan dan kesalahan fatal yang bisa saja menggerus pahala puasa saya pada ramadhan ramdhan sebelumnya.

Berpuasa Ramadhan adalah suatu kenikmatan. Jadi jika anda diberi kesempatan untk bertemu lagi dengan bulan suci penuh berkah, Ramadhan, seharusnya anda bersyukur dan memohonkan ampun serta ucapan terima kasih kepada Maha Pencipta, Allah SWT. Ini juga berlaku pada diri sendiri. Sudah sering kali saya diingatkan oleh orang untuk selalu beramal, dan berbuat baik bahkan tanpa bulan Ramadhan sekalipun, namun imbauan dan saran dari orang lain selalu masuk ke telinga kiri dan keluar ke telinga kanan. Saya memang perlu diberi Pelajaran yang keras agar telinga ini bisa mendengar nasehat baik dari orang lain.

Evaluasi Diri
Beberapa hal yang mau saya sebutkan di bawah ini bukan bermaksud membuka aib diri saya sendiri dalam blog yang bisa saja dibaca dengan mudah oleh blogger lain. Namun apa yang saya tulis di sini hanyalah evaluasi bagi diri saya sendiri agar hal hal yang saya sebutkan di bawah ini tidak akan terjadi, tidak boleh terjadi dan seharusnya tidak terjadi di masa yang akan datang. Tidak banyak blogger yang mau membuka "borok" nya sendiri. Saya sendiri tidak menganggap apa yang saya tulis dibawah ini sebagai aib. Hal ini biasa saja, namanya juga evaluasi diri.

Saya sengaja melakukan ini karena saya pikir jauh lebih baik daripada membuka aib dan borok orang lain. Saya tidak mengatakan hal hal di bawah ini sebagai aib, karena memang tidak diperkenankan oleh agama. Bahkan Allah SWT pun melarang diri kita menjelekkan diri sendiri. Menjelekkan diri sendiri aja tidak boleh apalagi menjelekkan orang lain. Harapan saya adalah agar hal hal yang kurang terpuji dalam diri saya ini selama proses Ramadhan pada taun sebelumnya tidak terjadi pada diri saya sendiri. Semoga saja juga oleh orang lain juga bisa menarik manfaat dan serta kebaikan dari tulisan ini.

  1. Tarawih Bolong Bolong
    Nah aktifitas sholat Tarawih memang umum dilakukan pada setiap bulan Ramadhan. Namun untuk aktifitas yang satu ini kadang saya melakukannya dengan tidak konsisten. Ini pernahterjadi pada bulan Ramadhan tahun sebelumnya. Kadang di 10 (Sepuluh) hari pertama saya Tarawih begitu gegap gempita. Tetapi saat memasuki 10 (Sepuluh) hari terakhir aktifitas Tarawih saya sudah kehilangan semangatnya. Entah karena mau lebaran atau sibuk mau buat kue. Hehehee. Yang jelas Tarawih tidak pernah 100 persen saya lakukan di Masjid karena berbagai kendala yang memang tidak bisa saya hindari sepenuhnya.

    Bukan bermaksud menjadikan alasan berkeluarga sebagai justfifikasi (pembenaran) saya lalai dalam Tarawih, tetapi memang pada kenyataannya demikian. Saya memang harus memiliki alasan yang masuk akal mengapa saya sampai lalai atau tidak konsisten Tarawih di masjid. Salah satu alasannya adalah kesibukan mengurus keluarga. Jadi Tawarih yang saya sebut sebagai "bolong bolong" di sini bukan berarti bolong dalam artian absen tarawih. Bolong di sini saya maksudkan tidak penuh Tarawih di Masjid. Kadang Tarawih sendiri di rumah.

    Dengan posisi saya sebagai kepala rumah tangga, denagn karunia dua anak yang masih kecil, dan seorang istri di rumah, menjadikan saya tidak konsentrasi jika Tarawih di Masjid. Bayangkan meninggalkan istri dan anak di rumah sendirian, sedangkan saya sebagai satu satunya lelaki dewasa ke Masjid. Walaupun dekat tetapi hati was was karena tidak ada lelaki dewasa di rumah menjadikan saya harus bervariasi dan "improvisasi" dalam Tarawih. Kadang di Masjid, kadang pula di rumah.

  2. Jarang Tadarus Al Qur'an
    Nah apalagi yang satu ini. Kendala dasar adalah saya sendiri "gagap" dalam mengaji Al Quran dalam artian standar adalah kurang lancar dalam membaca Al Quran. Selain juga kurang mampu dalam melantunkan ayat Suci Al Quran dengan lagu yang Indah, saya juga agak "gagap" dalam membaca huruf huruf Al Quran dalam Al Quran besar.

    Memang dahulu waktu saya kecil saat masih duduk dibangku SD dan SMP, saya kurang memberikan waktu yang cukup untuk belajar membaca huruf Al Quran. Dahulu pernah masuk pesantren atau pengajian level Jus Amma saat saya duduk di bangku SD, namun sampai sekarang saya pun masih kurang lancar membaca Al Quran. Anda boleh mentertawai saya, karena memang saya kurang pandai dalam hal ini.

    Penah juga sang istri tercinta yang siap mengajari saya belajar membaca huruf Al Quran, namun tawaran itu jarang saya perhatikan dengan seksama. Perhatian saya untuk hal yang satu ini juga kurang begitu apresiasi. Saya sendiri tidak mengerti mengapa hal ini selalu terjadi dan selalu berulang terjadi. Rasa malas yang begitu kuat dalam diri saya ini menyebabkan saya jarang membuka lembaran kitab suci Al Quran.

    Bahkan dalam 1 (satu) tahun bisa dipastikan saya jarang membuka kitab suci Al Quran. Paling banter hanyalah buku Yassin itu pun hanya pada saat ada undangan karena ada yang tetangga atau orang yang meninggal dunia. Jadi kalaw tidak ada undangan meninggal dunia, bisa dipastikan tidak disentuh sama sekali. Memang kacow saya ini.

    Nah apalagi saat Ramadhan tahun sebelumnya, untuk membuka lembaran Kitab Suci Al Quran itu rasanya berat sekali. Mungkin saja para setan dan iblis dari dasar neraka sudah menghinggapi mata saya yang selalu saja mengantuk dan rasa malas yang amat kuat untuk membuka dan mengaji Al Quran sudah sedemikian dalamnya. Ini evaluasi dalam diri saya yang harus saya perangi secara terbuka. Perang terhadap rasa malan untuk Tadarus Al Quran

  3. Sholat Malam (Tahadjud).
    Nah ini juga bahan evaluasi dalam diri saya. Saya tidak habis pikir, dahulu sejak kembali dari Jogjakarta tahun 2005 setelah pulang dari menikah di Jogjakarta, dan istri tercinta sudah diboyong ke Pontianak. Saya masih ingat saat masih belum dikaruniai anak (Sekarang anak sudah 2-red) dan saat itu sekitar tahun 2005 kalaw tidak salah. Kami saat itu masih mengontrak rumah di Komplek Griya Husada Sei Raya Dalam (Sekarang juga masih ngontrak-red). Nah yang namanya sholat Malam atau Tahadjud hampir setiap malam saya lakukan dengan konsisten.

    Saya juga tidak tau mengapa saat itu begitu rajinnya saya sholat Malam atau Tahadjud. Mungkin karena pada taun 2005 itu aktifitas istri masih "menganggur" dalam artian belum bekerja setelah menikah dia baru wisuda. Dan kegiatan di rumah kontrakan juga tidak banyak karena memang tidak ada perangkat TV di rumah. TV di rumah memang bisa jadi sarana hiburan dan informasi, namun TV dirumah juga bisa membetot aktifitas ibadah kita kepada aktifitas lain yakni menonton. Mungkin karena tidak ada TV di rumah saat itu, dan tidak ada lagi aktifitas di rumah , menyebabkan saya bisa istirahat dan tidur lebih awal sehingga banyak terjaga dan bangun tengah malam dan mendirikan Sholat Malam atau Tahadjud.

    Kini aktifitas sholat Malam atau Tahadjud saya sudah amat jarang dilakukan pada momen momen hari hari biasa bukan di momen Ramadhan. Sedangkan evaluasi diri ini saat Ramadhan tahun taun sebelumnya juga tidak kalah menorehkan prestasi yang membosankan dan tidak menggembirakan. Catatan rapot saya masih merah untuk aktifitas sholat Malam seperti ini, dan saya menyadari itu.

    Saya tidak mau dianggap sebagai orang yang lupa diri atas berbagai kenikmatan yang sudah diberikan. Dahulu sewaktu belum dikaruniai anak, saya rajin sholat Malam. Kini sejak lahirnya dua anak dan berbagai rezeki lainnya yang kami terima sekeluarga, malah membuat saya jadi "setan" dan melalaikan sholat malam. Ini harus dicegah. Saya harus berubah.

Nah dua aktifitas yang sudah saya sebutkan di atas memang lazim dilakukan pada setiap bulan Ramadhan. Saya mengakui bahwa dua aktifitas yang saya sebutkan dengan jelas di atas jarang sekali saya lakukan di setiap memasuki bulan Ramadhan. Saya harus memiliki kekuatan yang kokoh dan tangguh agar dua hal di atas tidak terjadi lagi pada Ramadhan kali ini. Dan saya pikir adalah hal yang bagus sekali jika kekurangan yang saya lakukan pada tahun sebelunya dan dilanjutkan pada Ramadhan yang akan datang.

Semoga saya memiliki bekal yang kuat, tekad yang membara dan semangat baja untuk bisa melakukan salah satu atau mungkin semua poin tersebut di atas. Apakah anda juga merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan di atas? Mengabaikan aktifitas mulia dalam bulan Ramadhan yang sudah saya sebutkan di atas?. Jangan meniru apa yang saya lakukan. Saya saja ingin memperbaiki kesalahan dan kekurangan saya selama bulan Ramadhan tahun lalu. Saya ingin sekali meninggalkan "rapot merah" dan berprestasi di ramadhan kali ini.

Saya ingin ramadhan kali ini lebih berprestasi dibanding Ramadhan sebelumnya.
Saya akan berusaha sekuat tenaga. Insya Allah saya berhasil
hALLo semua. Jumpa lagi dengan tulisan saya yang sederhana kali ini. Sederhana saja karena untuk beberapa hari belakangan ini saya agak malas gitu untuk membuat tulisan yang berat berat. Nah untuk kali ini tema tulisannya berkisar tentang tindik pada bayi.

Kenapa sih tiba tiba saya memilih judul seperti ini? Apa karena saya punya bayi yang akan ditindik telinganya?. Nah kalaw pertanyaan yang terakhir inilah yang rencananya akan kami lakukan pada bayi kecil perempuan kami, Tazkia. Ada banyak pendapat yang bersliweran sehubungan dengan tindik menindik pada usia bayi seperti ini.

Salah satu pendapat yang kondang dan banyak dipakai oleh kebanyakan orang adalah bahwa tindik pada usia Bayi dilakukan agar sedini mungkin agar si anak tidak terlalu merasakan sakit jika memakai anting anting. Ya pada umumnya orang tua yang melakukan tindik pada anak bayinya dimaksudkan agar si Bayi bisa diberikan semacam hiasan yang menandakannya ia adalah seorang bayi Perempuan. Hal ini pada umumnya wajar mengingat usia yang paling baik untuk melakukan tindik pada bayi adalah pada usia Bayi seperti ini.

Sekilas memang untuk melakukan tindik pada bayi tampak sederhana saja. Dan saya sendiri selaku kepala rumah tangga juga kurang banyak mengetahui tentang tindik menindik bayi seperti ini. Tindik telinga adalah pada umumnya memang meruoakan salah satu prosedur yang sederhana. Sebagian orang juga mengatakan bahwa tindik seperti ini pun konon juga memberikan ketidaknyamanan pada bayi.

Sedangkan pada Orangtua yang memutuskan untuk melakukan tindik pada bayinya juga memiiliki alasan masing masing. Seperti yang sudah saya sampaikan pada bagian di atas bahwa pada umumnya orang tua memiliki pilihan untuk melakukan tindik telinga saat masih bayi karena akan berbeda halnya jika dilakukan saat anak sudah besar.

Resiko Tindik Bayi Beberapa resiko yang sebaiknya harus dihindari dari pemberian tindik pada bayi ini juga sudah dilansir oleh Pediatrics dan juga sudah dipublikasikan oleh situs berita terkenal di Indonesia, Detik Com beberapa waktu yang lalu. Nah beberapa resiko di bawah ini juga merupakan resiko umum yang mungkin saja bisa terjadi pada bayi anda juga pada bayi kita semua. Beberapa resiko diantaranya antara lain :

  1. Infeksi
    Bayi yang masih terlalu kecil belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang matang, sehingga jika terjadi infeksi di tempat tindik tersebut bayi tidak mampu untuk melawannya dengan baik.

  2. Reaksi Alergi
    Bayi masih sangat rentan terhadap reaksi alergi terutama dari logam-logam yang terkandung di anting seperti nikel, perak atau emas.

  3. Anting Anting Bisa Tertanam
    Ada kemungkinan bagian dari anting-anting tersebut masuk ke lubang tindik dan tertanam ke dalam. Meskipun hal ini bsia terjadi di semua usia, tapi saat bayi sangat sulit untuk melepasnya.

  4. Kemungkinan Terjadi Luka
    Pemilihan anting yang salah bisa menimbulkan luka di sekitar telinga saat bayi tersebut bergerak atau bermain, karena kulit bayi masih sangat tipis dan mudah sekali terluka atau tergores.

Seperti dilansir oleh situd DETIKCOM bahwa Tindik telinga pada bayi bukanlah suatu prosedur yang harus dilakukan sesegera mungkin. Hal ini bisa ditunda terlebih duhulu pelaksanaannya agar bayi merasa lebih aman dan memiliki risiko lebih kecil. Jika orangtua ingin melakukan tindik telinga pada bayi perempuannya, cobalah untuk menunggu hingga setidaknya bayi tersebut berusia minimal 3 bulan. Karena saat usia tersebut bayi sudah cukup bisa menangani infeksi ringan dan setidaknya bayi sudah mendapatkan satu kali imunisasi.

Saat ingin melakukan tindik telinga pilihlah anting yang tepat agar bisa mengurangi kemungkinan terjadinya reaksi alergi atau anting tersebut patah saat bayi menggaruk-garuk telinga karena merasa tidak nyaman. Pilihlan fasilitas yang steril dan dokter yang berpengalaman dalam melakukan tindik telinga. Bahkan Dr.Herbowo SpA juga pernah mengatakan bahwa sebenarnya ditindik tidak akan menyebabkan apapun, asalkan alat tindik yang digunakan steril. Tetapi mengingat saat proses penindikan kuman tetap bisa menempel baik di jarum maupun di telinga, maka kadang2 tetap terjadi pembengkakkan dan infeksi setempat.

Beliau menyarankan agar menggunakan alkohol untuk membersihkan bagian telinga yang akan ditindik dan gunakan alkohol juga untuk membersihkan jarum yang akan digunakan. Setelah itu dapat diberikan salep atau krim yang mengandung antibiotika. Mengenai penggunaan emas murni, hanya dianjurkan bila anak terbukti alergi atau terdapat riwayat alergi pada orang tuanya. Hal ini untuk mencegah terjadinya alergi karena logam.

Kapan Waktu Tepat
Pernah suatu ketika seorang tetangga kami menimang nimang bayi kami. Dikatakannya bayi kami lucu dan menyebutnya sebagai anak lelaki. Namun begitu kami jelaskan kepada tetangga kami itu bahwa bayi kami ini berjenis kelamin perempuan. Hal yang wajar karena saat tetangga kami melihat bayi kami sedang dimandikan.

"Eh iya ya soalnya nda pakai anting anting sih jadi nda bisa dibedakan dengan anak laki laki loh" kata tetangga kami itu. Mendengar pernyataan tetangga kami itu kami pun hanya tersenyum saja. Wajar sekali. Bahkan anting anting di telinga bayi juga merupakan identitas diri bahwa bayi berjenis perempuan. Hmmm.

Menurut situs berita lifestyle Okezone menyebutkan bahwa Penggunaan anting-anting pada bayi, sebenarnya lebih mengarah pada kepuasan orangtua saja. Pasalnya, orangtua senang mendandani bayi perempuannya dan memakai perhiasan, seperti anting, gelang, dan sebagainya. Tak jarang, ada orangtua yang merasa bangga untuk menunjukkan hal tersebut pada orang lain.

Di luar hal di atas, sebenarnya boleh-boleh saja melakukan tindik telinga pada bayi. Masih menurut lifestyle Okezone itu memang tidak ada patokan ideal usia berapa boleh dilakukan tindik. Asalkan saat dilakukan tindik, bayi dalam keadaan sehat dan tidak memiliki masalah medis yang bisa menjadi faktor risiko. Dengan begitu, ketika dilakukan tindik, bayi tidak terlalu merasakan sakit dibandingkan saat ia dalam keadaan tidak sehat. Walau begitu, sebaiknya tunggu hingga si kecil berusia minimal 3 bulan seperti yang sudah disebut pada bagian awal tulisan ini.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orangtua setelah dilakukan tindik telinga: Misalnya saja agar mengusahakan agar bayi tidak memegang-megang telinga yang baru ditindik karena bisa memicu terjadinya infeksi. Perhatikan apakah timbul kemerahan yang meningkat atau nyeri disekitar lubang tindikan telinga karena hal ini menunjukkan adanya infeksi.

Perhatikan juga bahan anting yang dipakai si kecil karena ada beberapa anak yang memiliki reaksi alergi terhadap logam tertentu. Anting tidak musti dari bahan emas 24 karat, yang penting bukan terbuat dari bahan imitasi. Untuk memastikan apakah si kecil alergi atau tidak, cobalah gosokkan logam atau emas tersebut di daerah punggung si kecil sebelum digunakan. Jika terjadi ruam, ada kemungkinan anak mengalami reaksi alergi.

Selamat menindik bayi tercinta anda.
Sukses selalu buat anda

Tidak terasa waktu sedemikian cepatnya, dan tidak kurang dari sekitar 45 (Empat puluh) lima hari lagi umat Muslim di seluruh Indonesia dan juga di dunia akan memasuki bulan suci yang amat dirindukan, yaitu bulan Suci Ramadhan.

Nah bulan yang amat mulia inilah kesempatan bagi umat muslim di seluruh dunia untuk mengkaji diri, dan mengevaluasi diri sendiri sejauh mana diri ini melangkah. Bulan Ramadhan yang penuh dengan berkah dan barokah sudah saatnya tidak kita sia siakan lagi. Masa yang amat singkat hanya 30 (tiga puluh hari) perlu mendapat perhatian kita bersama. Bulan ini memang teramat istimewa bagi kaum Muslim karena berbagai reward kebajikan, kebaikan, dan juga pahala berlimpah dan siap disajikan bagi kita semua.

Nah kalau dilihat dari judul tulisan saya kali ini memang amat mirip dari judul film kondang remaj yang pernah booming di tanah air. Film yang dibintangi dan diperankan secara apik oleh Dian Sastro Wardoyo itu memang amat terkenal. Saya sendiri sudah menyaksikan film nan lucu itu. Namun judul tulisan ini bukan buat lucu lucuan walaupun penggalan kata katanya sudah mirip dengan judul film remaja yang sudah terkenal itu tadi. Bukan itu, hanya kebetulan saja. Bulan Ramadhan adalah bulan penggodokan amal ibadah kita, dan kita semua masuk "sekolah" milik Allah SWT, dan kita dituntut untuk melaksanakan segala perintahNYA dan Menjauhi segala laranganNYA. Bulan Ramadhan ini penuh ujian.

Bukan cuma ujian menahan dahaga dan haus saja seperti yang selama ini banyak dirasakan dan digambarkan orang dalam memandang dan memaknai bulan Ramadhan. Bagi saya sendiri bukan hal yang sulit kalau cuma sekadar menahan haus dan lapar. Semua orang banyak yang mampu melakukannya. Bahkan anak sekolah pun banyak yang mahir menahan haus dan lapar mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Bukan, bukan itu yang dimaksud. Bulan Ramadhan adalah bulan ujian yang amat berat dalam menahan diri dari berbagai godaan dan maksiat yang mengundang manusia untuk melakukannya. Pandangan mata yang tidak halal, mulut yang suka bergosip dan bergunjing, serta berbagai aktifitas keseharian kita yang mungkin tidak kita sadari sudah mengarah mengurangi pahala puasa (saum) kita.

Tentu kita tidak mau bulan Ramadhan yang 30 hari ini terlewat begitu saja bukan. Kita tidak boleh beranggapan "ah nanti taun depan kan Ramadhan lagi, santai ajalah pren" gitu kira kira kata orang. Ah jangan jangan begitu. Umur manusia tidak akan kita ketahui sampai kapan. Begitupula dengan jodoh dan rezeki adalah hak dari Allah SWT. Setiap manusia sudah diberikan rezekinya masing masing, begitupula dengan halnya urusan jodoh. Jika tanpa izin dari ALLAH SWT tidak akan ada pernikahan. Nah Allah SWT juga memerintahkan para hambaNYA untuk bekerja dan mencari nafkah setelah sholat. Kita dimintaNYA untuk bertebaran di muka bumi mencari rahmat dan ridho ALLAH SWT. Allah SWT Tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak berusaha untuk merubah nasibnya sendiri.

Dan umur manusia adalah rahasia dan hanya diketahui oleh Allah SWT. Siapa yang bisa menjamin kalau usia dan umur kita akan dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan yang akan datang? Nah siapa yang menyangka orang yang rajin berolahraga, segar bugar, sering fitnes, tiba tiba bruk meninggal dunia? Rahasia apa didalamnya? Rahasia umur manusia, sekali lagi, hanyalah hak preogratif Allah SWT. DIAlah yang Maha Tahu sampai kapan batas umur kita akan sampai pada saatnya. Manusia tidak akan tahu sampai dimana umurnya akan sampai.

Jika kesempatan datang untuk membakar dosa dosa kita, dan kesempatan itu sudah ada di depan mata kita, mari kita manfaatkan sebaik baiknya. Mari kita sambut datangnya bulan penuh berkah, Ramadhan. Marhaban Ya Ramadhan. Selamat Datang Bulan Suci Ramadhan.



Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog From Indonesia