www.simplyasep.com Tidak ada niat sedikit pun penulis menyebut kata "Tampang" untuk dikaitkan dengan blundernya salah satu calon presiden pada Pilpres 2019 mendatang dengan sebutan "Tampang Boyolali" yang mendadak viral baru baru ini yang menyulut kemarahan warga Boyolali yang kompak akan tidak memiilih Capres itu pada Pilpres 2019 yang akan datang.
Bukan rahasia lagi isu SARA (Suku , Agama, Ras, dan Antar Golongan) yang paling mudah di "goreng" oleh berbagai pihak yang punya kepentingan tertentu. Blundernya salah satu Capres 2019 mendatang ini tidak serta merta menjadi "pesakitan" dengan tudingan mendeskreditkan salah satu daerah di Indonesia. Asas praduga tidak bersalah tetaplah kita tegakkan
Bukan main sulitnya untuk membedakan yang mana "yang disengaja" dengan "tidak disengaja" dalam konteks ucapan yang bernada SARA ini. Bahkan Becanda (Sebagian menyebutnya candaan-red) memang tidak pantas dilakukan dengan mengatas namakan salah satu kelompok, nama seseorang, atau lembaga sebagai bahan tertawaan. Lelucon yang baik, kata orang, sebaiknya menggunakan diri sendiri sebagai sasaran. Beranikah menjadikan diri kita sendiri sebagai bahan tertawaan untuk diri sendiri? Ada memang?
Tampang Tidak Menjamin
Pengalaman menunjukkan yang namanya Tampang tidak dapat menjamin keyakinan orang. Saya mengalaminya sendiri saat akan membei sebuah merek kendaraan Roda Dua di kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat, beberapa tahun yang lalu. Kalau tidak salah penulis melakukan pembelian kredit motor itu pada tahun 2005 yang lalu.
Saat itu penulis sudah membawa ATM yang berisi sekitar Rp.6.500.000,- (Enam juta Lima Ratus Rupiah) sebagai uang muka atau DP atas sebuah kendaraan merek tertentu di sebuah dealer resmi motor itu di kota Pontianak. Saat penulis sudah berada di dalam Dealer tersebut, penulis sempat bertanya kepada salah seorang crew atau petugas yang ada di meja cashier :Harga cash merek motor terentu di dealer itu. Bukannya dijawab, petugas itu malah "sibuk" mengurus clien atau nasabah lain
Apakah karena penamplan saya yang casual, dengan hanya mengenakan busana sederhana , dan tidak meyakinkan kalau penulis berniat akan membeli sebuah motor saat itu? Apakah tampang saya tidak meyakinkan Dealer motor tersebut? Karena merasa tidak dihargai, penulis pun nekat berteriak kalau penuis mau beli motor dan sudah bawa uang di dalam ATM. Kaget seisi ruangan di ruang utama Dealer itu. Banyak mata yang memandang ke arah penulis
Dan mungkin karena suasana yang tidak nyaman itulah, salah seorang crew atau petugas di dalam ruangan Dealer Motor itu buru buru menghampiri penulis dan meminta maaf. Dalam hati saya memang gusar sekali. Merasa sangat tidak dihargai. Apa karena tampang penulis yang tidak meyakinkian? Nah seperti inilah pengalaman yang penulis rasakan kaitannya dengan urusan "Tampang". Nah apakah Tampang masih bisa dipersoalkan.?
Yang merasa sudah memiliki Tampang cantik atau ganteng, jangan bergembira dahulu terutama bagi mereka yang masih berstatus "JOJOBA" alias Jomblo Jomblo Bahagia. Bukan soal apakah mereka Bahagia atau Tidak, yang jelas urusan Tampang bisa menjadi persoalan lain karena niat seseorang bisa berbeda beda. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa JODOH memang urusannya TUHAN YANG MAHA ESA. Jika TUHAN menghendaki, urusan tampang bisa menjadi nomor ke sekian
Sebagai penutup, masih ada satu cerita lagi kaitannya sama tampang.
Beberapa tahun yang lalu, saat penulis mengambi uang di salah satu ATM Bank tertentu di kawasan Jalan Gajah Mada Pontianak. Di sebelah penulis menarik uang di ATM, ada seorang pemuda dengan penampilan keren., Trendy, Bersepatu kets, bercelana jeans, dengan rompi.
Kaca mata hitam, baunya wangi (heran cowok kok wangi-red), namun apa yang terjadi? Ternyata pemuda ini minta tolong untuk menarik uang 50 ribunya di ATM dengan cara transfer ke rekening saya karena kalau dia menarik sendiri di ATMnya saldo tidak cukup. Nah loh, Kalau sudah begini, apakah TAMPANG masih ada masalah? Ada apa dengan Tampang. (Asep Haryono)
Bukan rahasia lagi isu SARA (Suku , Agama, Ras, dan Antar Golongan) yang paling mudah di "goreng" oleh berbagai pihak yang punya kepentingan tertentu. Blundernya salah satu Capres 2019 mendatang ini tidak serta merta menjadi "pesakitan" dengan tudingan mendeskreditkan salah satu daerah di Indonesia. Asas praduga tidak bersalah tetaplah kita tegakkan
Bukan main sulitnya untuk membedakan yang mana "yang disengaja" dengan "tidak disengaja" dalam konteks ucapan yang bernada SARA ini. Bahkan Becanda (Sebagian menyebutnya candaan-red) memang tidak pantas dilakukan dengan mengatas namakan salah satu kelompok, nama seseorang, atau lembaga sebagai bahan tertawaan. Lelucon yang baik, kata orang, sebaiknya menggunakan diri sendiri sebagai sasaran. Beranikah menjadikan diri kita sendiri sebagai bahan tertawaan untuk diri sendiri? Ada memang?
![]() |
Ilustrasi : Aneka wajah dalam topeng. Gambar dari Internet |
Tampang Tidak Menjamin
Pengalaman menunjukkan yang namanya Tampang tidak dapat menjamin keyakinan orang. Saya mengalaminya sendiri saat akan membei sebuah merek kendaraan Roda Dua di kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat, beberapa tahun yang lalu. Kalau tidak salah penulis melakukan pembelian kredit motor itu pada tahun 2005 yang lalu.
Saat itu penulis sudah membawa ATM yang berisi sekitar Rp.6.500.000,- (Enam juta Lima Ratus Rupiah) sebagai uang muka atau DP atas sebuah kendaraan merek tertentu di sebuah dealer resmi motor itu di kota Pontianak. Saat penulis sudah berada di dalam Dealer tersebut, penulis sempat bertanya kepada salah seorang crew atau petugas yang ada di meja cashier :Harga cash merek motor terentu di dealer itu. Bukannya dijawab, petugas itu malah "sibuk" mengurus clien atau nasabah lain
Apakah karena penamplan saya yang casual, dengan hanya mengenakan busana sederhana , dan tidak meyakinkan kalau penulis berniat akan membeli sebuah motor saat itu? Apakah tampang saya tidak meyakinkan Dealer motor tersebut? Karena merasa tidak dihargai, penulis pun nekat berteriak kalau penuis mau beli motor dan sudah bawa uang di dalam ATM. Kaget seisi ruangan di ruang utama Dealer itu. Banyak mata yang memandang ke arah penulis
Dan mungkin karena suasana yang tidak nyaman itulah, salah seorang crew atau petugas di dalam ruangan Dealer Motor itu buru buru menghampiri penulis dan meminta maaf. Dalam hati saya memang gusar sekali. Merasa sangat tidak dihargai. Apa karena tampang penulis yang tidak meyakinkian? Nah seperti inilah pengalaman yang penulis rasakan kaitannya dengan urusan "Tampang". Nah apakah Tampang masih bisa dipersoalkan.?
Yang merasa sudah memiliki Tampang cantik atau ganteng, jangan bergembira dahulu terutama bagi mereka yang masih berstatus "JOJOBA" alias Jomblo Jomblo Bahagia. Bukan soal apakah mereka Bahagia atau Tidak, yang jelas urusan Tampang bisa menjadi persoalan lain karena niat seseorang bisa berbeda beda. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa JODOH memang urusannya TUHAN YANG MAHA ESA. Jika TUHAN menghendaki, urusan tampang bisa menjadi nomor ke sekian
Beberapa tahun yang lalu, saat penulis mengambi uang di salah satu ATM Bank tertentu di kawasan Jalan Gajah Mada Pontianak. Di sebelah penulis menarik uang di ATM, ada seorang pemuda dengan penampilan keren., Trendy, Bersepatu kets, bercelana jeans, dengan rompi.
Kaca mata hitam, baunya wangi (heran cowok kok wangi-red), namun apa yang terjadi? Ternyata pemuda ini minta tolong untuk menarik uang 50 ribunya di ATM dengan cara transfer ke rekening saya karena kalau dia menarik sendiri di ATMnya saldo tidak cukup. Nah loh, Kalau sudah begini, apakah TAMPANG masih ada masalah? Ada apa dengan Tampang. (Asep Haryono)
No comments:
Thank you for your visit.. Be sure to express your opinion. Your comment is very important to me :)