Tuesday, July 6, 2010

Catatan Harian Seorang Pegawai Kontrak



Hari ini diriku mengerjakan pekerjaan sehari hari seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa hari ini dan juga hari hari kemarin. Hidup terasa seperti air tenang datar dan nyaris tidak ada kejutan yang berarti. Tapi benarkah demikian hidup ini datar datar saja tidak ada sesuatu yang istimewa atau menggemparkan dunia. Hahahaha. Tidak tidak. Bener tidak ada yang istimewa. Duduk di ruangan ber AC dengan fasilitas lumayan mewah yang sudah dilengkapi LCD layar datar, teman teman kerja yang baik ramah dan menyenangkan, serta fasilitas fasilitas lainnya tidak membuatku tersenyum. Standar standar saja menurut ukuran saya. Entah untuk menurut orang lain. Karena setiap orang boleh saja berbeda pendapat satu dengan lainnya bukan. Nah menurut pendapat saya fasilitas diruangan kerja saya adalah hal biasa saja. Juga tidak ada yang istimewa, dan karena itu pula tidak membuatku tersenyum.

Lalu apa donk yang bisa membuatku tersenyum. Sedikit kening ini berkerut untuk mencerna apa sebenarnya yang bisa membuat ku tersenyum?. Apakah tayangan SKETSA di Trans TV yang kocak dan menggelikan itu?. Apakah tayangan Sitkom JengKelin yang lucu dan menggelikan itu?. Apakah tayangan DemoCrazy yang menyegarkan itu?. Tidak, semua itu tidak membuat bathinku "tersenyum". La bathin ku kok bisa tersenyum. Ya bisa aja donk. Suka suka gue nulis hehehe. Tapi itu hanya kiasan saya aja. Dalam suasana kerja yang menyenangkan ini , terasa hambar dalam diri ini. Ciaaaa. Hambar nih. Iya saya hanya bisa memandang orang lain yang begitu cerah cerianya karena sudah mendapatkan kejelasan status kepegawaiannya. Tidak seperti saya yang sebenarnya sudah memenuhi syarat untuk diangkat menjadi pegawai tetap. Namun entah kenapa sampai sekarang juga belum memperoleh itu.

Setiap buruh atau pekerja tentu ingin mendapatkan upah yang layak, Dan tentu saja ini disesuaikan dengan sumbangsih kita kepada perusahaan. Saya paham itu. Tentu saja satu perusahaan berbeda dengan perusahaan lainnya dalam menetapkan upah , honor atau Gaji yang sesuai untuk pegawai lainnya. Saya tidak membahas soal nilai nominal atau angka angka itu. Mungkin lain waktu di tulisan mendatang tapi tidak untuk hari ini. Saya hanya melihat sisi baiknya lembarang surat keterangan berupa Surat Keputusan (SK) pengangkatan pegawai tetap terhadap masa depan seseorang.

Bukan rahasia lagi, lembaran SK pegawai tetap memang banyak diidamkan oleh setiap karyawan. Karena surat berharga itu bisa dijaminkan kepada BANK untuk memperoleh kucuran kredit untuk membangun rumah, atau mencicil perumahan. Di mana mana setiap karyawan tentu berharap bisa memiliki rumah sendiri dengan usahanya sendiri. Untuk mengandalkan Gaji saja tentu tidak mungkin pegawai kontrak seperti saya ini. Mengapa tidak mungkin?. Semua bank yang saya datangi menolak proposal kredit saya karena terbentur status saya yang masih pegawai tidak tetap atau pekerja kontrak. Semua Bank yang saya temui mensyaratkan lampiran foto kopi SK Pegawai Tetap. Ini saya yang tidak punya. Loh kenapa bisa tidak punya?. Karena memang belum dikasih. Memang sudah berapa lama kerja sampai sekarang kok belum juga diangkat statusnya jadi pegawai tetap?. Tidak perlu saya sebutkan di sini Jawabannya.

Saya jadi bertanya mengapa bisa terjadi kepada diri ini. Ciaaa diri ini boook. Iyalah dua orang se angkatan saya (Kami bertiga sama sama mendapat SK kontrak bersama sama pada tahun 2001-red). Kedua orang seangkatan saya itu sudah melenggang dengan sukses, berpenghasilan mapan dan status kepegawaiannya yang jelas dibuktikan dengan status pegawai tetapnya. Namun hanya saya saja yang belum memperoleh apa apa. Tetap menyandang KKA (Karyawan Kontrak Abadi-red) hingga sekarang untuk waktu yang tidak jelas sampai kapan. Saya sendiri belum pernah diberitahu apa saja syarat syarat yang harus dipenuhi atau dilengkapi oleh seorang calon pegawai seperti saya untuk bisa diangkat menjadi pegawai tetap. Saya belum tau. Mungkin juga dengan karyawan kontrak lainnya juga belum tahu. Apa ada sosialisasinya?.

Berat rasanya beban hidup ini. Semakin berat dengan naiknya harga harga Kebutuhan Pokok di mana mana. Keluarga juga harus diberi makan, dan masa depan yang cerah. Sebagai kepala rumah tangga saya merasa "malu" dengan karir istri saya yang melesat bagai anak panah. Istri diberi kemudahan ALLAH SWT dengan kelulusannya sebagai CPNS hanya sekali ikut tes murni. Dalam waktu dekat istri akan prajabatan. Mungkin memang rezeki saya tidak dikantor ini. Letih rasanya diri ini mengejar apa yang sudah menjadi hak namun masih juga dipersulit oleh orang lain. Lelah diri ini memperjuangkan apa yang sudah menjadi hak diri ini. Tidak ada lagi tempat ku mengadu di sini. Semua pada tiarap dan mencari selamat sendiri sendiri.

Satu hal yang selalu membuat ku bahagia jika bisa pulang ke rumah dan berkumpul dengan anak dan istri dan calon buah hati yang ke-2 yang sekarang berada di rahim istri. Walau dengan kondisi rumah kontrakan yang bocor menetes airnya dikala hujan, dan kadang air pun ikut masuk ke dalam rumah kontrakan kami. Hati ini terasa begitu damai, dan tenang. Kebahagian bisa berkumpul dengan keluarga adalah hal yang tidak ternilai dalam lembaran hidup saya ini. Saya bersukur dengan apa yang ada dalam diri ini, dan tetap semangat dan bertekad untuk lebih sukses lagi pada masa masa yang akan datang. Mengayun Langkah ke Depan Sepasti fajar yang akan selalu tiba

Inilah catatan harian saya. Catatan harian seorang pegawai kontrak


DearBlog,

Pelit atau Tamak



Dear Blog

Tentu kita semua memiliki sifat sifat dasar alamiah yang Allah SWT berikan kepada kita para hambaNYA. Kita semua memiliki sifat dan karakter yang terbentuk dari sejak kita lahir hingga (pada akhirnya) kembali menghadap sang Pencipta. Beberapa sifat dasar manusia memang terbentuk sejak lahir dan bersifat absolut tetap dan tidak dapat dibentuk dengan bantuan orang lain. Sifat pembawaan dari lahir ini konon bisa berupa karakter dasar dan aseli seseorang yang tercipta dari sejak lahir.

Pelit atau Kikir dan Tamak adalah dua sifat yang bertolak belakang satu dengan lainnya namun mempunyai kaitan yang sangat erat kepada HARTA. Apa itu Kikir?. Dalam agama Islam tercantum Firman Allah SWT: “Dan dia amat keterlaluan dalam mencintai harta.” (QS al-’Adiyat:8). Keterlaluan mencintai harta dapat menggiring pelakunya kepada sifat pelit, bakhil atau kikir. Padahal sesungguhnya, kekayaan atau harta itu sendiri bukan merupakan suatu kejelekan, namun rakus terhadap harta itulah yang buruk. Nah firman Allah SWT inilah bisa kita dapat gambaran jelas mengenai apa itu Kikir sebenarnya.

Dalam dunia kerja kita tidak terlepas dari hubungan sosialisasi dan persahabatan dengan rekan sekerja kita. Dengan rekan kerja kita, dengan klien kita, bahkan dengan atasan atau BOS sekalipun, kita semua pasti akan bersinergi satu sama lainnya sehingga terciptalah lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan. Namun bagaimana kalaw kita menghadapi teman kerja atau BOS yang memiliki sifat Tamak dan Kikir ini?. Loh jangan buru buru kita menuduh bos kita bersifat demikian. O tidak. Saya tidak mengatakan BOS itu orangnya Pelit dan Tamak. Siapa pun (begitu juga saya sendiri-red) pasti tidak akan menerima dituduh sembarangan. Bisa bisa anda kena pasal perbuatan tidak menyenangkan loh hahahaha. HWehehehehhee.

Tapi anda sudah bisa menilai dari sikap dan attitude seseorang dari kesehariannya. Bisa dilihat apakah itu kecenderungan dari personifikasi sifat Kikir atau Tamak. Bisa kita analisa satu persatu. Pelit atau KIKIR dalam kamus saya tidak selalu berkonotasi dengan Harta kekayaan atau Harta Benda secara fisik. Pelit dalam memberikan penghargaan kepada karyawan juga saya masukkan dalam sifat pelit seseorang. Pelit mengangkat karyawannya yang sudah layak dan memenuhi standar diangkat sebagai pegawai Tetap. Di sisi lain penghargaan yang tidak terbatas diberikan kepada individu individu tertentu yang menurut sebagian banyak orang dirasakan tidak adil.

Tidak adil karena ada karyawan yang sudah bekerja bertahun tahun namun masih menyandang sebagai KKA (Karyawan Kontrak Abadi-red). Sedangkan beberapa lainnya yang masih bisa dibilang "anak kemarin" sore sudah sukses memperoleh status pegawai tetap. Bukankah ini menyakiti perasaan karyawan lain yang lebih lama masa tugasnya. Lalu dimana ukuran dan syarat untuk bisa diangkat sebagai pegawai tetap juga tidak pernah sampai atau tidak pernah disosialisasikan. Ini bisa saya sebut dengan PELIT. PELIT dalam memberikan informasi kepada bawahannya. Jadi PELIT atau KIKIR tidak selalu identik dengan Harta. Jelas bukan? Hehehehe.

Juga soal BONUS. Hmm. Ini agak sensitif nih soale menyangkut urusan duit duit money fulus fulus. Saya harus berhati hati menulisnya. Begini saja. Dalam pandangan saya yang awam ini BONUS merupakan 'hadiah' atau dalam bahasa Inggrisnya "gift" atau "present" dari sang Bos kepada bawahannya. Sepanjang yang saya tahu BONUS bukan termasuk poin kewajiban dari Perusahaan untuk diberikan kepada karyawannya. Lain soal kalaw soal THR dan JAMSOSTEK yang merupakan HAK pekerja. Penjara urusannya bagi pengusaha yang tidak memberikan THR ini. Sedangkan dalam soal pemberian BONUS, kita kita secara hukum tidak dapat menuntut. Ini adalah murni hadiah atau pemberian sang Bos kepada para karyawannya. Mau dikeluarkan (BONUS) atau tidak itu adalah HAK sepenuhnya dari sang bos.

Mungkin kita kita hanya menghimbau secara moril atau moral saja. Banyak keluarga keluarga, saudara saudara kita yang mengharapkan keluarnya sang BONUS. Apalagi bulan bulan ini adalah masa Libur anak sekolah, dan tidak lama lagi mereka akan masuk ke sekolah. Tentu perlu buku baru, seragam sekolah baru, tas Baru dan lain sebagainya keperluan sekolah. Belum lagi keluarga yang harus memasukkan dan mendaftarkan anaknya ke sekolah entah SMP, SMA, dan tentu banyak biaya yang harus dikeluarkan. Nah darimana uangnya? Untuk mengharapkan gaji jelas tidak cukup. Juga bagi keluarga atau karyawan yang terlilit hutang seperti saya. Hehhee. Serta Keluarga keluarga yang harus mencicil kredit barangnya, bayar tagihan listrik , air, dan lain sebagainya perlu "dana segar" untuk keperluan keperluan itu. Tentu saja mereka menaruh harapan besar keluarnya sang BONUS yang dianggap sebagai 'berkah' atau uang kaget yang banyak manfaatnya.

Pakar Keuangan Keluarga, Safir Senduk dan Rekan juga pernah mengatakan. Jika anda ingin melunasi cicilan hutang, membayar kredit motor, membayar cicilan rumah, atau membayar tagihan listrik, air, dan lain sebagainya, sebaiknya menggunakan UANG KAGET atau semacam BONUS. "Jadi gunakanlah BONUS untuk anda gunakan untuk membayar keperluan penting anda seperti rumah, air, sekolah, listrik dan lain sebagainya. Anda sebaiknya tidak menggunakan BONUS untuk keperluan konsumtif. Sayang kata anda, bijak kata saya" demikian kata Pakar Keuangan Keluarga Safir Senduk. Oh bijaknya.

jadi kesimpulannya, Jadi kita tidak boleh menuntut BONUS dikeluarkan. Ini adalah hak dari BOS kepada kita. Seperti yang saya sebut di atas, BONUS merupakan 'hadiah' atau dalam bahasa Inggrisnya "gift" atau "present" dari sang Bos kepada bawahannya. Sepanjang yang saya tahu BONUS bukan termasuk poin kewajiban dari Perusahaan untuk diberikan kepada karyawannya. Lain soal kalaw soal THR dan JAMSOSTEK yang merupakan HAK pekerja. Dikeluarkannya sang BONUS atau TIDAK adalah hak sepenuhnya dari sang BOS. Kita sebatas menghimbau secara moril aja agar segera dikeluarkan (BONUS) mengingat manfaatnya akan sangat dirasakan oleh para keluarga karyawan yang bergaji pas pasan seperti saya> hehehe

Rasul saws bersabda: “Dua sifat yang tidak ada pada diri seorang mu’min: kikir dan akhlaq yang buruk!” (HR. Ahmad dan Minhaj al-Shalihin:312). Semoga BOS tidak PELIT dalam mengeluarkan BONUS bagi karyawannya.

Semoga