Help us to keep our home
Tag : TKW - Asep Haryono | Duka Pahlawan Devisa - Powered by Blogger

Dear Blog,

Masih ramai dibicarakan orang saat ini kasus penganiyaan berat yang dilakukan oleh Majikan Arab Saudi terhadap seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKW)Surmiati hingga babak belur dan sampai sekarang kasusnya masih menggantung. Ada lagi kasus TKW Indonesia lainnya yang juga kurang bernasib mujur seperti yang baru baru ini terjadi di Situbondo. Seorang TKW bernama Hosna (27 Tahun) yang juga dianiaya dengan cambuk dan rotan dan gajinya selama 2 (dua) tahun bekerja di Arab yang juga tidak kunjung dibayarkan. Dua kisah TKW yang memilukan di atas masih lebih "baik" ketimbang nasib naas yang dialami oleh TKW lainnya, Kikim Komalasari, yang bahkan harus tewas juga ditangan majikannya di Arab Saudi. Sungguh memilukan duka TKW kembali terjadi lagi, dan terus terjadi lagi. Mengapa harus terjadi?

Mengapa menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) masih merupakan salah satu sumber uang yang diburu oleh rakyat Indonesia sekarang ini? Walaupun pemberitaan di berbagai media gempar diberitakan banyaknya nasib TKW yang dianiaya, diperkosa, diperlakukan semena mena oleh Majikan di luar negeri, namun tetap saja ratusan bahkan ribuan para pencari kerja di Indonesia masih menggantungkan harapan untuk bisa terpilih menjadi TKI dan Bekerja di Luar Negeri. Salah satu alasan utama mengapa rakyat kita masih memilih TKI untuk bekerja di luar negeri adalah karena masalah ekonomi.

Alasan ekonomi menjadi panglima dari perburuan uang di luar negeri. Berbagai kisah sukses para TKI di luar negeri, dan juga karena cerita yang dihembuskan oleh agen agen Nakal Para Pengusaha pengerah TKI juga menjadi salah satu penyebabnya. Walaupun mereka tau akan kemungkinan resiko terburuk yang bakal diterimanya sebagai TKI, namun berjudi dengan nasib dengan bekerja di Luar Negeri sebagai TKI tetap menjadi incaran rakyat Indonesia. Menjadi TKI dan Bekerja di luar negeri masih dianggap sebagai cara paling instan untuk bisa keluar dari kemiskinan dan masalah ekonomi keluarga yang semakin tinggi keperluannya.

Saya aja tidak mengerti ada apa dengan bangsa Indonesia saat ini. Padahal dalam Undang Undang Dasar 1945 asal 34 yang secara jelas menyebutkan bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Nah kemana pelaksanaanya kalaw sudah jelas tercantum dalam UUD 1945. Mengapa Bangsa Indonesia lupa akan UUD negaranya sendiri?. Bukankah adalah kewajiban Negara untuk melindungi hak hak dasar pemenuhan ekonomi yang harus didukung oleh Negara ini juga sesuai dengan deklarasi universal Perserikatan Bangsa Bangsa. Mengapa hal ini terjadi wahai Indonesia ku yang malang.

Dalam sebuah konperensi tentang MDG (Millenium Development Goals) yang pernah saya hadiri di Hotel JW Marriott Kuningan Jakarta beberapa waktu yang lalu juga telah dibahas bahwa menjelang tahun 2015 semua negara di dunia termasuk Indonesia dibebani target untuk bisa mencapai 8 (delapan) pencapaian MDGS. Diantara target pencapaian itu adalah Mengentaskan kemiskinan dan kelaparan mutlak, mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, mengurangi ketimpangan gender dan pendidikan. Nah sudah jelas disana tercantum upaya untuk "mengentaskan kemiskinan" adalah kewajiban Negara kepada rakyatnya.

Di saat sumber sumber penghidupan dan fasilitas negeri ini dihisap oleh lintah darat, cecungguk ekonomi perusak ekonomi rakyat sekelas Gayus Tambunan, juga masih ditambah lagi dengan angka pengangguran yang tinggi disertai dengan tingginya kemiskinan akut di seluruh Indonesia. Beban masyarakat semakin bertambah berat dengan naiknya harga harga kebutuhan pokok di Pasaran. Semua faktor faktor ini bisa menjadi pemicu (trigger-red) bagi rakyat Indonesia yang sudah putus asa , kalap dan frustasi dan mencari jalan pintas untuk bisa keluar dari himpitan kemiskinan. Nah cara yang ditempuh itu adalah menjadi TKI, Tenaga Kerja Indonesia. Menjadi buruh migran sebutannya. Nah apa pun sebutannya, menjadi TKI adalah pilihan yang paling waras di negeri yang sudah tidak waras lagi pengelolaannya ini.

Kita mungkin bisa meninjau ulang pola kerja sama kita dengan Negara tujuan TKI itu seperti Malaysia dan Arab Saudi. Tapi menghentikan sama sekali pengiriman TKI juga tidak akan menyelesaikan masalah. Efek domino pasti akan ada. Menghentikan sama sekali pengiriman TKI berarti menambah pengangguran dan bisa menutup peluang bagi rakyat untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Tetapi mengizinkan pengiriman TKI kembali berlanjut berarti membiarkan rakyat Indonesia menjadi "pengemis" di negara lain.

Tugas negara ini adalah melindungi warga Negara Indonesia di mana saja berada. Kalaw memang tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan buat rakyat Indonesia, maka berikanlah perlindungan dan jaminan keselamatan bagi rakyatnya untuk mengadu nasib di negeri orang. Jangan hanya mau devisanya aja, dan mengelu elukan para TKW sebagai pahlawan devisa, tapi melupakan kewajiban Negara untuk menjadi pengayom dan pelindung TKI di mana saja berada.

Bubur Ayam Pasar Flamboyan. Seporsi seharga 6 ribu rupiah. Murah Meriah dan saya suka sekali bubur Ayam. Foto Asep Haryono

Dear Blog,

Hahaha edisi kali ini yuk saya mau cerita yang ringan ringan aja. Kertas kalee ringan. Hehehe nggak nggak, ya cuma hari ini saya mau rileks aja ngebloG dengan tema seputar makanan alias kuliner. Bukan Kuliner LebaY seperti yang ada di televisi Swasta itu loh yang menurut saya memang tayangan aseli dibuat buat alias LebAy. Nah nah untuk tulisan saya kali ini adalah menikmati BubuR Ayam. Nah siapa sih diantara kalian yang tidak tau atau tidak pernah icip icip Bubur Ayam?. Jajanan pasar yang satu ini memang khas di lidah kita orang Indonesia, dan harganya pun bener bener sangat terjangkau oleh setiap orang.

Seperti dalam tulisan blog saya sebelumnya. Lagi lagi (tulisan) ini tidak bermaksud merupakan "tandingan" atau menyindir mereka mereka yang gemar masakan Barat seperti Miza (Makan Piza-red), NgefCi (makan KFC-red) itu loh. Bener nda ada maksud seperti itu. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya ini semata mata persoalan selera. Selera setiap orang berbeda beda antara satu orang ke orang lainnya. Dan yang namanya Selera tidak dapat diperdebatkan. So eh jadi jangan memperdebatkan soal selera ya hehehee.

Nah nah siapa yang nda kenal Bubur Ayam? Tentu banyak yang sudah tau donk. Namanya Bubur Ayam banyak dijumpai di kota Pontianak. Ada banyak tempat nongkrong atau tempat mangkalnya orang yang menjual Bubur Ayam. Sebut saja di bilangan Gajah Mada yang memang sentranya jajanan pasar rakyat. Mengapa disebut sentra jajanan rakyat? Ya karena letak Pasar Rakyat, Pasar tradisional, Pasar Flamboyan dan Gajah Mada memang terletak di kawasan Gajah Mada Pontianak ini.

Hampir semua jenis jajanan pasar ada dijual di Pasar Flamboyan ini. Sebut saja aneka ragam kue kue Basah, Kue Kering, Kue Manis, Kue Bingke , Roti Cane, Sate Ayam Lontong, Gado Gado, Pecel Lele, BKI (Bubur Kacang Ijo), Bubur Ayam, serta masih beragam jenis lainnya yang masih bertemakan jajanan pasar yang amat menggugah cita rasa kita. Dan soal harga jangan kuatir , harga harga Jajanan Pasar di yang djual di pasar Flamboyan ini tidak akan menguras kantong anda. Lain halnya jika anda memang bokek alias nda punya duit, barulah anda bisa bilang harganya mahal bahkan untuk kue seharga 1000 rupiah sekalipun. Hahahha. La iyalah kalaw anda bokek, mana bisa beli hehehe.

Kembali ke soal Bubur Ayam. Memang tidak harus selalu bubur Ayam kok. Ada banyak bubur bubur yang ada di jual di Indonesia. Sebut saja Bubur Ikan, Bubur Menado , Bubur Kacang Ijo, Bubur Merah Bubur Putih, serta berbagai jenis Bubur bubur lainnya. Apa sih Bubur itu sebenarnya. Membuat bubur ayam sangatlah mudah. Dan cara penyajiannya juga mudah. Seperti dikutip dari Wikipedia disebutkan bahwa bubur ayam disajikan dengan potongan daging ayam, lalu diberi kerupuk di atasnya. Kecap menjadi penambah citarasa yang tak bisa dipisahkan dari makanan ini. Ada orang yang menambahkan cakue sebagai pelengkap selain ayam, dan menjadi salah satu pilihan jenis bubur ayam yang banyak digemari.

Namun sepanjang "karir" saya makan cakue di kota Pontianak, tidak pernah saya mendapatkan tukang Bubur Ayam yang mencampurkan Cakue di hidangan bubur yang dijualnya. Sepanjang yang saya tau bubur Ayam di Pontianak tidak ada yang memakai Cakue. Selain daripada kerupuk dan emping, penggunaan cakue masih jarang saya temui. Kasih tau ya kalaw kalian menemukan penjual Bubur Ayam yang pake Cakue. Penganan Cakue dijual terpisah di pasar Flamboyan, dan harga satuan Cakue juga sangat murah. Enak banged cakue jika dicampurkan dengan Bubur Ayam. Namun karena bentuk Cakue yang memanjang biasanya Cakue itu dipotong kecil kecil dahulu baru dicampurkan dengan bubur ayam anda.

Anda suka bubur Ayam? Yuk Mareee
GARUDA : Tidak kurang dari 30 (tiga puluh) lebih saya menggunakan Garuda Indonesia
dari tahun 2008 sampai 2010 ini. Photo Asep Haryono

Banyak diberitakan beberapa hari terakhir ini beberapa rute penerbangan Garuda Indonesia ke berbagai tujuan di Indonesia mengalami penundaan (delay) hingga kepada pembatalan sepihak (cancel) oleh Maskapai Plat Merah itu. Bahkan ada yang sampai delay 6 jam lebih lamanya. Saya sangat prihatin membaca berita yang amat signifkan ini. Sebagai orang yang sangat sering menggunakan Garuda Indonesia, saya turut terkejut dengan perkembangan terakhir ini. Iklan Garuda Indonesia di televisi yang mengembar-gemborkan mengutamakan ketepatan waktu kini saatnya ditinjau kembali penayangan iklan tersebut.

Hak Hak Penumpang Maskapai Penerbangan memang sudah dijamin dalam surat keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM 25 Tahun 2008 yang menyebutkan dengan jelas jika terjadi Keterlambatan penerbangan lebih dari 180 menit maka airlines yang bersangkutan wajib memberkan minuman, makanan ringan, makan siang atau makan malam dan apabila penumpang tidak dapat dipindahkan ke penerbangan berikutnya atau ke perusahaan penerbangan berjadwal lainnya, maka kepada penumpang wajib diberikan fasilitas akomodasi untuk dapat diangkut pada penerbangan hari berikutnya.

Saya pernah punya pengalaman mengalami delay dari Garuda Indonesia saat pulang dari kegiatan pertemuan konsultasi KangGURU Indonesia Denpasar, Bali dan pulang menuju Jakarta untuk selanjutnya connect lagi dengan Garuda Indonesia juga ke Pontianak. Saat itu di tiket tertera keberangkatan jam 13.45 WIB, saya sudah berada di Bandara Ngurah Rai 2 jam sebelumnya. Namun tidak disangka sangka jadual penerbangan Garuda Indonesia ke Jakarta hari itu ditunda (delay) dan akan diberangkatkan sore harinya.

Karena saya bersikeras harus ke Jakarta siang itu, maka dengan diantar seorang staff dari Garuda Indonesia saya diantar kebagian loket Garuda Indonesia untuk penguangan kembali (refund) tiket Garuda Indonesia saya dengan utuh. Kemudian saya dipindahkan (transfer) ke pesawat Air Asia dengan tujuan Jakarta.. Dan Alhamdulillah saya pun berhasil terbang ke Jakarta siang itu dan sesampainya di SOETTA Jakarta saya langsung connect dengan Garuda Indonesia lainnya menuju Bandara Soepadio di Pontianak, Kalimantan Barat.

Dari DETIK COM ada berita yang menyebutkan bahwa Garuda Indonesia sedang menerapkan system satu atap dari 3 sistem yang sudah ada. Selama ini memang Garuda Indonesia memiliki 3 sistem yang berdiri sendiri yakni system yang memonitor pergerakan pesawat, system yang memonitor pergerakan awak kabin, dan yang terakhir adalah system yang memonitor jadual penerbangan. Mereka saat ini tengah menggabungkan ketiga system tersebut dalam sebuah system satu atap, system baru yang mereka sebut sebagai system pengoperasian terpadu yang terintegrasi (Integrated Operational Controll System (IOCS).

Saya dan mungkin para calon penumpang Garuda Indonesia lainnya tidak perduli dengan ribuan alasan yang disampaikan kepada Garuda Indonesia. Alasan penerapan system terpadu yang dilakukan Garuda Indonesia tersebut tidak bisa dijadikan justifikasi (pembenaran) penerapan Delay bagi semua calon penumpang Garuda Indonesia. Kami adalah raja, kami adalah konsumen. Kami menggunakan maskapai Garuda Indonesia dengan mengeluarkan uang sesuai dengan harga Tiketnya. Itu sudah kewajiban kami sebagai pengguna jasa Garuda Indonesia. Jadi kami, para calon penumpang Garuda Indonesia, mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik dari maskapai kebanggaan Indonesia Garuda Indonesia. Suatu permintaan yang wajar bukan.


Terima Kasih


Asep Haryono
GFF Number : 726259634
Current Membership level : Regular Blue
Membership validity : 31 Dec 2011

Komplek Duta Bandara
Blok C6/14. Jalan Ahmad Yani II Supadio
Pontianak


Dear Blog,

Masih ramai dibicarakan orang saat ini kasus penganiyaan berat yang dilakukan oleh Majikan Arab Saudi terhadap seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKW)Surmiati hingga babak belur dan sampai sekarang kasusnya masih menggantung. Ada lagi kasus TKW Indonesia lainnya yang juga kurang bernasib mujur seperti yang baru baru ini terjadi di Situbondo. Seorang TKW bernama Hosna (27 Tahun) yang juga dianiaya dengan cambuk dan rotan dan gajinya selama 2 (dua) tahun bekerja di Arab yang juga tidak kunjung dibayarkan. Dua kisah TKW yang memilukan di atas masih lebih "baik" ketimbang nasib naas yang dialami oleh TKW lainnya, Kikim Komalasari, yang bahkan harus tewas juga ditangan majikannya di Arab Saudi. Sungguh memilukan duka TKW kembali terjadi lagi, dan terus terjadi lagi. Mengapa harus terjadi?

Mengapa menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) masih merupakan salah satu sumber uang yang diburu oleh rakyat Indonesia sekarang ini? Walaupun pemberitaan di berbagai media gempar diberitakan banyaknya nasib TKW yang dianiaya, diperkosa, diperlakukan semena mena oleh Majikan di luar negeri, namun tetap saja ratusan bahkan ribuan para pencari kerja di Indonesia masih menggantungkan harapan untuk bisa terpilih menjadi TKI dan Bekerja di Luar Negeri. Salah satu alasan utama mengapa rakyat kita masih memilih TKI untuk bekerja di luar negeri adalah karena masalah ekonomi.

Alasan ekonomi menjadi panglima dari perburuan uang di luar negeri. Berbagai kisah sukses para TKI di luar negeri, dan juga karena cerita yang dihembuskan oleh agen agen Nakal Para Pengusaha pengerah TKI juga menjadi salah satu penyebabnya. Walaupun mereka tau akan kemungkinan resiko terburuk yang bakal diterimanya sebagai TKI, namun berjudi dengan nasib dengan bekerja di Luar Negeri sebagai TKI tetap menjadi incaran rakyat Indonesia. Menjadi TKI dan Bekerja di luar negeri masih dianggap sebagai cara paling instan untuk bisa keluar dari kemiskinan dan masalah ekonomi keluarga yang semakin tinggi keperluannya.

Saya aja tidak mengerti ada apa dengan bangsa Indonesia saat ini. Padahal dalam Undang Undang Dasar 1945 asal 34 yang secara jelas menyebutkan bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Nah kemana pelaksanaanya kalaw sudah jelas tercantum dalam UUD 1945. Mengapa Bangsa Indonesia lupa akan UUD negaranya sendiri?. Bukankah adalah kewajiban Negara untuk melindungi hak hak dasar pemenuhan ekonomi yang harus didukung oleh Negara ini juga sesuai dengan deklarasi universal Perserikatan Bangsa Bangsa. Mengapa hal ini terjadi wahai Indonesia ku yang malang.

Dalam sebuah konperensi tentang MDG (Millenium Development Goals) yang pernah saya hadiri di Hotel JW Marriott Kuningan Jakarta beberapa waktu yang lalu juga telah dibahas bahwa menjelang tahun 2015 semua negara di dunia termasuk Indonesia dibebani target untuk bisa mencapai 8 (delapan) pencapaian MDGS. Diantara target pencapaian itu adalah Mengentaskan kemiskinan dan kelaparan mutlak, mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, mengurangi ketimpangan gender dan pendidikan. Nah sudah jelas disana tercantum upaya untuk "mengentaskan kemiskinan" adalah kewajiban Negara kepada rakyatnya.

Di saat sumber sumber penghidupan dan fasilitas negeri ini dihisap oleh lintah darat, cecungguk ekonomi perusak ekonomi rakyat sekelas Gayus Tambunan, juga masih ditambah lagi dengan angka pengangguran yang tinggi disertai dengan tingginya kemiskinan akut di seluruh Indonesia. Beban masyarakat semakin bertambah berat dengan naiknya harga harga kebutuhan pokok di Pasaran. Semua faktor faktor ini bisa menjadi pemicu (trigger-red) bagi rakyat Indonesia yang sudah putus asa , kalap dan frustasi dan mencari jalan pintas untuk bisa keluar dari himpitan kemiskinan. Nah cara yang ditempuh itu adalah menjadi TKI, Tenaga Kerja Indonesia. Menjadi buruh migran sebutannya. Nah apa pun sebutannya, menjadi TKI adalah pilihan yang paling waras di negeri yang sudah tidak waras lagi pengelolaannya ini.

Kita mungkin bisa meninjau ulang pola kerja sama kita dengan Negara tujuan TKI itu seperti Malaysia dan Arab Saudi. Tapi menghentikan sama sekali pengiriman TKI juga tidak akan menyelesaikan masalah. Efek domino pasti akan ada. Menghentikan sama sekali pengiriman TKI berarti menambah pengangguran dan bisa menutup peluang bagi rakyat untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Tetapi mengizinkan pengiriman TKI kembali berlanjut berarti membiarkan rakyat Indonesia menjadi "pengemis" di negara lain.

Tugas negara ini adalah melindungi warga Negara Indonesia di mana saja berada. Kalaw memang tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan buat rakyat Indonesia, maka berikanlah perlindungan dan jaminan keselamatan bagi rakyatnya untuk mengadu nasib di negeri orang. Jangan hanya mau devisanya aja, dan mengelu elukan para TKW sebagai pahlawan devisa, tapi melupakan kewajiban Negara untuk menjadi pengayom dan pelindung TKI di mana saja berada.




Hidangan Pecel lele yang akan kami santap. Photo Asep Haryono
Dear Blog

Siapa sih yang tidak kenal dengan makanan khas Indonesia yang bernama "Pecel Lele"?. Ya ini masih kelompokok makanan selera Nusantara kebanggaan Bangsa Indonesia. Tulisan ini bukan bermaksud menyindir orang yang hobi makanan barat seperti "Miza" (Makan Pizza-red), atau "Ngefsi" (Makan KFC-red) loh. Tidak sama sekali. Karena apa? Ya karena selera orang berbeda beda dari satu orang ke orang lainnya. Dan yang namanya selera tidak dapat diperdebatkan. Selera memang menentukan gaya hidup (style) seseorang, tapi itu semua terpulang kepada diri masing masing. Nah kembali kita kembali kepada "melele" alias Makan Pecel Lele. Mau tau ceritanya yuk kita mulai.

Saat itu ketika hari menunjuk hari Kamis, tanggal 18 Nopember 2010 sekitar pukul 14.00 WIB saya mendapat pesan singkat SMS dari Imam A Virya, rekan saya dan dia juga seorang dosen senior di UNTAN mengajak saya untuk melele bersama siang itu. Dan akhirnya saya pun menyanggupi untuk memenuhi undangan makan pecel lele atau saya sebut sebagai istilah "Melele" bersamanya. Dan tempat yang direncanakan saat itu ada 2 (dua) pilihan yakni di Kafe Wong Solo dan Kafe Pegasus dilingkungan kampus Universitas Tanjungpura Pontianak. Namun yang disepakati bersama ternyata adalah kafe Pegassus di dalam kampus UNTAN.

Jam 14.00 WIB kira kiralah , saya langsung check out (macam hotel yak check out-red) dari kampus Pontianak Post lantai 5 langsung menuju basement, halaman parkir kendaraan yang letaknya ada di lantai Bawah. Saya pacu motor Supra Fit 3815 HY Keluaran tahun 2004 kesayangan saya dan keluar langsung menuju kafe Pegassus yang terletak di dalam lingkungan kampus Universitas Tanjungpura. Dan singkat cerita, tidak sampai 7 menit, sampailah saya tiba di kafe Pegassus UNTAN yang mayoritas pengunjungnya adalah Mahasiswa. Bisa kasat keliatan dari pernak pernik yang mereka gunakan kalaw mereka adalah Mahasiswa.

Namun saat saya tiba di kafe Pegassus itu, sang pengundang, rekan saya Imam, tetap blum juga tiba di tempat itu seperti yang sudah direncanakan. Namun setelah kontak kontak SMS disepakati saya dahulu yang order pecel lele kepada pelayannya. Dan pesanan pun sudah saya luncurkan hehahahaa. Meluncur? Roket kaleee. Order 2 porsi Pecele lele dan 2 gelas Minuman yang berbeda. Saya pesan Teh Es dan satu lagi rekan saya itu suka Teh Manis panas. Hahaha bener kan memang selera kita berbeda beda untuk urusan minuman. Tapi menu kita sama yakni Pecel lele.

Kemudian datanglag rekan saya Imam, dan kami pun duduk bersila bersama dengan pesanan pecel lele yang sudah ada dimeja makan. Dan tidak lama kemudian, tanpa dikomando lagi, kami berdua pun larut dalam kenikmatan Pecel Lele yang asyik, enak, dan sembriwing itu hehehehe. Menurut ku sih memang pedasnya sambel Pecel Lele tidak sepedas sambal organik yang diolah dengan menggunakan cobek. Sambal Pecel Lele juga kalah jauh pedasnya dengan sambal khas Pontianak yang luar biasa pedasnya itu. Sambal Pecel Lele bersifat kosmetik, terasa sedikit asam dari tomat, dan ada rasa manis yang berasal dari gula pasir. Sambal Pecel Lele dihidangkan dalam sebuah mangkuk kecil.

Untuk jenis ikannya tentu saja Lele. Hahaha bukan bukan, Yang saya maksud di sini jumlah Ikan Lele yang ada di hidangan bisa bervariasi tergantung besar kecilnya sang Lele. Sebagai contoh gini. Jika Ikan LELE nya berukuran besar sekali, maka LELE nya cukup 1 yang disajikan dalam sajian pecel lele. Jika Ikan Lele nya berukuran sedang biasanya jumlah Lele goreng yang disajikan berjumlah 2 (dua). Dan jika Lele nya kecil kecil (Ya tidak kecil banged sih-red) , maka biasanya jumlah Lele goreng yang disajikan dalam piring berjumlah 3 (tiga). Selain itu "asesori" Pecel Lele tetaplah sama seperti Daun Kemangi, Kol , Dan Mentimun.

Ada yang beda sedikit di Kafe Pegassus ini. Dalam menu Pecel Lelenya juga dilengkapi dengan emping dan tempe goreng , sesuatu yang menurut saya "menyeleneh" dari pakem Pecel Lele. Tapi its okay aja karena bisa merupakan variasi hidangan. Dan mencicipi Pecel Lele dengan alunan musik lembut dan suasana ala Mahasiswa di kafe tersebut menambah suasana syahdu dan semarak kita menyantap hidangannya. Suasananya yang teduh, dan parkir kendaraan yang tepat di depan kita menambah kenyamanan dan rasa aman.

Anda suka Pecel Lele? Yuk mareeeeeee
Inilah meja tes saya yang bernomor punggung 21. Di foto sebelum meninggalkan kelas

Dear Blog,

Hari ini adalah hari Sabtu tanggal 20 Nopember 2010 dan hari ini aku mengikuti tes prediksi TOEFL (Test Of English As Foreign Language) yang dilaksanakan di UPT Bahasa Universitas Tanjungpura yang terletak di Jalan Ahmad Yani Pontianak. Ini merupakan tes prediksi saya yang ke dua setelah beberapa waktu sebelumnya mengikuti tes prediksi IELTS yang dilaksanakan di Hotel Mercure Jalan Ahmad Yani yang diselenggarakan oleh SUN International Group itu. Namun khusus untuk tes predisik IELTS itu hasilnya cukup memprihatinkan hahaha. Dari skor yang tidak berangka itu hasil yang saya peroleh saat tes prediksi IELTS sungguh mengharukan jeleknya hahhaa

Dan kali ini secara tidak sengaja setelah ditraktir melele di kafe Pegasus oleh salah seorang teman dari Kampus Universitas Tanjungpura hari Sabtu kemarin (19 Nopember 2010) akhirnya saya pun ditawari untuk ikut tes prediksi TOEFL bersama dia. Orang itu (maaf tidak dapat disebutkan namanya-red) mendapat tawaran untuk kuliah general di Universitas di negeri Belanda dan dia harus menyertakan skor TOEFLnya. Sama persis dengan saya yang juga sudah ditagih oleh panitia beasiswa AMINEF FULLBRIGHT di Jakarta.

Beda dengan IELTS prediciton, untuk tes prediksi TOEFL ini memang fokusnya lebih kepada susuan gramatika. Dan mungkin itu pendapat sementara saja. Dengan waktu tes yang standard saya berhasil menyelesaikan tes Section I , II, dan III yang ditempuh sesuai dengan jatah waktu yang sudah disediakan oleh panitia tes Prediksi TOEFL. Banyak "rule" atau peraturan yang harus dipatuhi oleh para peserta tes Prediksi TOEFL ini. Beberapa peraturan itu misalnya adalah sebagai berikut :
  1. Tidak boleh menyalakan alat komunikasi atau Handphone.
  2. Handphone harus dalam posisi "off", dan jika kedapatan menyalakan Handphone, membunyikan Handphone atau menerima telepon di saat tes sedang berlangsung maka yang bersangkutan akan didiskualifikasi, dan menanda tangani berita acara.
  3. Jika mencoret coret di dalam buku ujian (test book) maka peserta yang bersangkutan selain didiskualifikasi dari peserta ujian, masih diharuskan mengganti ongkos cetak buku yang dicoret tersebut

Sebenarnya masih ada beberapa peraturan lainnya untuk dipatuhi oleh para peserta tes predisksi TOEFL yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Namun ada yang janggal pada saat tes berlangsung. Kira kira setelah 1 jam berlangsung di ruangan tempat saya tes tersebut terdengar seperti bunyi alarm penanda waktu. Apakah itu suara dari HP salah satu peserta atau bunyi penanda waktu dari Jam Dinding di ruangan itu. Tidak jelas.


Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog From Indonesia