Pengantar
Pernahkah anda mengalami pemutusan sambungan listrik oleh PLN? Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada penulis tentu akan dijawab "Ya, sudah pernah". Lalu "Bagaimana rasanya hidup tanpa pasokan listrik dari PLN?" Jawabannya "sungguh tidak nyaman sama sekali". Hidup dalam kegelapan. Kegelapan di
sini dalam arti yang sebenarnya yakni tanpa penerangan listrik
sama sekali karena diputus oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) karena penulis
menunggak tagihan listrik selama 5 (lima) bulan.
Harusnya penulis di hukum berat dengan pencabutan permanen instalasi PLN di rumah dan diganti dengan sambungan menggunakan Voucher. Nyatanya tidak. PLN kota Pontianak masih berbaik hati dengan hanya memutus sambungan listrik sementara saja. Namun Alhamdulillah semua tagihan rekening Listrik tersebut sudah dilunasi dengan gegap gempita dan listrik kembali menyala seperti sedia kala.
Sambungan Listrik Langsung Diputus
Hari itu penulis baru saja pulang dari kantor sebagaimana biasanya dan terkejut mendapati listrik di rumah gelap atau padam. Penulis mengira hari itu terjadi pemadaman listrik bergilir yang memang kerap terjadi di kota Pontianak. Namun herannya setelah melihat keadaaan listrik tetangga di empat penjuru mata angin (Barat, Utara, Timur dan Selatan) listriknya menyala semua, langsung paham. Listrik pasti diputus oleh PLN. Penulis saat itu memang menunggak Tagihan listrik selama 5 (Lima) bulan. Sungguh suatu "prestasi" yang sangat tidak keren. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya kalau ada jadual pemutusan sambungan listrik pada hari itu. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Tidak lama lagi hari akan segera malam.Penulis bingung luar biasa. Sudah bisa dibayangkan jika tidak ada listrik sama sekali. Malam hari pasti akan gelap gulita, dan dipastikan hanya akan mengandalkan penerangan dari lilin saja. Saat itu penulis tinggal bersama kedua buah hati yang masih balita dan satunya lagi masih duduk di bangku TK.
Ada tawaran dari tetangga yang ahli listrik untuk "mengakali" Meteran listik agar tetap menyala walau secara teknis sudah diputus sementara oleh PLN namun dengan halus penulis menolak tawaran itu. Tentu tindakan tersebut illegal, berpotensi menimbulkan kerugian di pihak PLN dan masuk katagori kriminal pencurian listrik. Penulis tidak mau dianggap sebagai pencuri listrik. Penulis tidak mau melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti itu. Malam harinya Penulis bergelap ria bersama sanak anak di rumah. Mau bagaimana lagi hari itu sudah masuk malam hari.
Kasihan anak anak malam itu kegerahan karena tidak ada pasokan listrik sama sekali. Diputus siang tadi oleh PLN karena penulis menunggak tagihan listrik selama 5 (lima) bulan. Ini memang sudah menjadi konsekuensi logis karena telat membayar rekening Listrik. Keadaan finansial hari itu memang kurang baik. Tidak ada dana dalam tabungan sehingga terpaksa meminjam uang dari tetangga. Uang itu akhirnya bisa didapat malam itu juga karena akan dibayarkan ke esokan harinya sesuai dengan jumlah tagihan yang ada dalam surat panggilannya. Meminjam uang dari tetangga juga bukan hal yang mudah. Penulis beruntung malam itu ada tetangga yang baik hati meminjamkan uangnya. Bagaiaman jadinya jika tetangga juga sedang dalam kesulitan, tentu akan lain ceritanya.
Malam harinya penulis tidak dapat memejam mata dengan tenang selain karena harus mengipasi kedua anak saya agar bisa tidur dengan nyaman tidak terganggu oleh udara panas dalam kamar. Selain itu juga cahaya yang berasal dari lilin menyala juga harus diawasi dengan ketat. Menyalakan lilin sebagai pengganti lampu juga penuh resiko lilin terjatuh dn berpotensi menimbulkan kebakaran. Ini sudah pernah penilis alami beberapa bulan yang lalu. Lilin yang diletakkan di atas lemari membakar helm. Beruntung saat itu penulis langsung terbangun karena mencium bau asap yang pekat dalam ruangan.
Keesokan harinya, setelah mengantar anak ke sekolah dan ke rumah pengasuhnya, tepat pukul 09.00 WIB pagi hari penulis langsung mendatangi kantor PLN Pontianak yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani Pontianak. Tagihan listrik yang harus dibayar tertera dalam Surat Panggilan berwarna putih yang penulis bawa saat melakukan pembayaran. Begitu tagihan semuanya lunas dibayar di loket , penulis pun mendapatkan tanda bukti lunas dan langsung melaporkan ke Bagian Unit Penyambungan Instalasi PLN yang berada di ruangan yang berbeda. Tepat jam 10.00WIB urusan bayar membayar sudah lunas. Dan penulis pun kembali ke kantor sebagaimana biasanya.
Begitu sampai di rumah sore harinya, Penulis mendapati Meteran Listrik sudah tersambung. Pasokan listrik sudah menyala seperti biasanya. Lega rasanya. Bayangan bergelap gelap ria seperti yang dirasakan tadi malam berakhir sudah.
Harusnya penulis di hukum berat dengan pencabutan permanen instalasi PLN di rumah dan diganti dengan sambungan menggunakan Voucher. Nyatanya tidak. PLN kota Pontianak masih berbaik hati dengan hanya memutus sambungan listrik sementara saja. Namun Alhamdulillah semua tagihan rekening Listrik tersebut sudah dilunasi dengan gegap gempita dan listrik kembali menyala seperti sedia kala.
Sambungan Listrik Langsung Diputus
Hari itu penulis baru saja pulang dari kantor sebagaimana biasanya dan terkejut mendapati listrik di rumah gelap atau padam. Penulis mengira hari itu terjadi pemadaman listrik bergilir yang memang kerap terjadi di kota Pontianak. Namun herannya setelah melihat keadaaan listrik tetangga di empat penjuru mata angin (Barat, Utara, Timur dan Selatan) listriknya menyala semua, langsung paham. Listrik pasti diputus oleh PLN. Penulis saat itu memang menunggak Tagihan listrik selama 5 (Lima) bulan. Sungguh suatu "prestasi" yang sangat tidak keren. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya kalau ada jadual pemutusan sambungan listrik pada hari itu. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Tidak lama lagi hari akan segera malam.Penulis bingung luar biasa. Sudah bisa dibayangkan jika tidak ada listrik sama sekali. Malam hari pasti akan gelap gulita, dan dipastikan hanya akan mengandalkan penerangan dari lilin saja. Saat itu penulis tinggal bersama kedua buah hati yang masih balita dan satunya lagi masih duduk di bangku TK.
Ada tawaran dari tetangga yang ahli listrik untuk "mengakali" Meteran listik agar tetap menyala walau secara teknis sudah diputus sementara oleh PLN namun dengan halus penulis menolak tawaran itu. Tentu tindakan tersebut illegal, berpotensi menimbulkan kerugian di pihak PLN dan masuk katagori kriminal pencurian listrik. Penulis tidak mau dianggap sebagai pencuri listrik. Penulis tidak mau melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti itu. Malam harinya Penulis bergelap ria bersama sanak anak di rumah. Mau bagaimana lagi hari itu sudah masuk malam hari.
Kasihan anak anak malam itu kegerahan karena tidak ada pasokan listrik sama sekali. Diputus siang tadi oleh PLN karena penulis menunggak tagihan listrik selama 5 (lima) bulan. Ini memang sudah menjadi konsekuensi logis karena telat membayar rekening Listrik. Keadaan finansial hari itu memang kurang baik. Tidak ada dana dalam tabungan sehingga terpaksa meminjam uang dari tetangga. Uang itu akhirnya bisa didapat malam itu juga karena akan dibayarkan ke esokan harinya sesuai dengan jumlah tagihan yang ada dalam surat panggilannya. Meminjam uang dari tetangga juga bukan hal yang mudah. Penulis beruntung malam itu ada tetangga yang baik hati meminjamkan uangnya. Bagaiaman jadinya jika tetangga juga sedang dalam kesulitan, tentu akan lain ceritanya.
Malam harinya penulis tidak dapat memejam mata dengan tenang selain karena harus mengipasi kedua anak saya agar bisa tidur dengan nyaman tidak terganggu oleh udara panas dalam kamar. Selain itu juga cahaya yang berasal dari lilin menyala juga harus diawasi dengan ketat. Menyalakan lilin sebagai pengganti lampu juga penuh resiko lilin terjatuh dn berpotensi menimbulkan kebakaran. Ini sudah pernah penilis alami beberapa bulan yang lalu. Lilin yang diletakkan di atas lemari membakar helm. Beruntung saat itu penulis langsung terbangun karena mencium bau asap yang pekat dalam ruangan.
Keesokan harinya, setelah mengantar anak ke sekolah dan ke rumah pengasuhnya, tepat pukul 09.00 WIB pagi hari penulis langsung mendatangi kantor PLN Pontianak yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani Pontianak. Tagihan listrik yang harus dibayar tertera dalam Surat Panggilan berwarna putih yang penulis bawa saat melakukan pembayaran. Begitu tagihan semuanya lunas dibayar di loket , penulis pun mendapatkan tanda bukti lunas dan langsung melaporkan ke Bagian Unit Penyambungan Instalasi PLN yang berada di ruangan yang berbeda. Tepat jam 10.00WIB urusan bayar membayar sudah lunas. Dan penulis pun kembali ke kantor sebagaimana biasanya.
Begitu sampai di rumah sore harinya, Penulis mendapati Meteran Listrik sudah tersambung. Pasokan listrik sudah menyala seperti biasanya. Lega rasanya. Bayangan bergelap gelap ria seperti yang dirasakan tadi malam berakhir sudah.
![]() |
| DIPUTUS : Seharusnya Pelanggan yang terlambat bayar dan sedang tidak ada di rumah jangan langsung di putus listriknya seperti yang penulis alami. Inilah posisi Listik di rumah penulis yang diputus sementara oleh petugas PLN sebagai tanda bahwa tagihan listik harus segera dibayar. Foto Asep Haryono |
Harus Sosialisasi Dahulu
Hidup di perkotaan memang banyak menjanjikan baik dari segi fasilitas yang sudah tersedia maupun termasuk didalamnya adalah jaminan ketersediaan pasokan listrik yang stabil yang menjadi dambaan setiap pelanggan PLN. Namun seiring dengan semakin luasnya jangkauan wilayah di Indonesia yang masih belum dapat menikmati pembangunan listrik menyebabkan PLN terus berbenah diri dan meningkatkan kapasitas sambungan listriknya hingga ke pelosok pelosok.
Berbicara soal tantangan yang dihadapi oleh PLN tentu bukan main sulitnya dan medan yang dihadapi pun beragam ditengah sorotan masyarakat yang memiliki ekspetasi yang besar kepada PLN untuk bisa menyumbangkan segenap kemampuan terbaiknya bagi seluruh pelanggannya di Indonesia. Ini memang ironis sebenarnya di saat PLN sedang berjuang keras dengan segala kemampuan yang dimilikinya untuk melayani pelanggannya , di sisi lain masyarakat banyak yang merasa kurang puas akan pelayanan yang diberikan oleh PLN.
Kendala yang dihadapi oleh PLN dalam melayani jutaan pelanggan di seluruh Indonesia diyakini akan masih terus diupayakan dicarikan jalan keluarnya dengan win win solution dalam arti bahwa pelanggan setia PLN sebagai bagian yang menjadi prioritas utama yang harus didahulukan mengingat kewajiban mereka dengan membayar tagihan listrik yang mereka gunakan tepat waktu dan tidak terlambat. Selanjutnya adalah memberikan pelayanan yang optimal kepada pelanggan baru dengan kemudahan birokrasi dan informasi penyambungan listriknya.
Pada waktu yang bersamaan masih banyak lagi jutaan pelanggan PLN yang masih harus menunggu untuk dilayani oleh PLN dalam penyelesaian gangguan yang mereka alami. Sebab bukan tidak mungkin para pelanggan akan merasa kesal dan jengkel jika keluhan gangguan listrik yang mereka alami tidak segera direspon secara aktif oleh PLN
Dan inilah beberapa hal yang masih menjadi pekerjaan rumah sehari hari yang sudah pasti menyita perhatian dan menguras energi PLN secara terus menerus. Penulis sendiri sering mengalami berbagai kendala baik yang dikarenakan oleh kelalaian penulis dalam membayar tagihan listrik setiap bulannya maupun pada birokrasi di PLN yang penulis rasakan masih "lari ditempat" atau membingungkan.
Pemutusan Sambungan Listrik
Penulis tinggal di sebuah rumah kontrakan di komplek Duta Bandara yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani 2 Pontianak di propinsi Kalimantan Barat sejak tahun 2005 yang lalu selalu berusaha membayar tagihan PLN setiap bulannya tepat waktu dan diusahakan tidak terlambat.
Namun terkadang penulis sebagai pelanggan listrik PLN juga tidak konsisten dalam membayar iuran listrik setiap bulannya. Sering meremehkan dan menunda nunda hingga tagihan iuran listrik menjadi bertumpuk tumpuk hingga telat 5 (lima) bulan lamanya. Akibat jelas penulis terkena pemutusan sementara sambungan listrik di rumah. Penulis berpendapat justru (pemutusan sambungan listrik) inilah sebagai konsekuensi logis karena penulis terlambat membayar tagihan listrik hingga 5 (lima) bulan berturut turut sehingga sambungan listrik di rumah diputus sementara. Seharusnya penulis dihukum "berat" oleh PLN karena kelalaian ini. Harusnya.
Namun terkadang penulis pun tidak ingat lagi kalau hari itu adalah batas terakhir pembayaran tagihan listriknya sehingga ketika penulis pulang dari kantor sore hari dan mendapati listrik di rumah penulis yang padam dan setelah diperiksa dengan seksama sambungan listrik di rumah ternyata telah diputus sementara. Selembar surat peringatan (Warning) terletak mengeletak dibawah lantai di depan pintu rumah dan harus segera melunasi tunggakan listrik tersebut dalam beberapa hari ke depan untuk menghindari pemutusan permanen listrik di rumah penulis tersebut.
Jika dilihat penggalan kalimat di bagian akhir dari surat peringatan tersebut itulah yang membuat jantung berdegub keras. Ancamannya bukan main main. Jika tidak segera dilunasi dalam tempo tertentu maka sambungan listrik di rumah penulis akan diputus secara permanen dalam bentuk pencabutan semua instalasi listrik.
Jika sudah diputus permanen, maka penulis haru mengajukam pemasangan baru dan tentu akan berdampak pada biaya yang harus dikeluarkan. Listrik pun diganti dengan menggunakan voucher Ini tidak boleh terjadi karena penulis masih mengontrak. Itu bukan rumah sendiri. Oleh karena itulah penulis merasa sangat ketakutan saat membaca "ancaman" tersebut.
Jika tunggakan listrik belum juga terbayar sampai batas waktu yang sudah ditentukan secara sepihak oleh PLN, maka sambungan listrik di rumah kontrakan yang penulis diami saat ini benar benar diputus permanen. Ini akan menimbulkan permasalahan baru bagi keluarga penulis dengan pemilik rumah kontrakan yang penulis sewa saat ini.
Diputus sementara saja sudah susahnya bukan main. Bagaimana jika benar benar diputus permanen. Jika sampai diputus permanen sambungan listriknya selain berdampak serius terhadap anak anak penulis yang masih berusia balita di rumah, juga akan mendapat kesan negatif dari pemilik rumah kontrakan penulis tersebut. Penulis membayangkan proses birokrasi penyambungan listrik baru yang bertele tele hingga bertahun tahun jika dilakukan penyambungan baru belum lagi biaya yang harus penulis keluarkan untuk menyambung baru yang tentunya tidak sedikit jumlahnya.
Dari bayangan "menyeramkan" jika listrik di rumah kontrakan penulis benar benar diputus hari itu, maka penulis akan melakukan apa saja kalau perlu pinjam uang dari tetangga agar segera mendapatkan uang untuk membayar tagihan listrik tersebut.
Ini merupakan dilema bagi penulis karena bisa jadi pada saat itu kebutuhan anak anak penulis juga tidak kalah pentingnya yakni membelikan susu dan makanan yang menjadi konsumsinya setiap hari yang jumlahnya tidak sedikit setiap bulannya. Nah dari gambaran yang penulis paparkan di atas ini menjadi pelajaran berharga buat penulis sebagai pelanggan setia PLN agar tidak telat membayar tagihan listrik setiap bulannya. Konsekuensinya serius
Harapan Dan Tantangan
Setiap pelanggan PLN tentunya memiliki ekspetasi yang berbeda beda seperti yang sudah penulis singgung pada bagian awal tulisan ini yang semuanya bermuara pada satu harapan agar PLN memberikan pelayanan yang maksimal kepada para pelanggan setianya yang sudah "berkorban" waktu dan uang nya demi mengharap terjaminnya pasokan listrik yang stabil di rumahnya masing masing.
Namun tidak jarang juga masih banyak ulah nakal masyarakat yang sering membuat PLN naik pitam seperti gangguan yang disebabkan oleh penyambungan listrik illegal oleh sebagian masyarakat, permainan layangan dan lain sebagainya. Penulis sadar dan memahami bahwa PLN bukanlah IRON MAN atau SUPERMAN yang serba kuat dan sakti dalam menyelesaikan masalah masalah kelistrikan rumah tangga di Indonesia.
Pihak PLN tentu saja memiliki keterbatasan baik dari segi sumber daya manusia (human resource) dan juga sarana prasarana pendukungnya. Namun inilah tantangan (challenge) yang harus selalu dihadapi oleh PLN sebagai bukti sumbangsih dan peran sertanya dalam membangun bangsa dan negara Indonesia dibidang penyediaan sambungan listrik dan kenyamanan pelanggan dan masyarakat akan listrik di seluruh Indonesia.
Mungkin penulis termasuk salah satu pelanggan setia PLN yang tidak mengalami hal hal yang menjengkelkan dalam hal birokrasi penyambungan listrik kembali setelah terjadinya pemutusan sambungan listrik sementara seperti yang sudah diuraikan di atas. Begitu tagihan listrik tersebut penulis bayar secara langsung di Kantor PLN di Jalan Ahmad Yani Pontianak dengan membawa surat peringatan, penulis langsung "dijanjikan" akan disambungkan listriknya hari itu juga.
Dan begitu penulis sampai di rumah ternyata sambungan listriknya sudah menyala dengan baik dan penulis rasa itu luar biasa dan PLN selalu menepati janji.. Seperti dalam doktrin bisnis yang selama ini sudah dikenal orang yakni "ada barang ada uang" atau sebaliknya dan begitu tagihan listrik yang menyebabkan sambungan listrik di rumah penulis diputus sementara itu dilunasi, maka setelah hari itu juga dibayar dan hari itu juga sambungan listrik kembali menyala seperti sediakala. Alhamdulillah
Harapan penulis agar kemudahan birokrasi dalam penyambungan listrik yang diputus ini tetap dipertahankan dan kalau perlu ditingkatkan lagi kepada mereka yang sudah mengajukan permohonan sambungan listrik namun belum juga segera mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya.
|"Bagaimana rasanya hidup tanpa pasokan listrik dari PLN?" seperti dalam pertanyaan di awal paragraf tulisan ini. Jawabannya sudah jelas. Tidak nyaman. Hanya orang yang tidak waras saja yang mengatakan "sangat menyenangkan" jika tidak ada pasokan listrik PLN. Saya butuh PLN. Anda butuh PLN. Kita semua membutuhkan pasokan listrik dari PLN. Itu adalah sebuah kebenaran
Jika ada yang mengatakan sangat senang jika listrik PADAM atau DIPUTUS, mungkin hanya dia yang tahu mengapa bisa begitu gembira saat tidak ada pasokan listrik. Mungkin dia mau membagi "keceriaannya" saat listrik di putus oleh PLN melalui Twitter, facebook , blog atau berbagai akun sosial media lainnya. Membayar tagihan listrik PLN tepat pada waktunya adalah kewajiban bagi kita semua yang sudah menikmati pasokan listrik dari PLN.
Jika kewajiban pelanggan PLN sudah membayar tepat pada waktunya, kini kembali kepada pihak PLN sendiri untuk tidak melakukan Pemadaman Bergilir, atau pemadaman yang tidak terjadual. Sesuai dengan protap nya, jika akan melakukan pemadaman listrik, kabari terlebih dahulu kepada masyarakat. Sosialisasikan jika akan dilakukan pemadaman listrik agar masyarakat bisa bersiap siap. Jangan sering PADAM mendadak seperti yang dikeluhkan oleh masyarakat akhir akhir ini.
Semoga cerita ini memberikan inspirasi dan juga peringatan (warning) terutama untuk diri penulis sendiri untuk tertib dan rutin dalam membayar tagihan listrik PLN. Bagaimana rasanya saat terjadi pemadaman karena sambungan Listrik di putus oleh PLN? Rasanya kemarin itu sungguh tidak menyenangkan. (Asep Haryono)
Penulis tinggal di sebuah rumah kontrakan di komplek Duta Bandara yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani 2 Pontianak di propinsi Kalimantan Barat sejak tahun 2005 yang lalu selalu berusaha membayar tagihan PLN setiap bulannya tepat waktu dan diusahakan tidak terlambat.
Namun terkadang penulis sebagai pelanggan listrik PLN juga tidak konsisten dalam membayar iuran listrik setiap bulannya. Sering meremehkan dan menunda nunda hingga tagihan iuran listrik menjadi bertumpuk tumpuk hingga telat 5 (lima) bulan lamanya. Akibat jelas penulis terkena pemutusan sementara sambungan listrik di rumah. Penulis berpendapat justru (pemutusan sambungan listrik) inilah sebagai konsekuensi logis karena penulis terlambat membayar tagihan listrik hingga 5 (lima) bulan berturut turut sehingga sambungan listrik di rumah diputus sementara. Seharusnya penulis dihukum "berat" oleh PLN karena kelalaian ini. Harusnya.
Namun terkadang penulis pun tidak ingat lagi kalau hari itu adalah batas terakhir pembayaran tagihan listriknya sehingga ketika penulis pulang dari kantor sore hari dan mendapati listrik di rumah penulis yang padam dan setelah diperiksa dengan seksama sambungan listrik di rumah ternyata telah diputus sementara. Selembar surat peringatan (Warning) terletak mengeletak dibawah lantai di depan pintu rumah dan harus segera melunasi tunggakan listrik tersebut dalam beberapa hari ke depan untuk menghindari pemutusan permanen listrik di rumah penulis tersebut.
Jika dilihat penggalan kalimat di bagian akhir dari surat peringatan tersebut itulah yang membuat jantung berdegub keras. Ancamannya bukan main main. Jika tidak segera dilunasi dalam tempo tertentu maka sambungan listrik di rumah penulis akan diputus secara permanen dalam bentuk pencabutan semua instalasi listrik.
Jika sudah diputus permanen, maka penulis haru mengajukam pemasangan baru dan tentu akan berdampak pada biaya yang harus dikeluarkan. Listrik pun diganti dengan menggunakan voucher Ini tidak boleh terjadi karena penulis masih mengontrak. Itu bukan rumah sendiri. Oleh karena itulah penulis merasa sangat ketakutan saat membaca "ancaman" tersebut.
Jika tunggakan listrik belum juga terbayar sampai batas waktu yang sudah ditentukan secara sepihak oleh PLN, maka sambungan listrik di rumah kontrakan yang penulis diami saat ini benar benar diputus permanen. Ini akan menimbulkan permasalahan baru bagi keluarga penulis dengan pemilik rumah kontrakan yang penulis sewa saat ini.
Diputus sementara saja sudah susahnya bukan main. Bagaimana jika benar benar diputus permanen. Jika sampai diputus permanen sambungan listriknya selain berdampak serius terhadap anak anak penulis yang masih berusia balita di rumah, juga akan mendapat kesan negatif dari pemilik rumah kontrakan penulis tersebut. Penulis membayangkan proses birokrasi penyambungan listrik baru yang bertele tele hingga bertahun tahun jika dilakukan penyambungan baru belum lagi biaya yang harus penulis keluarkan untuk menyambung baru yang tentunya tidak sedikit jumlahnya.
Dari bayangan "menyeramkan" jika listrik di rumah kontrakan penulis benar benar diputus hari itu, maka penulis akan melakukan apa saja kalau perlu pinjam uang dari tetangga agar segera mendapatkan uang untuk membayar tagihan listrik tersebut.
Ini merupakan dilema bagi penulis karena bisa jadi pada saat itu kebutuhan anak anak penulis juga tidak kalah pentingnya yakni membelikan susu dan makanan yang menjadi konsumsinya setiap hari yang jumlahnya tidak sedikit setiap bulannya. Nah dari gambaran yang penulis paparkan di atas ini menjadi pelajaran berharga buat penulis sebagai pelanggan setia PLN agar tidak telat membayar tagihan listrik setiap bulannya. Konsekuensinya serius
Harapan Dan Tantangan
Setiap pelanggan PLN tentunya memiliki ekspetasi yang berbeda beda seperti yang sudah penulis singgung pada bagian awal tulisan ini yang semuanya bermuara pada satu harapan agar PLN memberikan pelayanan yang maksimal kepada para pelanggan setianya yang sudah "berkorban" waktu dan uang nya demi mengharap terjaminnya pasokan listrik yang stabil di rumahnya masing masing.
Namun tidak jarang juga masih banyak ulah nakal masyarakat yang sering membuat PLN naik pitam seperti gangguan yang disebabkan oleh penyambungan listrik illegal oleh sebagian masyarakat, permainan layangan dan lain sebagainya. Penulis sadar dan memahami bahwa PLN bukanlah IRON MAN atau SUPERMAN yang serba kuat dan sakti dalam menyelesaikan masalah masalah kelistrikan rumah tangga di Indonesia.
Pihak PLN tentu saja memiliki keterbatasan baik dari segi sumber daya manusia (human resource) dan juga sarana prasarana pendukungnya. Namun inilah tantangan (challenge) yang harus selalu dihadapi oleh PLN sebagai bukti sumbangsih dan peran sertanya dalam membangun bangsa dan negara Indonesia dibidang penyediaan sambungan listrik dan kenyamanan pelanggan dan masyarakat akan listrik di seluruh Indonesia.
Mungkin penulis termasuk salah satu pelanggan setia PLN yang tidak mengalami hal hal yang menjengkelkan dalam hal birokrasi penyambungan listrik kembali setelah terjadinya pemutusan sambungan listrik sementara seperti yang sudah diuraikan di atas. Begitu tagihan listrik tersebut penulis bayar secara langsung di Kantor PLN di Jalan Ahmad Yani Pontianak dengan membawa surat peringatan, penulis langsung "dijanjikan" akan disambungkan listriknya hari itu juga.
Dan begitu penulis sampai di rumah ternyata sambungan listriknya sudah menyala dengan baik dan penulis rasa itu luar biasa dan PLN selalu menepati janji.. Seperti dalam doktrin bisnis yang selama ini sudah dikenal orang yakni "ada barang ada uang" atau sebaliknya dan begitu tagihan listrik yang menyebabkan sambungan listrik di rumah penulis diputus sementara itu dilunasi, maka setelah hari itu juga dibayar dan hari itu juga sambungan listrik kembali menyala seperti sediakala. Alhamdulillah
Harapan penulis agar kemudahan birokrasi dalam penyambungan listrik yang diputus ini tetap dipertahankan dan kalau perlu ditingkatkan lagi kepada mereka yang sudah mengajukan permohonan sambungan listrik namun belum juga segera mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya.
|"Bagaimana rasanya hidup tanpa pasokan listrik dari PLN?" seperti dalam pertanyaan di awal paragraf tulisan ini. Jawabannya sudah jelas. Tidak nyaman. Hanya orang yang tidak waras saja yang mengatakan "sangat menyenangkan" jika tidak ada pasokan listrik PLN. Saya butuh PLN. Anda butuh PLN. Kita semua membutuhkan pasokan listrik dari PLN. Itu adalah sebuah kebenaran
Jika ada yang mengatakan sangat senang jika listrik PADAM atau DIPUTUS, mungkin hanya dia yang tahu mengapa bisa begitu gembira saat tidak ada pasokan listrik. Mungkin dia mau membagi "keceriaannya" saat listrik di putus oleh PLN melalui Twitter, facebook , blog atau berbagai akun sosial media lainnya. Membayar tagihan listrik PLN tepat pada waktunya adalah kewajiban bagi kita semua yang sudah menikmati pasokan listrik dari PLN.
Jika kewajiban pelanggan PLN sudah membayar tepat pada waktunya, kini kembali kepada pihak PLN sendiri untuk tidak melakukan Pemadaman Bergilir, atau pemadaman yang tidak terjadual. Sesuai dengan protap nya, jika akan melakukan pemadaman listrik, kabari terlebih dahulu kepada masyarakat. Sosialisasikan jika akan dilakukan pemadaman listrik agar masyarakat bisa bersiap siap. Jangan sering PADAM mendadak seperti yang dikeluhkan oleh masyarakat akhir akhir ini.
Semoga cerita ini memberikan inspirasi dan juga peringatan (warning) terutama untuk diri penulis sendiri untuk tertib dan rutin dalam membayar tagihan listrik PLN. Bagaimana rasanya saat terjadi pemadaman karena sambungan Listrik di putus oleh PLN? Rasanya kemarin itu sungguh tidak menyenangkan. (Asep Haryono)










rumah saya juga pernah mengalaminya mas, karena sering ditinggal pergi dan belum ada kesempatan untuk mbayar..walhasil digertak surat gituan, tapi alhamdulillah sekarng sudah pake yang pulsa, jadi kalau mati ya tinggal beli pulsa...nyala lagi deh...btw kok blum ganti yang baru meterannya, yang pakek pulsa gitu ?
ReplyDeleteGa poake acara di putus segala jadinya ya, jadi ga perlu habis tenaga Untuk MUPON Gitu Ya kalau pake listruk pulsa
Delete@Muhammad Zeer El Watsy : Wah maunya sih mau ganti. Tapi yang saya tempati itu rumah kontrakan. Rumah orang. Kalau rumah orang ya jangan diapa apain
Delete@Mus Djono : MUPON itu apa ya. Hiehiehiehe. KUDET ya saya
DeleteMuka Poni
Deletemas asep: oh, saya kira rumah sendiri...yawes mas..hehe...salam hangat di malming yang cerah...izin patroli, biasanya banyak yang mojok nih
Deleteioya malam minggu suka banyak yang mojok di tengah
DeleteWaduh di sini Telat sebulan saja langsung di kasih surat pemutusan sementara kang Asep tapi ga langsung di putus cuman suruh segera melunasi saja.
ReplyDeletedan ceritanya berpartisipasi kontesnya PLN plush Blog detik niye...
Do'ane Mus e Semoga menang wae.. dan di Tunggu Maem maem e
whehehehe
@Mus Djono : Semoga doanya Mus Djono dikabulkan olejh Allah SWT. Amin Ya Robbal Alaminn
Deletejuara dah
Deleteamien..
Deletewaduh pegalaman yg mendebarkan ya kang, saya sih belum ngalamin, tapi janganlah, emang gak enak hidup tanpa listrik, disini sih udah pake voucer jadi pasti gak akan lupa ngisi pulsa listrik soalnya alarm nya bunyi terus bikin rusuh, lebih rusuh dari stupid monkey, hihihi ... thanks share nya kang
ReplyDeleteSemoga menang ya kang :)
@Stupid Monkey : Hiehieh eiya rata rata karya tulis yang saya ikut sertakan dalam LOMBA semuanya "based on true story' Berdasarkan pengalaman pribadi aja. Ngga neka neko. Iya lama juga saya nda mampir ke blog mu. Kangen hihiehiehee
Deletekecup basah ah. Srrutttttttttttt
weittt ... wah pake basah basahan, tisu mana tisu ...
DeleteWah jangan sampai kena pemutusan seperti itu pak di rumah Boku, kalau sampai kena pemutusan bakalan pakai lampu "Oblik" lagi deh..
ReplyDelete@Boku No Blog : Heihiehei Oya bener bangeds. Makanya saya pun harus belajar dari pengalaman ini. Mati listrik memang tidak nyaman. Apalagi sampai kena hukuman di blokir listriknya sama PLN karena menunggak hahahahaa
Deletejadi inget tempoe doeloe yakang
Deletemajalah tempo?
DeleteTempokini
Deletedialihkan ke sistim pulsa (token listrik) saja kang enak, jadi putus memutus sduah tidak berlaku lagi
ReplyDelete@Thanjawa Arif : Iya bener juga ya. Saya juga dapat laporan dari beberapa teman yang juga sudah pake Token Listrik dengan sistim PULSA. Sepertinya boleh juga dicoba kelak kalau sudah punya rumah sendiri
Deletenah ini maksud saya.
Deletesaya maksud
patutlah emang 5 bulan nggak bayar kang,tp emang harusnya ada pemberitahuan dulu yah
ReplyDeleteyah
Deletekalo di tempat saya sih sejak 2010 apa ya, pake sistem pulsa sih Kang. jadi juara banget deh ahh
ReplyDeleteklepon mana klepon
@Zach Flazz : hahahah Klepon sudah saya siapkan sih deh kalau bang Zach ke Pontianak
Deletesaya ke pontianak demi klepon pokoknya
DeleteSaya juga mau kalau ada klepon rasa ketan
DeleteMoga sukses kontesnya :)
ReplyDelete@Mbak Susi : Iya mbak. Terima Kasih atas kunjungannya. Selamat Malam. Salam Kami sekeluarga di Pontianak
Deleteaamiin aamiin :)
Deleteterimakasih solsialisasi pemutusan listriknya pak, saya akan bersiap siap dlu deh.
ReplyDeletereuni akbar dateng ngga om?
Insya Allah
Deletecie cie yang satu almamater
DeleteSaya agak kurang kenal Mang Lembu. Mumgkin beda angkatan terlalu jauh, atau memang saya aja yang sudah liupa Maklum Usia. Mumgkin karena satu almamater ya dianggap kenal aja lah.
DeleteKalau orang lebih kenal sya, berarti ini koreksi buat saya. Saya yang lupa. Ya mungkin karena usia saya juga. Jadi mohon maaf kalau gitu. Orang lbh kenal kita daripada kita kenal sama orang. I am so sorry
Saya juga ernah mengalami hal yang sama Mas, mendapat pemutusan listrik dengan tanpa kesalahan yang saya lakukan, karena kesalahan pada sistem PLN sendiri malah saya yang jadi korban, pembayaran tiap bulan saya lakukan, tapi masih didatengin petugas juga, katanya saya sudah 5bln nunggah, gak bayar listrik. ujung-ujungnya sehari semalam juga kena pemadaman.
ReplyDelete@Arie GondesOct : Kok bisa gitu ya. Padahal kan sudah bayar lunas setiap bulan, kok malah dituduh nunggak 5 bulan? Kalau gitu harus diperihatkan tuh struk atau nota lunas nya sama petugas kalaw gt ya
DeleteGak tau juga Mas, katanya rincian pembayaran gak masuk dalam data sistem PLN, tapi setelah saya datang ke kantor, dan menunjukkan struk pembayaran, para petugasnya minta ma'af, katanya ada kesalahan sistem katanya :)
Deletesalah satu kelemahan PLN memang suka byar pet tanpa sosialisasi
ReplyDeleteNah nah PLN dapat saran nihh Hihihihi
DeleteHal yang sepele bisa berdampak besar ya kang... sampai 5 bulan gitu.. untung gak jadi di suruh ganti token.... kalau pake token suka bingung mencarinya, kalau mati tengah malem :)
ReplyDelete@Ahmad Fazri : Wah ini masukan lagi nih pagi yang pakai listik sistim TOKEN. Mungkin stok harus disiapkan dahulu ya. Repot juga kalau malam malam gitu ya
DeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDeleteini nih yang harus dirazia...soalnya menggunakan bahasa planet lain..ndak dong kita2 :D
DeleteWah wah SPAM masuk ke sini. Padahal sudah saya masukkim ke Kandang Karantina. Tenang aja secepatnya saya DELETE
Deleteistimewa..nunggak 5bulan,di desa saya orang yang nunggak sebulan saja di omelin pengurus.hihii
ReplyDeleteHehe
ReplyDeleteKarena keterlambatan bayar listrik
lampu ga nyala diklik
dan diketawain bintang-bintang cantik
Untung setelah dilunasi menyala kembali dg cantik
Di desa kami malah, sering terjadi pemadaman listrik berganti :'( sungguh menyedihkannn
ReplyDeleteSebagai rakyat yang butuh listrik, saya gak pernah mengalami masalah pemutusan listrik. tapi kalo soal pemadaman tanpa informasi, itu sudah jadi masalah umum Kang! btw, tulisannya bakalan jadi saingan artikel singkat gue nih hehehe!! Gawwwwaaaatttt!
ReplyDeleteAlhamdulillah saya belum pernah mengalaminya Pak, dan berharap jangan sampai mengalami pemutusan aliran listrik oleh PLN hikhik... gelap deh klo gak ada listrik, gak bisa online ... :)
ReplyDeleteSayangnya PLN masih tebang pilih dan beraninya hanya kepada rakyat kecil, Klw emang PLN berani silahkan periksa rumah dinas pejabat kantor2 Polisi dan TNI , pabrik2 ,dan banyak lagi . PLN hanya berani menindak yg lemah dan itu sudah menjadi tradisi di indonesia tercinta ini . Terimakasih
ReplyDeleteSayangnya PLN masih tebang pilih dan beraninya hanya kepada rakyat kecil, Klw emang PLN berani silahkan periksa rumah dinas pejabat kantor2 Polisi dan TNI , pabrik2 ,dan banyak lagi . PLN hanya berani menindak yg lemah dan itu sudah menjadi tradisi di indonesia tercinta ini . Terimakasih
ReplyDeleteSaya mengalamai pemutusan telat 4 bulan tanpa pemberitauan langsung di putus esoknya saya langsung bayar.. Tapi sudah satu minggu pln belum juga datang pasang lagi...katanya menunggu meter pulsa.. Padahal untuk kebutuhan air dan lain2 saya memerlukan listrik.terima kasih pln.
ReplyDelete