Help us to keep our home

Dear Blog ku Tersayang. Pa kabar semuanya. Sehat sehat saja bukan. Bagaimana dengan suasana hari kalian semua apakah pada senang semuanya? Saya harap ya. Soalnya ini kan tanggal satu di awal bulan yang konon sebagai tanggal yang indah dan membahagiakan karena pada gajian bukan?. Hehe ya sudah. Hari ini ketika saya sudah menginjakkan kaki di kantor lalu hinggap di kokpit meja kerja saya langsung mengecek database server pekerjaan saya dan mengecek surel (surat elektronik-red) yang masuk di email email saya. Saya sejauh ini memiliki 4 (empat) akun email, satu blog, satu website pribadi satu akun Facebook, satu akun Yahoo Messenger, satu akun di Twitter, dan satu akun di friendster. Nah untuk email saya yang utama saya dapati pesan yang berisi voting untuk memilih desain stiker kantor saya.

Tiga Desain Stiker
Setelah saya cek email yang masuk ke inbox email saya yang utama saya mendapati pesan dari pemred Pak Salman bahwa ada 3 (tiga) buah rancangan desain stiker yang ditawarkan kepada rekan rekan saya untuk dipilih mana yang terbaik. Sekilas saya lihat rancangan ketiga desain stiker Pontianak Post sangat eye catching , colorful, dan keren punya.

Tampilan desain dan arsitektur gambarnya yang indah keren memanjakan mata siapapun yang melihatnya. Saya pun terpesona pada ketiga desain gambar stiker kantor saya itu. Entah siapa yang merancang desain stiker itu, yang pasti sudah mahir tentunya. Dalam rancangan ketiga stiker itu memang terdapat banyak kesamaan warna dasar, yang menurut hemat saya ada 2 (dua) warna : yakni putih dan biru. Dua warna tersebut (Putih dan Biru-red) ada di setiap rancangan desain stiker tersebut. Saya coba menganalisa rancangan ketiga desain stiker itu:


Bentuk BANNER
Dalam rancangan pertama yang saya lihat adalah stiker berbentuk banner yang memanjang horizontal. Saya suka dengan FONT hurufnya yang menggambarkan spirit semangat dan juga fun dan ada unsur jenakanya. Sedangkan font dan huruf tertera di sebelah kanannya adalah format koran yang umum dan sudah dikenal oleh masyarakat. Desain banner ini menurut saya bagus dan paduan dua warna yang serasi. Yang unik dari rancangan stiker berbentuk banner ini adalah ujung atau sudutnya yang tidak lancip atau tajam. Ujungnya yang tumpul melengkung dalam pandangan saya bagus dan menarik jika diunggah dalam website. Bagi yang tidak paham adobe photoshop seperti saya yang masih awam ini membuat lengkung lengkung di dalam sebuah banner adalah kesulitan tersendiri buat saya. Namun sayang desain ini tidak menarik hati saya untuk memilihnya

Bentuk CROWN
Untuk rancangan yang kedua ini adalah bentuk mahkota kerajaan atau dalam bahasa Inggris lazim disebut dengan CROWN. Nah sebenarnya CUkup Unik dan merupakan gambaran pemberontakan atas format format standar yang sudah baku seperti kotak (box), lingkaran (circle) ataupun berbentuk memanjang (Banner).
Desain ini "liar" dan memberikan aura anak muda yang gaul yang tidak terikat pada pakem pakem bentuk normatif maupun verbal. Hanya saja penonjolan kegaulannya itulah yang "menenggelamkan" tulisan kantornya atau tulisan lembaga atau perusahaannya. Orang cenderung terpikat dan terpancing untuk melihat tulisan besar "BIG FAMILY" nya daripada tulisan yang ada di bawahnya. Warna Merah menyala yang sangat kuat selalu berhasil memikat mata untuk melihatnya terlebih dahulu sebelum melibat tulisannya yang lain. Saya lihat tulisan BIG FAMILY tidak embed atau tidak menyatu dengan tulisan di bawahnya ya. Jadi antara BIG FAMILY dan PONTIANAK POST tidak blend (berbaur-red). Saya tidak berminat memilih desain ini.

Bentuk Linkaran (Circle)
Dalam rancangan ketiga stiker inilah yang menjadi fave saya dan saya memilihnya sebagai pilihan yang sangat saya sukai. Secara pribadi bisa saya katakan ini adalah rancangan yang cool dan terbaik dalam pandangan dan prespektif saya pribadi. Bentuk circle atau lingkaran seperti ini jika dikonversikan dalam BADGE di Jaket akan keren sekali. Nuansa militer (army-red) memang terasa saya rasakan dari "aura" desain ini setidaknya ini yang saya rasakan saat melihat desain ini untuk pertama kalinya. Tulisan PONTIANAK POST yang disematkan ditengah tengah rancangan ini lebih ditonjolkan sebagai "siapa saya" yang berhasil diterima pesannya saat kita melihat desain stiker model ini. Jadi penafsiran yang saya tangkap adalah saya sebagai keluarga besar Pontianak Post, dan inilah kami. The Power of We gitu kira kira seperti slogan sebuah iklan di televisi. Siapa saya yang meniadi tema stiker ini begitu kuat terasa dan itu sangat eye-catching. Inilah juara saya. Saya suka desain ini.


Saya rasa setiap orang mempunyai pendapatnya masing masing. Perbedaan cara pandang terhadap bentuk stiker ini terpulang pada penafsiran, prespektif dan cara pandang masing masing. Siapa pun bebas memberikan penilaian, pendapat, saran dan kritikan terhadap desain desain stiker di atas. Hampir tidak ada kritikan yang saya sampaikan, karena memang pada dasarnya ketiga desain stiker itu memang bagus bagus, dan tentunya ada yang terbagus dari semua itu, dan saya sudah memberikan pendapatnya dalam tulisan ini dan setidaknya dalam tulisan ini saya sudah memaparkan pendapat dan pandangan serta saya terhadap rancangan stiker stiker tersibut.

Bagaimana dengan pendapat anda sendiri?
Do tell me please






Dear all. Hari ini adalah hari Kamis tanggal 29 September 2011 dan berarti tidak lama lagi bulan September 2011 akan segera meninggalkan kita. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu dan cepat seperti kilat rasanya bukan. Baru saja rasanya seperti kemarin hinggar binggar menyambut kedatangan tahun baru 2011, dan kini kita sudah melewati separuh tahun 2011. Apa sudah kita hasilkan selama bulan Januari hingga bulan September 2011 ini kawan kawan? Apakah ada kemajuan dalam bisnis kawan kawan semua?

Adakah ada rencana ingin menikah di akhir tahun ini? Adakah yang merencanakan ingin pergi Haji ke Makkah tahun ini? Adakah ada rencana ingin berkunjung ke luar negeri (lagi) di tahun depan? Atau bagi wanita yang sudah menikah, adakah tanda tanda ada "kehidupan baru" di rahim kalian? Nah berbagai rencana rencana yang kawan kawan siapkan dan belum dapat terealisasi tahun ini bersabarlah. Bersabar tidak ada jeleknya, dan sejarah membuktikan kesabaran dan keikhlasan merupakan paduan yang serasi dalam upaya kita lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Praktis Dan hemat
Tema sederhana yang saya angkat hari ini memang sudah sering disebut dan dibahas oleh banyak blogger soal Makanan dan Makan. Kita semua memang suka makan bukan? Yah namanya juga food lovers alias pecinta makanan sejati seperti sayah hehehehe. Seperti yang saya alami kemarin hari Rabu tanggal 28 September 2011 di mana saya harus pontang panting bolak balik antar jemput yang banyak menyita waktu dan tenaga itu. Kalaw menyita uang cuma bensin aja atau buat lauk makan, padahal makan juga bawa meals yang sudah disiapkan dari rumah. Nah Ngemeng ngemeng soal meals alias box makan, tidak hanya dilakonin oleh anak TK aja yang biasa dibekali dengan kotak makan yang berisi makanan yang disiapkan orang tua si anak sebelum berangkat ke Sekolah. Pada orang dewasa dan bukan anak anak lagi seperti kita kerap kali juga sering dibekali dengan kotak makanan hanya saja bedanya mungkin konten alias isinya. Untuk menu makan siang dengan membawa bekal dari rumah memang banyak manfaatnya loh.

Mau tau apa saja sih manfaat jika kita membawa bekal makan siang atau bekal makan pagi atau juga bahkan bekal makan malam ke sekolah , ke kampus atau bahkan ke tempat kerja atau kantor? Oh sudah pasti akan banyak manfaatnya sodara sodara sekalian. Beberapa manfaat yang bisa kawan kawan rasakan jika membawa bekal makanan ke sekolah atau kantor antara lain sebagai berikut :
  1. Hemat Anggaran
    Nah yang ini sudah pasti lebih hemat tentunya. Coba bayangkan dengan yang saya alami sendiri jika membeli makan siang dari warung. Saya memang fans berat warung makan Simpang Ampek yang terletak di bilangan Gajah Mada Pontianak. Selain karena letaknya yang dekat, cukup berjalan kaki saja sudah sampai ke TKP. Menu menu yang disajikan di Rumah makan Simpang Ampek memang asyik, nasi yang panas pulen, dan rendangnya yang aduhai juga ati gorengnya itu. Porsi standar saya makan di RM Simpang Ampek adalah Rp.6000,- (Enam Ribu Rupiah). Itu cuma makan tok ya, kalaw dengan minum Es Teh seharga Rp.2000,- (Dua Ribu Rupiah), maka total jendral makan 1 hari bisa mencapai harga Rp.8000,- (Delapan ribu rupiah).

    Nah recehan 8 ribu perak itu kalaw dikalikan dengan angka 30 (tiga puluh) hari makan akan didapat angka kisaran Rp. 240.000,- (Dua Ratus Empat Puluh Ribu Rupiah). Sungguh suatu jumlah yang sangat mencengangkan bukan. Walaupun tidak setiap hari makan senilai 8 ribu, tetap aja angka itu menjadi besar jika dikalikan dengan sebulan. Sedangkan untuk membawa bekal di rumah otomatis saya menghemat biaya pengeluaran makanan harian sebesar Rp.8000,- (Delapan ribu rupiah) dalam sehari. Jika dipukul rata saja makan sehari sebesar Rp.6000,- (Enam Ribu Rupiah) lalu dikalikan dengan angka 30 (tiga puluh) hari makan akan didapat angka kisaran Rp.180.000,- (Seratus Delapan Ribu Rupiah). Nah jumlah penghematan yang amat lumayan jika bawa bekal di rumah bukan?

  2. Sesuai Selera
    Yang namanya selera memang tidak dapat diperdebatkan. Nah rekan rekan bisa membawa bekal makanan buat makan siang, pagi atau malam di lokasi tugas atau sekolah dengan memasak makanan kesukaan atau apa saja sesuai dengan selera. Kalaw saya sih bekal apa aja yang sudah disiapkan istri tercinta sikat aja, cuma satu syaratnya harus ada sambal atau cabe. Kalaw makan tidak merasa hus hah hus hah (ekspresi kepedasan-red) rasanya seperti tidak makan hehehee. Sambal apa saja oke, mau sambal Bajak, Sambel terasi, sambal Udang, sambal tempe, atau sambel tradisional yang ngangenin sambel ulek buatan ibunda tercinta di Jakarta. Bahkan kalaw saya sih jika benar benar tidak ada sambal yang saya sebutkan di atas yah minimal cabe mentah (orang pontianak menyebut dengan cabe bulat-red) itu sudah lebih dari cukup. Hehehhee. Seru rasanya jika makan lengkap dengan sambelnya.

    Ngomongin soal sambel saya jadi ada sedikit nostalgia nih. Bukan nostalgia sih pastinya cuma pengalaman sehari saja dengan sambel. Untuk sambel yang dibuat orang Pontianak memang lumayan yahud puedes e. Cuma pake jeruk sambal, bawang, dan beberapa butir cabai saja sudah keringatan pedesnya. Lalu untuk sambel berbentuk pasta seperti saus sambal yang banyak disajikan orang diwarung warung jajanan, atau warung gorengan di pinggir jalan hampir tidak pernah saya sentuh. Saya pernah liat tayangan investigasi di salah satu tv swasta bahwa saos merah yang disedikan di jajanan di jalan konon banyak dibuat dengan menggunakan cabe busuk, benzoat, dan bahkan pewarna pakaian yang memang berbahaya buat kesehatan. Saya lebih senang pake sambel alami buatan sendiri yang benar benar dari cabei segar, atau praktis pake sambel botol ABC saja. Praktis dan mudah dan sudah sesuai dengan standar nasional.

Nah dengan demikian akan banyak manfaatnya bukan jika kita membawa bekal sendiri ke tempat tugas , kampus atau ke sekolah. Saya sendiri dahulu waktu masih berstatus sebagai em ha es (baca : mahasiswa-red) sebenarnya tidak membawa bekal sih, ya waktu itu wawawasan masih berkembang, dan situasi juga belum mendukung atau bahkan belum sempat kepikiran buat bawa bekal sendiri. MEmang ada baiknya untuk generasi yang akan datang ini mulai dibiasakan kepada anak anak kita untuk membawa makanan sendiri dari rumah untuk persiapan ke Sekolah. Kita semua sudah memaklumi bahwa banyak jajanan yang kurang baik, dan kurang sehat yang disediakan di sekolah. Kita bukannya berprasangka buruk, karena saya sendiri yakin oknum oknum jahat tidak selalu berada di sekolah. Namun waspada saja agar anak didik kita, anak anak kita menjadi terbiasa dan mencintai makanan di rumah.

Yuk bawa bekal makan dari rumah




Dear Blog. Hari ini adalah hari Selasa tanggal 27 September 2011 adalah hari yang biasa saja bagi saya dimana rutinitas keseharian berlangsung apa adanya. Namun ada yang lain hari ini yang saya alami misalnya adanya transfer pulsa mendadak dari KangGURU Indonesia, dan ini adalah transfer rutin dari KangGURU Indonesia di Bali yang diperuntukkan untuk aktifitas perwakilan KangGURU Indonesia setiap bulannya yang jumlahnya tidak boleh disebutkan itu.

Sebab pernah saya menyebutkan jumlah per dieam saat kegiaan Consultative Group di Bali, dan dilihat oleh Captain KangGURU dan dia merasa tidak senang kalaw angkanya disebutkan. Namun demikian masukknya transfer yang menurut hemat saya jumlahnya tidak seberapa itu menjadi besar maknanya karena datang pada saat kami memang sedang kehabisan duit bulan September 2011 ini. Jangankan untuk beli macam macam, sampai untuk membeli susu anak anak saja nyaris tidak bisa kami lakukan. Kalau bukan karena pertolongan ALLAH SWT Maha Pengasih Maha Penyayang, tidak mungkin kami bisa bertahan hingga sejauh ini.

Antar Jemput
Nah untuk tema tulisan hari ini sengaja saya tulis judul yang tidak jelas maksud dan arah tulisannya yakni "SMU 1 Sui Ambawang". Ya pada intinya sih hari ini saya mengantar istri tercinta untuk mengikuti Workshop Guru Guru yang berlangsung mulai hari ini hingga hari kamis tanggal 29 September 2011 yang akan datang. Jadi dengan kata lain workshop ini akan berlangsung lebih kurang 3 (tiga) hari. Saat pagi tadi, kami berdua memang sudah siap dan rapih dan siap packing sana sini, di susul kemudian adik bayi kami, Tazkia Montessori Putri Haryono, yang baru berusia 9 (sembilan) bulan itu juga sudah dimandikan dan rapih.

Tinggal masnya, Abbie Muhammad Furqan Haryono, yang kini sudah hampir mendekati usia 3,5 tahun yang masih malas malasanya ditempat tidur. Jadi dengan "terpaksa" kami bangunkan dia dengan mata yang masih terhuyung huyung karena ngantuknya (kata bundanya masih di dua alam-red) ya sudah dibawa saja mereka berdua ke pengasuhnya seperti biasa. Tumben saja hari ini si ganteng demikian julukan yang biasa kami sampaikan kepadanya, merengek rengek manja untuk bisa ikut bundanya. Dikiranya mau ke Kubu seperti biasanya, namun setelah dibujuk tetap aja merengek rengek minta ikut. Ya sudah kami tinggalkan dia dengan rengekan manjanya itu dan kami pun berangkat. Adik bayi juga ditinggalkan kepada mereka, para pengasuh anak anak kami, yang sudah kami percayai untuk "menjaga" dan "membesarkan" mereka selagi kami sedang tidak berada di tempat.

Kemudian motor kami berdua, Honda Supra Fit keluaran tahun 2004 dengan nomor kendaraan KB 3814 HY ini meluncur dari komplek kami tinggal di perumahan Duta Bandara Blok C6/14 melalui jalan tol yang baru di Ahmad Yani dua terus meluncur menuju SMA Negeri 1 Sungai Ambawang. Jalan yang mulus dan bersih itu dilalui dengan baik, dan sepanjang jalan yang kami amati memang jalannya bagus, aspal mulus, dan nyaris tidak ada kendala sama sekali, Alhamdulillah akhirnya sampailah motor kami di halaman parkir yang ramai sekali motor para siswa di parkir di halaman SMU Negeri 1 Sui Ambawang itu. Saya pun melirik HP saya yang sudah ada jamnya (sampai sekarang saya tidak pake jam tangan, soalnya HP jadul saya juga sudah ada jamnya, jadi buat apa perlu jam tangan? -red) menunjuk pukul 07.18 WIB. Lumayan cepat juga ya soalnya motor saya pacu di atas kecepatan 60 Km per jam dan itu lumayan kuenceng dari kecepatan "normal" yang saya pakai 40 Km perjam seperti biasanya.

Sesampainya di sekolah itu memang sudah tampak beberapa guru dengan baju dinas KORPRI nya, ah saya sendiri kurang tau baju dinas apa yang ada tulisan LINMAS nya itu hehehe. Maklumnlah saya juga kurang ngerti pernik pernik para Guru Bangsa ini. SMU Negeri 1 KubuRaya ini terletak di Jalan Manunggal XVIII Sungai Ambawang, Kabupaten KubuRaya dan merupakan sekolah yang terletak masih dalam wilayah Kabupaten Kubu Raya.

Jumpa Senior Kampus
Saya sendiri baru dua kali menyambangi sekolah ini namun sebatas hanya mengantar istri ikut workshop saja, dan di sana sudah ada pak Jumadi, dan Pak Rizal yang sudah saya kenal sejak di bangku kuliah dulu di FPBS Bahasa Inggris Universitas Tanjungpura di Era tahun 90 an gitu deh. Pak Jumadi, sekarang sudah senior di sekolah itu, yang saya pikir dia adalah kepala Sekolahnya, kalaw tidak salah sih. Sedangkan pak Rizal juga saya kenal cukup baik, dan dia merupakan suami dari Kusiska Rini yang juga satu almamater dengan saya sewaktu di FKIP Bahasa Inggris UNTAN itu. Wah seru jugas saya bertemu lagi dengan kedua senior saya di kampus dulu, dan sepertinya waktu juga yang belum memungkinkan saya untuk silaturahmi dengan mereka berdua. Mungkin di lain waktu semoga bisa silaturahmi lagi.

Dan setelah mengantar sang istri di ruang workshopnya, saya pun bergegas kembali ke luar sekolah dan menuju halaman Parkir sekolah itu, dan saya pun kembali ke kantor saya di bilangan Gajah Mada namun mengambil arah tidak dari arah berangkat dari Duta ke sekolah via jalan Tol Ahmad Yani II, namun saya ke kantor dengan mengambil rute yang berbeda yakni rute lanjutan dari jalan itu dan melewati Siantan, dan jembatan TOL Landak. Setelah saya sampai di halaman basement kantor saya di bilangan Gajah Mada, saya liat jam tangan eh salah maksud saya HP menunjuk pukul 07.45 WIB berarti lama tempuh dari sekolah ke kantor saya memakan waktu lebih kuran 20 menit. Perasaan saya sih rutenya jauh lebih pendek dari rute saya berangkat dari rumah DUta ke Sekolah dibanding dari sekolah ke kantor. Saya tidak tau apa karena jalanan agak macet atau memang jarak antara SMU Negeri 1 Kubu Raya jauh lebih condong dekat ke kantor saya, daripada ke rumah duta Bandara.

Ini saja dahul yang dapat saya bagikan buat anda semua pecinta dan pembaca setia blog saya di mana saja berada. Ada kabar menggembirakan dari sang istri yang sudah merencanakan untuk membeli 1 unit motor MIO yang sudah menjadi idamannya untuk menunjang aktifitasnya di sekolah, dan sebuah laptop mini juga buat melengkapi aktifitas mobilenya yang lumayan padat itu, dan ini saya rasa sangat membantu saya juga. Selama ini satu motor dikebut untuk mengerjakan banyak hal selain antar jemput juga kegiatan pekerjaan. Mudah mudahan rencana mulia dan bagus ini bisa direalisasikan sesuai waktu yang sudah direncanakannya itu. Insya Allah everything is doing according the plan.

Ok semua sukses ya,
Keep up the good work




Dear Blog. Masih ingat dalam ingatan kita dan sudah sering ditayangkan dalam berbagai media di tanaha air tentang bentrokan antara pelajar semua SMA di Jakarta dengan sejumlah kelompok wartawan atau jurnalis. Dalam bentrokan ini diduga dipicu oleh kesalahpahaman antara wartawan dengan pelajar tersebut, dan dalam berita disebutkan bahwa para awak media melakukan protes atas penyitaan alat rekam yang dilakukan oleh oknum siswa tersebut hingga berbuntuk kepada keributan.

Saya sudah melihat rekaman video bentrokan tersebut memang saya sempat melihat seseorang oknum yang melemparkan mangkuk kaca kepada orang lain. Tidak jelas siapa yang melakukan inisiatif pelemparan tersebut dan siapa yang menjadi korban aksi pelemparan tersebut. Yang jelas beberapa wartawan mengaku diperlakukan kasar oleh oknum siswa, dan mereka sudah mengadukan keributan ini kepada Dewan Pers hingga berbuntuk kepada konsekuensi hukum. Ya para wartawan dan awak media yang tidak terima diperlakukan demikian kasarnya oleh oknum pelajar tersebut (akhirnya) melaporkan kepada pihak yang berwajib. Ini sekedar intermezo saja namun ada sesuatu yang "hilang" dalam pandangan saya terhadap peristiwa ini. Ini yang menjadi tema tulisan pendek saya hari ini mengenai masa SMA pengalaman empiris penulis sendiri. Kata orang masa SMA adalah masa yang indah. Benarkah demikian.

Masa Menemukan Jati Diri
Dalam tulisan saya sebelumnya memang sudah saya sebutkan bahwa antara satu generasi antara generasi saya dengan generasi sebelumnya. Bahkan saya dengan gamblang menyebut bahwa generasi saya, maksudnya saya sendiri memang terlambat satu generasi dengan generasi sebelum dan sesudahnya. Saya menyadari sendiri bahwa generasi yang sekarang jauh lebih dinamis, lebih terbuka wawasan kebangsaannya, dan juga lebih care terhadap kesempatan untuk berkembang di masa yang depan. Betapa perbedaan generasi ini memang amat menyolok dan jauh dari yang saya bayangkan sebelumnya. Contoh yang amat sederhana ini misalnya penggunaan telepon genggam (HP-red) sehingga kepada alat alat komunikasi canggih berbasis internet lainnya. Nah kesempatan berkembang maju jauh lebih terbuka dan mudah diperoleh oleh generasi yang sekarang ini, dan bersyukurlah mereka yang lahir di era tahun 80an yang mempunya kesempatan menikmati dunia yang lebih muda yang bersatu (One Young World-red), dimana semua elemen dan fasilitas yang ditawarkan lebih menjanjikan pada generasi yang sekarang ini.

Salah satu hal yang "disesali" oleh saya saat ini adalah konteks "terlambat satu generasi" dengan anak anak mahasiswa jaman sekarang (era 2011-red). Sebagai contoh yang mudah sekali adalah alat komunikasi kecil mungil alias HandPhone atau Hape. Nah nah benda komunikasi kecil mungil ini tidak ada saat jaman saya kuliah dulu di era 90-an. Bahkan jaman pager (baca :pejer) aja saya tidak ada punya saat itu. Generasi saya memang sangat beda 100 derajat dengan generasi sekarang ini. Dan saya rasa perbedaan generasi ini adalah sesuatu yang alamiah, dan sudah merupakan kodrat Illahi kalaw "habitat" kita memang berbeda.

Jangan kita yang sudah gede gede gene (baca : tuir), anak SD pun banyak yang sudah memiliki Handphone bahkan barangkali fitur fitur dan harga HP nya melebihi dengan tipe atau model HP yang kita punya sekarang. Kalaw saya sih punya HP asal bisa kirim kirim SMS dan menerima Telepon sudah lebih dari cukup. Mengapa cukup? Karena saat ini saya lagi tidak mau punya HP Canggih, Apalagi sampai ada HP berkamera atau fasilitas canggih lainnya seperti Facebook, MMS, Wifi, Video Recording segala macem. Bagi saya pribadi punya HP asal bisa SMS dan menerima telepon sudah lebih dari cukup. Fasilitas HP yang menurut saya "cukup mewah" hanyalah fasilitas radio FM di HandpHone saja saya sudah amat bersyukur. Nah ini contoh sederhana saja betapa generasi sekarang lebih dimanjakan dengan berbagai kemudahan. Nah jika sudah demikian dimanjakan dengan berbagai fasilitas dan kemudahan, masihkan anak generasi sekarang meributkan hal hal yang sepele?

Nah sejak saya masih di SMA dahulu di Bekasi (Jawa Barat) tepatnya bersekolah di SMA Negeri 2 Bekasi memang begitu datar dan hampir tidak ada warna sama sekali. Saya yang sejak SMA sudah berkutat dengan buku buku Bahasa Inggris menyebabkan saya terlalu sibuk dan membenamkan diri kepada pelajaran Bahasa Inggris yang amat memikat hati saya itu , dan ritme kehidupan sepertinya berjalan datar saja tidak ada sesuatu yang istimewa. Berbeda mungkin dengan teman teman SMA saya waktu itu, dan saya lebih banyak menyibukkan diri di perpustakaan belajar sendiri, dan juga belajar di rumah.

Saya tidak tau apa itu clubbing, apa itu disko. apa itu menonton bioskop apalagi berkenalan dengan gadis yang umumnya dilakoni oleh anak sekolah dengan pacaran cinta monyetnya itu. Nah apa hikmah yang bisa saya ambil dari masa SMA saya yang terasa datar itu? Bisa dikatakan saya kuper alias kurang pergaulan kalwa dilihat dari kacamata anak sekarang. Bagi saya tidak ada masalah dibilang jadul asalkan karakter dan kepribadian saya tidak melenceng, dan tidak melakukan hal hal yang merugikan diri sendiri apalagi orang lain. Saya tidak kenal apa itu Narkoba, saya tidak kenal apa itu berkelahi dengan teman sekelas apalagi berkelahi dengan wartawan.

Bagian Penutup
Bahkan bos JPNN yang sekarang menjadi direktur PLN juga sudah menyoal masalah beda generasi ini. Beliau yang kondang dengan operasi ganti hatinya ini menuturkan dalam bukunya bahwa antara generasi kita dengan generasi yang sebelumnya hingga generasi yang akan datang memang berbeda dan tidak dapat dipaksa paksa didekat dekatkan.

Nah dari sinilah kita bisa paham bahwa perbedaan generasi yang satu dengan generasi yang lain pada dasarnya tidak menimbulkan persoalan serius sejauh tidak menyangkut urusan karakter, dan kepribadian orang Indonesia, budaya timur, yang mengenal kesantutan, tata krama dan saling harga menghargai antara satu sama lainnya. Perbedaan keyakinan antara sesama kita tidak lantas menjadi batu sandungan untuk bisa saling dekat satu sama lainnya. Perbedaan pendapat antara sesama kita adalah hal yang wajar. Jika kita tidak bersatu dan bersilaturahmi antara sesama kita, kapan lagi bangsa ini akan bangkit dari segala keterpurukannnya sekarang ini. Sudah banyak masalah yang menghinggapi bangsa ini sehingga pembangunan dan pemerataan kesejahteraan menjadi terganggu dengan banyaknya persoalan itu.

Seperti dalam sepenggal bait lagunya Iwan Fals yang menyebutkan bahwa lesuhnya kain bendera kita yang berkibar di halaman depan rumah kita bukan satu alasan untuk kita tinggalkan. Masa masa sekolah SMA yang penuh dengan canda dan harapan akan kesuksesan di masa depan sebaiknya mendapatkan dukungan dari para orang tua, para guru, para pendidik, para pemuka agama serta menjadi tanggung jawab kita bersama. Masa SMA adalah masa yang indah, dan begitu indahnya untuk dilewatkan begitu saja. Kita kita, generasi yang sudah lewat dari masa SMA, sudah seharusnya memberikan arahan, petunjuk serta bimbingan kepada para pelajar SMA kita agar tidak lepas kontrol, dan tetap berpegang pada prinsip utama mereka yang belajar dengan rajin dan giat mencapai cita cita. Masa SMA adalah masa yang Indah, jadi jangan rusak keindahan masa sekolah mu dengan hal hal yang bisa menyuramkan masa depan kalian dan jadilah pelajar SMA yang berpretasi, dan membanggakan kita semua.

Maju terus ya adik adik ku.
Keep up the good work



Dalam hidup seseorang pastilah mengalami apa yang dinamakan pasang surutnya kehidupan. Memang demikianlah apa adanya. Pasang surut kehidupan seseorang bisa jadi sama atau berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lainnya. Suka duka yang kita alami dalam menjalani kehidupan ini seolah seolah seperti warna warni yang seharusnya kita jalani sebagai proses pendewasaan kita.

Bagaimanapun juga kita akan dan terus diuji oleh berbagai macam kesulitan, kendala, hambatan, godaan, cobaan, gangguan dan juga berbagai nama dan istilah lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu satu. Batasan dan pengertian dari semua itu berbeda beda penafsirannya bagi setiap orang, dan bagi saya sendiri semua itu menjadi jalan untuk menjadi manusia yang sabar, dan melatih diri untuk lebih bijak dan bijaksana dalam setiap kesempatan. Setiap dari kita tentu akan mengalami berbagai kendala dan semua itu akan menjadikan diri kita menjadi pribadi yang tangguh, dan akan terus berani menghadapi berbagai rintangan yang coba menghadang pada masa yang akan datang.

Hidup Seperti Ujian
Dalam hidup memang seperti ujian namun demikian ujian yang akan kita hadapi senantiasa kita hadapi dengan tabah dan juga sabar. Tabah dan Sabar. Dua sifat yang saling dukung mendukung itu sudah sewajarnya kita miliki, siapa saja, saya dan juga anda semua. Banyak orang yang tidak bersabar atas sesuatu yang menimpa dirinya tidak saja berupa kemalangan, dan hidup serba kekurangan, namun juga tidak segera bersabar ketika mendapati kesenangan dan kebahagiaan. Kita sering lupa diri jika sudah mendapatkan kesenangan, berbagai macam teori bermunculan untuk memaknai kebahagiaan dan kesenangan itu hingga kepada ide ide yang idealis serta brilian.

Namun demikian tidak tertutup kemudian kita semua dihadapkan pada suatu kenyataan ternyata kita salah kalkulasi. Kebahagiaan dan kesenangan yang sudah digenggam dengan sukses itu bisa menjadi bumerang yang akhirnya kita mengalami kendala dan kekurangan. Mengapa hal yang sebenarnya bisa dihindari itu malah menjadi kenyataan?. Apa yang salah dengan semua kesenangan dan kebahagiaan itu?

Banyak yang sukses dan lulus jika diberi erbagai macam kesulitan, kendala, hambatan, godaan, cobaan, gangguan oleh Allah SWT. Dengan semuanya itu kita menjadi dekat dengan Allah SWT, dan kita semua menjadi taat dan tekun beribadah semata mata agar berbagai macam kesulitan, kendala, hambatan, godaan, cobaan, gangguan tersebut diangkat atau dijaukan dari diri kita. Namun , sekali lagi, saat kita diberikan kelebihan, kelonggaran, limpahan rezeki dan berbagai macam kesenangan lainnya seolah olah kita lupa akan "campur tangan" Allah SWT dibalik semua keberhasialn dan kesuksesan yang kita raih.

Konteks tulisan pendek saya pada hari ini semata mata ingin menggambarkan dan sebagai bahan pelajaran bagi diri saya sendiri khususnya yang berusaha menjadi yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga, agama serta bangsa dan negara kalaw diliat dari sisi idealisnya. Cita cita yang sudah ditanamkan sejak dini, dan juga cita cita kita semua, seolah harus bersabar menunggu "giliran" untuk dikerjakan. Rencana sudah pasti ada dan kita miliki semua, namun tidak tertutup kemungkinan rencana yang sudah dibuat matang tersebut tertunda atau terkendala dapam eksekusinya karena berbagai hal dan faktor yang tidak dapat kita hindarkan sebagai faktor eksternal, disamping faktor internal dalam diri kita sendiri, seperti motivasi dan ketekunan.

Bagian Penutup
Hidup memang seperti ujian. Seperti anak sekolah yang sedang mengikuti ujian kenaikan kelas. Jika sang anak belajar dengan rajin dan tekun tentulah dia bisa mengerjakan soal soal ujian yang diberikan kepadanya, dan tentu saja dia akan mendapatkan nilai yang baik sebagai buah dari hasil kerja kerasnya dalam belajar. Kita semua harus sadar bahwa hidup ini memang tidak semudah membalik telapak tangan. Teori bisa saja kita ciptakan, namun apakah semua teori yang kita peroleh saat kita masih dibangku sekolah dulu akan sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari hari. Pengalaman hidup mengajarkan bahwa kesuksesan yang diraih seseorang tidak dapat dengan mudah direbut atau digenggam dan semuanya itu harus mengikuti proses seleksi alam dimana siapa yang tabah dan sabar dalam menjalani tentu akan membuahkan hasil yang baik sebagai invetasi hidup di masa depan.

Sadar bahwa setiap diri dari kita memiliki berbagai kelebihan dan juga kekurangan. Manusia memang tidak ada yang sempurna. Biarpun sedikit tentulah memiliki cacat, dan cacat itu ada dalam setiap diri manusia. Di saat manusia terpuruk dalam bingkai kesulitan dan kekurangan, pastilah Allah SWT memberikan bekal kelebihan pada dirinya yang bisa dia gunakan untik menutupi kekurangannya. Manusia tidak akan pernah bisa memperoleh kesempurnaan sampai manusia itu menyadari akan kelebihan dan kekurangannya. Tidak cepat berputus asa karena kekurangan, dan kesulitan yang menimpa dirinya, dan tidak pula menjadi lekas lupa diri atau bahkan menjadi pribadi yang pongah serta sombong jika mendapati dirinya di atas angin dan mendapat kesenangan lebih banyak dari yang lain.

Semua itu seharusnya menyadarkan kita bahwa berbagai macam kesulitan, kendala, hambatan, godaan, cobaan, gangguan yang telah, sedang dan akan kita alami akan membentuk pribadi yang tangguh. Sebagai penutup dari tulisan pendek ini saya kutipkan kata dari Kahlil Gibran bahwa selalu ada keindahan dalam setiap masalah. Itu adalah salah satu cara kita belajar. Marilah kita belajar dari setiap moment dalam kehidupan ini.

Jangan (Pernah) Menyerah
Tag : Kehidupan - Asep Haryono | Andai Aku Bisa - Powered by Blogger

Dear blog. Hari ini adalah hari Rabu tepatnya tanggal 21 September 2011 atau kalau dalam penanggalan Hijriah sudah pada tangga; 22 Syawal 1432 Hijriah. Ya memang masih di bulan Syawal yang kata orang Pontianak sih masih dalam suasana Lebaran. Ya betul suasana Lebaran Iedul Fitri 1432 Hijriah memang "dirayakan" selama sebulan dan selama bulan syawal itulah suasana masih dalam lebaran dan saling bermaaf maafan.

Nah para pembaca setia blog saya di mana saja berada, berbicara soal waktu memang tidak akan pernah ada habis habisnya untuk didiskusikan bersama. Waktu memang bergerak amat cepat dan kadang tidak terasa bahwa kita sudah melewati suatu kisaran waktu. Persis pada hari ini saat saya memulai tulisan ini kudengar sebuah tembang cantik yang dinyanyikan oleh fans saya (Alm) Chrismansyah atau akrab disapa dengan sebutan "Chrisye" sebuah lagu yang berjudul "Andai Aku Bisa" yang diciptakan oleh Bebi Romeo dan Akhmad Dani menjadi tema dan judul tulisan saya ini. Saya dengarkan lagu nan indah disertai suara merdu sang vokalis yang kini sudah tiada. Betapa hati ini merinding mendengar syairnya yang berfokus pada waktu yang memang tidak bisa kembali seperti semula, dan waktu akan terus berjalan sesuai takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Ya Anda Aku Bisa kembali ke masa lalu. Semua orang pasti menginginkan hal itu bisa terjadi.

Waktu Terus Berjalan
Waktu yang sudah kita lewati sejak kita masih dalam buaian sang bunda hingga sekarang ini berjalan dengan begitu cepatnya seolah tidak terasa. Membayangkan masa kecil kita memang indh, masa remaja yang kini sudah menjadi kenangan kenangan bagi kita semua, dan masa masa sekarang adalah masa pendewasaan hingga akhirnya kita akan memasuki usia senja. Suatu usia yang konon kata orang merupakan usia yang sudah tidak produktif lagi. Sebagian orang tidak setuju dengan pendapat yang terakhir ini, bahkan banyak orang yang masih aktif dan terus beprestasi di usia senja. Bagaimana kita menyikapi semua ini terhadap waktu yang sudah ditakdirkan Illahi akan terus bergerak maju dan tidak akan pernah kembali lagi.

Saya coba mengenang kembali sejenak masa SD dahulu saat saya diantar ibunda di kelas 1 hingga akhirnya menamatkan sekolah dasar dasar negeri 01 di Jakarta utara. Memang saat itu saya , saudara dan orang tua bertempat tinggal di Jakarta, tepatnya di daerah Pademangan II Gang 15 nomor 396. Saya masih ingat alamat tempat tinggal kami itu. Dan kemudian seiring dengan waktu, saya pun memasuki SMP di Jakarta Utara juga lokasinya, tepatnya di SMP Negeri 34 Jakarta namun hanya mengenyam hingga kelas 1 saja. Karena menjelang kenaikan kelas II SMP saya harus pindah sekolah mengikuti kepindahan orang tua di Bekasi dan akhirnya meneruskan SMP di SMP Negeri 4 Bekasi hingga ke SMA Negeri 2 Bekasi yang terletak di jalan Tangkuban Perahu Perumnas II Bekasi itu. Saya senang karena pada akhirnya saya bisa berjumpa dengan teman teman SMA saya dahulu (angkatan 88-89-red) melalui jejaring pertemanan Facebook, twitter dan juga blog.

Apa hikmah yang bisa saya petik dari tulisan saya yang pendek hari ini, ya soal waktu. Waktu yang sudah kita lewati memang tidak akan mungkin kembali lagi. Kita, manusia, para hamba Allah SWT, hanya diberikan kesempatan hidup satu kali periode. Orang bilang "hidup cuma sekali jadi bersenang senanglah, kapan lagi" mungkin ada benarnya dan juga tidak. Mengapa saya bilang juga tidak benar, karena hidup tidak semata mata dihabiskan untuk bersenang senang, walaupun kita juga berhak atas kesenangan dunia. Ini memang sudah dituliskan dalam kitab suci Al Quran bahwa selain kita mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beramal bakti dan beramal soleh serta sodakoh, manusia juga berhak atas dunia sehingga terciptalah keseimbangan (balance-red) antara kehidupan Dunia dan AKhirat kelak.

Sejak saya kecil hingga di usia sekarang ini saya pun tidak tau kalaw akhirnya hingga seperti ini, dan begitu juga dengan para pembaca setia blog saya di mana saja berada. Tentu rekan rekan pembaca sekalian tidak tau kalau akhirnya akan seperti ini keadaannya. Kalaw kita lihat di sekeliling kita banyak orang yang berprestasi di bidangnya itu karena usaha yang dilakukannya sendiri dan juga atas "campur tangan" dari Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Ada orang memang yang ditakdirkan menjadi sukses dari awal karena memang dia sudah di "format" sedemikian rupa oleh sang Pencipta. Ada orang yang sudah tampak kesuksesannya dalam berkeluarga dari aura yang tampak padanya. Ini semua tidak seharusnya menjadi sesuatu yang kita perdebatkan karena masing masing dari kita sudah mendapatkan "format" dan "bentuk" yang seperti apa kelak di masa yang akan datang. Kita tidak akan pernah tau kehidupan macam apa yang akan kita alami kelak, sepuluh, dua puluh tahun yang akan datang. Tidak pernah.

Bagian Penutup
Memang indah terasa mengenan masa masa sekolah SMA dahulu ataupun masa masa di bangku kuliah. Betapa nikmatnya berkumpul bersama sama teman teman sekolah atau teman kuliah bersenda gurau, belajar bersama di perpustakaan, mangkal di kantin kampus, ah betapa kenangan indah itu terasa sayang untuk dilewatkan begitu saja. Andai saya bisa mengubah semua itu menjadi kembali seperti dahulu, dan saya diizinkan untuk kembali ke masa silam tentu semua orang menginginkan hal yang sama. Andai waktu memang bisa kembali ke masa dulu tentu kita semua akan berbuat baik. Namun sayangnya kita tidak pernah tau kalaw akhirnya nasib membawa kita hingga seperti sekarang ini. Saya rasa lebih tepat Takdir ketimbang penyebutan nasib yang berkonotasi pasrah itu. Kalaw kita memang sudah ditakdirkan akan menjadi seperti ini, ya inilah buah dari hasil perbuatan kita sendiri, dan kita sendiri yang menanggungnya.

Penyesalan memang selalu datang terakhir. Tidak pernah saya dengar orang menyesal di awal. Semuanya sudah terjadi. Orang bilang nasi sudah menjadi bubur, walaupun saya juga penggemar bubur ayam di depan kantor yang terkenal enaknya itu. Nah tidak etis rasanya kita mengutuk sang waktu yang memang sudah tidak bisa kembali lagi ke seperti semula. Hidup yang cuma satu kali ini amat disayangkan jika dilewatkan begitu saja tanpa menorehkan catatan emas atau prestasi yang membanggakan, setidaknya berbangga pada diri sendiri bisa berbuat sesuatu kebaikan bagi diri sendiri, dan semoga juga buat kebaikan orang lain. Berbagai kendala, godaan, hambatan, cobaan, dan ujian bagi setiap orang sudah pasti akan dilalui. Betapa nikmatnya terasa bagi kita semua jika semua kendala, godaan, hambatan, cobaan, dan ujian bisa kita atasi dan tentunya dengan pertolongan dari Allah SWT.

Andai Aku bisa kembali ke masa lalu...
Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog From Indonesia