Help us to keep our home
Jangan Berkata Tidak
Bila kau jatuh cinta
Terus Terang Sajalah
Buat Apa Berdusta

Cinta itu anugerah
Maka Berbahagialah
Sebab kita sengsara Bila Tak Punya Cinta


Lirik lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi Doel Sumbang yang berjudul "Arti Kehidupan" yang saya dengar sore kemarin menginspirasi saya untuk membuat tulisan ringan ini. Cinta. Ah sekali lagi soal cinta. Ngomongin soal cinta akan tidak ada batasnya. Cinta teramat luas untuk bisa didefinisikan, dan cinta memang luas melintasi antar generasi, ras, suku, agama dan semua tingkatan manusia. Begitu universalnya cinta sehingga tidak dapat dibatasi maknanya. Satu kata yang menarik perhatian saya dari lirik lagu di atas adalah "Sengsara". Dalam potongan syairnya, Doel Sumbang menyebut "..Sebab kita sengsara Bila Tak Punya Cinta". Nah ini dia. Sengsara karena Cinta atau Cinta yang membuat sengsara?.

Ups...! judul tulisan saya kali ini memang begitu menggoda ya. Jomblo. Apakah ada kaitannya antara Sengsara karena tidak punya cinta hingga Jomblo?. Hmm. Memang tidak akan bisa memastikan ada kaitannya. Sengsara karena tidak punya cinta tidak selalu menjadi Jomblo yang menjadi tema tulisan saya kali ini. JOMBLO juga tidak selalu karena mendapat cinta yang sengsara. Huaaaa. Jadi tambah ribet. Kalaw anda bingung membaca ke arah mana tulisan ini, adalah hal yang wajar. Jangankan anda yang bingung, saya sendiri juga bingung. Saya juga pernah menjadi Jomblo beberapa tahun lalu. Ya bisa dibilang veteran Jomblo gitu deh. Heheheheheehe.

Saya bermaksudkan untuk menyindir mereka yang masih betah ngejomblo, atau bermimpi untuk terus menjadi jomblo. Itu adalah hak anda. Hak siapa saja. Namun saya mencoba membahas ringan saja bahwa menjadi Jomblo bukan suatu kesalahan. Tidak ada yang salah dengan status anda yang masih mempertahankan atau malu malu menjadi Jomblo. Kalo dalam lagunya Bang Rhoma Irama yang mendayu-dayu itu, jomblo diartikan bujangan alias nggak punya gandengan (emangnya truk, pake gandengan?) he...hee. Sorry, saya nggak ngerti juga asal muasal kata JOMBLO itu berasal. Siapa yang pertama kali menciptakan kata sakti "jomblo" juga saya kurang tau.

Dalam dunia remaja anak sekarang ini, kata "jomblo" selalu dikaitkan dengan pacar. Saya mencoba untuk membatasi diri dari kata "pacar" yang amat sensitif. Saya termasuk orang yang sangat menentang pacaran sebelum menikah. Tapi saya menghormati orang yang melakukannya hanya dengan maksud untuk mengenal lebih dekat. Memang dalam agama Islam tidak dianjurkan untuk melakukan itu (pacaran-red) selain dari yang disebut dengan ta'aruf dan lain sebagainya sesuai dengan hukum dan syariat Islam. Namun untuk menghindari tulisan ini berbau "ceramahg" karena memang saya bukan ahlinya dari sisi agama karena keterbatasan saya. Saya coba mengiringnya ke soal soal yang gaul sajalah. Yang enteng dan ringan dan renyah serenyah kerupuk. Hehehhe.

Para Jombler, Berbahagialah !
Tapi ternyata nggak semua orang bisa menerima kalau dirinnya menjadi anggota komunitas "JOJOBA" alias jomblo jomblo bahagia. Mereka sudah semakin dewasa dalam menyikapi sebuah persoalan yang menyangkut urusan hati. Seperti dalam pepatah dalam kantong eh salah dalam laut dapat di duga , hati orang siapa tahu. Begini sobat, sebagai yang pernah mengenyam masa remaja saat saya masih berstatus pelajar SMA (Saya SMA di Bekasi era 89an-red) dulu masih teringat jelas betapa diri ini selalu berusaha menarik lawan jenis. Ikut ikutan melipat bahu kemeja bahu abu abu saya. Ikut malam mingguan dan lain sebagainya. Tapi saat saya menaksir rekan satu kelas saya waktu itu, rasanya seperti gemetaran. Saya mendekat padanya, dia menjauh. Saat dia mendekat kepada saya, saya yang lari,. Hahahahhaa.

Ini juga masih melekat saat saya masih kuliah dulu (era 90an-red). Berdandan (halah) kalau malam mingguan yang memang saat itu saya sudah merantau di Pontianak ini. Maklum sebagai anak perantauan saya kudu harus ekstra bisa membagi waktu antara kuliah dan urusan yang tidak ada kaitannya dengan kuliah. Untung saja saat kuliah dulu, tak ada satupun gadis Pontianak yang mau sama diriku. Hahahhaa. Tapi saya juga heran. Karena banyak juga rekan rekan kuliah saya yang berasal dari Jawa banyak mendapat gandengan orang Pontianak hingga saat ini mereka sudah beranak pinak. Hahaha. Memang misteri ya. Rezeki saya memang beda dengan rezeki kawan kawan kuliah saya dulu. Ujung ujungnya malah dapat orang Jogjakarta hingga menikah dan sudah dikaruniai dua orang anak ini hahahhahahaa.

Back ke cerita lagi saat saya SMA ya. Saat kuliah dulu apa aja saya lakukan agar bisa memikat hati gadis pilihan saya waktu itu. Hati hati aja kalaw ada mahasiswi yang masuk asuk dalam DPO (daftar pencarian orang) dalam misi saya. Hehehhee. Jelas penyebabnya adalah saya malu donk jadi jomblo. Rekan mahasiswa saya yang lain udah pada dapat gandengan (truk gandengan kaleee-red), sedangkan saya kok belum ya. Wah wah wah. Hey, Friend, kasihan deh saya waktu itu. Pacar nda dapat dapat, akhirnya tidak ada pilihan lain kalaw menceburkan diri ke buku buku. Jadilah kutu buku hingga mengantarkan saya menjadi Juara II Menterjemah Bahasa Inggris-Indonesia se SMA Negeri 2 BEkasi pada era itu. Bahagia rasanya. Pacar tidak dapat , namun tetap happy :) dan bahkan berprestasi.

Sobat, ngapain juga sih anda gerah dan risi banget kalo belum dapat pasangan? Kita prihatin dan ketawa geli jika pekerjaan kita menjadi berantakan karena fokus pikiran kita menjadi terpecah dua. Satu pikiran kepada pekerjaan, satu pikiran lagi kepada urusan asmara. Nah nah kalaw ini bisa diatasi saya angkat jempol. Syukur syukur anda bisa memenej keduanya, dalam arti dua duanya bisa diantasi. Sebab bukan tidak mungkin kalaw setiap hari melaksanakan "misi" mencari pasangan bisa bisa kena sindrom PMDK, alias pendekatan mulu dapet kagak. Gelodaks! Khusus untuk jenis yang terakhir ini, kayaknya harus dimasukin ke Panti Jomblo. He..he..hee!. Jangan marah dulu ya

Trus, bagi yang cewek harusnya nggak usah berdandan Padi (pantas digoda-red), sebab bagi para jomblo, pemandangan seperti itu terlalu sedap untuk dilewatkan. Makanya, bukan hanya mata aja yang pengin menikmati, tapi tangan juga pengin dapet bagian, nyubit atau sekedar jabat tangan buat kenalan. Namun yang saya sebut terakhir itu memang jarang terjadi. Karena bisa berabe urusannya. Bisa bisa dituntut karena melakukan pelecehan. Hiiii syeyemm. Itulah sobat, nggak bisa kita seratus persen, salahin para jomblo yang memburu cinta sesuai dengan ciri dan caranya masing masing. Tapi khusus bagi anda yang merasa dirinya kaum hawa memang sebaiknya tidak usah terlalu mengumbar pesona terutama mereka yang diberikan karunia dari ALLAH SWT berupa wajah yang cantik kayak Katie Holmes ataupun body kamu aduhai kayak Britney Spears. Simpan saja dulu deh.

Kesendirian itu Perlu
Mengapa saya bilang kudu di simpan dulu. Sebab kalo kamu emang dianugerahi Allah, wajah atau badan kayak gitu, mustinya bersyukur. Bersyukur memang nggak cukup hanya dengan ngucapin Alhamdulillah, tapi syukur nikmat itu, kamu wujudin dengan melindungi atau memakaikan baju yang pas dan diwajibkan oleh syariat Islam. Inget khan, apa baju wajib seorang cewek kalo dia udah baligh? Betul sekali, ya itu jilbab dan kerudung.

Bukan apa-apa Neng, tapi kalo kamu tetap aja mengumbar pesona kamu dihadapan para jombler (= istilah untuk jomblo kelas kakap), dijamin para jombler akan berniat menikmati kamu. Ya kalo cuman dinikmati luarnya doang artinya cuman dilihat. Gimana kalo dinikmati luar dalam? Hii atutttttttt. Kalo udah gitu siapa yang rugi hayo? Setiap ada aksi pasti ada reaksi. Tidak ada asap kalaw tidak ada api. Manusia diciptakan dan dilahirkan karena adanya cinta. Coba aja lihat lirik lagu DOEL SUMBANG yang saya tulis di bagian awal tulisan ini. Ada lirik kelanjutannya.

Cobaab pasti Menghujam
Namun yakinlah CInta itu akan membuat mu
MEngerti akan arti kehidupan

Dalam lirik di atas bisa diinterpretasikan ke segala arah. Dalam pendapat saya bahwa menjadi JOMBLO bukanlah suatu kesalahan, dan sudah seharusnya kita tidak menyalahkan CINTA yang belum juga hadir dalam sanubari kita. Cobalah liat kembali ke masa kecil kita dahulu, kalaw bukan karena cinta sang Bunda, kita tidak akan sebesar sekarang ini. Betapa banyak berita sanga jabang bayi yang sudah dibunuh bundanya sebelum ia dilahirkan. Berkat cinta Bundalah, kita dibesarkannya hingga kita sesukses sekarang ini.

Demikian pula manusia bisa bertahan dengan tenang dan damai di dunia ini karena cinta pula. Wajar kalaw sang legendaris mendiang King of Pop, Michael Jackson, dalam lirik lagunya "Heal the world" menyebutkan bahwa dengan cinta akan mengubah dunia menjadi perdamaian, dan selalu ada tempat di dalam sanubari kita rasa CINTA dan KASIH SAYANG. Makanya Allah ngasih kita cinta, bukan untuk disalahkan cinta itu, bukan pula untuk diumbar rasa cinta itu. Sebab kalo pun disalahin atau dibiarin liar, cinta tetap cinta, jelas yang akan disalah atau dibenarkan adalah orang yang empunya cinta alias kita, manusia. Moga aja kita masih manusia dan tidak menjelma menjadi mahluk yang lain

Banyak diantara kita yang kehilangan jati diri kita sebagai manusia karena tidak mempunya rasa cinta dalam dirinya. Kalo kamu punya rasa cinta, itu sih artinya kamu memang normal. Cuma masalahnya, apakah kalo udah jatuh cinta, langsung diekspresikan dengan membabi buta seperti orang bergaya pacaran? Genta bukanlah genta sebelum dibunyikan. Lagu juga bukanlah lagu sebelum dinyanyikan. Termasuk cinta. Kata orang cinta bukanlah cinta sebelum diekspresikan. Cinta bukanlah matematika yang bisa dirumuskan. Namun ada bagian dari Cinta yang masih bisa memakai logika sederhana.

Kamu kudu yakin dulu bahwa kalo udah jodoh nggak akan lari gunung dikejar. Artinya nggak usah pusing bin panik kalo masih berpredikat jomblo. Siapa tahu..eh, yang namanya jodoh pas beli nasi ketemu jodoh ama anaknya yang jual nasi, hee..hee.

Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para Muslimah. Kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil? Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita.

Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi 'bagian masalah', namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri.

Di sini orang berlomba mengajukan "standardisasi" calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan. Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, "Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?" Memang, ada juga jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja." Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.

Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini. Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Kesepian memang berbahaya, namun kesendirian memang perlu. Kita semua perlu satu saat dimana kita tidak ingin diganggu oleh berbagai urusan dunia termasuk pada urusan mencari gebetan. Nah, dikarenakan begitu banyak dan uniknya permasalahan yang ada, pastilah hal ini memerlukan pemikiran dan perenungan yang tiada henti juga guna mencarikan penyelesaiannya. Disinilah saya melihat betapa penting dan bergunanya nalar kita guna membantu mencarikan pemecahan masalah.

Sebuah bukti mengatakan bahwa semakin kita sering berenung dan berpikir maka semakin mudah dan terlatih nalar kita mencarikan solusi dari proses itu dikarenakan terbentuknya dan tumbuhnya syaraf-syaraf baru di dalam otak kita. Disamping hal tersebut terdapat bukti psikologis juga bahwa semakin banyak dan kompleksnya persoalan yang kita hadapi dan kita pecahkan akan membuat kita terbiasa dan tidak mengalami ketergoncangan bila menghadapi persoalan yang baru dan menuntut pemikiran yang dalam. Maka akan sangat bermanfaat jika kita membiasakan diri berpikir dan merenung dalam kesendirian kita untuk mencari penyelesaian setiap permasalahan yang kita jumpai baik itu permasalahan dalam bentuk pemikiran atau bahkan dalam wujud konflik sosial dengan sesama manusia.

Dalam Kesendirian akan selalu ada keindahan


Wallahu a'lam bisshawaab.


Tag : - Asep Haryono | Mengapa Kita Miskin? - Powered by Blogger
Siapa yang miskin? Kalau pertanyaan sederhana ini ditanyakan kepada saya pada hari ini tentu akan saya jawab dengan amat cepat secepat kereta api super cepat "Nda mau miskin". Nah saya kira anda pun pasti juga tidak akan mau miskin, menjadi miskin, dimiskinkan atau bahkan bermimpi untuk menjadi miskin.

Tetapi tunggu dulu, miskin yang bagaimana yang saya maksudkan dalam tulisan kali ini? Miskin dalam artian fisik , atau miskin moral?. Yah tentu saja miskin dalam artian kepemilikan harta banda. Ini definisi yang amat sederhana dan mudah ditebak oleh siapa saja.

Yuk coba sejenak kita lihat pengertian kemiskinan itu sendiri. Dalam wikipedia Indonesia disebutkan pengertian kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.

Semua orang bebas berbicara mengenai perang melawan terorisme yang kini sedang marak yang diproklamirkan oleh setan besar Amerika Serikat dan negara negara sekutunya. Saat presiden Obama mengumumkan berhasil menewaskan pemimpin Al Qaeda, Osamah Bin Laden, presiden yang pernah mengenyam sekolah di Indonesia itu secara tegas mengatakan bahwa perang terhadap Terorisme dan bukan terhadap Islam. Obama berkilah bahwa Osamah Bin Laden bukan pemimpin Muslim, dan dia (Osama) membunuh banyak warga sipil, wanita dan anak anak muslim di seluruh dunia. Kita semua larut dalam eporia perang terhadap terorisme , tapi lupa akan perang yang lebih dahsyat lagi ; perang melawan kemiskinan.

Kemiskinan Memicu Kejahatan
Sudah bukan rahasia lagi kalau salah satu faktor maraknya berbagai aksi kejahatan pencurian di kota Pontianak beberapa pekan terakhir ini adalah karena kemiskinan. Orang yang sudah tidak punya uang sepeserpun untuk membeli sebungkus nasi untuk menutup rasa lapar yang perih diperutnya bisa membuat orang habis akal sehat dan berbuat nekad apa saja yang bisa dilakukan untuk mendapatkan uang.

Kemiskinan tidak dapat disembuhkan hanya dengan ceramah agama mengenai kesabaran akan hidup dan juga doktrin doktrin jeneral yang mengatasnamakan kemandirian. Dalam pemikiran banyak orang, untuk berusaha mandiri sudah dipastikan modal. Dan jika modal tidak ada apa yang harus diperbuat untuk memulai usaha?. Meminjam uang dari bank tidak memiliki jaminan (anggunan), untuk meminjam dari tetangga pun kadang tidak mendapat hasil.

Yang lebih miris lagi adalah fenomena meminjam uang untuk makan sehari hari. Okelah pada hari itu mereka bisa makan dengan uang hasil pinjaman, bagaimana dengan kehidupan selanjutnya setelah uang hasil pinjamannya itu habis tak bersisa. Pilihan memang selalu ada disaat orang mengatakan bahwa pilihan meminjam sudah tidak tersedia lagi. Gali lobang tutup lobang. Meminjam ke sini untuk menutup yang itu, dan meminjam ke sana untuk menutup yang ini. Roda kehidupan terasa monoton.

Jangankan anda, bahkan saya sendiri sudah sering melakoni "gali lobang tutup lobang ini". Meminjam dana dari pihak lain untuk menutup hutang yang lain. Coba kita kembali kepada diskusi di atas bahwa kemiskinan memang amat berpotensi memicu munculnya aksi kejahatan. Sudah banyak bukti di lapangan yang tidak bisa dinafikan begitu saja. Kemiskinan berpotensi memicu tindak kejahatan. Dalam wikipedia disebutkan salah satu kemiskinan yang umum terjadi di masyarakat kita adalah kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan.

Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar. Namun yang lebih prinsip adalah kemiskinan akan pangan. Orang perlu makan. Tidak ada uang karena miskin, dan dia harus makan bisa membuat orang gelap mata dan nekad berbuat kejahatan seperti mencuri. Ya mencuri untuk makan. Dalam tulisan sebelumnya sudah saya coba bahas mengapa orang mencuri bisa diliat dari postingan saya sebelumnya di sini. Saya menyebut bahwa ada dua faktor yang menyebabkan orang berbuat jahat seperti mencuri ini yakni faktor niat dan kesempatan. Jika memang sudah ada niat, maka kesempatan bisa diciptakan. Jadi niatlah yang memegang peranan penting mengapa seseorang bisa saja (nekad) melakukan pencurian.

Kemiskinan Selalu Abadi
Bukan perkara mudah untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. Bahkan diberbagai desa di seluruh Indonesia sekalipun kemiskinan akan selalu menjadi ciri dan warna masyarakat Indonesia yang sampai sekarang masih belum juga lepas landas dalam artian sederhana, rakyat mudah mendapat sembako murah , pendidikan yang baik dan lapangan pekerjaan tersedia dalam jumlah yang "memadai".

Saya harus ekstra hati hati memakai sebutan "memadai" di sini karena ukuran yang saya pakai tentu akan berbeda dengan ukuran para pembaca tulisan saya hari ini. Saya bukan ahli ekonomi, saya hanya menulis berdasarkan feeling saja dan juga saya sebagai pelaku. Kok pelaku? Ya karena saya termasuk orang yang berada dibawah garis kemiskinan. Saya bingung garis yang kaya apa ya. Garis lurus, melengkung, mendatar atau garis terputus putus?. Disebut orang miskin karena ada orang yang tidak miskin. Saya tidak bilang orang kaya.

Mengapa tidak pernah disebut si A atau Si B hidupnya sekarang berada di bawah garis kekayaan. Nah loh? Pernah dengarkah statemen yang terakhir tadi?. Apakah garis kemiskinan dengan garis kekayaan itu letaknya paralel atau sejajar. Jika garis kemiskinan letaknya di bawah, sedangkan garis kekayaan letaknya di atas, maka ditengah tengah kedua garis itu disebut apa donk? Garis abu abu kali ya. Lalu bagaimana dengan sebutan orang yang hidupnya cukup? Cukup mobilnya, cukup deposito di banknya, cukup rumahnya? Dikotomi orang yang mampu dan tidak mampu juga semakin absurd dan tipis dan hampir sulit dibedakan. Orang tidak mampu katanya. Tidak mampu apanya? Saya jelas orang yang tidak mampu. Tidak mampu beli Mobil Mercy ala Pak Dirut PLN Mr Dahlan Iskan. Nah gimana tuh?

Ngomongin soal tidak mampu, saya jadi teringat teman kuliah saya dulu di era 90 an. Sebut saja namanya si Bejo. Nah tetangga saya si Bejo ini sangat pintar dan sudah pengen mendapatkan beasiswa di kampus. Si Bejo ini sama sama dengan saya di Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (FPBS) Bahasa Inggris di UNTAN saat itu. Si Bejo pun melengkapi syarat dan berkas administrasi untuk diajukan kepada bagian akademik fakultas untuk proses seleksi penerimaan beasiswa.

Si Bejo pun membuat surat keterangan tidak mampu yang ditanda tangai oleh lurah atau kepala desa tempat si Bejo dilahirkan. Bolak balik si Bejo mengurus surat keterangan tidak mampu, dan akhirnya surat itu pun berhasil diperolehnya. Buru buru si Bejo melampirkannya dalam map biru ke bagian fakultas.

Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak, akhirnya nama nama yang lulus seleksi menerima beasiswa diumumkan di fakultas 2 bulan kemudian. Nama si Bejo tidak ada dalam daftar yang lulus. Seperti SBY, saya hanya bisa prihatin melihat nasib kawan saya yang kocak ini. Si Bejo pun akhirnya bisa menerima kalau dia yang memang saya tau berasal dari keluarga miskin (GaKin-red) dan sejujurnya miskin bahkan ada sertifikat miskin (baca : surat keterangan tidak mampu) juga masih belum dipercaya.

Soal otak jangan tanya. Si Bejo ini pintar, dan selalu mendapat nilai A di tiap mata kuliahnya. Lantas muncul pertanyaan saya : Apa sebenarnya yang menjadi kriteria penerima beasiswa itu sebenarnya?. Syarat miskin? Wah banyak orang yang mengaku "miskin". Bahkan teman si BEjo yang anak orang kaya itu ternyata lulus sebagai penerima beasiswa dan punya sertifikat miskin dari kelurahan. Loh kok jadi gene seh?

Itu hanyalah contoh saja betapa kemiskinan sekarang pun bisa dijadikan bisnis. Nah nah kemiskinan memang bisa dijual untuk mendapatkan keuntungan. Kemiskinan yang bertipe seperti ini dalam Wikipedia termasuk kedalam kelompok kemiskinan akan kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk di dalamnya adalah kemiskinan dalam bidang pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.

Saya jadi ingat saya saya mengenyam pendidikan SD di Jakarta Utara era tahun 1976 kalaw tidak salah. Saya masih ingat namanya sekolag Sekolah Dasar Negeri 01 Penjaringan Jakarta Utara. Satu kelas dipake dua gelombang. Dari jam 7 pagi sampei jam 12 siang, dan dilanjutkan dari jam 1 siang hingga jam 5 sore. Bayangkan jumlah murid sebanyak itu dalam satu kelas yang dipake bergiliran oleh dua "kloter" anak anak murid.

Betapa nelangsanya SD saya itu karena memang kekuranga gedung buat belajar. Makanya saya sangat tidak setuju kalaw anggota Dewan kita yang terhormat di DPR/MPR sampai "ngotot" mau bikin gedung baru bak Hotel yang hanya 1 trilyun lebih itu. Alangkah bahagianya saya jika dana sebesar itu dialihkan untuk membangun atau memperbaiki gedung sekolah SD-PTN di Indonesia, tentu jumlahnya bisa mencapai ribuan.

Belum lagi dengan pengadaan buku buku di sekolah. Biaya untuk beli buku cukup tinggi, yaitu per semester atau caturwulan bisa mencapai Rp 200 ribu lebih. Setahun paling tidak Rp 400 ribu hanya untuk beli buku. Jika punya 3 anak, berarti harus mengeluarkan uang Rp 1,2 juta per tahun. Hanya untuk uang buku orang tua harus mengeluarkan 130% lebih dari Upah Minimum Regional (UMR) para buruh yang hanya sekitar 900 ribuan.

Oleh karena saya sangat mendukung sekali ada perusahaan media terbesar di Kalimantan Barat yang bernama Potnianak Post meluncurkan program Gemar Membaca dan Hibah sejuta buku sekolah. Ini sangat penting untuk memasyarakatkan membaca bagi anak anak kita, dan tersedianya buku buku yang baik dan bermanfaat tersedia gratis bagi seluruh anak anak sekolah di Kalimantan Barat ini. Tanpa pendidikan, sulit bagi rakyat Indonesia untuk mengurangi kemiskinan dan menjadi bangsa yang maju.

Kemiskinan di Indonesia akan selalu abadi sepanjang masa.


Banyak hal yang terjadi di tahun 2011 yang sudah saya masuki hingga bulan ke 5 (lima) bulan Mei ini. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam lembaran hidup saya seolah mewarnai perjalanan hidup saya yang sudah memasuki usia yang sudah tidak muda ini. Harapan selalu menyertai rasa optimis saya yang membuncah seiring dengan rencana rencana yang sudah dibuat di tahun 2011 ini.

Godaan, tantangan, kendala dan hambatan beserta keluarga dan saudaranya tentu akan selalu mengiringi langkah saya dalam menapaki hidup dan kehidupan ini. Nasib baik ataukah nasib buruk yang sudah, sedang dan akan saya alami tidak akan pernah dapat saya ketahui makna hakiki yang ada didalamnya. Saya sebagai manusia hanya mengira ngira saja, karena segalanya hanya Allah SWT Yang Maha Tahu segalanya

Sebagai manusia perasaan senang, gembira, gelisah, sedih, dan juga perasaan takut adalah hal yang wajar. Bercampurnya semua perasaan itu adalah implementasi diri yang terus bereformasi membentuk ke arah yang seharusnya saya inginkan. Walaupun rencana yang sudah dibuat secara matang sekalipun tentu akan mengalami deviasi (penyimpangan) dari yang sudah direncanakan.

Rencana yang sudah disusun matang kadangpula tidak sesuai pada tahap eksekusi dilapangan karena berbagai sebab. Mulai dari kendala teknis hingga non teknis. Siapa yang bisa memastikan apa yang sudah kita rencanakan dengan matang kelak dilapangan akan sesuai dengan yang sudah direncakanan. Satu hal positif yang bisa kita petik bahwa segala sesuatu yang akan kita lakukan di masa depan memang sebaiknya direncanakan terlebih dahulu tentunya dengan resiko terukur.

Tema tulisan saya kali ini "aku tidak akan marah" lebih difokuskan pada perasaan yang membuncah terhadap apa yang sudah terjadi dalam lembaran hidup saya. Saya adalah manusia biasa yang bisa saja senang, gembira, sedih dan juga marah. Mengapa pula saya harus marah? Tentu marah yang cerdas, dan bukan offender yang berpotensi merugikan orang lain. Setiap orang bisa saja marah, dan itu adalah hal yang manusiawi ya karena kita adalah manusia. Siapa sih di dunia ini yang tidak pernah marah?. Hanya saja kadar dan tingkatan marah setiap orang bisa berbeda antara satu manusia dengan manusia lainnya.

Saya tidak akan marah karena :

  • Belum Diangkat Organik
    Ini memang menyangkut pekerjaan saya di kantor. Banyak sudah teman teman seangkatan saya yang sudah diangkat statusnya menjadi karyawan tetap atau dalam terminologi kantor disebut dengan pegawai organik. Pada pengertian saya yang awam ini pegawai organik adalah pegawai yang sudah lengkap status kepegawaiannya yang dilindungi undang undang dan sudah dilengkapi dengan hak dan kewajiban yang jelas.

    Berbeda dengan status pegawai yang belum organik atau belum menyandang sebagai pegawai tetap yang hak dan kewajibannnya tidak jelas dan berpotensi mengalami masalah hukum kelak dikemudian hari. Saya tidak marah karena hal ini walaupun secara undang undang ketenagakerjaan saya sudah memenuhi syarat untuk diangkat sebagai pegawai tetap bahkan dengan UU Ketenagakerjaan yang sudah direvisi sekalipun.

    Saya sangat menyenangi pekerjaan saya walaupun tanpa harus menyandang sebagai pegawai organik. Bergelut dengan dunia IT dan Komputer adalah salah satu impian saya sejak dahulu sebelum bergabung dalam perusahaan ini. Memiliki banyak kesempatan untuk menimba ilmu dari rekan rekan yang sudah terlatih dan pakar di bidangnya adalah harta yang tidak ternilai untuk terus digali dan dikembangkan. Kesempatan itu selalu terbuka, dan akan dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas diri sedikit demi sedikit. Ini jauh lebih bermanfaat ketimbang ribut ribut mempermasalahkan mengenai status kepegawaian saya.

    Saya tidak marah, karena saya orangnya tidak mau ribut. Kalau memang belum rezeki, mau diapakan lagi?. Kadang kita selalu menangisi dan meratapi pintu yang sudah tertutup dan tidak menyadari kalaw ada pintu lain yang sudah terbuka. Istri pun sudah menyandang sebagai Pegawai Negeri secara penuh dan Insya Allah sudah memastikan masa depan keluarga kami akan jauh lebih baik.

    Sebagai keluarga baru , tidak ada perbedaan antara saya dan istri. Kita berdua adalah satu tim. Siapa diantara kita yang sukses lebih dahulu tidak akan menjadi masalah. S ebagai satu tim kita selalu mendukung satu sama lain. Tidak ada istilah uang istri, atau uang suami. Rezeki Istri atau Rezeki suami. Yang ada adalah uang kita, dan rezeki kita. Dari sinilah kita bisa tau bahwa kita masih beruntung. Masih banyak lagi saudara saudara kita yang nasibnya jauh dibawah kita.

  • Mengalami Banyak Musibah
    Berbagai musibah beruntun yang saya alami mulai dari kasus penggelapan uang tanah yang kami beli dari developer sebesar Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) yang lenyap entah kemana, hingga rumah kontrakan kami yang dijarah pencuri hingga dua kali dan menimbulkan kerugiaan jutaan rupiah sudah lama kami ikhlaskan.

    Belajar dari musibah yang datang beruntun ini , kami sekeluarga percaya karena semua ini hanya milik ALLAH SWT dan kita hanya meminjam saja. Kalau sang pemilik meminta kembali, apa yang dapat kita lakukan ? Biarlah itu terjadi karena memang sudah ditakdirkan begitu. Kita tidak akan lari dari suratan takdir kalau memang mengharuskan harta benda kami berpindah tangan dengan cara demikian.

    Dalam surat Al Quran sendiri disebutkan bahwa dibalik segala kesulitan tentu akan ada kemudahan. Musibah memang datangnya setiap saat, dan datangnya pun sewaktu waktu dan tidak pernah memberitahu. Musibah seperti kehilangan harta benda, ditinggal orang yang tercinta, kesulitan, kemiskinan dan berbagai musibah lainnya memang amat tidak disukai oleh manusia. Saya jadi bertanya : Siapakah yang mau ditimpa musibah? Saya yakin banyak jawabannya yang menjawab "tidak mau". Kalau anda menjawab "tidak mau" mendapat musibah, tentu saja saya juga tidak.

    Untuk mencari hikmah sesuatu musibah kita mesti meyakini terlebih dahulu bahwa musibah adalah sebahagian ujian yang pasti menimpa manusia. Ujian adalah satu sunnatullah (peraturan Allah) yang tidak ada siapa pun dapat menghindarkannya karena hidup ini hakikatnya adalah satu ujian. Bila sanggup hidup, mesti sanggup diuji. Seperti dalam firman Allah s.w.t.: Dijadikan mati dan hidup kepada kamu untuk menguji siapakah yang terbaik amalannya.” (Surah al-Mulk: 3)

Ini adalah contoh contoh dari hal hal yang terjadi dalam lembaran hidup saya yang Insya Allah tidak akan menyebabkan saya marah. Hidup bagaikan roda pedati yang terus berputar sesuai dengan kodrat yang diberikan kepadannya. Kalau sekarang kita berada di bawah, bisa jadi kelak akan tetap dibawah. Siapa bisa memastikan kalau saat ini kita berada di bawah, kelak besok akan menjadi di atas? Tidak ada yang bisa memastikan.

Begitu pula jika saat ini saya berada di atas, bisa jadi besok juga akan tetap di atas. Siapa yang bisa memastikan kalaw saat ini kita berada diatas kelak besok kita akan berada di bawah?. TUHAN tidak pernah merubah nasib hambaNYA jika sang hamba tersebut tidak mau merubah nasibnya. Inti dari semua ini adalah change atau perubahan. Semua orang harus berubah. Tentu berubah ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

Saya tidak akan marah. Percayalah..

Maraknya berbagai aksi pencurian dengan kekerasan (curas) maupun pencurian biasa di berbagai penjuru di kota Pontianak dalam beberapa pekan terakhir ini memang amat meresahkan masyarakat. Aparat penegak hukum dijajaran paling bawah di desa terpencil sekalipun seperti aparat Babinsa hingga kepada jajaran kepolisian seperti dibuat bingung oleh tingkah polah aksi pencurian yang lagi "booming" di kota Pontianak tercinta ini.

Gejala apa sekarang ini sehingga kejadian pencurian itu terus saja terjadi dan memakan banyak harta benda, bahkan nyawa sekalipun?. Dimanakah rasa aman yang selama ini kita dambakan itu?. Sejauh mana peran masyarakat untuk turut menjaga keamanan dan ketertiban wilayahnya? Dan seberapa besar peran aparat penegak hukum dalam menjaga dan memberikan rasa aman bagi masyarakat?

Siskamling
Rasanya kata "siskamling" atau kependekan dari Sistim Keamanan Lingkungan sudah semakin lama ditinggalkan oleh masyarakat kita. Sistim keamanan swakarsa yang dilaksanakan oleh warga masyarakat seperti sudah tidak lagi dipertahankan keberadaannya ditengah tengah kesibukan pekerjaan kita sehari hari. Keamanan yang hanya dibebankan kepada satuan pengamanan (satpam) atau petugas jaga di pos Siskamling seakan menjadi jawaban dari rasa ketidakperdulian kita semua.

Dengan hanya mengganti dengan sejumlah uang, lepaslah sudah tanggung jawab keamanan diberikan dan dibebankan kepada satuan pengamanan itu. Bisakah kita harapkan rasa aman itu dari petugas keamanan yang kita bayar atau sewa mengingat jumlah mereka yang terbatas? Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin hanya mengandalkan 1 hingga 3 petugas ronda setiap hari untuk menjaga ratusan rumah itu?. Di beberapa komplek yang saya amati memang hanya terdapat 1 hingga 3 petugas jaga ronda di pos keamanan. Itu masih lumayan. Bahkan ada komplek yang tidak berfungsi sama sekali pos keamanannya. Setiap orang bisa dengan leluas keluar masuk komplek tanpa bisa terdeteksi keamanan setempat. Ini sangat berisiko tinggai akan terjadinya pencurian rumah warga.

Kita mungkin merasa sok sibuk sehingga tidak bisa menjalankan kewajiban menjaga keamanan bergilir setiap rumah, dan menggantinya dengan sejumlah uang agar bebas kewajiban ronda. No no bukan itu yang kita mau. Tapi kadang pihak RT dan RW pun menerapkan "aji mumpung" dengan menaikan tarif jaga jika tidak bisa menjalankan kewajiban menjaga ronda. Ah setali tiga uang donk. Dipikirnya uang ronda warga bisa digunakan untuk keperluan rumah tangga komplek. Hmmm. Coba liat saja "undang undang keamanan" RT dan RW pada umumnya. Jika anda tidak bisa jaga ronda, maka anda diwajibkan mengganti dengan sejumlah uang. Bagaimana kalaw menjaga ronda giliran tidak mau, dan membayar ganti uang juga tidak mau? Nah kan jadi kacow semuanya. Jadi siapa menjaga siapa sekarang?

Okelah kalau memang anda sibuk sehingga tidak bisa jaga ronda, lalu anda membayar sejumlah uang buat "pengganti diri" jaga ronda. Katakanlah besarnya Rp.25.000,- (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah). Lalu saat itu terjadi pencurian di komplek anda tinggal, maka sudah bisa dipastikan petugas jaga ronda yang bertugas malam itulah yang menjadi sasaran warga. Petugasnya tidak becus lah, petugasnya kurang lah. Nah kalaw sudah terjadi kecurian di rumah warga, petugas ronda malam selalu dianggap penyebabnya. Padahal bisa saja kecurian di rumah warga itu terjadi karena kelalaian warga itu sendiri misalnya lupa mengunci pintu, atau meninggalkan rumah tanpa memberitahu kepada tetangga.

Peran Tetangga
Kalau kita mendengar kata "tetangga" itu tidak terlepas dari hubungan kita dengan orang yang ada di depan, di samping dan dibelakang rumah kita. Dan itulah yang saya sebut dengan tetangga dekat. Siapa lagi yang bisa membantu kita di saat terjadinya musibah selain dari pertolongan dari tetangga dekat. Nah pertolongan pertama pada umumnya diberikan oleh tetangga terdekat kita, dan oleh sebab itulah kita senantiasa diharapkan untuk rukun dan saling bantu membantu dengan tetangga terdekat kita. Jika anda keluar rumah misalnya, berikanlah informasi singkat kepada tetangga kita, kapan kita akan kembali ke rumah, dan kemana tujuan kita pergi. Hal ini akan memudahkan tetangga kita untuk "menjaga" rumah kita di saat kita pergi sehingga kita merasa aman. Begitu pula sebaliknya.

Jika kita melihat gerak gerik orang yang mencurigakan menghampiri rumah tetangga kita yang sedang pergi. Perhatikanlah wajahnya dan gerak geriknya. Tanyakan kalaw perlu kepada orang yang kita curigai itu, siapa, dari mana, dan apa pesannya untuk tuan rumah. Ini akan menjadi informasi yang sangat berharga buat kita dan tetangga untuk mendeteksi jika ada bahaya yang mengancam. Ini pernah terjadi pada saya.

Saya pernah mengalaminya. Saat itu ada seseorang pria muda yang mengaku disuruh family yang kenal baik dengan istri saya untuk tinggal satu hari dirumah. Saya tidak kenal orang ini, dan saya suruh dia diluar. Saat itu juga saya langsung kontak dengan family via handphone dan ternyata benar. Family saya menggambarkan ciri ciri fisik saudaranya yang saya liat sama persis dengan "tamu misterius" saya itu. Saya pun menyatakan minta maaf karena sudah sangka buruk. Tidak apa, daripada percaya begitu saja tanpa selidik terlebih dahulu.

Tetapi ada juga laporan yang menyatakan pencurian yang kerap terjadi di kota Pontianak dilakukan oleh tetangga dekat korban atau orang yang diduga mengetahui rumah korban berbekal informasi dari "orang dalam". Kalau ini sering terjadi , dalam artian pencuri adalah tetangga dekat kita, akan menjadi preseden buruk bagi terciptanya hubungan saling percaya antara kita dengan tetangga. Perasaan saling curiga harus segera kita akhiri. Curiga adalah hal yang wajar, tapi jangan sampai kita menuduh tanpa ada buktinya. Sebab dibiarkan rasa curiga itu akan tumbuh dan berkembang menjadi asal tuduh. Hubungan dengan tetangga harus akrab, harmonis dan saling bahu membahu menjaga keamanan. Saya kira peran tetangga menjadi salah satu alternatif kita dalam menjaga keamanan bersama.

Polisi Bagi Diri Sendiri
Ini adalah benteng terakhir jika anda tidak lagi sepenuhnya percaya pada petugas siskamling atau aparat penegak hukum dalam menjaga keamanan lingkungan. Diri anda sendirilah yang bertindak sebagai "polisi" bagi keamanan diri sendiri. Tanggung jawab menjaga keamanan rumah beserta harta benda di rumah menjadi wilayah pengawasan anda, dan anda sepenuhnya bertanggung jawab pada keamanan anda sendiri.Banyak cara yang bisa anda lakukan untuk membuat diri anda nyaman tinggal di rumah sendiri atau di rumah kontrakan seperti yang kami tempati sekarang ini. Pengalaman dimasuki pencuri untuk pertama dan kedua kali, sudah cukup alasan bagi kami sekeluarga untuk membuat suasana menjadi lebih kondusif dan mencegah hal itu (kecurian-red) terjadi lagi.

Mungkin kebanyakan orang tidak perduli akan keamanan diri sendiri karena sudah percaya sepenuhnya dengan petugas jaga siskamling atau aparat penegak hukum. Namun pada saat ditimpa musibah kemasukan pencuri barulah dia merasa seperti kebakaran jenggot. Kita tidak bisa saling menyalahkan dalam hal ini. Tanggung jawab menjaga keamanan lingkungan adalah tanggung jawab kita semua. Tanggung jawab bersama.
Perlu ada keberanian dari kita untuk menyampaikan informasi kepada Ketua RT dan RW dilingkungan kita masing masing. Betapa perlunya semua warga bahu membahu menjaga keamanan dan ketertiban bersama. Jangan dibiarkan (pencurian) ini terus terjadi berulang ulang, sebulan sekali, tiga bulan sekali atau enam bulan sekali. Jangan sampai ada kesan bahwa komplek kita "oke oke" aja dimalingin, jadi nantinya si pencuri atau si maling keenakan dan bisa "memanen" di komplek kita setiap saat. Dipikirnya keamanan kita lengah atau maklum aja toh nanti juga nda ada lagi. Kita tidak boleh skeptis dan diam seribu bahasa menyikapi maraknya aksi pencurian di komplek sekitar kita kita. Kita harus bersatu, dan melawan mereka.
Dua kali kejadian kemalingan tersebut sudah cukup membuat kami shock apalagi ancaman keselamatan saya dan keluarga menjadi taruhan waktu itu. Memang kata orang sih nyawa lebih berharga daripada harta benda, tapi kalau bisa sih aman kedua duanya baik jiwa maupun harta benda. Jika memang bisa mengamankan dua hal sekaligus mengapa tidak? Harta aman, dan keselamatan jiwa pun terjaga dengan baik. Impian kita semua untuk bisa merasakan rasa aman di mana saja berada.Kita semua ingin hidup damai dan tenteram.


Kalau melihat dari judul tulisan saya hari ini "Mengapa Orang Mencuri?" mempunyai pengertian yang bisa saja meluas dari makna yang seharusnya saya inginkan. Apakah mencuri dalam arti kata barang fisik atau berbentuk tidak fisik atau bukan benda, misalnya mencuri perhatian, mencuri pandangan serta berbagai bentuk non benda lainnya.

Mencuri pada dasarnya adalah perbuatan yang kurang terpuji, dan perbuatan yang kurang terpuji itu berpotensi dosa. Orang yang menjadi korban pencurian adalah orang yang paling dirugikan oleh aktititas si "panjang tangan" ini dan sipelaku yang melukan tinda kejahatan ini sebaiknya dihukum sesuai dengan undang undang yang berlaku.

Tema tulisan saya hari ini memang cukup menarik untuk ukuran saya. Karena dimensi dampak yang ditimbulkkannya teramat luas. Dalam film RobinHood yang dibintangi oleh Kevin Kostner yang sudah kondang di dunia itu digambarkan pencuri yang "baik hati". Sekilas saya bertanya kok bisa pencuri itu "baik hati", bukankah aktifitas melakukan pencurian itu bukan "baik hati"?. Ironis atau hiperbola?.

Digambarkan si RobbinHood pencuri yang "baik hati" ini mencuri emas, dan berlian dari raja yang berkuasa dan mengembalikkannya kepada Rakyat. Apakah si Rakyat tau kalau pemberian si RobinHood ini hasil dari kegiatan Mencuri?. Terlepas dari mencuri itu jahat atau jelek, yang jelas si RobinHood ini dielu elukan rakyatnya. Hmmm

Niat Dan Kesempatan
Nah ini dia. Jadi teringat pada tayangan acara kriminal-tainment yang ditayangkan salah satu televisi swasta di tanah air. Siapa lagi kalaw bukan acaranya Bang Napi. Wah tau donk siapa itu bang Napi. Ia digambarkan berwajah seram dengan mask (topeng) keperakan yang menutupi separuh wajahnya. Memakai baju ala ponawakanan semar dan tampil di TV membawakan acara acara yang bersifat kriminal. Slogan yang amat kondangnya "waspadalah, waspadalah. Ingat kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, melainkan kesempatan". Saya jadi bertanya apa hubungan antara niat dan kesempatan untuk suatu kejahatan?

  • Niat
    Orang kalaw sudah berniat jelek atau berniat melakukan perbuatan yang tidak baik apakah itu mencuri dan lain sebagainya, adalah perbuatan terencana. Jika itu dilakukan dalam rangka untuk berniat menghabisi nyawa orang lain, apa pun motifnya, mendapat ancaman hukum berat. Mengapa terancam hukuman berat? Ya karena sudah ada niat untuk melakukan hal ini.

    Jika niat sudah kuat, apa pun bisa dilakukan. Kesempatan bisa diciptakan karena memang sudah ada niat kuat melakukan perbuatan yang tidak terpuji itu. Lain halnya jika kesempatan yang dia inginkan, atau dibuat tidak terlaksana dengan baik, ini bisa dikatakan niatnya terkendala. Lain halnya jika si pelaku sadar walaupun kesempatan berbuat jelek sudah dia ciptakan, tapi kalwa si pelaku berubah pikiran bisa saja dia mengurungkan niatnya untuk berbuat jahat.

    Niat amat berperan penting dalam hidup seseorang. Niat yang sudah benar benar tertanam dalam dada seseorang akan dieksekusi dan akan dilaksanakan jika sudah datang masa (waktu) yang tepat. Bahkan jika niat sudah membara, apalagi niat yang baik, tentu akan melakukan apa saja agar niat baiknya terwujud. Anda punya niat menyumbang, maka anda bisa menyumbang di mana saja bisa anda lakukan. sama halnya jika anda punya niat jelek. Jika niat jelek sudah ada diotak anda, maka apapun akan anda lakukan agar niat jelek anda itu terwujud. Niat adalah biang keladi dari semua tindak kejahatan dimuka bumi ini.

  • Kesempatan
    Nah ini juga ada kaitannya dengan Niat yang sudah saya paparkan secara singkat pada bagian atas. Kesempatan (opportunity). Jika tidak ada niat jahat dalam diri seseorang, walaupun didepannya ada kesempatan, maka sudah dipastikan orang itu tidak akan melakukan tindak kejahatan. Bahkan orang itu bisa saja mengembalikan kepada yang berhak atasnya. Sebagai contoh yang amat sederhana adalah menemukan dompet di jalan. Jika orang itu berniat baik, maka ia akan mengembalikan dompet beserta isinya itu kepada pemiliknya.

    Contoh sederhana lainnya adalah kantin kejujuran. Nah kantin kejujuran adalah kantin tanpa awak. Maksudnya semua penganan, makanan disajikan di meja. Jadi jika anda jujur dan tidak ada niat "korupsi" kue yang anda makan, maka anda akan membayar kue di kantin kejujuran sebanyak kue yang anda makan. Jangan curang. Makan Bakwan habis 5 biji tapi ngakunya makan 2 saja, dan membayar sesuai yang dia bilang, yakni 2. Bukankah itu anda sudah berniat tidak baik?.

    Jadi dalam pemikiran saya, kesempatan itu bersifat relatif. Jika anda memang sudah dari awal punya niat jelek, kesempatan bisa diciptakan, Dan jika ada kesempatan terbuka tentu akan anda sambar. Namun jika anda memang tidak punya niat jelek, atau niat berbuat tidak baik, maka kesempatan terbuka pun tidak akan ada perdulikan

Motif Ekonomi
Nah dari semua itu masih ada lagi yang akan saya coba bahas secara singkat saja dalam tulisan ini. Salah satu unsur yang tidak kalah penting "mengapa orang mencuri" adalah motif. Motif seseorang melakukan suatu kegiatan tentu mempunyai maksud dan tujuan yang hanya dimengerti oleh yang bersangkutan. Seseorang mencuri sesuatu yang bukan miliknya dari orang lain mempunyai motif tertentu.

Ekonomi.
Ini adalah biang keladi dan dianggap sebagai motif yang utama seseorang melakukan tindak kejahatan pencurian baik curas (pencurian dengan tindak kekerasan) maupun pencurian dalam bentuk yang lain. Motif ekonomi. Orang mencuri karena ingin mempertahankan hidupnya. Mencuri untuk makan. Barang hasil curiannya kemudian dijual kepada pihak lain (penadah-red), dan uang hasil penjualan barang curiannya itu digunakan untuk keperluan makan dirinya maupun anggota keluarganya.

Dalam pandangan saya pribadi, motif Ekonomi, masih masuk akal. Orang akan mati jika tidak makan. Dan salah satu cara untuk bisa makan adalah dengan mencuri. Dari hasil curiannya itulah akan dijual, dan uangnya digunakan untuk membeli makanan kepada anak istri dan anggota keluarganya. Maksudnya baik, hanya saja caranya tidak baik. Mencuri adalah perbuatan melawan hukum (against the law-red) dan si pelaku harus diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Haruskah kita maklumi orang yang mencuri karena untuk menyambung hidupnya atau mencuri untuk makan sehari hari?

Kita harus membedakan perbuatan baik dan perbuatan buruk. Perbuatan baik adalah menafkahi anggota keluarga dengan rezeki dan harta yang diperoleh dengan halal. Begitupula dengan cara kita mencari harta dan rezeki pun harus dengan cara yang baik dan halal pula. Kita harus tegas untuk mengatakan TIDAK kepada pencuri untuk makan. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk bisa bertahan hidup dengan tidak mencuri.

Apapun alasannya, mencuri itu tetap tidak bisa dibenarkan. Mendcuri adalah perbuatan tidak baik. Mencuri itu perbuatan jahat.


Sejak kita dilahirkan dari perut ibunda, kita lahir sebagai bayi mungil yang lucu dan semua orang menatap kita dengan penuh bahagia. Air mata yang jatuh menetes dari mata ibunda terasa semakin lengkap dengan peluk sayang ayah kepada kita saat masih bayi. Ditimang timang kita dengan penuh rasa kasih sayang yang tulus dari kedua orang tua hingga kita beranjak memasuki usia balita.

Kemudian dari Balita kita memasuki usia playgroup dengan teman bermain yang lucu lucu hingga kemudian kita menamatkannya. Lalu kemudian dilanjutkan dengan memasuki usia TK, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Mengengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Perguruan Tinggi dan kemudian bekerja dan menikah. Memiliki anak, dan hingga pada akhirnya mengantarkan kita pada usia sekarang ini. Sungguh suatu rangkaian urutan kejadian yang teratur sejak dari buaian sang bunda hingga sekarang di usia sekarang ini. Apa yang dapat kita pelajari dari proses dari kecil hingga dewasa ini?

Nantikan cerita nanti ya. Gue dah mau pulang heehehehehe




Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog From Indonesia