Help us to keep our home

Dear Blog,

Kalaw membaca judul posting saya kali ini "Selamat datang di negeri Penjilat" memang sudah terbayang dalam benak bloggers semua. Siapa sih yang dimaksud dengan "penjilat" itu. Ada yang bilang itu (penjilat-red) masih dalam koridor sebuah negara yang carut marut karena skandal korupsi. Tetapi ada juga yang bilang hanya terjadi di sebuah negeri yang memang rata rata "penduduknya" punya hobi atau kegemaran menjilat. Nah pertanyaan sederhana akan muncul "Siapa yang menjadi Penjilat?" dan "apa yang dijilat?" nah kedua pertanyaan ini akan dicari jawabannya.

Memang susah kalaw sebuah negeri penuh dengan para penjilat yang suka menjilat jilat atasannya hanya untuk cari selamat, cari keuntungannya sendiri, serta cari kesempatan untuk menumpuk harta sebanyak banyaknya, tidak perduli orang lain, masa bodoh dengan peraturan perundangan yang berlaku, dan memberangus hak dan kebebasan berpendapat jika perlu. Kita sebut apakah orang yang berperilaku seperti ini?. Kalaw disebut teroris juga tidak mungkin karena memang tidak ada hubungannya dengan keamanan nasional (national security-red).

Apa sih syarat untuk bisa menjadi penjilat?. Saya sendiri bingung untuk menjawabnya hahaha. Aneh kan bertanya sendiri, tapi nda bisa jawab sendiri. Kira kira sih untuk bisa menjadi "penjilat karir" tentu ada tahapannya. Yang paling umum adalah syarat untuk bisa cepat kaya, cepat makmur dan cepat hidup mapan dengan cara menjilat pimpinannya. Memang nyaris tidak beda dengan Kerbau dicucuk hidung sih, tapi penjilat yang satu ini selalu menuruti apapun yang diinginkan sang atasan. Apa pun diberikannya, bahkan kalaw perlu nyawa sekalipun. Hahha lucu apa tolol?

Kalaw dibilang bodoh ya nda juga karena kebanyakan lulusan S1 alias sarjana. Namun sikap dan perilakunya yang menjilat atasan memang lebih tepat disebut 'pengkhianat' kemanusiaan daripada teroris hehehe. Mengapa dikaitkan dengan rasa kemanusiaan, ya karena sang penjilat sudah tidak hati, perasaan dan tidak dapat menggunakan otaknya dengan benar selain menuruti hawa nafsu serakah dan tamak harta sang pimpinan, para penjilat ini semuanya kompak dan bersatu padu membela sang atasan yang sudah banyak memberikan hadiah hadiah baginya.

Menyedihkan memang disaat umur sudah tidak muda lagi. Di saat banyak orang yang lebih memperdalam agamanya, dan mendekatkan diri kepada sang Pencipta, ALLAH SWT, para penjilat ini masih sibuk 'hunting' harta dan memperkaya diri. Soalah tidak perduli 'apa kata dunia'. Ya mereka memang tidak perduli dengan kebenaran, karena mereka para penjilat karir yang baru berangkat dewasa. Masih miskin pengalaman dari para senior sekelas Gayus Tambunan yng nilep uang Pajak lebih dari 24 milyar itu. Mereka para penjilat kelas teri yang berlagak seperti eksekutif sekelas Eddie Tansil yang masih buron itu.

Penjilat kelas teri memang banyak yang betingkah. Tidak tau malu


Dear Blog

Kalaw diliat dari judul postingan blog saya hari ini "cari selamat sendiri sending terbentuk dalam mindset rekan bloggers semua yang saya cintai?. Tentu gambarannya berbeda beda antara satu blogger (reader) dengan blogger atau reader/pembaca yang lain bukan. Ada yang berkomentar 'ah ini kan pasti menyangkut bencana alam (gunung meletus, bancir, tanag longsor atau kebakaran) jadi sebaiknya cari selamat sendiri sendiri. Ada juga yang komentar wah ini kan kalimat perintah. Nah sana cari selamat sendiri sendiri. Hehehe nah masih banyak lagi komentar yang mungkin timbul setelah membaca judul postingan blog saya ini. Itu semua benar. Karena pengertian judul yang saya buat kali ini mempunyai makna dan arti berbeda beda sesuai dengen prespektif rekan blogger semuanya.

Namun dalam hal ini , maksud saya menulis ini, sebagai koreksi, dan kontrol sosial. Lepas dari tema facebook yang sering saya gunakan sebagai salah satu senjata untuk menghantam lawan, kali ini tidak saya gunakan lagi. Bukan karena , karena selain tidak mendapat dukungan dari rekan facebookers, posisi saya dianggap rawan, dan terlalu berisiko untuk diteruskan. Banyaknya penjilat dan mata mata di sekitar account facebook saya membuat saya berpikir ulang jika harus meneruskan "perjuangan" menegakkan kebenaran, dan moral di jalur jejaring pertemanan itu.

"AH mengapa pula saya harus membela orang orang mendingan juga mikirin diri sendiri. Toh orang lain juga tidak memikirkan aku, jadi buat apa aku harus memikirkan mereka" gitu kira kira gumam mereka. Memang kenyataanya begitu. Mereka yang suka cari selamat sendiri biasanya sudah menikmati fasilitas dan gratifikasi (hadiah-hadiah-red) dari seseorang yang memiliki banyak uang, pengaruh dan kekuasaan. Begitu seringa mereka diperlakukan istimewa, begitu sering memperoleh gratifikasi (hadiah-red) dari orang itu, apakah salah jika mereka membela "mati matian" orang itu kalaw perlu dengan darah mereka sendiri sebagai bukti "balas budi" atas semua yang diperlolehnya selama ini. Oh tidak , sama sekali tidak salah. Saya pun (mungkin) akan melakukan hal yang sama jika dipihak mereka.

Di sisi lain, dan dalam prespektif ku, mereka ini penjilat. Mengapa disebut penjilat, ya karena sudah menikmati fasilitas, hadiah, reward dan jabatan dari orang itulah maka segala daya upaya, fokus dan perhatian tercurahkan kepada sang "Robinhood" itu sebagai bentuk ucapan terima kasih dan balas budi. Inilah persoalan intinya, dan sudah perna saya tulis dalam edisi postingan saya sebelumnya yang berjudu; "angan berhutang budi pada orang. Tidak ada lagi rasa "kebangsaan" terhadap kawan sendiri. Tidak ada lagi rasa kasihan kepada kawan sendiri. Tidak ada lagi rasa perduli dengan kawan seperjuangan. Dan yang lebih menyedihkan lagi, apa pun akan dilakukan untuk membela sang "Robinhood", bahkan kalaw perlu pasang badan.

Saya sebenarnya kasian mereka ini. Dalam hati mereka sebenarnya setuju bahwa KEBENARAN itu apa pun bentuknya memang sebaiknya didukung dan diperjuangkan. Karena rasa hutang budi, dan hutan jasa kepada seseorang itulah, mereka kini menjadi "buta" atau "dibutakan" mata hatinya sehingga tidak bisa merasakan dan melihat kebenaran. Apa pun akan dilakukan sesuai "pesanan" sang "RobinHood".

Tidak perduli kata orang. Tutup telinga, tutup hati, dan tutup perasaan. Hantam saja membela habis habisan sang "RobinHood". Dan mereka memang tidak punya pilihan lain, mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus melakukan apa pun sesuai "pesanan" dan kepentingan sang "dermawan". Mereka memang tersudut, dan tidak punya pilihan untuk menjadi "anak baik" dan penurut seperti kerbau yang dicucuk hidungnya oleh sang Penggembala. Harus manut dan nurut kalaw tidak mau semua yang sudah diterimanya (gratifikasi, hadiah-red) itu akan diminta kembali. Mereka juga takut kehilangan jabatan yang sudah enak enak didudukinya. Ini menlingkaran setan.


Dear Blog,

Tidak terasa lebih dari 3 (tiga) tahun saya ber"tugas" sebagai salah satu perwakilang KangGURU Indonesia. Sejauh ini terdapat 7 (tujuh) orang perwakilan KangGURU Indonesia yang bertugas atau ditugasi di Indonesia. Nah barangkali ada yang belum kenal dengan mereka, ok saya perkenalkan mereka yaitu Saptari Wibowo (KGI Representative Medan -Nort Sumatera), Fadel Muhammad (KGI Representative Mataram - NTB), Ririn Pudya (KGI Representative Kediri- East Java), Keyko Sri Rahayu (KGI Representative Semarang - Central Java), Syahrir Badulu (KGI Representative Makasar - South Sulawesi ), Suryadi Ningrat (KGI Representative Madura), dan tentunya adalah saya sendiri, Asep Haryono, KGI Representative Pontianak. Ya kami memang KangGURU Champion sodara sodara hehehe.

Pertanyaan besar mungkin bermunculan dibenak rekan blogger semua?. Siapakah kami sebenarnya?. Apa yang kami lakukan ber 7 ini di Indonesia? Well, pertanyaan pertanyaan itu sebaiknya saya coba jawab di sini. Ya kami adalah 7 (tujuh) orang pemuda dari seluruh Indonesia yang menyumbangkan tenaga, kontribusi, dan sumbangsih kepada KangGURU Indonesia dan untuk menyebarluaskan dan mempromosikan kegiatan dan program program KangGURU Indonesia di seluruh wilayah Indonesia.

Kamilah, 7 orang ini, yang berhasil terpilih dari ribuan fans dan pencinta KangGURU Indonesia yang aktif berpartipasi dalam forum diskusi yang diselengarakan oleh KangGURU Indonesia dalam website. Ribuan orang itu juga termasuk pembaca setia majalah KangGURU Indonesia yang terbit 4 (empat) Kali setahun yakni di bulan Maret, Juni, September dan Desember setiap tahun.

Saya sebelumnya memang aktif dan punya pengalaman dalam berpartisipasi di Majalah KangGURU Indonesia mulai dari tahun 2000 an hingga 2007. Dan memang kebanyakan dari kami ber 7 berprofesi sebagai penyiar radio KangGURU di tiap wilayah yang diwakili. Ada juga yang berprofesi sebagai penyiar sekaligus Guru Bahasa Inggris, ada juga sebagai Pegawai Negeri dan Karyawan Swasta. Saya termasuk yang terakhir ini.

Kami memang banyak "tugas" yang harus dilakukan dalam rangka mempromosikan program kerja KangGURU Indonesia. Sebagai contoh seorang "champion" (sebutan KangGURU Indonesia untuk kami ber7-red) melakukan koordinasi dan kerja sama dengan radio RRI ditiap wilayah masing masing yang diwakilinya. Kegiatan lainnya adalah membina Klub Klub Bahasa Inggris (KangGURU English Connection Club- KGCC) di tiap wilayah yang diwakili (KGCC kini sudah diclose , dan juga 2 program KangGURU Indonesia lainnya seperti Teacher club dan juga kami sendiri Champion-red). Kami pun mencari radio radio swasta lainnya untuk diajak bekerja sama dengan KangGURU Indonesia dalam menyiarkan program program KangGURU Indonesia. Untuk di propinsi Kalimantan Barat, siaran KanggURU Indonesia bisa didengarkan dari RRI Sintang dengan gelombang 96,6 Mhz setiap hari Sabtu jam 16.30 WIB.

Perlu dicatat di sini dan dicatat di sana (hehehe bingung ya), walaupun kami ke Bali hampir setiap tahun meeting dengan KangGURU Indonesia, dan IALF, memperoleh tools , promo items, dan bahan bahan kelengkapan lainnya, tapi kami tidak digaji. Kami tidak menerima upah, gaji, atau honor apapun dari KangGURU Indonesia. Dan KangGURU Indonesia tidak pernah membayar kami dalam bentuk uang tunai. Kami ber 7 adalah sukarelawan atau Volunteer. Yang menjadi pertanyaan kenapa baru 7 atau apa masih bisa menambah perwakilan lagi menjadi lebih dari 7?. Jawaban untuk saat ini adalah kangGURU Indonesia belum sampai ke sana.

Each of us ,those Seven KGI Representatives , make a monthly report to KangGuru Indonesia in a regular basis. The reports of each KGI representatives in their areas, and the reports might usually be accompanied with photos taken or just simple reports with standard format that has been approved by KangGuru.

Unlike Stringer from the Voice of America (VoA), this KGI representatives is not a job, and we donot get any paid at all from the KangGURU Indonesia. As I told you before that most of the work to be done are free of charges and we are really volunteer workers. We hope that people will understand our position and be pleased to work together with us by providing some information we need.


Kira kira itulah gambarannya. Dan sepeti yang saya tulis dalam judul posting di atas bahwa bulan Juni 2010 adalah akhir "masa tugas" saya sebagai salah satu perwakilan KangGURU Indonesia. Timingnya bersamaan dengan berakhirnya masa Tugas Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bill Farmer, dan CEO Pak Geoff Crewes selesai bertugas sebagai CEO IALF. Mereka berdua kembali ke Melbourne, Australia. 7 orang Champion akan dikembalikan ke "habitat" nya masing masing. Sebagai sipil. Hehehehe

Semoga AusAID, dan Kedutaan Besar Australia di Jakarta kembali mendanai proyek KangGURU Indonesia untuk masa bhakti 2010-2015 yang akan datang. Harapan saya besar sekali KangGURU Indonesia yang sudah banyak membantu mempererat hubungan Indonesia - Australia di bidang kebudayaan , pelatihan dan Pendidikan ini dalam terus eksis menjalankan misinya hingga 5 tahun yang akan datang.





Dear Blog,

Ku tulis posting kali ini yang berisi dan berjudul "Ya Allah Aku Tak Sanggup". Sebagai hamba Allah yang lemah ini, kini aku sudah tidak sanggup lagi melihat betapa banyaknya kebobrokan di negara ku ini. Begitu banyak ketidak adilan di sekitarku ini. Betapa banyak ketidakperdulian di sekitarku ini. Betapa banyak manusia rakus di sekitar ku ini. Betapa banyak manusia tamak (greed-red) di sekitar ku ini.

Betapa banyak orang munafik di sekitar ku ini. Dan betapa banyak penjilat di sekitar ku ini. Kapankah aku bisa keluar dari "kerajaan setan" ini?. Aku tidak mampu merubahnya dengan tangan ku sendiri. Karena Apa? Karena aku tidak punya wewenang, aku tidak punya power. Aku adalah orang yang diremehkan ditempat ku sendiri. Diriku sama sekali tidak diperhitungakn di lingkungan ku. Aku dianggap "tidak ada" (not exist-red) jika mereka tidak "memerlukan" diriku.

Dicampakkan. Siapa mencampakkan siapa?. Ini memang sebuah pertanyaan yang tidak bisa kujawab dan pastinya aku masih mencari tau apa benar siapa mencampakkan siapa di sini?. Mengapa masih ada orang yang hanya memerlukan orang lain saat diperlukan saja, dan dalam keadaan normal orang itu sudah dianggap tidak ada. Apakah ini yang dinamakan habis manis sepah dibuang?.

Tren sekarang ini adalah bagaimana memanfaatkan tenaga orang semaksimal mungkin, kalaw perlu diperas habis habisan dengan imbalan yang minim. Apa iya begitu?. Teori zionis yang menyebut "mencari laba yang sebesar besarnya dengan modal yang sekecil kecilnya" kini sudah lama ditinggalkan orang. Taktik memanfaatkan orang lain untuk memperkaya diri sendiri juga sudah lama dibaca orang. Ini taktik jadul alias ketinggalan zaman.

Coba saja liat kasus Penggelapan Pajak yang dilakukan oleh Gayus Tambunan itu. Dengan seenaknya duit pajak digelapkan (baca: dikorupsi-red) dengan nilai yang fantastis sebesar 25 Milyar rupiah. Coba kita telaah dari dalam hati. Mengapa Gayus Tambunan melakukan itu semua? Benarkah dia melakukannya itu sendirian atau bersama sama dengan orang lain?. Namun apa pun itu alasannya, dan apa pun motifnya yang jelas dana pajak sebesar 25 Milyar sudah raib entah kemana mana. Konon duit 25 Milyar rupiah (Suatu jumlah yang mungkin tidak akan bisa saya kumpulkan- red) sudah berbentuk deposito, tabungan yang nolnya banyak diberbagai bank, flat dan apartemen mewah.

Serakah dan Tamak. Dua sifat manusiawi ini kerap menghinggapi orang yang dibenaknya melulu lembaran pecahan Rp.100.000,- (seratus ribu rupiah-red) bahkan bola matanya pun bukan warna hitam, melainkan warna pecahan uang. Begitu kira kira saya menggambarkannya dengan mudah. Setiap orang yang diliatnya bagaikan lembaran lembaran pecahan Seratus Ribuan yang melayang melayang yang harus dipegang, digenggam dan kalaw perlu ditimbun sebanyak banyaknya.

Serakah. Tidak pernah merasa cukup. Apa apa semuanya demi uang, Apa pun dibisniskan. Tidak perlu keluar modal banyak, asal mendapat laba yang semaksimal mungkin kalaw perlu menginjak martabat orang, merampas hak yang bukan miliknya asal dirinya semakin kaya, dan bertambah kaya tiap detik demi detik. Sungguh tidak tau malu prilaku orang seperti ini. Mengharapkan laba semaksimal mungkin dengan modal dan pengorbanan yang seminim mungkin. Itulah ciri ciri kasat mata dari sifat kikir, pelit, tamak dan serakah yang kini menjadi tren di jaman edan yang menomor satukan materi duniawi sekarang ini. Oala edan..edian.

Satu nasehat bijak hari : Jangan Serakah. Jangan Tamak. Aku tidak sanggup lagi ya Allah. Tangan ku tidak dapat menjangkau mereka. Kutelah berusaha memperbaikinya namun kemampuanku sangat terbatas. Dalam lemahnya diri ini, ku berusaha menyakin diri ini bahwa aku tidak setuju dengan sifat tamak dan serakah mereka.

Ku tak sanggup.......
Tag : Uang - Asep Haryono | Uang - Powered by Blogger

Dear Blog,

Siapa sih yang nda mau duit atau uang?. Money dalam bahasa Inggris, fulus atau arta dalam Bahasa Jawa. Setiap orang bekerja siang malam, kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala, bahkan tidak perlu libur biarpun hari libur keagamaan, atau hari libur nasional tetap produksi perusahaan, alias tidak ada habisnya dihabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mencari uang. Salahkah itu? Oh tentu naif kalaw dikatakan orang yang mencari uang itu dikatakan naif. Setiap orang berhak mencari uang. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah "bagaimana cara ia mencari uang?" dan "Bagaimana uangnya itu dihabiskan?". Nah dari dua pertanyaan inilah saya cuba menuliskannya dalam postingan blog saya hari ini.

Uang sebagaimana kita tau adalah alat yang digunakan untuk membeli atau membayar sesuatu. Dari pengertian di sini bisa kita katakan bahwa secara umum apa yang kita gunakan ini memiliki fungsi sebagai perantara atau sebagai alat pertukaran barang dengan barang, dan juga sebagai salah satu cara untuk menghindarkan perdagangan dengan cara barter. Fungsi uang di sini bisa kita pilah pilah lagi menjadi 2 (dua) bagian yakni fungsi Uang Asli dan Fungsi Uang Turunan.

Pertama, fungsi Uang Aseli memiliki tiga makna yakni sebagai alat tukar (medium of exchange), sebagai alat satuan hitung (unit of account), dan sebagai penyimpan nilai (valuta). Sedangkan Fungsi uang yang terakhir adalah fungsi Turunan. Fungsi Turunan dari Uang antara lain sebagai alat pembayaran, juga bisa digunakan sebagai alat pembayaran utang, sebagai alat untuk menimbun dan atau juga sebagai pemindah kekayaan berupa modal dan juga berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan status sosial anda.

Orang yang banyak uang biasanya memiliki tingkat kepercayaan yang sangat tinggi. Begitu tingginya sampai anda bisa meremehkan orang yang tidak mempunyai uang. Di mata anda, mereka yang tidak punya uang sebanyak yang anda punya memang layak diinjak harga dirinya. Mereka bisa anda injak harkat dan martabatnya karena anda merasa uang anda adalah cerminan personality anda. Anda bisa dengan bebas meremehkan orang lain hanya karena orang lain tidak memiliki uang sebanyak yang anda punya. Orang lain tidak punya uang , lalu anda kritik habis habisan orang itu. Anda kritik orang yang tidak punya uang dengan kriteria yang anda buat sendiri. Orang tidak punya uang anda salahkan mengapa bisa tidak punya uang. "Anda tidak punya uang, karena anda pasti sangat boros. Anda perlu berhemat" begitu kata Anda.

Bahkan segala sesuatu perlu anda ukur dengan Uang. Bahkan perut orang pun diukur dengan takaran perut anda. "anda tidak akan bisa kaya bekerja di sini" begitu kata Anda. "Ingatlah, uang masuk dipermudah, dan uang keluar dipersulit" begitu kata Anda. Segala sesuatu adalah diukur dengan uang. Dalam otak anda adalah bagaimana lembaran lembaran pecahan seratus ribu yang melayang di dunia ini , kalaw perlu, masuk semuanya ke kantong anda. Anda perlu kaya, sekaya kayanya kalaw bisa. Bahkan perlu masuk Guiness Book of Record, sampai menjadi orang terkaya di planet bumi ini kalaw perlu. Begitulah cerminan diri anda. Uang adalah Anda, dan Anda adalah Uang. Setali tiga uang. Anda= Uang.

Saya sebenarnya kasian melihat anda yang begitu bernafsu menjadi kaya raya. Bahkan kalaw perlu dengan memeras tenaga orang lain. Anda bebankan target pemasukan uang sebanyak banyaknya dari staf atau pegawai anda, dan anda perlu menekankan kepada bawahan anda untuk bekerja keras memperkaya diri anda karena anda adalah atasan mereka. Kalaw tidak senang, anda dengan mudah untuk mempersilahkan untuk pindah dari kepemimpinan anda. Uang, Uang, Uang dan Uang dalam otak anda.

Satu hal yang anda lupakan. Janganlah uang itu menjadikan anda menjadi budak hina yang hanya bisa diperdaya oleh uang yang sebenarnya bukan menjadi tujuan kita hidup di dunia ini. Kita semua , cepat atau lambat , akan menjadi tua (old) dan anda akan kembali menghadap Allah SWT. Kelak di akhirat tentu anda akan ditanya "darimana uang anda berasal" dan "bagaimana uang anda akan dihabiskan". Bisakah semua itu menjadikan anda sadar bahwa uang bukanlah segalanya. Mereka adalah manusia sama seperti kita. Kita semua memang perlu uang, tapi janganlah hanya karena uang anda menjadi jahat (evil) dan mempunyai sifat kikir, tamak alias rakus terhadap uang.

Coba simak saja pesan bijak dari Mario Teguh The Golden Ways dalam tayangan hari ahad (28 Maret 2010) lalu bahwa "Kekayaan sesungguhnya bukan apa yang anda miliki. Kekayaan adalah sesungguhnya apa yang anda syukuri karena di sanalah letak kekayaan anda yang sebenarnya". Dalam hadis juga disebutkan bahwa "Orang Kaya adalah orang yang sedikit keperluannya. Kekayaaan tidak selalu berbentuk materi yang secara fisik bisa kita sentuh, kita pakai dan kita gunakan. Kekayaan hakiki pemberian Allah SWT adalah kekayaan yang ada dalam hati kita masing masing. Berhati bijak, kasih sayang terhadap sesama, hati yang bersih dalam memandang hidup ini sebagai sarana untuk beribadah kepada ALLAH SWT adalah salah kekayaan anda yang sesungguhnya.




Dear Blog,

Seperti yang tertulis pada judul posting di sini kali ini adalah "jangan banyak berhutang jasa kepada seseorang" memang keliatan naif di saat orang pada berlomba untuk mencari penghidupan yang layak dengan berbagai cara. Mau cara yang mana, mau cara yang halal atau tidak halal? Itu semua terpulang kepada anda. Setiap orang berhak mencari penghasilan setinggi tinggi dan sebanyak banyaknya darimana pun sumber nafkah itu berasal niscaya orang akan memburunya sampai ke akar akarnya. Dari penghasilan yang didapat itulah kiranya akan digunakannya untuk membiayai hidupnya sendiri. Sungguh suatu roda kehidupan yang sebenarnya wajar wajar saja saat ini. Wajar dalam artian memang begitulah ritme kehidupan kita di dunia. Bekerja untuk menyambung nafkah sehari hari.

Peran seseorang dalam memuluskan karir seseorang bisa memainkan peran yang besar dan sangat berarti dalam hidupnya. Apakah peran itu sengaja diciptakan atau peran itu tidak sengaja tercipta dalam membentuk suatu hubungan. Apakah itu hubungan dalam koridor pertemanan atau pekerjaan. Kedua peran yang dimainkan oleh seseorang bisa mempengaruhi pola pikir orang itu dikemudian hari. Meminta bantuan orang lain boleh boleh saja dilakukan karena harkat dan hakekat kita sebagai manusia memang untuk saling membutuhkan. Namun terkadang streotip ini dibalikan menjadi tidak sesuai dengan semestinya. Orang memberikan pertolongan atau bantuan mempunyai maksud dikemudian hari. Apakah kita berprasangka buruk terhadap orang yang memberikan bantuan kepada kita?. O tidak saya tidak bermaksud demikian. Kita tidak (seharusnya) mempunyai perasaan jelek terhadap orang yang menawarkan bantuan kepada kita apapun bentuknya, bahkan bantuan doa sekalipun. Tapi bantuan seperti apa? Doa yang bagaimana? itu menjadi pertanyaan.

Yang menjadi persoalan sekarang adalah output atau "hasil" pemberian seseorang terhadap diri kita akan akan mengubah diri kita menjadi tidak perduli dengan orang lain?. Apakah pemberian seseorang terhadap diri kita telah mengubah diri kita menjadi kurang peka terhadap kebenaran di depan mata. Saya tau karena sudah melihat dengan mata kepala sendiri. Betapa suatu kebenaran itu diinjak injak secara vulgar dan mereka tidak mampu berbuat apa apa untuk mengubahnya. Mereka punya jabatan, punuya wewenang dan pengaruh yang besar, namun semuanya itu tidak bisa membuatnya peka terhadap kebenaran, Mereka menjadi 'buta' akan kebenaran dan tidak dapat mengubahnya karena seseorang telah berjasa besar kepada dirinya.

Itulah salah satu hal yang sangat saya sayangkan dari rekan rekan dan kawan kawan semua. Saya bisa memahami posisi kawan kawan yang dimanja dan mendapat banyak gratifikasi dari seseorang yang akhirnya membuat diri kalian menjadi berhutang jasa dan berhutang budi pada seseorang. Apakah bisa disalahkan kawan kawan "membela" orang yang telah berjasa kepadanya? O tidak tentu saja tidak. Memang sudah seharusnya jika anda mendapatkan banyak bantuan dan gratifikasi dari seseorang, anda harus "membela" orang yang telah banyak memberikan anda sokongan. Itu tidak dapat disalahkan dari sudut tertentu, namun tidak baik untuk dicontoh dari sisi kemanusiaan. Yang saya sesali adalah kawan kawan tidak dapat melihat kebenaran karena kawan kawan telah banyak berhutang jasa kepada seseorang. Sekali anda terjebak dalam lingkaran itu maka sedetik pun anda tidak akan lepas dari cakar cengkeramannya.

Saran bijak : Jangan (banyak) berhutang Jasa Pada Seseorang


"


Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog From Indonesia