Tag :
Travel Notes
- Asep Haryono | Mengunjungi Pasar Dekso Kalibawang Jogjakarta - Powered by Blogger
![]() |
| Tugu Jogja. Foto Asep H |
Ini adalah catatan kecil perjalanan saya mengunjungi kota Jogjakarta pada bulan Nopember 2010 yang lalu tepatnya berada di sana lebih kurang 4 (empat) hari di daerah Kulon Progo Jogjakarta.
Kalau mendengar nama Kulon Progo sering diplesetkan menjadi "West Prog" West artine Kulon, Prog =progo dadi Kulon Progo mbah" gitu kira kira kata orang, wah saya pikir kedengarannya agak berbagu keju (kebarat baratan-red) juga yah hmm boleh boleh juga nih.
Pasar Dekso Kalibawang memak unik dan mempunyai sejarah, namun saya tidak bercerita sejarah ini karena ini bukan pelajaran sejarah hehehee.. Nah nama Kalibawang sendiri adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menurut wikipedia disebutkan bahwa "alibawang merupakan kawasan Agropolitan Kabupaten Kulonprogo. Kecamatan Kalibawang memiliki luas 52,97 Km2 atau 9,03 % dan luas Kabupaten Kulonprogo, yang terdiri dari 4 desa yakni Banjararum ,Banjaroyo, Banjarharjo dan Banjarasri. Saya sempat mengunjungi Pasar Dekso Kalibawang yang konon kata penduduk setempat cukup ramai, dan selalu sibuk di waktu pagi. Wah menarik untuk saya telusuri terutama sajian penganan yang namanya Gaplek yang menurut lidah saya rasanya Gurih, dan bentuknya mirip pem.
Sekilas Pasar Dekso Kalibawang:
Pasar Tradisional di Kaki Menoreh Pasar tradisional masih menjadi denyut nadi perekonomian masyarakat pedesaan di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu yang menarik untuk dibahas adalah Pasar Dekso, sebuah pasar yang terletak di Kalibawang, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berada di kawasan Banjararum, di kaki perbukitan Menoreh, pasar ini bukan hanya menjadi pusat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang interaksi sosial yang memperkuat ikatan antarwarga.
Lokasi dan Akses
Pasar Dekso berada di jalur strategis yang menghubungkan wilayah Kulon Progo dengan Sleman. Dari pusat Kota Yogyakarta, pengunjung dapat menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan kendaraan pribadi. Akses ke lokasi relatif mudah melalui jalan utama, meskipun beberapa bagian masih sempit khas jalur pedesaan. Pengguna transportasi umum bisa menggunakan bus dengan rute Jogja–Godean yang berhenti dekat area pasar. Bagi wisatawan, aplikasi navigasi seperti Waze atau Google Maps juga dapat membantu menemukan lokasi dengan lebih mudah.
Suasana dan Aktivitas Pasar
Seperti halnya pasar tradisional lain, Pasar Dekso menawarkan suasana yang khas. Sejak pagi hari, para pedagang sudah menata dagangan mereka: sayur-mayur segar, buah-buahan, kebutuhan pokok, pakaian, hingga perlengkapan rumah tangga sederhana. Warga setempat datang untuk berbelanja kebutuhan harian sekaligus bercengkerama dengan tetangga.
Pasar ini juga dikenal dengan istilah “pasar kliwon”, yang merujuk pada hari pasaran dalam penanggalan Jawa. Pada hari-hari tertentu, jumlah pedagang dan pembeli meningkat, sehingga pasar terasa lebih ramai. Tradisi pasar kliwon ini menambah warna budaya lokal yang masih lestari hingga kini.
Selain aktivitas pada siang hari, di sekitar Lapangan Dekso yang tidak jauh dari pasar, sering diadakan pasar malam. Acara ini biasanya diisi dengan berbagai hiburan rakyat, permainan anak-anak, serta jajanan tradisional seperti es dawet dan makanan ringan khas Jawa. Pasar malam menjadi momen yang ditunggu-tunggu warga karena menghadirkan suasana meriah, sekaligus tempat rekreasi murah meriah untuk keluarga.
Meski menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat Kalibawang, kondisi Pasar Dekso masih dinilai kurang representatif. Bangunan pasar sudah cukup tua, fasilitas terbatas, dan kenyamanan pengunjung belum sepenuhnya terjamin. Beberapa waktu lalu, DPRD Kulon Progo bahkan mendorong pemerintah daerah untuk segera merevitalisasi pasar ini agar lebih layak dan mampu bersaing dengan pusat perbelanjaan modern.
Namun, keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat pedagang maupun pembeli. Pasar Dekso tetap hidup karena didukung loyalitas masyarakat yang lebih mengutamakan interaksi langsung, tawar-menawar, serta kehangatan suasana yang sulit ditemukan di pusat belanja modern.
Kamu boleh baca - Day 04 : Berbelanja Souvenir di Malioboro
Daya Tarik Budaya dan Ekonomi Lokal
Keberadaan Pasar Dekso tidak bisa dilepaskan dari identitas budaya masyarakat Menoreh. Selain menjadi tempat jual-beli, pasar ini juga berfungsi sebagai ruang sosial. Banyak warga yang sekadar datang untuk bersilaturahmi, bertukar kabar, atau bahkan membicarakan urusan desa. Suasana egaliter ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung luar daerah yang ingin merasakan atmosfer pedesaan Jogja yang autentik.
Pasar ini juga mendukung perekonomian lokal, terutama para petani, pengrajin, dan pedagang kecil. Dengan adanya Pasar Dekso, hasil bumi masyarakat sekitar dapat tersalurkan langsung ke konsumen tanpa harus melewati rantai distribusi panjang. Hal ini membantu menjaga harga tetap terjangkau bagi pembeli sekaligus menguntungkan bagi penjual.
Pasar Dekso Kalibawang adalah contoh nyata bagaimana pasar tradisional masih berperan penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Meski menghadapi tantangan infrastruktur dan modernisasi, pasar ini tetap eksis karena didukung oleh kearifan lokal, budaya, dan semangat kebersamaan warga. Bagi siapa pun yang ingin menyaksikan denyut kehidupan pedesaan Yogyakarta, berkunjung ke Pasar Dekso bisa menjadi pengalaman berharga sebuah perjalanan kecil yang membuka jendela pada budaya dan ekonomi lokal yang kaya makna.
Sekilas Pasar Dekso Kalibawang:
Pasar Tradisional di Kaki Menoreh Pasar tradisional masih menjadi denyut nadi perekonomian masyarakat pedesaan di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu yang menarik untuk dibahas adalah Pasar Dekso, sebuah pasar yang terletak di Kalibawang, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berada di kawasan Banjararum, di kaki perbukitan Menoreh, pasar ini bukan hanya menjadi pusat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang interaksi sosial yang memperkuat ikatan antarwarga.
Lokasi dan Akses
Pasar Dekso berada di jalur strategis yang menghubungkan wilayah Kulon Progo dengan Sleman. Dari pusat Kota Yogyakarta, pengunjung dapat menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan kendaraan pribadi. Akses ke lokasi relatif mudah melalui jalan utama, meskipun beberapa bagian masih sempit khas jalur pedesaan. Pengguna transportasi umum bisa menggunakan bus dengan rute Jogja–Godean yang berhenti dekat area pasar. Bagi wisatawan, aplikasi navigasi seperti Waze atau Google Maps juga dapat membantu menemukan lokasi dengan lebih mudah.
Suasana dan Aktivitas Pasar
Seperti halnya pasar tradisional lain, Pasar Dekso menawarkan suasana yang khas. Sejak pagi hari, para pedagang sudah menata dagangan mereka: sayur-mayur segar, buah-buahan, kebutuhan pokok, pakaian, hingga perlengkapan rumah tangga sederhana. Warga setempat datang untuk berbelanja kebutuhan harian sekaligus bercengkerama dengan tetangga.
Pasar ini juga dikenal dengan istilah “pasar kliwon”, yang merujuk pada hari pasaran dalam penanggalan Jawa. Pada hari-hari tertentu, jumlah pedagang dan pembeli meningkat, sehingga pasar terasa lebih ramai. Tradisi pasar kliwon ini menambah warna budaya lokal yang masih lestari hingga kini.
Selain aktivitas pada siang hari, di sekitar Lapangan Dekso yang tidak jauh dari pasar, sering diadakan pasar malam. Acara ini biasanya diisi dengan berbagai hiburan rakyat, permainan anak-anak, serta jajanan tradisional seperti es dawet dan makanan ringan khas Jawa. Pasar malam menjadi momen yang ditunggu-tunggu warga karena menghadirkan suasana meriah, sekaligus tempat rekreasi murah meriah untuk keluarga.
Meski menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat Kalibawang, kondisi Pasar Dekso masih dinilai kurang representatif. Bangunan pasar sudah cukup tua, fasilitas terbatas, dan kenyamanan pengunjung belum sepenuhnya terjamin. Beberapa waktu lalu, DPRD Kulon Progo bahkan mendorong pemerintah daerah untuk segera merevitalisasi pasar ini agar lebih layak dan mampu bersaing dengan pusat perbelanjaan modern.
Namun, keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat pedagang maupun pembeli. Pasar Dekso tetap hidup karena didukung loyalitas masyarakat yang lebih mengutamakan interaksi langsung, tawar-menawar, serta kehangatan suasana yang sulit ditemukan di pusat belanja modern.
Kamu boleh baca - Day 04 : Berbelanja Souvenir di Malioboro
Daya Tarik Budaya dan Ekonomi Lokal
Keberadaan Pasar Dekso tidak bisa dilepaskan dari identitas budaya masyarakat Menoreh. Selain menjadi tempat jual-beli, pasar ini juga berfungsi sebagai ruang sosial. Banyak warga yang sekadar datang untuk bersilaturahmi, bertukar kabar, atau bahkan membicarakan urusan desa. Suasana egaliter ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung luar daerah yang ingin merasakan atmosfer pedesaan Jogja yang autentik.
Pasar ini juga mendukung perekonomian lokal, terutama para petani, pengrajin, dan pedagang kecil. Dengan adanya Pasar Dekso, hasil bumi masyarakat sekitar dapat tersalurkan langsung ke konsumen tanpa harus melewati rantai distribusi panjang. Hal ini membantu menjaga harga tetap terjangkau bagi pembeli sekaligus menguntungkan bagi penjual.
Pasar Dekso Kalibawang adalah contoh nyata bagaimana pasar tradisional masih berperan penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Meski menghadapi tantangan infrastruktur dan modernisasi, pasar ini tetap eksis karena didukung oleh kearifan lokal, budaya, dan semangat kebersamaan warga. Bagi siapa pun yang ingin menyaksikan denyut kehidupan pedesaan Yogyakarta, berkunjung ke Pasar Dekso bisa menjadi pengalaman berharga sebuah perjalanan kecil yang membuka jendela pada budaya dan ekonomi lokal yang kaya makna.
![]() |
| Kutak Katik. Foto Asep Haryono |
Dari rumah mertua saya saya naik kendaraan motor yang diawaki (pilot) kali oleh Om atau Pak Lek yang memang aseli orang Jogjakarta, dan selama saya trip saya selalu meminta beliau jika ada waktu menjadi Guide saya selama di Jogjakarta. Kadang sendiri naik motor beliau keliling Kulon Progo sampei menyambangi pasar Godean wih seru juga rasanya.
Bingung juga saya dengan motor lek Sap ini karena sebelum berangkat dari rumah semuanya sudah dicek dengan baik, bensin yang sudah di isi walaupun tidak sampai pulteng (baca : full tank) dan juga kedua ban sudah diisi sama angin. Sebab ban kalau tidak di isi angin bisa jadi nda muter.
Lihat saja gaya Lek Sap ini ngutak ngatok motornya sampe pake masker yang biasa dipake kalaw ada debu, udah keren bangeds sampai mirip dokter yang sedang mengoperasi pasien kamar bedah. "Ada apa dengan motornya nih lek sap?" tanya saya saat itu sudah berdiri di depan motor. "Nda cuma ngecek ngecek aja wis sudah beres" kata lek Sap. Saya sempat mengabadikan momen ini dan melihat nomor motor beliau ber plat kendaraan "H" yang menunjuk kota Semarang.
Cukup Nyaman Dan Lengkap
Nah dari rumah saya di antar beliau motor yang kami kendarai memang sempat mogok di jalan dan untung saja bisa diatasi hingga perjalanan saya mengunjungi Pasar Dekso Kalibawang bisa tereksekusi (wih bahasanya) dengan baik. Sayang sekali saya nda ngerti mesin jadi taunya cuma make motor aja hehehe. Andai saya bisa dan ngerti mesin juga belum tentu bantuin lek Sap mbetulin motor mogok ini hehehe (yang ini cuma becanda aja ya tentu donk mbantuin). Karena saat itu saya nda ngerti mesin ya udah saya bantu yang lain aja. Bantu liatin lek Sap mbetulin hehehehe.
Akhirnya sampailah saya di Pasar Dekso Kalibawang ini, dan tanpa ba bi bu lagi saya langsung melihat lihat di beberapa sudut pasar Dekso dan juga beli beberapa menu untuk makan malam di rumah dan juga icip icip makanan yang sudah saya incar yakni Geblek yang asyik juga walau kalau digigit alot rasanya, tapi sensasi rasa gurih dan kenyalnya itu membuat saya ketagihan untuk mencicipinya lagi dan lagi. Nah saya lampirkan di sini beberapa foto yang berhasil saya rekam saat itu :
Nah dari rumah saya di antar beliau motor yang kami kendarai memang sempat mogok di jalan dan untung saja bisa diatasi hingga perjalanan saya mengunjungi Pasar Dekso Kalibawang bisa tereksekusi (wih bahasanya) dengan baik. Sayang sekali saya nda ngerti mesin jadi taunya cuma make motor aja hehehe. Andai saya bisa dan ngerti mesin juga belum tentu bantuin lek Sap mbetulin motor mogok ini hehehe (yang ini cuma becanda aja ya tentu donk mbantuin). Karena saat itu saya nda ngerti mesin ya udah saya bantu yang lain aja. Bantu liatin lek Sap mbetulin hehehehe.
Akhirnya sampailah saya di Pasar Dekso Kalibawang ini, dan tanpa ba bi bu lagi saya langsung melihat lihat di beberapa sudut pasar Dekso dan juga beli beberapa menu untuk makan malam di rumah dan juga icip icip makanan yang sudah saya incar yakni Geblek yang asyik juga walau kalau digigit alot rasanya, tapi sensasi rasa gurih dan kenyalnya itu membuat saya ketagihan untuk mencicipinya lagi dan lagi. Nah saya lampirkan di sini beberapa foto yang berhasil saya rekam saat itu :
![]() |
| GURIH : Inilah Geblek yang membuat saya ketagihan selain rasanya unik, gurih, dan seru banged. Penganan khas West Prog yang selalu saya kangeni. Foto Asep Haryono |
![]() |
| SILAHKAN BELI : Mau beli dalam porsi biasa, kecil atau banyak silahkan monggo monggo. Inilah Geblek yang sangat saya sukia, dan selalu membawa oleh oleh ini Foto Asep Haryono |
![]() |
| MIE : Entah apa namanya makanan ini yang bentuk dan warnanya sangat menggoda , apalagi saya lihat sambalnya yang merah sangat menggugah cita rasa. Hmmm. Foto Asep Haryono |
![]() |
| MIHUN : Ini juga termasuk fave saya mihun apalagi pake sambel, ah sedapnya. Makyus kata Mas Bondan Winarno. Foto Asep Haryono |
![]() |
| JERAMI KAH : Ini saya ambil. gambarnya karena menurut saya unik dan menarik. Wah norak banged saya. Kepo rasanya ya. Foto Asep Haryono |
![]() |
| PASAR DEKSO : Inilah pasar yang menjadi tempat mencari nafkah dan mengadu nasib warga Kulon Progo dan sekitarnya. Foto Asep Haryono |
Kuliner di kota Jogjakarta memang tidak akan ada habisnya diceritain seperi wedang ronde yang sudah saya bahas dalam tulisan saya tentang Wedang Ronde di Angkringan beberapa minggu yang lalu. Rasanya sangat kurang keliling Kulon Progo dan Jogjakarta hanya dalam waktu 4 hari itu.
"Nantilah mas Asep jika ke Jogjakarta lagi akan saya ajak keliling keliling dan akan saya perlihatkan kota Jogjakarta yang seutuhnya" kata Mas Sugeng Harianto rekan chatting saya di Jogjakarta. Ah rasanya ingin sekali berkunjung ke kota yang sering dijuluki sebagai Never Ending City Asia ini, ah kapan ya bisa terlaksana. I don't know. You tell me. (Asep Haryono)







































