Help us to keep our home
Yang namanya maling atau pencuri memang kurang ajar. Sudah dua kali saya kebobolan sama yang namanya tamu yang tidak diundang, dan tadi subuh menjelang paginya ketika saya mau mencuci piring, saya dapati posisi Pompa Mesin Air yang memang terletak secara terbuka di halaman belakang sudah mau dibobol maling.

Rasa kesal tidak terhingga menghinggapi ubun ubun sebab di hari itu saya dan teman teman meronda di depan rumah sampai pake acara bakar jagung segala. Sepertinya memang sudah saya perkirakan sebelumnya kalau mesin pompa air yang terletak di belakang rumah saya itu akan diincar maling. Pasca bobolnya rumah kontrakan saya pada tanggal 1 Mei 2011 lalu memang sudah saya perkirakan sang Maling pasti akan "action" lagi, dan incarannya sudah bisa saya duga kalaw tidak mesin pompa atau telivisi berwarna yang ada di dalam ruangan tamu.

Dalam pengamatan saya saat itu memang sudah ada bayangan kalau si maling pasti akan beraksi kembali. Saat bobol pada tanggal 1 Mei 2011 lalu saya yakin sang Maling sudah melihat posisi mesin Pompa Air yang terletak di Belakang rumah dan dibuat secara permanen dengan pipa pipa paralon yang menyambung ke dalam rumah.

Sedangkan incaran yang lain berupa Televisi Berwarna ukuran 21 Inch memang sudah diantisipasi sejak awal dengan memasukkannya ke dalam kamar yang terkunci dengan sangat kokoh. Posisi pompa Air memang sudah saya perkirakan akan diincar kembali oleh sang Maling. Saya kurang tahu apakah ini maling yang sama saat membobol rumah saya pada tanggal 1 Mei 2011 atau ada "pemaling" baru. I dunno yet. Tapi yang tidak saya mengerti adalah timing maksud saya adalah saya tidak tau akan secepat itu.

Dalam perkiraan waktu memang sudah hampir memasuki bulan ke 3 (tiga) bulan sejak tanggal 1 Mei 2011 yang menyebabkan 3 (tiga) rumah bobol di Komplek Duta Bandara Supadio tempat saya itu. Nah bisa jadi "persediaan" dapur maling sudah mulai terseok seok, dan mencari target baru. Dan maling juga beroperasi pada target target yang sudah berhasil diraihnya seperti target yang terjadi pada rumah kontrakan saya pada hari ini dimana mesin pompa Air sudah terbengkas paku pakunya, namun sang Maling mungkin urung karena posisi Mesin Pompa yang permanen.

Namun ini juga tidak memberikan jaminan, karena bisa saja sang Maling akan langsung mematahkan pipa paralon yang menyambung di mesin Pompa dan membawanya kabur. Memang maling kurang ajar. Dan yang sekarang yang akan saya lakukan adalah mengevaluasi semua sistim pertahanan dan keamanan rumah dengan perangkat yang baru. Smoga dengan diadakannya perangkat keamanan baru dan perangkat keamanan tambahan bisa sedikit memberikan rasa ketenangan di rumah kontrakan saya itu.

Anda punya pendapat lain?

Seperti yang sudah kita ketahui bersama sama bahwa dalam waktu kurang dari 45 (Empat Puluh Lima) hari lagi umat muslim di seluruh Indonesia dan dunia akan memasuki bulan Ramadhan 1433 Hijriah.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah di dalamnya terdapat banyak sekali ampunan dan juga pahala yang ditebar dan diobral dan siap di grab (dipungut) oleh umat muslim di seluruh Indonesia dan juga dunia. Saya merasa apa yang sudah saya lalui dalam ramadhan ramdhan sebelumnya sangat tidak memuaskan, dan saya juga mengakui bahwa saya juga banyak melakukan kemungkaran, kekhilafan dan kesalahan fatal yang bisa saja menggerus pahala puasa saya pada ramadhan ramdhan sebelumnya.

Berpuasa Ramadhan adalah suatu kenikmatan. Jadi jika anda diberi kesempatan untk bertemu lagi dengan bulan suci penuh berkah, Ramadhan, seharusnya anda bersyukur dan memohonkan ampun serta ucapan terima kasih kepada Maha Pencipta, Allah SWT. Ini juga berlaku pada diri sendiri. Sudah sering kali saya diingatkan oleh orang untuk selalu beramal, dan berbuat baik bahkan tanpa bulan Ramadhan sekalipun, namun imbauan dan saran dari orang lain selalu masuk ke telinga kiri dan keluar ke telinga kanan. Saya memang perlu diberi Pelajaran yang keras agar telinga ini bisa mendengar nasehat baik dari orang lain.

Evaluasi Diri
Beberapa hal yang mau saya sebutkan di bawah ini bukan bermaksud membuka aib diri saya sendiri dalam blog yang bisa saja dibaca dengan mudah oleh blogger lain. Namun apa yang saya tulis di sini hanyalah evaluasi bagi diri saya sendiri agar hal hal yang saya sebutkan di bawah ini tidak akan terjadi, tidak boleh terjadi dan seharusnya tidak terjadi di masa yang akan datang. Tidak banyak blogger yang mau membuka "borok" nya sendiri. Saya sendiri tidak menganggap apa yang saya tulis dibawah ini sebagai aib. Hal ini biasa saja, namanya juga evaluasi diri.

Saya sengaja melakukan ini karena saya pikir jauh lebih baik daripada membuka aib dan borok orang lain. Saya tidak mengatakan hal hal di bawah ini sebagai aib, karena memang tidak diperkenankan oleh agama. Bahkan Allah SWT pun melarang diri kita menjelekkan diri sendiri. Menjelekkan diri sendiri aja tidak boleh apalagi menjelekkan orang lain. Harapan saya adalah agar hal hal yang kurang terpuji dalam diri saya ini selama proses Ramadhan pada taun sebelumnya tidak terjadi pada diri saya sendiri. Semoga saja juga oleh orang lain juga bisa menarik manfaat dan serta kebaikan dari tulisan ini.

  1. Tarawih Bolong Bolong
    Nah aktifitas sholat Tarawih memang umum dilakukan pada setiap bulan Ramadhan. Namun untuk aktifitas yang satu ini kadang saya melakukannya dengan tidak konsisten. Ini pernahterjadi pada bulan Ramadhan tahun sebelumnya. Kadang di 10 (Sepuluh) hari pertama saya Tarawih begitu gegap gempita. Tetapi saat memasuki 10 (Sepuluh) hari terakhir aktifitas Tarawih saya sudah kehilangan semangatnya. Entah karena mau lebaran atau sibuk mau buat kue. Hehehee. Yang jelas Tarawih tidak pernah 100 persen saya lakukan di Masjid karena berbagai kendala yang memang tidak bisa saya hindari sepenuhnya.

    Bukan bermaksud menjadikan alasan berkeluarga sebagai justfifikasi (pembenaran) saya lalai dalam Tarawih, tetapi memang pada kenyataannya demikian. Saya memang harus memiliki alasan yang masuk akal mengapa saya sampai lalai atau tidak konsisten Tarawih di masjid. Salah satu alasannya adalah kesibukan mengurus keluarga. Jadi Tawarih yang saya sebut sebagai "bolong bolong" di sini bukan berarti bolong dalam artian absen tarawih. Bolong di sini saya maksudkan tidak penuh Tarawih di Masjid. Kadang Tarawih sendiri di rumah.

    Dengan posisi saya sebagai kepala rumah tangga, denagn karunia dua anak yang masih kecil, dan seorang istri di rumah, menjadikan saya tidak konsentrasi jika Tarawih di Masjid. Bayangkan meninggalkan istri dan anak di rumah sendirian, sedangkan saya sebagai satu satunya lelaki dewasa ke Masjid. Walaupun dekat tetapi hati was was karena tidak ada lelaki dewasa di rumah menjadikan saya harus bervariasi dan "improvisasi" dalam Tarawih. Kadang di Masjid, kadang pula di rumah.

  2. Jarang Tadarus Al Qur'an
    Nah apalagi yang satu ini. Kendala dasar adalah saya sendiri "gagap" dalam mengaji Al Quran dalam artian standar adalah kurang lancar dalam membaca Al Quran. Selain juga kurang mampu dalam melantunkan ayat Suci Al Quran dengan lagu yang Indah, saya juga agak "gagap" dalam membaca huruf huruf Al Quran dalam Al Quran besar.

    Memang dahulu waktu saya kecil saat masih duduk dibangku SD dan SMP, saya kurang memberikan waktu yang cukup untuk belajar membaca huruf Al Quran. Dahulu pernah masuk pesantren atau pengajian level Jus Amma saat saya duduk di bangku SD, namun sampai sekarang saya pun masih kurang lancar membaca Al Quran. Anda boleh mentertawai saya, karena memang saya kurang pandai dalam hal ini.

    Penah juga sang istri tercinta yang siap mengajari saya belajar membaca huruf Al Quran, namun tawaran itu jarang saya perhatikan dengan seksama. Perhatian saya untuk hal yang satu ini juga kurang begitu apresiasi. Saya sendiri tidak mengerti mengapa hal ini selalu terjadi dan selalu berulang terjadi. Rasa malas yang begitu kuat dalam diri saya ini menyebabkan saya jarang membuka lembaran kitab suci Al Quran.

    Bahkan dalam 1 (satu) tahun bisa dipastikan saya jarang membuka kitab suci Al Quran. Paling banter hanyalah buku Yassin itu pun hanya pada saat ada undangan karena ada yang tetangga atau orang yang meninggal dunia. Jadi kalaw tidak ada undangan meninggal dunia, bisa dipastikan tidak disentuh sama sekali. Memang kacow saya ini.

    Nah apalagi saat Ramadhan tahun sebelumnya, untuk membuka lembaran Kitab Suci Al Quran itu rasanya berat sekali. Mungkin saja para setan dan iblis dari dasar neraka sudah menghinggapi mata saya yang selalu saja mengantuk dan rasa malas yang amat kuat untuk membuka dan mengaji Al Quran sudah sedemikian dalamnya. Ini evaluasi dalam diri saya yang harus saya perangi secara terbuka. Perang terhadap rasa malan untuk Tadarus Al Quran

  3. Sholat Malam (Tahadjud).
    Nah ini juga bahan evaluasi dalam diri saya. Saya tidak habis pikir, dahulu sejak kembali dari Jogjakarta tahun 2005 setelah pulang dari menikah di Jogjakarta, dan istri tercinta sudah diboyong ke Pontianak. Saya masih ingat saat masih belum dikaruniai anak (Sekarang anak sudah 2-red) dan saat itu sekitar tahun 2005 kalaw tidak salah. Kami saat itu masih mengontrak rumah di Komplek Griya Husada Sei Raya Dalam (Sekarang juga masih ngontrak-red). Nah yang namanya sholat Malam atau Tahadjud hampir setiap malam saya lakukan dengan konsisten.

    Saya juga tidak tau mengapa saat itu begitu rajinnya saya sholat Malam atau Tahadjud. Mungkin karena pada taun 2005 itu aktifitas istri masih "menganggur" dalam artian belum bekerja setelah menikah dia baru wisuda. Dan kegiatan di rumah kontrakan juga tidak banyak karena memang tidak ada perangkat TV di rumah. TV di rumah memang bisa jadi sarana hiburan dan informasi, namun TV dirumah juga bisa membetot aktifitas ibadah kita kepada aktifitas lain yakni menonton. Mungkin karena tidak ada TV di rumah saat itu, dan tidak ada lagi aktifitas di rumah , menyebabkan saya bisa istirahat dan tidur lebih awal sehingga banyak terjaga dan bangun tengah malam dan mendirikan Sholat Malam atau Tahadjud.

    Kini aktifitas sholat Malam atau Tahadjud saya sudah amat jarang dilakukan pada momen momen hari hari biasa bukan di momen Ramadhan. Sedangkan evaluasi diri ini saat Ramadhan tahun taun sebelumnya juga tidak kalah menorehkan prestasi yang membosankan dan tidak menggembirakan. Catatan rapot saya masih merah untuk aktifitas sholat Malam seperti ini, dan saya menyadari itu.

    Saya tidak mau dianggap sebagai orang yang lupa diri atas berbagai kenikmatan yang sudah diberikan. Dahulu sewaktu belum dikaruniai anak, saya rajin sholat Malam. Kini sejak lahirnya dua anak dan berbagai rezeki lainnya yang kami terima sekeluarga, malah membuat saya jadi "setan" dan melalaikan sholat malam. Ini harus dicegah. Saya harus berubah.

Nah dua aktifitas yang sudah saya sebutkan di atas memang lazim dilakukan pada setiap bulan Ramadhan. Saya mengakui bahwa dua aktifitas yang saya sebutkan dengan jelas di atas jarang sekali saya lakukan di setiap memasuki bulan Ramadhan. Saya harus memiliki kekuatan yang kokoh dan tangguh agar dua hal di atas tidak terjadi lagi pada Ramadhan kali ini. Dan saya pikir adalah hal yang bagus sekali jika kekurangan yang saya lakukan pada tahun sebelunya dan dilanjutkan pada Ramadhan yang akan datang.

Semoga saya memiliki bekal yang kuat, tekad yang membara dan semangat baja untuk bisa melakukan salah satu atau mungkin semua poin tersebut di atas. Apakah anda juga merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan di atas? Mengabaikan aktifitas mulia dalam bulan Ramadhan yang sudah saya sebutkan di atas?. Jangan meniru apa yang saya lakukan. Saya saja ingin memperbaiki kesalahan dan kekurangan saya selama bulan Ramadhan tahun lalu. Saya ingin sekali meninggalkan "rapot merah" dan berprestasi di ramadhan kali ini.

Saya ingin ramadhan kali ini lebih berprestasi dibanding Ramadhan sebelumnya.
Saya akan berusaha sekuat tenaga. Insya Allah saya berhasil
hALLo semua. Jumpa lagi dengan tulisan saya yang sederhana kali ini. Sederhana saja karena untuk beberapa hari belakangan ini saya agak malas gitu untuk membuat tulisan yang berat berat. Nah untuk kali ini tema tulisannya berkisar tentang tindik pada bayi.

Kenapa sih tiba tiba saya memilih judul seperti ini? Apa karena saya punya bayi yang akan ditindik telinganya?. Nah kalaw pertanyaan yang terakhir inilah yang rencananya akan kami lakukan pada bayi kecil perempuan kami, Tazkia. Ada banyak pendapat yang bersliweran sehubungan dengan tindik menindik pada usia bayi seperti ini.

Salah satu pendapat yang kondang dan banyak dipakai oleh kebanyakan orang adalah bahwa tindik pada usia Bayi dilakukan agar sedini mungkin agar si anak tidak terlalu merasakan sakit jika memakai anting anting. Ya pada umumnya orang tua yang melakukan tindik pada anak bayinya dimaksudkan agar si Bayi bisa diberikan semacam hiasan yang menandakannya ia adalah seorang bayi Perempuan. Hal ini pada umumnya wajar mengingat usia yang paling baik untuk melakukan tindik pada bayi adalah pada usia Bayi seperti ini.

Sekilas memang untuk melakukan tindik pada bayi tampak sederhana saja. Dan saya sendiri selaku kepala rumah tangga juga kurang banyak mengetahui tentang tindik menindik bayi seperti ini. Tindik telinga adalah pada umumnya memang meruoakan salah satu prosedur yang sederhana. Sebagian orang juga mengatakan bahwa tindik seperti ini pun konon juga memberikan ketidaknyamanan pada bayi.

Sedangkan pada Orangtua yang memutuskan untuk melakukan tindik pada bayinya juga memiiliki alasan masing masing. Seperti yang sudah saya sampaikan pada bagian di atas bahwa pada umumnya orang tua memiliki pilihan untuk melakukan tindik telinga saat masih bayi karena akan berbeda halnya jika dilakukan saat anak sudah besar.

Resiko Tindik Bayi Beberapa resiko yang sebaiknya harus dihindari dari pemberian tindik pada bayi ini juga sudah dilansir oleh Pediatrics dan juga sudah dipublikasikan oleh situs berita terkenal di Indonesia, Detik Com beberapa waktu yang lalu. Nah beberapa resiko di bawah ini juga merupakan resiko umum yang mungkin saja bisa terjadi pada bayi anda juga pada bayi kita semua. Beberapa resiko diantaranya antara lain :

  1. Infeksi
    Bayi yang masih terlalu kecil belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang matang, sehingga jika terjadi infeksi di tempat tindik tersebut bayi tidak mampu untuk melawannya dengan baik.

  2. Reaksi Alergi
    Bayi masih sangat rentan terhadap reaksi alergi terutama dari logam-logam yang terkandung di anting seperti nikel, perak atau emas.

  3. Anting Anting Bisa Tertanam
    Ada kemungkinan bagian dari anting-anting tersebut masuk ke lubang tindik dan tertanam ke dalam. Meskipun hal ini bsia terjadi di semua usia, tapi saat bayi sangat sulit untuk melepasnya.

  4. Kemungkinan Terjadi Luka
    Pemilihan anting yang salah bisa menimbulkan luka di sekitar telinga saat bayi tersebut bergerak atau bermain, karena kulit bayi masih sangat tipis dan mudah sekali terluka atau tergores.

Seperti dilansir oleh situd DETIKCOM bahwa Tindik telinga pada bayi bukanlah suatu prosedur yang harus dilakukan sesegera mungkin. Hal ini bisa ditunda terlebih duhulu pelaksanaannya agar bayi merasa lebih aman dan memiliki risiko lebih kecil. Jika orangtua ingin melakukan tindik telinga pada bayi perempuannya, cobalah untuk menunggu hingga setidaknya bayi tersebut berusia minimal 3 bulan. Karena saat usia tersebut bayi sudah cukup bisa menangani infeksi ringan dan setidaknya bayi sudah mendapatkan satu kali imunisasi.

Saat ingin melakukan tindik telinga pilihlah anting yang tepat agar bisa mengurangi kemungkinan terjadinya reaksi alergi atau anting tersebut patah saat bayi menggaruk-garuk telinga karena merasa tidak nyaman. Pilihlan fasilitas yang steril dan dokter yang berpengalaman dalam melakukan tindik telinga. Bahkan Dr.Herbowo SpA juga pernah mengatakan bahwa sebenarnya ditindik tidak akan menyebabkan apapun, asalkan alat tindik yang digunakan steril. Tetapi mengingat saat proses penindikan kuman tetap bisa menempel baik di jarum maupun di telinga, maka kadang2 tetap terjadi pembengkakkan dan infeksi setempat.

Beliau menyarankan agar menggunakan alkohol untuk membersihkan bagian telinga yang akan ditindik dan gunakan alkohol juga untuk membersihkan jarum yang akan digunakan. Setelah itu dapat diberikan salep atau krim yang mengandung antibiotika. Mengenai penggunaan emas murni, hanya dianjurkan bila anak terbukti alergi atau terdapat riwayat alergi pada orang tuanya. Hal ini untuk mencegah terjadinya alergi karena logam.

Kapan Waktu Tepat
Pernah suatu ketika seorang tetangga kami menimang nimang bayi kami. Dikatakannya bayi kami lucu dan menyebutnya sebagai anak lelaki. Namun begitu kami jelaskan kepada tetangga kami itu bahwa bayi kami ini berjenis kelamin perempuan. Hal yang wajar karena saat tetangga kami melihat bayi kami sedang dimandikan.

"Eh iya ya soalnya nda pakai anting anting sih jadi nda bisa dibedakan dengan anak laki laki loh" kata tetangga kami itu. Mendengar pernyataan tetangga kami itu kami pun hanya tersenyum saja. Wajar sekali. Bahkan anting anting di telinga bayi juga merupakan identitas diri bahwa bayi berjenis perempuan. Hmmm.

Menurut situs berita lifestyle Okezone menyebutkan bahwa Penggunaan anting-anting pada bayi, sebenarnya lebih mengarah pada kepuasan orangtua saja. Pasalnya, orangtua senang mendandani bayi perempuannya dan memakai perhiasan, seperti anting, gelang, dan sebagainya. Tak jarang, ada orangtua yang merasa bangga untuk menunjukkan hal tersebut pada orang lain.

Di luar hal di atas, sebenarnya boleh-boleh saja melakukan tindik telinga pada bayi. Masih menurut lifestyle Okezone itu memang tidak ada patokan ideal usia berapa boleh dilakukan tindik. Asalkan saat dilakukan tindik, bayi dalam keadaan sehat dan tidak memiliki masalah medis yang bisa menjadi faktor risiko. Dengan begitu, ketika dilakukan tindik, bayi tidak terlalu merasakan sakit dibandingkan saat ia dalam keadaan tidak sehat. Walau begitu, sebaiknya tunggu hingga si kecil berusia minimal 3 bulan seperti yang sudah disebut pada bagian awal tulisan ini.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orangtua setelah dilakukan tindik telinga: Misalnya saja agar mengusahakan agar bayi tidak memegang-megang telinga yang baru ditindik karena bisa memicu terjadinya infeksi. Perhatikan apakah timbul kemerahan yang meningkat atau nyeri disekitar lubang tindikan telinga karena hal ini menunjukkan adanya infeksi.

Perhatikan juga bahan anting yang dipakai si kecil karena ada beberapa anak yang memiliki reaksi alergi terhadap logam tertentu. Anting tidak musti dari bahan emas 24 karat, yang penting bukan terbuat dari bahan imitasi. Untuk memastikan apakah si kecil alergi atau tidak, cobalah gosokkan logam atau emas tersebut di daerah punggung si kecil sebelum digunakan. Jika terjadi ruam, ada kemungkinan anak mengalami reaksi alergi.

Selamat menindik bayi tercinta anda.
Sukses selalu buat anda

Tidak terasa waktu sedemikian cepatnya, dan tidak kurang dari sekitar 45 (Empat puluh) lima hari lagi umat Muslim di seluruh Indonesia dan juga di dunia akan memasuki bulan suci yang amat dirindukan, yaitu bulan Suci Ramadhan.

Nah bulan yang amat mulia inilah kesempatan bagi umat muslim di seluruh dunia untuk mengkaji diri, dan mengevaluasi diri sendiri sejauh mana diri ini melangkah. Bulan Ramadhan yang penuh dengan berkah dan barokah sudah saatnya tidak kita sia siakan lagi. Masa yang amat singkat hanya 30 (tiga puluh hari) perlu mendapat perhatian kita bersama. Bulan ini memang teramat istimewa bagi kaum Muslim karena berbagai reward kebajikan, kebaikan, dan juga pahala berlimpah dan siap disajikan bagi kita semua.

Nah kalau dilihat dari judul tulisan saya kali ini memang amat mirip dari judul film kondang remaj yang pernah booming di tanah air. Film yang dibintangi dan diperankan secara apik oleh Dian Sastro Wardoyo itu memang amat terkenal. Saya sendiri sudah menyaksikan film nan lucu itu. Namun judul tulisan ini bukan buat lucu lucuan walaupun penggalan kata katanya sudah mirip dengan judul film remaja yang sudah terkenal itu tadi. Bukan itu, hanya kebetulan saja. Bulan Ramadhan adalah bulan penggodokan amal ibadah kita, dan kita semua masuk "sekolah" milik Allah SWT, dan kita dituntut untuk melaksanakan segala perintahNYA dan Menjauhi segala laranganNYA. Bulan Ramadhan ini penuh ujian.

Bukan cuma ujian menahan dahaga dan haus saja seperti yang selama ini banyak dirasakan dan digambarkan orang dalam memandang dan memaknai bulan Ramadhan. Bagi saya sendiri bukan hal yang sulit kalau cuma sekadar menahan haus dan lapar. Semua orang banyak yang mampu melakukannya. Bahkan anak sekolah pun banyak yang mahir menahan haus dan lapar mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Bukan, bukan itu yang dimaksud. Bulan Ramadhan adalah bulan ujian yang amat berat dalam menahan diri dari berbagai godaan dan maksiat yang mengundang manusia untuk melakukannya. Pandangan mata yang tidak halal, mulut yang suka bergosip dan bergunjing, serta berbagai aktifitas keseharian kita yang mungkin tidak kita sadari sudah mengarah mengurangi pahala puasa (saum) kita.

Tentu kita tidak mau bulan Ramadhan yang 30 hari ini terlewat begitu saja bukan. Kita tidak boleh beranggapan "ah nanti taun depan kan Ramadhan lagi, santai ajalah pren" gitu kira kira kata orang. Ah jangan jangan begitu. Umur manusia tidak akan kita ketahui sampai kapan. Begitupula dengan jodoh dan rezeki adalah hak dari Allah SWT. Setiap manusia sudah diberikan rezekinya masing masing, begitupula dengan halnya urusan jodoh. Jika tanpa izin dari ALLAH SWT tidak akan ada pernikahan. Nah Allah SWT juga memerintahkan para hambaNYA untuk bekerja dan mencari nafkah setelah sholat. Kita dimintaNYA untuk bertebaran di muka bumi mencari rahmat dan ridho ALLAH SWT. Allah SWT Tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak berusaha untuk merubah nasibnya sendiri.

Dan umur manusia adalah rahasia dan hanya diketahui oleh Allah SWT. Siapa yang bisa menjamin kalau usia dan umur kita akan dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan yang akan datang? Nah siapa yang menyangka orang yang rajin berolahraga, segar bugar, sering fitnes, tiba tiba bruk meninggal dunia? Rahasia apa didalamnya? Rahasia umur manusia, sekali lagi, hanyalah hak preogratif Allah SWT. DIAlah yang Maha Tahu sampai kapan batas umur kita akan sampai pada saatnya. Manusia tidak akan tahu sampai dimana umurnya akan sampai.

Jika kesempatan datang untuk membakar dosa dosa kita, dan kesempatan itu sudah ada di depan mata kita, mari kita manfaatkan sebaik baiknya. Mari kita sambut datangnya bulan penuh berkah, Ramadhan. Marhaban Ya Ramadhan. Selamat Datang Bulan Suci Ramadhan.



Hello semua
Wah tidak sangka dalam 1 atau 2 minggu terakhir ini kesibukan saya sungguh luar biasa. Bukan rahasia lagi jika sudah berkeluarga seperti saya sekarang ini untuk menyisakan waktu untuk kesenangan pribadi susahnya minta ampun.

Hihihii. Ya memang sih nda susah susah amat, ya cuma jarang jarang untuk bisa bermanja manja dengan diri sendiri seperti pergi ke tukang bakso, memancing ikan, dan sederet aktifitas hobi ringan lainnya yang biasa saya lakukan jika diwaktu senggang.

Namun demikian hal itu tidak berarti saya melupakan hobi saya yang satu ini. Menulis atau ngeblog. Sebagai salah satu anggota BBC (Borneo Blogger Community) di kota Pontianak memang saya dituntut untuk berperan aktif menulis seperti yang disarankan mereka untuk menulis. Wah tentu kalau sudah menulis, ide ide apa saja seperti mengalir seperti air, ya udah kalau sudah ada ide seperti itu ya langsung saja dijalankan. Ide akan mengalir seperti air tanpa harus direncanakan.

Nah untuk ide tulisan hari ini, karena mungkin sudah semingguan tidak ngeblog karena sesuatu dan lain hal, saya tulis ide sederhana saja. Judulnya sudah terpampang dengan jelas di atas, Gilang dan Gunawan. Ya dua nama itu mungkin bagi para pembaca blog saya tercinta kurang atau bahkan tidak dikenal. Wajar saja, karena saya juga belum mengenalkan mereka pada kalian semua, Ehm. Nah kedua anak remaja ini memang sangat dikenal khususnya buat saya pribadi. Kurang lebih selama 6 (enam) lamanya mereka magang di kantor saya, dan kinerja serta prestasi mereka cukup baik, rajin ramah dan suka membantu rekan rekan wartawan dan redaksi dalam kesehariannya.

Dari merekalah saya banyak belajar mengenai administrasi Content Managemet System (CMS) Joomla dengan menggunakan domain dan hosting free alias gratisan. Siapa sih yang nda suka sama gratisan. Yang namanya gratisan, apa pun akan terasa enak hehehe. Iya kan. Selama masih bisa gratis mengapa pula harus membayar. Kalaw memang masih ada yang gratis, kenapa pula harus membayar. Makanya sampai sekarang teman teman alumnni YES2009 Kuala Lumpur menyebut kelompok MAKO alias Mafia Konperensi menjadi terkenal sekarang ini. Kenangan indah YES2009 menjadi ajang silaturahmi antar member MAKO dimana saja berada. Motonya cuma 1 sekali gratis tetap gratis hehehee.

Dari sekian banyak siswa yang pernah magang di kantor saya, hanya sedikit saja dari mereka yang memberikan manfaat dua arah dan dengan feedback yang baik. Karena walaupun mereka hanya beberapa bulan saja magang di kantor saja, akan membawa dampak positif bagi mereka yang akan mempersiapkan diri ke dalam dunia yang kejam dan tidak ada ampun lagi yakni dunia kerja yang keras akan persaingan dan juga intrik intrik itu. Mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja dari sekarang juga adalah pilihan yang bijaksana. Nah sebelum sekolah usai dan lulus dari bangku kuliah, persiapkanlah diri kalian dengan segudang pengalaman kerja di lapangan dan juga bekal ketrampilan lainnya.

Ingatlah, siapa yang siap tentu akan cepat menangkap peluang
Beberapa hari belakangan ini saya selalu disibukkan oleh berbagai kegiatan rutin keseharian di rumah kontrakan saya yang terletak di komplek Duta Bandara Permai Jalan Arteri Supadio Pontianak. Rumah kontrakan yang sudah saya dan keluarga diami lebih dari 3 (tiga) tahun ini memang penuh dengan kejutan dan juga kenangan.

Mengapa saya sebut penuh dengan kejutan dan juga kenangan. Kejutan karena sejak kami mendiami ruma kontrakan di Dubai (Duta Bandara Permai-red) ini berbagai kejutan datang silih berganti kepada kami sekeluarga.

Dan atas izin dari Yang Maha Kuasa, Allah SWT, lahirkan anak anak kami. Yang pertama Abbie Muhammad Furqan Haryono yang kini sudah berusia 3,5 tahun pada tahun 2008, dan kemudian lahir lagi ke dunia adikknya yang perempuan, Tazkia Montessori Putri Haryono, yang kemarin (10 Juni 2011) genap berusia 6 (Enam) bulan. Waktu berjalan demikian cepatnya, dan keadaan memang selalu berubah setiap saat. Begitulah ritme kehidupan sehari kami yang penuh warna warni sekarang.

Namun demikian dalam kehidupan keluarga kami, selalu saja ada warna lain yang bisa membuat kami berpikir dua kali jika harus melakukan kekeliruan yang sama. Misalnya saja pola pengasuhan bayi yang harus ditangani berdua. Karena kami memahami bahwa kami berdua sama sama bekerja. Saya bekerja di perusahaan swasta di kota Pontianak, sedangkan istri PNS Guru di sebuah SMA Negeri di Kabupatan Kubu Raya. Begitu sibuknya kami berdua, sampai sampai putri kecil kami, Tazkia Putri, sudah tidak menikmati ASI bundanya lagi. Berbeda dengan anak pertama kami, Abbie, yang full mendapat asupan ASI dari bundanya karena saat itu bundanya mengajar di sebuah TK Islam Ternama di bilangan Untan Pontianak.

Serba Menyiasati
Begitu juga dengan pengaturan pola keuangan kami yang masih amburadul. Memang kata orang sekilas kami "makmur" karena ada dua lokomotif yang berpacu mencari penghasilan. Dalam artian kedua orangtuanya bekerja. Nah dalam kacamata para tetangga, dan penilaian orang lain tentu bagus bagus saja. Wah enak ya keluarga si fulan ayah dan ibunya sama sama bekerja, wah tentu uangnya pasti banyak. Begitulah kira kira penilaian orang atau tetangga kepada kami sekeluarga. Saya mendengar seperti itu hanya tersenyum saja, dan mengucapkan "Alhamdulillah" atau "amin" saja.

Padahal kenyataan di lapangan memang tidak seindah kata orang. Memang secara logika dengan dua orang yang sama sama bekerja, kemungkinan bertambahnya pendapatan dan penghasilan keluarga jauh lebih cepat. Namun hukum alam juga berlaku. Konon stigma di masyarakat kita pada umumnya sering terjadi , semakin besar pendapatan biasanya diikuti dengan semakin besarnya pengeluaran. Besar penghasilan yang kami peroleh bersama sama (karena saya dan istri sama sama bekerja-red), namun pengeluaran dan kebutuan sehari sehari dan perbulan kami juga tidak kalah "sombong"nya dengan pendapatan kami yang "ramah lingkungan". Wah kok bisa di sebut "ramah lingkungan" sih.

Ya yang saya maksud "ramah lingkungan" karena pada saat sang uang datang dari penghasilan rutin kami setiap bulannya dalam bentuk gaji selalu saja lewat. Selalu saja numpang lewat. Begitu datang , maka uang yang kami dapatkan dengan susah payah itu harus keluar lagi dalam bentuk pos pos dana rutin setiap bulannya yang harus kami keluarkan mau tidak mau, atau suka tidak suka, dana itu harus keluar.

Misalnya anggaran untuk membeli beras, minyak tanah, gula pasari, dan segala tetek bengek urusan dapur seperti bawang merah, dan lain sebagainya. Juga pengeluaran utama keluarga seperti membayar tagihan (Listrik, PDAM) dan juga cicilan hutang kami di sebuah bank Nasional karena kami meminjam dana kepadanya.

Pengeluaran rutin utama lainnya seperti susu kedua anak kami (yang kalau dijumlahkan berdua angkanya bisa melejit-red), dan juga anggaran lain sehubungan dengan anak anak kami juga terutama pempes, minyak telon, dan lain sebagainya. Nah dengan demikian angka gaji yang kami terima setiap bulannya kadang selalu saja pas, dan sangat sedikit dana yang tersedia untuk disisihkan ke pos tabungan.

Hampir kami tidak punya dana lebih untuk dialihkan ke pos tabungan. Banyak pakar keuangan keluarga mengatakan bahwa pos tabungan seharusnya dijadikan "pengeluaran" keluarga. Ini harus dilakukan. Dengan menganggap tabungan sebagai "pengeluaran" , maka kita akan dipaksa untuk menabung. Ini baik sebenarnya, tapi kami ini ngaco, selalu saja hal itu belum dilakukan secara optimal. Mengapa ya?. Inilah pertanyaan yang kami sendiri pun kadang agak susah untuk menjawabnya. Sepertinya kami perlu jasa pengelolaan keuangan nih. Apa bisa?

Jadi kami harus pandai pandai "bersilat" maupun "siasat menyiasati" keuangan yang ada. Dana yang kami peroleh dari penghasilan tambahan di luar gaji kadang digunakan untuk menutup hutang dan sebagian lagi diwujudkan dalam bentuk barang. Sebab saya dan istri kadang berpikir bahwa uang itu licin, karena bisa "tergelincir" digunakan untuk keperluan lain yang diluar perencanaan namun sama pentingnya. Ini kan tidak betul.

Kadang konsistensi dalam menangani keuangan perlu keteguhan hati kita juga. Misalnya saja dana yang sudah disiapkan untuk membeli blender karena bisa digunakan buat membuat bubur bayi, jangan digunakan untuk membayar tagihan listrik walau kepentingannya sama, atau bermuatan penting yang sama. Inilah yang saya maksud dengan konsistensi keuangan. Ini yang kadang kami lupa. Konsistensi inilah yang kadang juga menjadi bumerang bagi kami sekeluarga karena dana yang seharusnya disiapkan untuk keperluan A menjadi teralirkan untuk keperluan B. Walhasil dana buat A menjadi "bolong" dan terpaksa untuk menutupinya mengambil dari POS lain yang juga tidak kalah pentingnya.

Harus Cari Tambahan
Jadi dengan demikian dari uraian njelimet dan membingunkan di atas pemecahannya ada 2 (dua). Ini kata perencana keuangan Safir Senduk yang sering menjadi rujukan kami sekeluarga dalam mengelola keuangan. Kedua pemecahan keuangan keluarga yang kami jadikan patokan untuk menyelesaikan masalah keuangan keluarga.

  1. Memperbesar Pendapatan.
    Solusi pertama adalah memperbesar pendapatan keluarga. Untuk mengandalkan gaji saja sudah pasti tidak akan cukup. Oleh karena itu penghasilan tambahan harus dilakukan jika pengeluaran keluarga juga semakin besar. Dengan demikian pengeluaran keluarga harus dibuat menjadi jauh lebih kecil dari pendapatan. Dengan demikian akan ada pos sisa anggaran dan itu bisa dialihkan menjadi pos tabungan. Cara memperbesar pendapatan adalah dengan memberikan les tambahan atau juga membuat terobosan lain yang bersifat memancing pendapatan atau uang masuk buat keluarga.

  2. Memperkecil Pengeluaran.
    Solusi kedua adalah dengan memperkecil pengeluaran. Jika penghasilan tambahan belum bisa dilakukan maka cara lainnya adalah "memangkas" pengeluaran yang tidak perlu. Anggaran belanja keluarga yang penting namun tidak perlu sebaiknya kami tinggalkan. Ini mutlak dilakukan jika kami tidak megap megap di pertengahan bulan atau sebelum bulan berakhir kita sudah kolaps duluan mencari utangan baru.
Salah satu "musuh" terbesar kami berdua adalah "dahaga" nya kami terhadap keinginan keinginan yang terpendam jika ada uang. Kadang penghasilan tambahan dari klien website saya misalnya jika sudah diperoleh pasti keinginan ini itu membuncah, dan perlu segera dieksekusi. Misalnya saja pasca kemalingan awal Mei 2011 lalu, saya ingin sekali punya HP Baru menggantikan HP jadul yang sudah lama.

Padahal kalau dipikir pikir dengan HP sederhana pun masih bisa dipakai untuk komunikasi. Mengapa pula saya harus ikut terpengaruh oleh iklan bersliweran untuk punya HP baru walaupun berharga murah. Inilah yang namanya contoh penyakit lama kami yang kadan muncul tiba tiba. Maka wajar setiap kali dapat dana dari klien selalu saja habis sampai sampai kami bengong kok cepat habis ya.

Nah jadi dengan demikian salah satu unsur yang bisa memecahkan kebuntuan keuangan keluarga yang kami anggap paling jitu adalah mencari penghasilan tambahan. Kata orang pontianak cari can tepi. Hehhee. Walaupun saya dan istri bukan orang Pontianak, namun kota Pontianak sudah menjadi bagian dari hidup kami, dan kami menganggap ini adalah "tanah air" kami yang kedua selain Pulau Jawa yang merupakan asal kami berdua.

Bayangkan saja sejak tahun 1990 saya sudah menginjakkan kami di bumi Khatulistiwa ini, dan jika dihitung dengan periode sekarang maka lebih kurang 21 (dua puluh satu) tahun saya di Pontianak ini. Nah sudah tentu saya sudah di "naturalisasi" alias sudah menjadi warga Pontianak dibuktikan dengan KTP Pontianak kami berdua. LOh obrolan blog saya malah lari ke arah naturalis sih hehehe. Kok jadi melenceng dari tujuan semua soal penanganan keuangan keluarga. Hehehehe.

Yang Jelas saya harus bijak dalam soal keuangan Keluarga. Satu hal yang pasti akan terus semangat mencari tambahan penghasilan lain yang halal dan berkah buat keluarga. Amin Ya Robbal Alamin
Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog From Indonesia