Help us to keep our home
Tag : Uang - Asep Haryono | Uang - Powered by Blogger

Dear Blog,

Siapa sih yang nda mau duit atau uang?. Money dalam bahasa Inggris, fulus atau arta dalam Bahasa Jawa. Setiap orang bekerja siang malam, kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala, bahkan tidak perlu libur biarpun hari libur keagamaan, atau hari libur nasional tetap produksi perusahaan, alias tidak ada habisnya dihabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mencari uang. Salahkah itu? Oh tentu naif kalaw dikatakan orang yang mencari uang itu dikatakan naif. Setiap orang berhak mencari uang. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah "bagaimana cara ia mencari uang?" dan "Bagaimana uangnya itu dihabiskan?". Nah dari dua pertanyaan inilah saya cuba menuliskannya dalam postingan blog saya hari ini.

Uang sebagaimana kita tau adalah alat yang digunakan untuk membeli atau membayar sesuatu. Dari pengertian di sini bisa kita katakan bahwa secara umum apa yang kita gunakan ini memiliki fungsi sebagai perantara atau sebagai alat pertukaran barang dengan barang, dan juga sebagai salah satu cara untuk menghindarkan perdagangan dengan cara barter. Fungsi uang di sini bisa kita pilah pilah lagi menjadi 2 (dua) bagian yakni fungsi Uang Asli dan Fungsi Uang Turunan.

Pertama, fungsi Uang Aseli memiliki tiga makna yakni sebagai alat tukar (medium of exchange), sebagai alat satuan hitung (unit of account), dan sebagai penyimpan nilai (valuta). Sedangkan Fungsi uang yang terakhir adalah fungsi Turunan. Fungsi Turunan dari Uang antara lain sebagai alat pembayaran, juga bisa digunakan sebagai alat pembayaran utang, sebagai alat untuk menimbun dan atau juga sebagai pemindah kekayaan berupa modal dan juga berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan status sosial anda.

Orang yang banyak uang biasanya memiliki tingkat kepercayaan yang sangat tinggi. Begitu tingginya sampai anda bisa meremehkan orang yang tidak mempunyai uang. Di mata anda, mereka yang tidak punya uang sebanyak yang anda punya memang layak diinjak harga dirinya. Mereka bisa anda injak harkat dan martabatnya karena anda merasa uang anda adalah cerminan personality anda. Anda bisa dengan bebas meremehkan orang lain hanya karena orang lain tidak memiliki uang sebanyak yang anda punya. Orang lain tidak punya uang , lalu anda kritik habis habisan orang itu. Anda kritik orang yang tidak punya uang dengan kriteria yang anda buat sendiri. Orang tidak punya uang anda salahkan mengapa bisa tidak punya uang. "Anda tidak punya uang, karena anda pasti sangat boros. Anda perlu berhemat" begitu kata Anda.

Bahkan segala sesuatu perlu anda ukur dengan Uang. Bahkan perut orang pun diukur dengan takaran perut anda. "anda tidak akan bisa kaya bekerja di sini" begitu kata Anda. "Ingatlah, uang masuk dipermudah, dan uang keluar dipersulit" begitu kata Anda. Segala sesuatu adalah diukur dengan uang. Dalam otak anda adalah bagaimana lembaran lembaran pecahan seratus ribu yang melayang di dunia ini , kalaw perlu, masuk semuanya ke kantong anda. Anda perlu kaya, sekaya kayanya kalaw bisa. Bahkan perlu masuk Guiness Book of Record, sampai menjadi orang terkaya di planet bumi ini kalaw perlu. Begitulah cerminan diri anda. Uang adalah Anda, dan Anda adalah Uang. Setali tiga uang. Anda= Uang.

Saya sebenarnya kasian melihat anda yang begitu bernafsu menjadi kaya raya. Bahkan kalaw perlu dengan memeras tenaga orang lain. Anda bebankan target pemasukan uang sebanyak banyaknya dari staf atau pegawai anda, dan anda perlu menekankan kepada bawahan anda untuk bekerja keras memperkaya diri anda karena anda adalah atasan mereka. Kalaw tidak senang, anda dengan mudah untuk mempersilahkan untuk pindah dari kepemimpinan anda. Uang, Uang, Uang dan Uang dalam otak anda.

Satu hal yang anda lupakan. Janganlah uang itu menjadikan anda menjadi budak hina yang hanya bisa diperdaya oleh uang yang sebenarnya bukan menjadi tujuan kita hidup di dunia ini. Kita semua , cepat atau lambat , akan menjadi tua (old) dan anda akan kembali menghadap Allah SWT. Kelak di akhirat tentu anda akan ditanya "darimana uang anda berasal" dan "bagaimana uang anda akan dihabiskan". Bisakah semua itu menjadikan anda sadar bahwa uang bukanlah segalanya. Mereka adalah manusia sama seperti kita. Kita semua memang perlu uang, tapi janganlah hanya karena uang anda menjadi jahat (evil) dan mempunyai sifat kikir, tamak alias rakus terhadap uang.

Coba simak saja pesan bijak dari Mario Teguh The Golden Ways dalam tayangan hari ahad (28 Maret 2010) lalu bahwa "Kekayaan sesungguhnya bukan apa yang anda miliki. Kekayaan adalah sesungguhnya apa yang anda syukuri karena di sanalah letak kekayaan anda yang sebenarnya". Dalam hadis juga disebutkan bahwa "Orang Kaya adalah orang yang sedikit keperluannya. Kekayaaan tidak selalu berbentuk materi yang secara fisik bisa kita sentuh, kita pakai dan kita gunakan. Kekayaan hakiki pemberian Allah SWT adalah kekayaan yang ada dalam hati kita masing masing. Berhati bijak, kasih sayang terhadap sesama, hati yang bersih dalam memandang hidup ini sebagai sarana untuk beribadah kepada ALLAH SWT adalah salah kekayaan anda yang sesungguhnya.




Dear Blog,

Seperti yang tertulis pada judul posting di sini kali ini adalah "jangan banyak berhutang jasa kepada seseorang" memang keliatan naif di saat orang pada berlomba untuk mencari penghidupan yang layak dengan berbagai cara. Mau cara yang mana, mau cara yang halal atau tidak halal? Itu semua terpulang kepada anda. Setiap orang berhak mencari penghasilan setinggi tinggi dan sebanyak banyaknya darimana pun sumber nafkah itu berasal niscaya orang akan memburunya sampai ke akar akarnya. Dari penghasilan yang didapat itulah kiranya akan digunakannya untuk membiayai hidupnya sendiri. Sungguh suatu roda kehidupan yang sebenarnya wajar wajar saja saat ini. Wajar dalam artian memang begitulah ritme kehidupan kita di dunia. Bekerja untuk menyambung nafkah sehari hari.

Peran seseorang dalam memuluskan karir seseorang bisa memainkan peran yang besar dan sangat berarti dalam hidupnya. Apakah peran itu sengaja diciptakan atau peran itu tidak sengaja tercipta dalam membentuk suatu hubungan. Apakah itu hubungan dalam koridor pertemanan atau pekerjaan. Kedua peran yang dimainkan oleh seseorang bisa mempengaruhi pola pikir orang itu dikemudian hari. Meminta bantuan orang lain boleh boleh saja dilakukan karena harkat dan hakekat kita sebagai manusia memang untuk saling membutuhkan. Namun terkadang streotip ini dibalikan menjadi tidak sesuai dengan semestinya. Orang memberikan pertolongan atau bantuan mempunyai maksud dikemudian hari. Apakah kita berprasangka buruk terhadap orang yang memberikan bantuan kepada kita?. O tidak saya tidak bermaksud demikian. Kita tidak (seharusnya) mempunyai perasaan jelek terhadap orang yang menawarkan bantuan kepada kita apapun bentuknya, bahkan bantuan doa sekalipun. Tapi bantuan seperti apa? Doa yang bagaimana? itu menjadi pertanyaan.

Yang menjadi persoalan sekarang adalah output atau "hasil" pemberian seseorang terhadap diri kita akan akan mengubah diri kita menjadi tidak perduli dengan orang lain?. Apakah pemberian seseorang terhadap diri kita telah mengubah diri kita menjadi kurang peka terhadap kebenaran di depan mata. Saya tau karena sudah melihat dengan mata kepala sendiri. Betapa suatu kebenaran itu diinjak injak secara vulgar dan mereka tidak mampu berbuat apa apa untuk mengubahnya. Mereka punya jabatan, punuya wewenang dan pengaruh yang besar, namun semuanya itu tidak bisa membuatnya peka terhadap kebenaran, Mereka menjadi 'buta' akan kebenaran dan tidak dapat mengubahnya karena seseorang telah berjasa besar kepada dirinya.

Itulah salah satu hal yang sangat saya sayangkan dari rekan rekan dan kawan kawan semua. Saya bisa memahami posisi kawan kawan yang dimanja dan mendapat banyak gratifikasi dari seseorang yang akhirnya membuat diri kalian menjadi berhutang jasa dan berhutang budi pada seseorang. Apakah bisa disalahkan kawan kawan "membela" orang yang telah berjasa kepadanya? O tidak tentu saja tidak. Memang sudah seharusnya jika anda mendapatkan banyak bantuan dan gratifikasi dari seseorang, anda harus "membela" orang yang telah banyak memberikan anda sokongan. Itu tidak dapat disalahkan dari sudut tertentu, namun tidak baik untuk dicontoh dari sisi kemanusiaan. Yang saya sesali adalah kawan kawan tidak dapat melihat kebenaran karena kawan kawan telah banyak berhutang jasa kepada seseorang. Sekali anda terjebak dalam lingkaran itu maka sedetik pun anda tidak akan lepas dari cakar cengkeramannya.

Saran bijak : Jangan (banyak) berhutang Jasa Pada Seseorang


"



Dear Blog

Pegawai Rendahan, isu itu memang sudah usai. Beberapa bulan memang sudah tidak terdengar lagi sekarang. Masih ingat saat mereka naik ke acara Kick Andy di Jakarta dengan menggaet beberapa "pegawai rendahan". Sebutan "pegawai rendahan" ini mencuat ketengah ranah publik saat tulisan atau berita yang menyertai penampilan mereka di Kick Andy itu lalu diblow up hingga akhirnya sebutan "pegawai rendahan" menjadi cukup terkenal setidaknya untuk kalangan sendiri yang mengetahuinya. Salah seorang senior saya bilang angka jumlah karyawan yang disebutkan dalam acara di Metro TV itu tidak mencerminkan jumlah aselinya. Sayang sekali saya tidak menonton acara Kick Andy saat mereka tampil di sana.

Tapi mendengar jumlah angka karyawan yang mereka sebut di acara Kick Andy Metro TV itu sampai ke telinga saya, ingatan saya langsung melekat saat kunjungan Jawa Pos Surbaya mengadakan temu bicara dengan mereka di Gedung Equator. Saat itu (kebetulan) sya hadir di sana. Saya mendengar sendiri mereka menyebut oplah Koran kita yang berkisar antara 30.000-40.000 turun naik. Itu pun masih dianggap belum memenuhi target pasar.

Ketika saya cuba konfirmasikan kepada 'anak anak' percetakan di Sungai Raya, didapat data bahwa oplah koran berkisar antara 20.000 - 25.000 tiap harinya. Jadi apa yang mereka sebutkan dalam pertemuan itu tidak sesuai aselinya. Bukankah ini sudah bisa dikatakan "pembohongan publik". Apakah benar mereka pembohong?.

Pengalaman pribadi juga menderu saya. Saya masih ingat saat beberapa tahun lalu saya meminjam kekurangan buat biaya menikah. Setau saya saat itu masih taun 2005. Biaya menikah yang saya miliki masih kurang 1,5 juta lagi. Saat itu mungkin hubungan saya dengan mereka masih baik. Saya bilang padanya bahwa saya (masih) perlu tambahan uang untuk menutupi kekurangan dana yang ada pada saya. "Okelah kalaw gitu saya akan call Pak Tauhid (alm-red) untuk keperluan mu itu.

4 hari kemudian saya langsung ke kantor, dan langsung menemui Pak Tauhid (alm) dan menanyakan rencana pinjaman saya yang kurang 1,5 juta lagi itu. Saya juga menanyakan apakah mereka sudah menghubungi beliau, dan ternyata alm tidak tau apa apa. Berarti apa yang mereka janjikan akan menelpon alm tidak dilakukannya. Berarti mereka pembohong. Saya sudah yakin sekarang mereka ini sudah tidak bisa dipercaya lagi. Tidak ada yang lebih buruk bagi seseorang yang sudah tidak dapat dipercaya lagi kata katanya. Hal yang paling menyedihkan adalah saat mereka tidak saja membohongi diri sendiri tetapi juga membohongi orang lain. Sekali pembohong akan selalu menjadi pembohong. Jadilah pembohong sejati

Beberapa kali sudah terbukti berkata tidak jujur. Maka jadilah pembohon sejati.


Saya tertarik sekali dengan tulisan mas Romi dalam INSIGHT di halaman 19 Pontianak Post pada hari kemarin (Selasa, 19/2). Tulisannya yang berisi dan berjudul "Mengatasi kesenjangan Komunikasi di Tempat kerja". Menurut saya isi tulisan mas Romi bagus sekali, dan saya tergelitik untuk memberikan tanggapan atas tulisan beliau.

Saya setuju semua yang dipaparkan dalam tulisan beliau, dan memang kita tidak dapat memungkiri hal semacam itu terjadi dimana saja di tempat kerja. Dimana ada orang lain di sekitar kita, di sanalah ada berbagai macam karakter manusia yang unik dan berbeda satu sama lainnya. Perbedaan karakter yang tidak sama satu sama lainnya kerap menciptakan friksi antara satu departemen dengan departemen lain sering sejalan dengan konflik individu yang mewarnai diantara keduanya.

Namun profesionalitas tetaplah dijunjung tinggi karena cakupan bahasan kita di sini adalah lingkungan kerja. Disinilah batasan yang perlu kita perhatikan. Namun itu semua tidak ada artinya jika sudah menyangkut ETIKA. Pesan yang mau saya sampaikan adalah "Jangan Pernah Abaikan Etiket". Etiket yang mana?. Tentunya etiket yang umum di tempat kerja kita. Sejak jaman dulu sampai sekarang, saat jaman semakin penuh keterbukaan dan vulgar, 'etiket' tetap diperlukan dalam pergaulan dimanapun. Etiket tetap dibutuhkan untuk menjaga sikap dan perilaku anda dari hal-hal yang 'tidak pantas'. Karena etiket pada dasarnya adalah tata cara yang mengatur kepantasan dalam bergaul agar semua pihak merasa nyaman.

Mungkin kalau anda mendengar kata 'etiket', ingatan anda akan melayang pada tata cara bersantap di meja makan. Padahal etiket mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari cara menelepon seseorang, cara bertamu, cara menjamu relasi bisnis, mengendarai mobil di jalan raya, memperkenalkan seseorang pada orang lain, sampai etiket menolak tamu.

Orang yang tidak mempedulikan etiket, biasanya menganggap etiket merupakan suatu atribut yang merepotkan hidup. Makanya orang yang tidak tahu 'etika' umumnya bertingkah seenaknya, tidak tahu sopan santun, dan bicara semaunya. Misalnya saja berjalan di tangga dengan sengaja dengan menjejakkan kakinya terlalu keras seperti jalannya GAJAH. Bum..bum..bum. Walau sudah disampaikan kepadanya bahwa sikapnya itu tidak mencerminkan etiket, tetap saja dilakukan. Seolah seperti menantang. Kemana orang itu menyimpan akal sehatnya?.

Mereka yang tidak mengenal etika merasa tidak perlu menghargai keberadaan orang lain dan menjalani hidup ini berdasarkan peraturan yang dibuatnya sendiri. Jadi tak heran, mereka yang tidak tahu etika kerap disebut orang yang 'tak beradab'. Mereka yang tidak tahu etika tidak akan disukai dalam pergaulan, kecuali dalam pergaulan yang menganut aliran yang sama. Dalam pergaulan di kantor, etiket mutlak diperlukan. Karena tentu saja lingkup pergaulan di kantor berbeda dengan pergaulan anda di masyarakat atau di rumah. Di kantor terdiri dari banyak peraturan dan birokrasi yang mengatur perilaku dan sikap anda di kantor.

Seakrab dan sedekat apapun hubungan anda dengan rekan-rekan di kantor, andapun tetap harus mengenal etiket. Misalnya anda tetap harus memanggil embel-embel 'mas' atau 'mbak' kepada rekan kerja yang lebih tua. Sebutan 'Bu' atau 'Pak' juga wajib anda ucapkan kalau memanggil bos atau atasan anda, kecuali jika bos anda tidak keberatan hanya dipanggil namanya. Minta ijin terlebih dulu ketika masuk ke ruangan teman kerja anda juga termasuk dalam etiket bergaul.

Begitu juga dalam berpakaian. Tentu cara berbusana pada jamuan bisnis berbeda dengan cara busana ke tempat liburan seperti ke pantai. Jadi kesimpulannya etiket adalah pengetahuan yang mengatur pantas atau tidaknya anda dalam segala aspek yang berkaitan dengan hubungan antar manusia. Dan makin tinggi kedudukan atau posisi seseorang makin tinggi pula tuntutan untuk menjunjung etiket.

Karena semakin tinggi posisi seseorang semakin luas pula lingkup pergaulannya. Sehingga mengharuskan ia mengetahui dan memahami etiket lebih dalam, sebagai modal pergaulannya. Orang dengan kedudukan, posisi dan jabatan yang tinggi, pergaulannya tidak terbatas pada keluarga, teman, dan masyarakat semata, tetapi biasanya sudah kepada urusan yang berbau bisnis. Nah dengan etiket yang baik, konon bisa memperlancar urusan bisnis ini. Karena di antaranya etiket juga mengatur tata cara pertemuan bisnis, jamuan bisnis, dan tata cara melobi seseorang dan menjalin hubungan dengan klien.

Pendek kata, dengan etiket, anda lebih mudah menyesuaikan diri dalam segala 'cuaca'. Dengan pengetahuan etiket yang memadai, anda akan merasa lebih nyaman berada dalam pergaulan di manapun dan dengan siapapun. Dengan demikian, anda tidak akan salah sikap, tidak salah tingkah dan mudah menyesuaikan diri, baik dalam hubungan pertemanan biasa maupun dalam hubungan dan transaksi bisnis.

Makanya kalau anda ingin menjadi orang yang disegani di kantor dan dimana- mana, jangan mengabaikan etiket. Tapi kalau anda bertahan tanpa etiket, siap-siap aja nggak punya temen dan dikucilkan dari pergaulan. Kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Ingat itu.

Dear Blog Ku Sayang.

Waktu sedemikian cepatnya sampai tidak terasa sudah lebih dari 7 (tujuh) tahun saya bekerja di kantor milik juragan nanas ini. Memang masih teramat baru, dan bahkan masih terbilang anak “baru kemarin sore”. Emang iya dibanding dengan rekan rekan kerja saya yang sudah tinggi masa kerjanya mulai dari belasan taon hingga puluhan taon. Namun biarlah saya tulis semua dalam BLOG ini sebagai media yang bisa mengakomodir suara hati yang paling terdalam.

Belajar seperti yang menjadi tema posting saya kali ini. Apa itu belajar atau "belajar" dengan menggunakan tanda petik. Belajar , semua orang tau, adalah proses mempelajari sesuatu. Sedangkan "belajar" yang menggunakan tanda petik adalah proses kontemplasi seseorang terhadap pengalaman dan bagaimana dia bisa menarik hikmah dan berusaha memperbaiki sikap dan diri. Kata "belajar" menjadi kata yang sah dan mudah sekali kata itu diucapkan oleh oleh siapa saja, bahkan oleh anak Sekolah Dasar sekalipun. Dalam konsep seorang anak Sekolah Dasar (SD), kata Belajar sudah menjadi kewajiban tidak tertulis sang anak untuk mulai membuka buka buku pelajaran. Belajar baginya adalah mempelajari sesuatu, menghapalkannya, dan siap untuk melaksanakan ulangan yang diberikan oleh guru. Bagaimana dengan diri kita? Bisakah kita belajar dari ini semua?. Apakah anda sudah "belajar"?

Namun kata ini menjadi sesuatu yang memalukan sekaligus tabu untuk sebuah perusahaan besar yang mengklaim dirinya sendiri yang terbesar ini. Kata “belajar” tidak pernah terpatri dalam dalam di benak mereka. Istilah kerennya sudah tenang dengan zona kemapanan, hingga khirnya terlena dalam lingkaran kemapanan sehingga menganggap dirinya sudah sempurna, tidak ada cacatnya. Padahal sikap merasa sudah pintar inilah yang justru menjadi bumerang. Mereka tidak mau dan tidak bisa belajar dari kesalahan yang sudah dibuat berulang ulang.

Berbagai kesalahan cetak, kesalahan pengutipan, pemakaian huruf besar, dan lebih fatal lagi adalah kesalahan dalam penulisan yang berasal dari bahasa Asing. Saya sendiri sudah capek (letih – red) memberi informasi kesalahan pengutipan asing ini melalui email kepada mereka, namun tetap saja mereka tidak perduli. Tutup kuping. Namun tidak semua berprilaku demikian, ada juga yang mengakui secara legawa kesalahan penulisan istilah asing, namun tidak jarang juga ada yang “mencak mencak”, merasa “dilecehkan” atau di “telanjangi” di depan umum. Bahkan seorang redaktur pun meneror saya untuk tidak membeberkan kesalahan di depan umum. Perlu dibedakan antara membeberkn kesalahan orang di depan umum, dengan kritik dan koreksi. Itu jauh berbeda. Saya bukan tipe orang yang suka mempertontonkan kesalahan orang di depan umum. Saya memberikan kritik, koreksi untuk sebuah kebaikan. Tidak ada maksud untuk menjatuhkan seseorang atas kesalahan yang dibuatnya.

Belajar dari kesalahan adalah sangat memalukan bagi mereka yang tidak bisa “menerima” kekurangan mereka. Justru ini sikap yang sangat tidak bijaksana. Mengapa tidak katakan saja mereka tidak tahu, karena akan dikasih tahu. Tidak ada maksud untuk menggurui. Tetapi memberikan informasi. Tetapi balasan apa yang aku terima?. Capek capek menyampaikan bahwa itu salah dan memberikan informasi penjelasan yang benar, namun kesalahan selalu saja terjadi.

Pernah suatu ketika ada penulisan kata “pontianak colorfull”. Penulisan “colorfull” dengan dua huruf L. Ini jelas salah dalam gramatika. Sudah sering saya sampaikan kepada dewan redaksi bahwa Suffix (akhiran-red) ful ditambahkan kepada kata benda (noun-red) untuk menghasilkan kata sifat. Contoh lain cheerful, joyful, dan lain sebagainya. Tetapi apa daya?. Sudah saya paparkan lengkap dengan referensinya tetapi istilah salah denan dua huruf L masih saya dipakai, sampai beberapa kali edisi.

Bahkan ada seorang redaktur yang dengan konyol menyatakan pendapat saya sebagai arogansi mentang mentang saya dari Bahasa Inggris. Ya ela belagu bener tuh redaktur. Bukannya berterima kasih sudah diinformasikan kesalahan sekaligus informasi yang sebenarnya, malah ngenYek (istilah jawa-red). Ya sudah lah nanti kalaw di sentil sama pembaca biar tau rasa. Saya sudah tidak perduli lagi dengan mereka. Mau cetak salah kutip atau tidak sudah bukan urusan saya lagi. Terserah you.

Sampai sekarang pun saya masih mendapati beberapa istilah asing yang berasal dari Bahasa Inggris yang salah dalam penulisan misalnya Multifiannce, padahal seharusnya adalah multfinance. Ah sudahlah terserah you. Saya udah capek kasih tahunya

Padahal kantor banyak uang. Mengapa tidak dipakai saja buat mencerdaskan para karyawannya. Disekolahin lagi kek, atau dikirim tugas belajar kek. Atau yang mau praktisnya ya undang tenaga ahli untuk memberikan inhouse training kepada para karyawan sesuai dengan bidang masing masing. Kan enak. Karyawan jadi cerdas, pintar, dan ini kan membuat koran menjadi lebih bernas, lebih ok, enak bahasanya, dan akan menjadi idola. Otak tuh diisi. Berikan pelatihan dan kursus buat wartawan dan juga karyawan bagian apa pun untuk bisa maju dan berkembang wawasannya. Bukan ngurusin kredit blackberry.

Berapa sih biaya buat kasi Les karyawannya atau datangkan instruktur atau tenaga ahli untuk kasih inhouse training kepada para karyawannya?. Apa nda mau memiliki karyawan yang cakap, terampil, pintar?. Pelesir ke Singapur, China, Eropa aja bisa ngongkosin. Pelesir digedein, otak nda diisi. Oala edan edan. Itulah sebabnya saya sebut TIDAK MAU BELAJAR dalam artian sebenarnya.

Belajar la. Malu tauuuuuu



Dear Blog,

Sudah bukan rahasia lagi kalaw diantara kita memang ada rasa tidak menyukai satu sama lainnya. Jangan bo ong deh. Perasaan itu akan slalu menyertai kita diri kita masing masing. Tidak perlu takut anda dicap tidak manusiawi. Karena perasaan benci itu juga ada kadar nilai positifnya. Kok bisa sih benci itu positif. Ya bisa saja perasaan membenci itu bernilai positif dan tidak selamanya rasa benci itu jelek. Unsur kebaikan juga ada di dalam rasa benci itu sendiri.

Sebagai contoh perasaan benci kita terhadap pelaku aborsi. Rasa benci kita terhadap koruptor yang merusak sendi sendi kehidupan keuangan negara kita. Rasa benci kita terhadap pelaku BLBI. Rasa benci kita terhadap pelaku pembobolan Bank Century. Serta berbagai perasaan benci kita terhadap kelompok yang merongrong kewibawan NKRI. Nah bukankah perasaan benci itu juga mengandung kebaikan. Perasaan BENCI itu biasanya muncul karena tidak ada daya upaya kita secara fisik untuk mengatasi hal hal itu. Perasaan itu muncul sebagai jawaban hati yang paling lemah. Kita tidak dapat membetulkan kesalahan itu. Yang paling bisa kita lakukan adalah di dalam hati. Kita tidak setuju perbuatan jahat itu. Nah dari sanalah rasa BENCI yang ikhlas bisa kita tanamkan dalam hati.

Ini akan menjadi persoalan jika kita tidak bisa memenej rasa benci dalam diri kita masing masing. Setiap orang yang kita benci harus mempunyai alasan jelas. Kita tidak bisa membenci seseorang yang kita sendiri tidak tau jelas apa yang diperbuat orang itu sehingga timbul perasaan benci kita kepadanya. Tidak mungkin kalaw tidak ada hujan tidak ada api tiba tiba anda membenci seseorang. Begitu juga sebaliknya tidak lazim orang lain membenci diri kita tanpa kita sendiri tidak tau apa yang telah kita lakukan sehingga orang membenci kita.

Persoalan akan semakin berkembang jika apa yang sudah kita miliki dengan perjuangan sendiri itu dibenci oleh orang lain. Atau juga orang lain membenci apa yang kita miliki. Apakah Anda pintar sampai orang menjadi benci terhadap anda?. Nah rasa benci seperti ini dibungkus oleh perasaan tidak suka sekaligus iri hati akan kelebihan yang dimiliki orang lain. Ataukah kita membenci seseorang karena orang itu terlalu keras "bunyi" nya karena bisa membahayakan posisinya?

Biasanya kita membenci seseorang karena orang itu melakukan pelanggaran kemanusiaan, pelanggaran hak hak manusia sewajarnya, dan juga melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan orang banyak. Lantas bagaimana dengan koruptor atau orang yang memperkaya dirinya sendiri, ataw orang yang tidak perduli sesama karena dirinya sendiri berusaha cari selamat?. Orang yang seperti ini tidak perlu dibenci. Karena kita tidak membenci orangnya. Karena sejelek apa pun orang berbuat sesuatu, atau sebaik apapun orang berbuat untuk kebaikan, pasti penerimaan orang lain akan berbeda satu dengan lainnya. Maksud baik pun kadang diterima orang lain dengan perasaan curiga. Maksud baik saja bisa ditanggapi dingin oleh orang lain. Apalagi maksud jahat sudah tentu orang tidak akan suka.

Setiap orang berhak menjadi Baik, sebagaimana setiap orang juga berhak menjadi jahat. Seperti yang sudah saya singgung diatas, setiap orang punya alasan mengapa berbuat baik dan mengapa harus berbuat tidak baik. Kalaw orang itu menindas orang lain, merugikan orang lain, mencopot jabatan seseorang yang tanpa alasan, sebaiknya orang itu jangan dibenci. Karena kita tidak membenci orangnya. Yang kita benci adalah Policy dan behaviornya. Kalaw orang lain bisa membenci anda, maka anda pun bisa melakukan hal yang sama kepada orang itu.

Ingatlah selalu. Kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan

Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog From Indonesia