Help us to keep our home

Saya tertarik sekali dengan tulisan mas Romi dalam INSIGHT di halaman 19 Pontianak Post pada hari kemarin (Selasa, 19/2). Tulisannya yang berisi dan berjudul "Mengatasi kesenjangan Komunikasi di Tempat kerja". Menurut saya isi tulisan mas Romi bagus sekali, dan saya tergelitik untuk memberikan tanggapan atas tulisan beliau.

Saya setuju semua yang dipaparkan dalam tulisan beliau, dan memang kita tidak dapat memungkiri hal semacam itu terjadi dimana saja di tempat kerja. Dimana ada orang lain di sekitar kita, di sanalah ada berbagai macam karakter manusia yang unik dan berbeda satu sama lainnya. Perbedaan karakter yang tidak sama satu sama lainnya kerap menciptakan friksi antara satu departemen dengan departemen lain sering sejalan dengan konflik individu yang mewarnai diantara keduanya.

Namun profesionalitas tetaplah dijunjung tinggi karena cakupan bahasan kita di sini adalah lingkungan kerja. Disinilah batasan yang perlu kita perhatikan. Namun itu semua tidak ada artinya jika sudah menyangkut ETIKA. Pesan yang mau saya sampaikan adalah "Jangan Pernah Abaikan Etiket". Etiket yang mana?. Tentunya etiket yang umum di tempat kerja kita. Sejak jaman dulu sampai sekarang, saat jaman semakin penuh keterbukaan dan vulgar, 'etiket' tetap diperlukan dalam pergaulan dimanapun. Etiket tetap dibutuhkan untuk menjaga sikap dan perilaku anda dari hal-hal yang 'tidak pantas'. Karena etiket pada dasarnya adalah tata cara yang mengatur kepantasan dalam bergaul agar semua pihak merasa nyaman.

Mungkin kalau anda mendengar kata 'etiket', ingatan anda akan melayang pada tata cara bersantap di meja makan. Padahal etiket mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari cara menelepon seseorang, cara bertamu, cara menjamu relasi bisnis, mengendarai mobil di jalan raya, memperkenalkan seseorang pada orang lain, sampai etiket menolak tamu.

Orang yang tidak mempedulikan etiket, biasanya menganggap etiket merupakan suatu atribut yang merepotkan hidup. Makanya orang yang tidak tahu 'etika' umumnya bertingkah seenaknya, tidak tahu sopan santun, dan bicara semaunya. Misalnya saja berjalan di tangga dengan sengaja dengan menjejakkan kakinya terlalu keras seperti jalannya GAJAH. Bum..bum..bum. Walau sudah disampaikan kepadanya bahwa sikapnya itu tidak mencerminkan etiket, tetap saja dilakukan. Seolah seperti menantang. Kemana orang itu menyimpan akal sehatnya?.

Mereka yang tidak mengenal etika merasa tidak perlu menghargai keberadaan orang lain dan menjalani hidup ini berdasarkan peraturan yang dibuatnya sendiri. Jadi tak heran, mereka yang tidak tahu etika kerap disebut orang yang 'tak beradab'. Mereka yang tidak tahu etika tidak akan disukai dalam pergaulan, kecuali dalam pergaulan yang menganut aliran yang sama. Dalam pergaulan di kantor, etiket mutlak diperlukan. Karena tentu saja lingkup pergaulan di kantor berbeda dengan pergaulan anda di masyarakat atau di rumah. Di kantor terdiri dari banyak peraturan dan birokrasi yang mengatur perilaku dan sikap anda di kantor.

Seakrab dan sedekat apapun hubungan anda dengan rekan-rekan di kantor, andapun tetap harus mengenal etiket. Misalnya anda tetap harus memanggil embel-embel 'mas' atau 'mbak' kepada rekan kerja yang lebih tua. Sebutan 'Bu' atau 'Pak' juga wajib anda ucapkan kalau memanggil bos atau atasan anda, kecuali jika bos anda tidak keberatan hanya dipanggil namanya. Minta ijin terlebih dulu ketika masuk ke ruangan teman kerja anda juga termasuk dalam etiket bergaul.

Begitu juga dalam berpakaian. Tentu cara berbusana pada jamuan bisnis berbeda dengan cara busana ke tempat liburan seperti ke pantai. Jadi kesimpulannya etiket adalah pengetahuan yang mengatur pantas atau tidaknya anda dalam segala aspek yang berkaitan dengan hubungan antar manusia. Dan makin tinggi kedudukan atau posisi seseorang makin tinggi pula tuntutan untuk menjunjung etiket.

Karena semakin tinggi posisi seseorang semakin luas pula lingkup pergaulannya. Sehingga mengharuskan ia mengetahui dan memahami etiket lebih dalam, sebagai modal pergaulannya. Orang dengan kedudukan, posisi dan jabatan yang tinggi, pergaulannya tidak terbatas pada keluarga, teman, dan masyarakat semata, tetapi biasanya sudah kepada urusan yang berbau bisnis. Nah dengan etiket yang baik, konon bisa memperlancar urusan bisnis ini. Karena di antaranya etiket juga mengatur tata cara pertemuan bisnis, jamuan bisnis, dan tata cara melobi seseorang dan menjalin hubungan dengan klien.

Pendek kata, dengan etiket, anda lebih mudah menyesuaikan diri dalam segala 'cuaca'. Dengan pengetahuan etiket yang memadai, anda akan merasa lebih nyaman berada dalam pergaulan di manapun dan dengan siapapun. Dengan demikian, anda tidak akan salah sikap, tidak salah tingkah dan mudah menyesuaikan diri, baik dalam hubungan pertemanan biasa maupun dalam hubungan dan transaksi bisnis.

Makanya kalau anda ingin menjadi orang yang disegani di kantor dan dimana- mana, jangan mengabaikan etiket. Tapi kalau anda bertahan tanpa etiket, siap-siap aja nggak punya temen dan dikucilkan dari pergaulan. Kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Ingat itu.

Dear Blog Ku Sayang.

Waktu sedemikian cepatnya sampai tidak terasa sudah lebih dari 7 (tujuh) tahun saya bekerja di kantor milik juragan nanas ini. Memang masih teramat baru, dan bahkan masih terbilang anak “baru kemarin sore”. Emang iya dibanding dengan rekan rekan kerja saya yang sudah tinggi masa kerjanya mulai dari belasan taon hingga puluhan taon. Namun biarlah saya tulis semua dalam BLOG ini sebagai media yang bisa mengakomodir suara hati yang paling terdalam.

Belajar seperti yang menjadi tema posting saya kali ini. Apa itu belajar atau "belajar" dengan menggunakan tanda petik. Belajar , semua orang tau, adalah proses mempelajari sesuatu. Sedangkan "belajar" yang menggunakan tanda petik adalah proses kontemplasi seseorang terhadap pengalaman dan bagaimana dia bisa menarik hikmah dan berusaha memperbaiki sikap dan diri. Kata "belajar" menjadi kata yang sah dan mudah sekali kata itu diucapkan oleh oleh siapa saja, bahkan oleh anak Sekolah Dasar sekalipun. Dalam konsep seorang anak Sekolah Dasar (SD), kata Belajar sudah menjadi kewajiban tidak tertulis sang anak untuk mulai membuka buka buku pelajaran. Belajar baginya adalah mempelajari sesuatu, menghapalkannya, dan siap untuk melaksanakan ulangan yang diberikan oleh guru. Bagaimana dengan diri kita? Bisakah kita belajar dari ini semua?. Apakah anda sudah "belajar"?

Namun kata ini menjadi sesuatu yang memalukan sekaligus tabu untuk sebuah perusahaan besar yang mengklaim dirinya sendiri yang terbesar ini. Kata “belajar” tidak pernah terpatri dalam dalam di benak mereka. Istilah kerennya sudah tenang dengan zona kemapanan, hingga khirnya terlena dalam lingkaran kemapanan sehingga menganggap dirinya sudah sempurna, tidak ada cacatnya. Padahal sikap merasa sudah pintar inilah yang justru menjadi bumerang. Mereka tidak mau dan tidak bisa belajar dari kesalahan yang sudah dibuat berulang ulang.

Berbagai kesalahan cetak, kesalahan pengutipan, pemakaian huruf besar, dan lebih fatal lagi adalah kesalahan dalam penulisan yang berasal dari bahasa Asing. Saya sendiri sudah capek (letih – red) memberi informasi kesalahan pengutipan asing ini melalui email kepada mereka, namun tetap saja mereka tidak perduli. Tutup kuping. Namun tidak semua berprilaku demikian, ada juga yang mengakui secara legawa kesalahan penulisan istilah asing, namun tidak jarang juga ada yang “mencak mencak”, merasa “dilecehkan” atau di “telanjangi” di depan umum. Bahkan seorang redaktur pun meneror saya untuk tidak membeberkan kesalahan di depan umum. Perlu dibedakan antara membeberkn kesalahan orang di depan umum, dengan kritik dan koreksi. Itu jauh berbeda. Saya bukan tipe orang yang suka mempertontonkan kesalahan orang di depan umum. Saya memberikan kritik, koreksi untuk sebuah kebaikan. Tidak ada maksud untuk menjatuhkan seseorang atas kesalahan yang dibuatnya.

Belajar dari kesalahan adalah sangat memalukan bagi mereka yang tidak bisa “menerima” kekurangan mereka. Justru ini sikap yang sangat tidak bijaksana. Mengapa tidak katakan saja mereka tidak tahu, karena akan dikasih tahu. Tidak ada maksud untuk menggurui. Tetapi memberikan informasi. Tetapi balasan apa yang aku terima?. Capek capek menyampaikan bahwa itu salah dan memberikan informasi penjelasan yang benar, namun kesalahan selalu saja terjadi.

Pernah suatu ketika ada penulisan kata “pontianak colorfull”. Penulisan “colorfull” dengan dua huruf L. Ini jelas salah dalam gramatika. Sudah sering saya sampaikan kepada dewan redaksi bahwa Suffix (akhiran-red) ful ditambahkan kepada kata benda (noun-red) untuk menghasilkan kata sifat. Contoh lain cheerful, joyful, dan lain sebagainya. Tetapi apa daya?. Sudah saya paparkan lengkap dengan referensinya tetapi istilah salah denan dua huruf L masih saya dipakai, sampai beberapa kali edisi.

Bahkan ada seorang redaktur yang dengan konyol menyatakan pendapat saya sebagai arogansi mentang mentang saya dari Bahasa Inggris. Ya ela belagu bener tuh redaktur. Bukannya berterima kasih sudah diinformasikan kesalahan sekaligus informasi yang sebenarnya, malah ngenYek (istilah jawa-red). Ya sudah lah nanti kalaw di sentil sama pembaca biar tau rasa. Saya sudah tidak perduli lagi dengan mereka. Mau cetak salah kutip atau tidak sudah bukan urusan saya lagi. Terserah you.

Sampai sekarang pun saya masih mendapati beberapa istilah asing yang berasal dari Bahasa Inggris yang salah dalam penulisan misalnya Multifiannce, padahal seharusnya adalah multfinance. Ah sudahlah terserah you. Saya udah capek kasih tahunya

Padahal kantor banyak uang. Mengapa tidak dipakai saja buat mencerdaskan para karyawannya. Disekolahin lagi kek, atau dikirim tugas belajar kek. Atau yang mau praktisnya ya undang tenaga ahli untuk memberikan inhouse training kepada para karyawan sesuai dengan bidang masing masing. Kan enak. Karyawan jadi cerdas, pintar, dan ini kan membuat koran menjadi lebih bernas, lebih ok, enak bahasanya, dan akan menjadi idola. Otak tuh diisi. Berikan pelatihan dan kursus buat wartawan dan juga karyawan bagian apa pun untuk bisa maju dan berkembang wawasannya. Bukan ngurusin kredit blackberry.

Berapa sih biaya buat kasi Les karyawannya atau datangkan instruktur atau tenaga ahli untuk kasih inhouse training kepada para karyawannya?. Apa nda mau memiliki karyawan yang cakap, terampil, pintar?. Pelesir ke Singapur, China, Eropa aja bisa ngongkosin. Pelesir digedein, otak nda diisi. Oala edan edan. Itulah sebabnya saya sebut TIDAK MAU BELAJAR dalam artian sebenarnya.

Belajar la. Malu tauuuuuu



Dear Blog,

Sudah bukan rahasia lagi kalaw diantara kita memang ada rasa tidak menyukai satu sama lainnya. Jangan bo ong deh. Perasaan itu akan slalu menyertai kita diri kita masing masing. Tidak perlu takut anda dicap tidak manusiawi. Karena perasaan benci itu juga ada kadar nilai positifnya. Kok bisa sih benci itu positif. Ya bisa saja perasaan membenci itu bernilai positif dan tidak selamanya rasa benci itu jelek. Unsur kebaikan juga ada di dalam rasa benci itu sendiri.

Sebagai contoh perasaan benci kita terhadap pelaku aborsi. Rasa benci kita terhadap koruptor yang merusak sendi sendi kehidupan keuangan negara kita. Rasa benci kita terhadap pelaku BLBI. Rasa benci kita terhadap pelaku pembobolan Bank Century. Serta berbagai perasaan benci kita terhadap kelompok yang merongrong kewibawan NKRI. Nah bukankah perasaan benci itu juga mengandung kebaikan. Perasaan BENCI itu biasanya muncul karena tidak ada daya upaya kita secara fisik untuk mengatasi hal hal itu. Perasaan itu muncul sebagai jawaban hati yang paling lemah. Kita tidak dapat membetulkan kesalahan itu. Yang paling bisa kita lakukan adalah di dalam hati. Kita tidak setuju perbuatan jahat itu. Nah dari sanalah rasa BENCI yang ikhlas bisa kita tanamkan dalam hati.

Ini akan menjadi persoalan jika kita tidak bisa memenej rasa benci dalam diri kita masing masing. Setiap orang yang kita benci harus mempunyai alasan jelas. Kita tidak bisa membenci seseorang yang kita sendiri tidak tau jelas apa yang diperbuat orang itu sehingga timbul perasaan benci kita kepadanya. Tidak mungkin kalaw tidak ada hujan tidak ada api tiba tiba anda membenci seseorang. Begitu juga sebaliknya tidak lazim orang lain membenci diri kita tanpa kita sendiri tidak tau apa yang telah kita lakukan sehingga orang membenci kita.

Persoalan akan semakin berkembang jika apa yang sudah kita miliki dengan perjuangan sendiri itu dibenci oleh orang lain. Atau juga orang lain membenci apa yang kita miliki. Apakah Anda pintar sampai orang menjadi benci terhadap anda?. Nah rasa benci seperti ini dibungkus oleh perasaan tidak suka sekaligus iri hati akan kelebihan yang dimiliki orang lain. Ataukah kita membenci seseorang karena orang itu terlalu keras "bunyi" nya karena bisa membahayakan posisinya?

Biasanya kita membenci seseorang karena orang itu melakukan pelanggaran kemanusiaan, pelanggaran hak hak manusia sewajarnya, dan juga melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan orang banyak. Lantas bagaimana dengan koruptor atau orang yang memperkaya dirinya sendiri, ataw orang yang tidak perduli sesama karena dirinya sendiri berusaha cari selamat?. Orang yang seperti ini tidak perlu dibenci. Karena kita tidak membenci orangnya. Karena sejelek apa pun orang berbuat sesuatu, atau sebaik apapun orang berbuat untuk kebaikan, pasti penerimaan orang lain akan berbeda satu dengan lainnya. Maksud baik pun kadang diterima orang lain dengan perasaan curiga. Maksud baik saja bisa ditanggapi dingin oleh orang lain. Apalagi maksud jahat sudah tentu orang tidak akan suka.

Setiap orang berhak menjadi Baik, sebagaimana setiap orang juga berhak menjadi jahat. Seperti yang sudah saya singgung diatas, setiap orang punya alasan mengapa berbuat baik dan mengapa harus berbuat tidak baik. Kalaw orang itu menindas orang lain, merugikan orang lain, mencopot jabatan seseorang yang tanpa alasan, sebaiknya orang itu jangan dibenci. Karena kita tidak membenci orangnya. Yang kita benci adalah Policy dan behaviornya. Kalaw orang lain bisa membenci anda, maka anda pun bisa melakukan hal yang sama kepada orang itu.

Ingatlah selalu. Kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan


Dear Blog,

Tadi siang menjelang sore saat aku kembali dari rumah ke kantor untuk mengabsen pulang kuliat salah seorang senior saya di kantor terduduk jongkok sambil memainkan Hand Phone (saya rasa bukan HP nya yang dimainkan, melainkan sedang mengirimkan SMS atau sedang membaca SMS-red). Masa iya sih sudah segede itu masih maenan Hape emangnya anak kecil wahehhehehe. Sebut saja nama orang itu dengan inisial "K". Dia memang sudah puluhan taun bekerja di kantor, dan orang sudah pada tau pada karakter orang ini yang keras, dan sentilan sentilannya memang tajam setajam silet. Wahaha udah kaya nama pogram TV Swasta aja ya SILET.

Hmm lalu apa yang menjadi perhatian saya saat itu?. Sebenere isu dia dicopot dari Jabatannya sebagai komandan PraCetak sudah lama saya dengar. Nda begitu lama sih ya cuma beberapa hari saja. Masa iya sih beberapa hari disebut lama sih? hehehe iya sih maklumlah lebay lebay gitu hehehhee. Info ini saya dapat dari rekan senior saya juga di kantor, tapi lu tau kan kalaw gue tipe yang tidak mau mempercayain isu isu apa saja sebelum konfirmasi langsung sama orangnya. Seperti kemarin saya konfirm ke petinggi kantor soal boleh tidaknya saya ikut pelatihan Konperensi Asia Afrika di Bandung untuk 23-28 Agustus 2009 nanti yang berbiaya 3 juta rupiah itu. 3 juta itu ukuran harga "cemilan" untuk kantor yang bisa dan mampu memberangkatkan orang sampai ke negara tirai Bambu alias China itu.

Dan ternyata jawbannya sudah diduga. Tidak bisa. Tidak bisa atau pelit?. Mereka bilang selain CUTI, izin keluar hanya akan diberikan jika kegiatan itu sesuai dengan latar belakang dan job deskripsi masing masing unit kerja. Dan itupun harus diacc sama atasan atau manager yang bersangkutan. Jawaban standar saja. Saya anggap jawaban itu masih bisa diterima dan masuk akal. Namun demikian ada sisi lain mengapa jawaban itu diberikan?. Mengapa kantor tidak mau mendukung karyawan yang ingin meningkatkan pengetahuan dan otaknya dengan mengikuti pelatihan dan pendidikan diluar jam kerjanya di kantor?. Mengapa pelatihan dan pendidikan itu harus sesuai dengan bidang pekerjaan atau menunjang pekerjaan di kantor?. Mengapa kantor tidak mau mendukung karyawan yang menimba ilmu "lompat pagar" untuk menunjang wawasan dan pengetahuannya dan tidak harus terkotak kotak dengan disiplin ilmunya?.

Coba saja bandingkan dengan rekan rekan saya yang wartawan. Banyak dari rekan wartawan yang tidak sesuai atau tidak memiliki basic wartawan. Tetapi dia mampu. Saya salut dengan rekan wartawan. Saya bangga pada mereka. Kita boleh saja menimba ilmu apa saja. Meluaskan pengetahuan tidak selalu harus dibidangnya masing masing. Orang kuliah tidak selalu mengejar selembar ijasah Strata 1. Orang kuliah jangan selalu dianggap sebagai pabrik nya menghasilkan para penganggur. Itu tidak baik berpendapat sangkaan buruk. Orang kuliah juga perlu untuk menajamkan wawasannya meluaskan pikirannya agar semakin bijaksana dan mempunyai padangan yang cermat dalam menentukan langkahnya di kemudian hari. Wawasannya akan semakin tajam dengan hadirnya dia diberbagai forum kemahasiswaan, dan itu bisa dicapai dengan semakin berkembangnya otak sang mahasiswa dengan berbagai ilmu pengetahuan.

Orang tidak harus belajar sesuai dengan bidangnya. Kalaw kita selalu membatasi diri untuk bidang pengetahuan yang hanya terkotak pada pekerjaannya saja, saya yakin bagai katak dalam tempurung. Wawasannya pendek, tidak cermat, dan cenderung akan membodohi diri sendiri karena menutup diri dari surga ilmu diluar sana. Ilmu apa saja sejauh itu baik akan selalu bermanfaat bagi pengembangan pendidikan dan wawasan berpikirnya yang secara tidak langsung juga akan menunjang pekerjaannya.

Kembali ke soal rekan saya yang tiba tiba "kehilangan" posisinya sebagai komandan pracetak itu?. Saya jadi bertanya : apa yang diperbuatnya sehingga dia di "copot" dari jabatannya. Mengapa itu bisa terjadi?. Apa karena sepak terjangnya yang dinilai kantor terlalu "keras" sehingga perlu di "bungkam"? Atau apakah karena ada alasan atau motif Politik atau ekonomi dibalik pencopotannya itu?. Saya coba menelaah mengapa itu bisa dilakukan terhadap nya?. Pertama, mungkin saja dia terlalu "pedas" lidahnya dalam bertutur sehingga telah membuat orang lain teluka hatinya. Ya bisa saja kan orang gayanya ceplas ceplos gitu, yang bagi orang tertentu pasti akan tersinggung. Ini dugaan sementara saya.

Kedua, mungkin Mr K ini dicopot dari jabatannya karena akan sangat "merepotkan" untuk dibayar pesangonnya jika diberhentikan (PHK) atau kelak jika sudah waktunya dia pensiun?. Hahaha lucu. Kata "pensiun" langsung membuat saya tertawa. Iya lucu aja karena sudah mau nyaingin Pegawai Negeri Sipil dengan sebutan Pensiun. Dalam konsep saya yang sederhana dan awam ini, Pensiun itu akan selalu mendapatkan insentif walau dia sudah tidak bekerja lagi. Apa iya kantor saya kaya gitu?. Hmmm ini dugaan saya yang kedua saja. Yang Ketiga, mungkin memberikan memberikan efek jera bagi siapa saja yang mencoba sebagai potential deffender (sebutan Pak Prof Muladi untuk menyebut orang yang berpotensi membuat "onar"- red). Jadi orang akan takut untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Mr K.

Saya sendiri sebenere sudah bisa membaca arah kemana ini akan terjadi. Saya sendiri sudah tidak lagi melancarkan serangan dengan kritikan dan kontrol sosial. Saya sudah fade away (menyingkir - red). Bukan karena ingin dianggap pahlawan ya. Ya karena saya "gerah" banyak ketidak beresan dan ketidak adilan yang terjadi di depan mata saya dan saya tidak dapat melakukan apa apa. Sekarang sudah jelas semuanya. Tembok itu tidak dapat dirubuhkan dengan kepalan tangan saya yang mungil. Mr K dalam pandangan saya mempunyai kharisma sendiri (Ntah merek motor dia apa ya. apa iya merek kharisma hahahaha-red). Mr K punya bakat sebagai "The Giant Killer" atau pembunuh raksasa yang akhirnya bisa "dibunuh" secara halus melalui "character assasination" (pembunuhan karakter-red) dengan cara dicopot seperti ini. M

Mungkinkah ide pencopotannya hasil dari "bisikan" seseorang yang tidak senang kepadanya?. Apakah ada konspirasi tingkat tinggi dibalik pencopotannya sebagai Kabarestak (Kepala Barisan Pracetak-red) itu. I don't like this game. Saya turut prihatin


Ah yang bener...

Ini mirip sekali dengan bunyi iklan yang ada dan banyak ditayangkan di berbagai televisi swasta di tanah air kita, Indonesia. Bunyi slogan salah satu layanan kartu pra bayar suatu produk kartu telepon selular di Indonesia yang artinya mirip nama sebuah senjata itu hihihihihi. Soale kalaw disebut nama produknya wah enak bener tuh produk diiklankan secara gratis emangnya gue dinas sosial. Hehehee. Tapi bener ini sebuah intermezo aja tentang posting saya kali ini mengenai "ah yang bener..." itu tadi kira kira bermakna apa hayoo. Tebak tebakan ne, Yang bisa menjawab boleh membaca blog saya sepuas puasnya dan fasilitas makan setiap hari di rumah masing masing. Hehehhehehehe.

Banyak hal yang aneh yang terjadi di negeri yang terkenal karena angka korupsinya yang tinggi ini. Ada saja hal yang lucu terjadi dan hampir setiap hari. Namun kalaw diliat dari judul posting saya di sini "ah yang bener..." bernada riang dan seolah tidak percaya akan sesuatu yang menyenangkan. Sebagai referensi ya liat saja tayangan iklan produk kartu pra bayar itu. Hehehehe. Namun sepanjang yang saya amati profil iklan produk kartu pra bayar itu banyak mengalami editing dan penyuntingan di sana sini. Setau saya ada ucapan "ah yang bener" diucapkan oleh sepasang pengantin yang berada di dalam ranjang malam pertamanya yang penuh ditaburi bunga bunga itu. Hihihihihii senyum senyum saja saya dibuatnya.

Ah yang bener....
Masa kerja sudah lebih dari 5 (lima) taun masih saja menyandang status sebagai KKA (Karyawan Kontrak Abadi)?. Apa memang begitu peraturannya. Kata siapa yang bilang yang jadi diangkat menjadi karyawan tetap adalah mereka yang "dipilih" oleh sang bos atas dasar karena suka dan layak. Bukan karena memang sudah menjadi haknya menjadi karyawan tetap setelah melalui tahapan kontrak. Peraturan macam apa itu seenaknya sendiri, menginjak injak Undang Undang ketenagakerjaan secara membabi buta dan tidak cerdas. Itu tidak baik, dan tidak layak ditiru oleh perusahaan manapun yang ada di planet bumi ini.

Ah yang bener.....
Begitu banyak kejadian yang menyita keuangan Negara saat ini. Sang pelaku koruptor sudah jelas salah atas dasar vonis pengadilan. Tapi masih saja berkeliaran di mana mana dengan bebasnya. Masa untuk surat email keluhan saja harus mendekam di Penjara?. Mengapa orang bersaksi untuk kebenaran malah dituding menyebarkan fitnah seperti kombes Kusno itu. Ah yang bener. Masa di Indonesia, angka korupsi masih saja merajalela di sana sini. Ah yang bener. Presiden SBY tidak mau bergerak cepat menuntaskan kasus century yang telah menyeret nama Sri Mulyani Menteri keuangan dan Wakil Presiden Budiono itu.

Ah yang bemer aja deh. Makin kacow saja negeri ku ini


Judul di atas kalaw diterjemahkan secara sederhana dalam Bahasa Inggris menjadi "Idealism is not a Crime". Memang. Menjadi idealis adalah sah dan bukan suatu kejahatan. Setiap orang memang dilahirkan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kata siapa setiap orang itu memiliki bakat yang sama dan juga talentanya yang juga sama?. Saya tidak percaya kalaw ada yang bilang "ah si anu bisa menjadi pengarang terkenal, saya juga bisa. Orang lain bisa mengapa saya tidak?". Ini streotip yang ngaco menurut saya. Karena apa ya karena setiap orang tidak sama bakat dan talentanya. TUHAN memberikan bekal ketrampilan, kelebihan, bakat dan juga kekurangan dalam satu paket di dalam diri setiap orang.

Kalaw ada orang yang punya kekuasaan, uang dan pengaruh, apakah dia bisa membeli sebuah harga diri dan juga idealisme seseorang?. Memang tidak selalu, tetapi banyak juga orang yang masih setia mempertahankan tradisionalnya, adat istiadatnya hingga ego idealismenya yang kadang bisa membuat orang lain kesal. Ya tentu saja idealisme seseorang bisa membuat orang lain kesal.

Memang idealisme bisa buat orang lain kesal. Sebagai contoh di saat orang lagi tren menjadi penjilat BOS, bahkan dia sendiri "sok" mandiri dan idealis berjuang dengan kemampuannya sendiri. Hasilnya apa? Ya hasilnya tetap saja hidupnya merana, karirnya di kantor tetap menjadi karyawan kontrak abadi, serta sederet perlakuan tidak adil lainnya yang dia terima. Dia tetap tabah, dan sabar, dan bahkan berjuang sendiri dengan keyakinannya sendiri bahwa Idealisme memang layak untuk dipertahankan bahkan memerlukan pengorbanan harus tidak sejahtera dibanding rekan rekan kerjanya yang sudah "senior" dalam jilat menjilat.

Menjadi idealis tidak ada masalah dengan orang lain yang bahkan tidak mau idealis. Tetapi sebaiknya hormatilah orang yang masih memegang teguh prinsip idealis yang tidak akan bisa diganggu gugat. Sang idealis pun juga harus bisa menghormati orang lain yang juga tidak idealis atau yang tidak sepaham dengan dirinya sendiri. Menjadi Idealis bukanlah suatu kejahatan. Dia bukanlah ancaman bagi orang lain, dan sebaliknya orang lain pun sebaiknya tidak melakukan intimidasi atau ancam mengancam kepada mereka yang memegang teguh prinsip yang diyakininya. Keyakinan bisa saja menjadi bagian dari seseorang dan seseorang berhak untuk mempertahankannya.
Bandara Supadio Pontianak From Bali With Love Selfie Dengan Selebritis
| Copyright © 2013 Asep Haryono Personal Blog From Indonesia