Berdasarkan data yang For Her dapatkan, estimasi jumlah populasi rawan tertular HIV di Kalbar menurut Kabupaten/Kota pada tahun 2009 lalu cukuplah tinggi. Diprediksi angka rentan itu terus meningkat setiap tahunnya, di tahun 2010 dan 2011 ini. Sumber data dari Kemenkes Tahun 2009 untuk wilayah kota Pontianak menempati urutan tertinggi pada populasi rawan tertular HIV yakni pasangan pelanggan wanita pekerja seks (ibu rumah tangga, red) yakni 16,917. Jika ditotalkan untuk Kalimantan Barat sendiri jumlahnya mencapai angka 77,312.
Mengapa ibu rumah tangga bisa terpapar virus HIV? Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pontianak, Padmi J. Chendramidi S.Sos MM mengakui secara umum memang benar bahwa ibu rumah tangga memiliki resiko untuk terpapar virus HIV. “Tapi sebenarnya siapapun punya resiko yang sama, tergantung bagaimana kita menyikapinya dan pola hidup yang kita jalani,” ujarnya.
Mengapa ibu rumah tangga bisa terpapar virus HIV? Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pontianak, Padmi J. Chendramidi S.Sos MM mengakui secara umum memang benar bahwa ibu rumah tangga memiliki resiko untuk terpapar virus HIV. “Tapi sebenarnya siapapun punya resiko yang sama, tergantung bagaimana kita menyikapinya dan pola hidup yang kita jalani,” ujarnya.
Menurutnya, ibu RT menjadi komunitas yang rentan terhadap virus ini, biasanya tertular dari sang suami. Karena suami yang mempunyai kesempatan besar untuk selalu berpergian ke luar rumah. “Di Indonesia, kaum lelaki menjadi penafkah keluarga dan dialah yang mencari uang. Nah dari perjalanan-perjalanan yang dia lakukan tersebut timbul juga kebutuhan lain, yakni kebutuhan biologis.
Ketika seorang lelaki pergi untuk melakukan perjalanan dinas, tak mungkin dia mengajak istrinya. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, sebagian dari mereka kerap memakai jasa pekerja seks atau pasangan lainnya,“ beber Padmi panjang lebar. Kaum lelaki yang hobi jajan seks pun tak mungkin bilang ke istrinya. “Padahal mereka inilah yang berpeluang besar menularkan pada istrinya, yang kemudian melahirkan anak yang juga berpotensi terkena,” timpalnya.
Berbicara mengenai kaum suami yang terbiasa ‘jajan’ diluar, dengan dalih karena istri tak bisa memberikan apa yang suami inginkan, Padmi tak menyetujui hal itu sepenuhnya. Tak bisa juga suami menyalahkan istri yang menyambut dirinya pulang ke rumah, hanya dengan baju daster, tidak berdandan dan wajah ketus. Begitupun si istri menuding suaminya tidak setia, dan lain-lain karena kerap jajan diluar rumah.
“Intinya, bagaimana membangun kesadaran masing-masing pihak, antara suami dan istri. Dulu, istri harus mematuhi semua perintah suami, tanpa bisa bisa bertanya manfaat untuk dirinya. Nah kalau sekarang, istri jauh lebih kritis. Dia berhak bertanya, bahkan menolak atau memberikan solusi jika perintah tersebut tidak dijalankan,” tambahnya lagi.
Dan untungnya lagi sambung Padmi, ibu rumah tangga sekarang juga sudah memiliki kesadaran cukup tinggi untuk memeriksakan diri mereka. Mereka sudah tidak seperti budaya ibu rumah tangga dulu, yang hanya tinggal di rumah saja, lalu kemudian menunggui suaminya. “Kebanyakan ibu RT sekarang sudah mengerti bagaimana memproteksi diri mereka, dan mereka memang berhak memperoleh informasi yang benar,” ujarnya.
Sumber Pontianak Post
Ketika seorang lelaki pergi untuk melakukan perjalanan dinas, tak mungkin dia mengajak istrinya. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, sebagian dari mereka kerap memakai jasa pekerja seks atau pasangan lainnya,“ beber Padmi panjang lebar. Kaum lelaki yang hobi jajan seks pun tak mungkin bilang ke istrinya. “Padahal mereka inilah yang berpeluang besar menularkan pada istrinya, yang kemudian melahirkan anak yang juga berpotensi terkena,” timpalnya.
Berbicara mengenai kaum suami yang terbiasa ‘jajan’ diluar, dengan dalih karena istri tak bisa memberikan apa yang suami inginkan, Padmi tak menyetujui hal itu sepenuhnya. Tak bisa juga suami menyalahkan istri yang menyambut dirinya pulang ke rumah, hanya dengan baju daster, tidak berdandan dan wajah ketus. Begitupun si istri menuding suaminya tidak setia, dan lain-lain karena kerap jajan diluar rumah.
“Intinya, bagaimana membangun kesadaran masing-masing pihak, antara suami dan istri. Dulu, istri harus mematuhi semua perintah suami, tanpa bisa bisa bertanya manfaat untuk dirinya. Nah kalau sekarang, istri jauh lebih kritis. Dia berhak bertanya, bahkan menolak atau memberikan solusi jika perintah tersebut tidak dijalankan,” tambahnya lagi.
Dan untungnya lagi sambung Padmi, ibu rumah tangga sekarang juga sudah memiliki kesadaran cukup tinggi untuk memeriksakan diri mereka. Mereka sudah tidak seperti budaya ibu rumah tangga dulu, yang hanya tinggal di rumah saja, lalu kemudian menunggui suaminya. “Kebanyakan ibu RT sekarang sudah mengerti bagaimana memproteksi diri mereka, dan mereka memang berhak memperoleh informasi yang benar,” ujarnya.
Sumber Pontianak Post









