
Helo semua. Kembali lagi dengan postingan Asep Haryono hari ini. Kali ini yang ingin saya coba tulis secara singkat dan sederhana mengenai Gaji. Aha siapa yang tidak mau mendapatkan gaji yang layak?. Lah memang ada gaji yang tidak layak? Nah ukuran layak dan tidak layak suatu gaji memang bukan menjadi fokus utama postingan blog saya kali ini. Tetapi berita berita yang menjadi "hot issue" sekarang ini adalah aksi mogok yang dilakukan oleh para Pilot maskapai penerbangan Garuda Indonesia pada hari ini.
Menurut kabar yang beredar bahwa salah satu penyebab para pilot Garuda Indonesia lokal itu mogok terbang karena protes terhadap gaji yang diterimanya tidak sama dengan para pilot asing yang dikontrak oleh manajemen Garuda Indonesia. Sebagai perbandingan jumlah gaji Pilot lokal Garuda Indonesia itu berkisar antar 40 an jua rupiah sedangkan nilai gaji Pilot Asing yang dikontrak bisa dua kali lipatnya.
Menurut kabar yang beredar bahwa salah satu penyebab para pilot Garuda Indonesia lokal itu mogok terbang karena protes terhadap gaji yang diterimanya tidak sama dengan para pilot asing yang dikontrak oleh manajemen Garuda Indonesia. Sebagai perbandingan jumlah gaji Pilot lokal Garuda Indonesia itu berkisar antar 40 an jua rupiah sedangkan nilai gaji Pilot Asing yang dikontrak bisa dua kali lipatnya.
Menurut kabar yang dilansir oleh DETIK COM yang saya baca hari ini justru menceritakan hal yang sebaliknya. Disebutkan di DETIKCOM tersebut bahwa jumlah gaji yang didapatkan oleh pilot-pilot lokalnya lebih besar ketimbang gaji pilot asing yang dikontraknya. Dalam sebulan gaji pilot lokal mencapai Rp 71 juta, sementara pilot asing Rp 68,8 juta/bulan. Hal ini, kata DETIKCOM, malah tidak diperhatikan, demikian seperti yang disampaikan oleh Vice President Corporate Communication Garuda Pujobroto dalam siaran pers, Rabu (27/7/2011). Nah kalau sudah begini siapa yang benar donk? Jangan bikin bingung masyarakat yang sudah bingung dengan keadaan negeri ini yang kacau balau semuanya. Kagak ada yang beres.
Hanya saja mogok memang dijamin oleh Undang Undang di negara kita, selain karena hak yang dijamin undang undang, mogok juga disarankan untuk dilakukan dengan baik dan tidak dengan emosi atau bahkan dengan tindakan yang mengarah kepada anarkisme. Tidak boleh. Namun yang disesalkan justru aski mogok para pilot Indonesia itu berpotensi menelantarkan para penumpangnya.
Kalaw sudah konflik kepentingan di sini, baik antara pilot yang mogok dengan pihak yang manajemen, yang paling dirugikan tentu para pemakai jasa atau para penumpang yang mempercayakan armada penerbangannya dengan Garuda Indonesia. Namun yang tidak kalah jeleknya adalah ada pihak lain yang mengeruk keuntungan. Ya tentu saja maskapai lain yang tentu akan sangat gembira. Jalur penerbangan yang mogok, diambil oleh maskapai penerbangan lain. Dalam setiap konflik memang selalu ada 2 pihak yang terpengaruh.
Selain itu, masih disebutkan juga oleh DETIKCOM, bahwa rencana mogok massal yang akan dilakukan oleh para pilot Garuda Indonesia pada hari ini, Kamis, 28 Juli 2011 membuat pengusaha hotel ikut was-was. Mereka terancam kehilangan tamu hotel jika para pilot Garuda itu benar-benar melaksanakan mogoknya. Menurut Wakil Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Johnnie Sugiarto kepada detikFinance, Selasa malam (26/7/2011) mengatakan bahwa jika rata-rata maskapai Garuda mampu mengangkut sebanyak 15.000 penumpang setiap hari maka sudah terbayang berapa kerugian yang akan dialami pengusaha hotel.
Menurut pendapat saya Presiden Asosiasi Pilot Garuda (APG) Kapten Stephanus seharusnya tidak menganjurkan aksi mogom dilakukan secara masif pada hari ini. Hal ini wajar karena diperkirakan sekitar 800 orang Pilot yang mogok terbang itu sudah dipastikan berdampak ganda dan amat merugikan para penumpang yang mempercayakan jasa penerbangannya dengan Garuda Indonesia. Sebaiknya juga Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (Ikagi), bekerja sama dengan Asosiasi Pilot Garuda (APG) harus melakukan dialog atau mediasi pertemuan dengan pihak pemerintah untuk mencari jalan tengahnya. Saya pikir juga Kemenhub juga siap memediasi kedua kubu.
Presiden SBY aja sudah mengelukan gajinya yang 7 (tujuh) tahun tidak naik naik sudah menimbulkan polemik di masyarakat. Nah ini lagi para pilot Garuda Indonesia "iri" karena gajinya lebih kecil dari Pilot Asing. Mengapa gaji terus saja dikeluhkan sih. Sudah mending anda punya pekerjaan, coba liat masyarakat Indonesia pada umumnya. Untuk makan sehari hari aja susah, jadi tidak etis lah untuk urusan gaji aja ribut ribut.
Udah donk mogoknya bos.......
Hanya saja mogok memang dijamin oleh Undang Undang di negara kita, selain karena hak yang dijamin undang undang, mogok juga disarankan untuk dilakukan dengan baik dan tidak dengan emosi atau bahkan dengan tindakan yang mengarah kepada anarkisme. Tidak boleh. Namun yang disesalkan justru aski mogok para pilot Indonesia itu berpotensi menelantarkan para penumpangnya.
Kalaw sudah konflik kepentingan di sini, baik antara pilot yang mogok dengan pihak yang manajemen, yang paling dirugikan tentu para pemakai jasa atau para penumpang yang mempercayakan armada penerbangannya dengan Garuda Indonesia. Namun yang tidak kalah jeleknya adalah ada pihak lain yang mengeruk keuntungan. Ya tentu saja maskapai lain yang tentu akan sangat gembira. Jalur penerbangan yang mogok, diambil oleh maskapai penerbangan lain. Dalam setiap konflik memang selalu ada 2 pihak yang terpengaruh.
Selain itu, masih disebutkan juga oleh DETIKCOM, bahwa rencana mogok massal yang akan dilakukan oleh para pilot Garuda Indonesia pada hari ini, Kamis, 28 Juli 2011 membuat pengusaha hotel ikut was-was. Mereka terancam kehilangan tamu hotel jika para pilot Garuda itu benar-benar melaksanakan mogoknya. Menurut Wakil Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Johnnie Sugiarto kepada detikFinance, Selasa malam (26/7/2011) mengatakan bahwa jika rata-rata maskapai Garuda mampu mengangkut sebanyak 15.000 penumpang setiap hari maka sudah terbayang berapa kerugian yang akan dialami pengusaha hotel.
Menurut pendapat saya Presiden Asosiasi Pilot Garuda (APG) Kapten Stephanus seharusnya tidak menganjurkan aksi mogom dilakukan secara masif pada hari ini. Hal ini wajar karena diperkirakan sekitar 800 orang Pilot yang mogok terbang itu sudah dipastikan berdampak ganda dan amat merugikan para penumpang yang mempercayakan jasa penerbangannya dengan Garuda Indonesia. Sebaiknya juga Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (Ikagi), bekerja sama dengan Asosiasi Pilot Garuda (APG) harus melakukan dialog atau mediasi pertemuan dengan pihak pemerintah untuk mencari jalan tengahnya. Saya pikir juga Kemenhub juga siap memediasi kedua kubu.
Presiden SBY aja sudah mengelukan gajinya yang 7 (tujuh) tahun tidak naik naik sudah menimbulkan polemik di masyarakat. Nah ini lagi para pilot Garuda Indonesia "iri" karena gajinya lebih kecil dari Pilot Asing. Mengapa gaji terus saja dikeluhkan sih. Sudah mending anda punya pekerjaan, coba liat masyarakat Indonesia pada umumnya. Untuk makan sehari hari aja susah, jadi tidak etis lah untuk urusan gaji aja ribut ribut.
Udah donk mogoknya bos.......











