Wednesday, June 30, 2010

Enaknya Jadi Wartawan


Dear Blogger.

Apakah anda berprofesi sebagai wartawan?. Hmmm. Pasti ada donk diantara blogger yang membaca tulisan saya kali ini. Aha. Kebetulan saya bukan wartawan, tetapi saya bekerja di tempat fullnya para wartawan. Yah namanya juga kerja di bagian media alias pemberitaan ya tentu habitatnya (kebanyakan) tentulah para wartawan. Kalaw saya pribadi sih memang dulu (pernah) berprofesi sebagai wartawan. Ya wartawan kampus di kampus Universitas Tanjungpura. Nama koran kampusnya dulu adalah "MIMBAR UNTAN" yang merupakan kepanjangan dari Mimbar Universitas Tanjungpura. Saya masih ingat rekan rekan senior saya saat itu (Saya jadi wartawan mimbar untan periode 1990an-red) yakni Sri Nuraeni atau mba Yent, Syafaruddin Usman MHD (Konon katanya singkatan dari Master Hukum Dagang-red), dan Nur Iskandar (Sekarang jadi bos Borneo Tribun).

Saya yang awam sebagai wartawan (maklum 'karir' wartawan kampus cuma 1 periode aja) hahaha. Saya masih ingat honor dari jadi wartawan kampus sebesar Rp.25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah-red) suatu jumlah yang cukup besar bagi saya yang menyandang mahasiswa taun 1990 saat itu. Bisa buat bayar sewa kosan saya 1 bulan atau buat makan paling tidak 1 bulan juga hahahaha. Jadi kebayang waktu jadi MHS hehehe. Tulisan ini hanyalah catatan kecil saya yang memandang wartawan dari sudut mata saya sebagai orang awam. Mohon maaf jika ada yang keliru dan mohon dikoreksi.

Bisa dekat Dengan NaraSumber
Jadi wartawan kampus tentu sangat beda dengan wartawan beneran yang bekerja di sebuah media pemberitaan atau surat kabar. Banyak kesempatan terbuka luas bagi profesi wartawan dan punya akses tidak terbatas terhadap sumber informasi. Sebagai contoh adalah wawancara dengan public figure, pejabat pemerintah, tokoh, bahkan selebritis sekalipun, kaum wartawan punya akses kepada mereka. Inilah salah satu keuntungan jika menjadi seorang wartawan. Anda dengan mudah mendekati mereka tanpa harus menemui banyak kesulitan jika menjadi orang sipil seperti saya hahaha.

Coba misalnya saya. Ada selebritis ke Pontianak entah dalam rangka promo atau tour peluncuran album atau apa aja kek. Saya sebagai fansnya tentu masuk ke dalam katagori orang sipil yang punya akses terbatas untuk mendekati atau sekedar befoto bareng dengan sang idola. Hal ini tidak berlaku buat wartawan yang (mungkin) dapat dengan mudahnya masuk kelingkarang selebritis saat jumpa pers atau apa. Mereka bisa dengan mudah mewancarai mereka dan bisa berfoto bareng dengan sang selebriti jika beruntung. Nah kesempatan kesempatan seperti itu tidak selalu ada bagi saya sebagai orang sipil. Nah kan ini juga keren ya kalaw jadi wartawan. Hehehe. Begitu juga jika ada wawancara dengan tokoh, public figure atau pejabat pemerintah, para wartawan punya akses kepada mereka. Selain bisa mewancarai mereka, kaum pemburu berita itu juga memiliki network atau jaringan yang luas dan ini bisa memuluskan karir kaum wartawan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu

Kesempatan ke Luar Negeri
Nah kalaw yang ini sudah bukan hal aneh. Inilah salah satu golden gate , kesempatan emas yang amat terbuka lebar. Yakni berkesempatan ke Luar Negeri. Bukan tidak mungkin, kaum wartawan mendapatkan penugasan ke Luar Negeri (dan tentu semuanya dibiayai oleh perusahaan nah enak khan-red) seperti ke Kuching, Singapura, bahkan ke negeri tirai Bambu Sekalipun. Nah gimana enak bukan? Iri? Hahaha. Ya iri untuk hal yang positif adalah bagus sejauh rasa iri anda menjadi pemicu bagi anda untuk berprestasi seperti mereka sehingga bisa dapat kesempatan ke Luar Negeri.
Saya sendiri sempat diledek orang kantor yang ngebet banget mau ke Luar Negeri. Toh akhirnya bisa juga kan. Saya sudah ke Kuala Lumpur selama 4 hari itu juga karena faktor Lucky Draw hahaha. Iya lucky karena saya menang kontes online yang berhadiah tour dan menghadiri konperensi Youth Engagement Summit (YES) di Kuala Lumpur selama 4 hari tahun 2009 yang lalu. Kalaw ditotal dalam rupiah kira kira hadiah saya itu senilai US$ 2500 atau senilai Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah-red) dengan kurs Rp.10.000,-. Nah nah jadi anda nda perlu iri kepada wartawan yang banyak kesempatan ke Luar Negeri. Asal anda ulet, rajin bekerja, berusaha, dan berdoa kepada ALLAH SWT, Insya Allah anda juga bisa berangkat ke luar negeri seperti mereka.

Kesejahteraan
Nah untuk yang satu ini saya sangat concern. Wartawan adalah ujung tombak media. Jadi tanpa mereka, tanpa kerja keras wartawan, maka media tidak akan jalan. Kaum wartawanlah yang bekerja keras hunting berita, melakukan tugas reporting ke sana kemari memburu berita sesuai dengan beban tugas yang dibebankan redaktur atau bosnya kepada mereka. Berbagai hambatan, omelan bahkan rintangan kerap mereka hadapi dalam menghadapi nara sumber. Betapa sakitnya sang wartawan jika kerja keras mereka tidak dihargai dengan wajar oleh Bos koran mereka bekerja.

Status para wartawan sekarang ini yang konon masih banyak yang menyandang sebagai karywan kontrak (seperti saya yang KA = Kontrak abadi-red) perlu segera diangkat menjadi karyawan tetap. Kaum wartawan adalah aset berharga perusahaan. Itu yang seharusnya bos bos perusahaan pada sadar dan tau diri. Kerja keras mereka jugalah sehingga koran menjadi maju dan berkembang. Berikanlah karir yang baik bagi karyawan serta gaji yang baik. Kalaw perlu gaji 5 juta sebulan buat wartawan yang berprestasi. Dan inilah yang akan memicu semangat dan prestasi kaum wartawan menjadi lebih meningkat. Kurangilah kebiasaan jalan jalan ke Luar Negeri yang tidak perlu bagi bos atau reward Jalan Jalan Ke Luar Negeri yang tidak jelas bagi segelintir orang. Buang buang duit yang tidak berguna. Memang sih itu adalah hak bos untuk memberi "hadiah" tour ke China atau ke negara mana aja kepada orang yang menjadi pilihan bos. Tapi coba pikirkanlah kesejahteraan wartawan anda.

Nah jika wartawan diperjuangkan kesejahteraannya, maka sudah hal yang wajar jika wartawan juga meningkatkan kemampuan jurnalistiknya agar semakin mumpuni. Tingkatkan terus kemampuan Bahasa Inggris lisan dan tulisannya agar setiap hari semakin berkembang. Berlatihlah terus dan jangan takut salah. Setiap orang banyak melakukan kesalahan berbahasa Inggris seperti saya. Kata siapa saya sudah pinter. O tidak. Saya masih belajar seperti kalian juga. Kita semua sama sama belajar. :)

Tanpa wartawan, koran anda akan ambruk. Percayalah.
Mari kita perjuangan kesejahteraan bagi wartawan